Beranda / Romansa / Istriku, Jangan Lari Dariku / Bab 130 Seth, Anakku ....

Share

Bab 130 Seth, Anakku ....

Penulis: Fachra. L
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 11:34:18

Wajah Alexander berlumuran d4r4h. Mulutnya juga beberapa kali memuntahkan cairan yang sama.

Tepat ketika Alex tidak bergerak lagi, Jason mundur setengah langkah, dadanya naik turun. Sekilas ia menoleh ke Esme.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan napas tersengal.

Tanpa dia tahu, Alexander tertawa pendek. Serak. Berbahaya.

Jason lupa dia adalah prajurit tangguh yang tidak akan terkalahkan begitu saja.

Dari posisi yang tidak terlihat sebelumnya, tangannya bergerak. Terlalu cepat. Sebuah senjata a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 136 Istriku, Jangan Lari Dariku Final Chapter

    Selama sebulan setelah kematian Seth, hidup Jason seperti berhenti bergerak.Bukan hanya karena ia kehilangan seorang sahabat—satu-satunya orang yang ia percaya sepenuh hati—tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut mati bersamanya.Rumah terasa kosong. Ruang kerja terasa asing. Bahkan napasnya sendiri terkadang terasa berat, seolah ia sedang hidup dengan tubuh yang bukan miliknya.Jason menjadi semakin bungkam.Malam-malamnya lebih sering dihabiskan di bar. Duduk sendirian, menatap gelas tanpa benar-benar minum, membiarkan waktu mengalir tanpa makna. Cahaya lampu yang redup, musik pelan, dan suara orang-orang yang tertawa samar justru membuat kesunyian di dadanya semakin nyaring.Noe beberapa kali mencoba mendekat.Awalnya dengan secangkir kopi. Lalu dengan laporan. Hingga akhirnya hanya dengan duduk diam di seberangnya. Namun setiap kali Noe membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar formalitas, Jason menatapnya dingin.“Keluar,” katanya singkat.Noe tidak lang

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 135 Aku Akan Selalu di Sisimu

    Satu bulan setelah kematian Seth.Esme tinggal di sebuah vila putih di dekat pantai, jauh dari hiruk-pikuk kota. Tempat itu tenang. Debur ombak terdengar teratur, angin asin menyentuh kulit, dan matahari sore selalu jatuh miring ke teras kayu dengan warna keemasan yang lembut. Vila itu bukan pilihannya. Itu pemberian Nyonya Jier.“Setidaknya tinggallah di sini,” kata wanita itu waktu itu, dengan nada yang tidak memberi ruang penolakan. “Aku ingin bisa menemuimu kapan pun.”Ia memintanya tinggal bersama Emilia. Ia juga meminta sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar vila.Memanggil dia dengan sebutan Ibu, menerimanya sebagai Ibunya, karena Nyonya Jier menyayanginya. Terlepas dari siapa dia sebenarnya.Dan Esme … tidak menolak.Selama sebulan itu, Esme memang hidup.Ia tercukupi. Tidak ada yang kurang. Ia tidak perlu bekerja, tidak perlu memikirkan uang, tidak perlu memikirkan apa pun yang bersifat duniawi. Pelayan tersedia. Makanan selalu tersaji hangat. Emilia ada di sisinya setiap

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 134 Jangan Bawa Raga Anakku

    Nyonya Jier mengusap wajahnya yang basah. Napasnya masih tersengal, tapi ia memaksa dirinya bicara dengan lebih stabil.“Tidak apa-apa jika kau tidak memaafkanku,” katanya lirih. “Aku pantas menerima itu.” Ia menatap Esme dengan mata yang penuh harap dan takut sekaligus.“Tapi … jangan diam seperti ini. Jangan menatapku seolah aku orang asing. Setidaknya—katakan sesuatu padaku. Apa kau akan pergi? Kenapa kau membawa koper? Kenapa kau meninggalkan suamimu?”Mobil kembali tenggelam dalam keheningan.Beberapa detik berlalu. Lama.Lalu Esme akhirnya berbicara.Ia tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan, menembus kaca jendela, seolah kata-kata itu tidak diarahkan pada Nyonya Jier, melainkan pada dunia yang sudah terlalu kacau untuk dipahami.“Saya minta maaf,” ucapnya pelan. Suaranya tenang—terlalu tenang untuk sebuah pengakuan yang akan menghancurkan segalanya. “Tapi saya memang tidak bisa merespons seperti yang Anda harapkan.”Nyonya Jier menegang.“Saya … bukan Esme Andreas.”Kalimat i

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 133 Aku Bukan Anakmu

    Esok itu, vila Jason dipenuhi kesedihan yang pekat, seperti udara dingin yang tak terlihat namun menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.Tidak ada suara yang benar-benar keras, tidak ada tangisan yang meledak, namun setiap sudut vila seakan menyimpan duka yang mengendap, lama, dan tak terucap.Esme mengemas barang-barangnya dengan tenang. Terlalu tenang, justru itulah yang membuatnya terasa menyakitkan. Setiap pakaian dilipat rapi, setiap benda kecil dimasukkan ke dalam koper tanpa ragu, seolah ia telah membuat keputusan itu jauh sebelum pagi ini tiba.Emilia berdiri di ambang pintu, memperhatikannya tanpa berani mendekat. Ia tidak benar-benar tahu apa yang terjadi antara Tuan Muda dan Nona Muda-nya.Namun satu hal bisa ia lihat dengan jelas—kesedihan di wajah Esme hari ini jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia saksikan selama bertahun-tahun mengabdi di sisinya. Kesedihan yang tidak menjerit, tidak memohon, hanya diam… dan itu justru paling melukai.Dengan suara pelan n

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 132 Bukan Lagi Istrinya

    Buku catatan itu terasa lebih berat dari yang terlihat.Tulisan tangan memenuhi hampir setiap halaman.Rapi. Tegas. Namun di beberapa bagian, goresannya terlihat lebih dalam, seolah pena itu ditekan dengan emosi yang tidak bisa diredam. Di sela-sela tulisan, ada halaman-halaman yang tidak berisi kata-kata sama sekali—hanya gambar.Wajahnya.Digambar dengan tangan. Berkali-kali. Dari berbagai sudut. Ada yang hanya garis tipis, ada yang begitu detail hingga sorot matanya terasa hidup. Tidak satu pun terlihat dibuat tergesa-gesa.Esme menatap gambar-gambar itu lama.Selama ini, ia hidup dengan satu keyakinan yang tak pernah ia goyah.Bahwa Dong Fang Xuan adalah kaisar paling kejam yang pernah ia kenal.Ia menemaninya ke medan perang. Berdiri di sisinya saat darah dan mayat menumpuk. Namun setelah kemenangan diraih, Dong Fang Xuan justru membunuh sembilan koneksi keluarganya—satu demi satu—seolah ingin memutus seluruh jalan pulang baginya.Ia percaya Dong Fang Xuan membencinya.Ia percaya

  • Istriku, Jangan Lari Dariku   Bab 131 Terlalu Banyak

    Langit hari itu kelabu, seolah tahu siapa yang sedang mereka antar pulang.Pemakaman Seth digelar dengan kehormatan penuh—bukan sebagai seorang prajurit yang gugur di medan perang, melainkan sebagai putra dari seorang jenderal besar, dan sebagai pria yang namanya dikenal luas di lingkaran kekuasaan, bisnis, dan keluarga-keluarga berpengaruh.Deretan mobil hitam memenuhi area pemakaman. Pelat nomor khusus. Pengawalan resmi. Bendera setengah tiang berkibar pelan tertiup angin. Para perwira tinggi, mantan jenderal, tokoh pemerintahan, pengusaha besar, hingga orang-orang yang tak pernah muncul di hadapan publik, berdiri dalam diam yang sama—sunyi, tertunduk, dan penuh hormat.Tidak ada bisik-bisik.Tidak ada tatapan ingin tahu.Semua yang hadir tahu, kematian Seth bukan kematian biasa.Peti jenazahnya terbuat dari kayu gelap, dipoles rapi, dikelilingi karangan bunga yang terlalu banyak untuk dihitung. Namun tak satu pun bunga itu mampu mengimbangi beratnya kehilangan yang menggantung di u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status