Menjebak Cucu Presdir

Menjebak Cucu Presdir

last updateLast Updated : 2026-01-08
By:  Choco_muffinUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
30views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“I-ini... maksudnya apa? Saya harus... jual diri ke Bapak?” “Kenapa… kamu merasa harganya kurang cocok?” ************** Batara, CEO muda perusahaan farmasi terbesar di negeri ini, dikenal sebagai sosok dingin, berwibawa, dan memikat, sekaligus menakutkan bagi siapa pun yang mendekat. Ia hidup dalam kendali penuh, menyimpan sisi gelap yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun. Di malam yang sama, Cleona—gadis sederhana yang putus asa mencari uang tambahan demi pengobatan ibunya—tak pernah menyangka akan terjebak di satu kamar bersama seorang pria asing. Siapa sangka, malam itu membangkitkan sisi lain Batara yang telah lama ia kubur: hasrat akan kendali, dominasi, dan permainan kuasa dalam hubungan seksual. Terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar, Cleona tak memiliki pilihan selain menerima perjanjian Batara dan menjadi submisif dalam dunianya. Namun diam-diam, Cleona mulai mencari cara untuk terlepas dari jerat pria tampan itu. Mampukah ia melakukannya, atau justru terikat semakin dalam pada Batara dan rahasia besar yang menghubungkan mereka?

View More

Chapter 1

Tawaran Menarik

“Lo jual diri aja kalau gitu.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Bricia Qailuna—atau yang lebih akrab dipanggil Cia—dengan santai, seolah itu hal biasa.

Seketika, Cleona Kamara Thasiva langsung menoleh tajam, menatap sahabatnya dengan sorot mata coklat hazelnut yang terbuka lebar. Rambut ikalnya yang sebahu ikut berguncang saat ia menegakkan tubuh. Lesung pipinya, yang biasanya manis saat tersenyum, kini sama sekali tak terlihat.

“Gila lo… nggak ada ide lain, ha?” suaranya bergetar, antara kesal dan putus asa.

Cleona, dua puluh empat tahun, seorang barista di kafe kecil Jakarta, tak pernah membayangkan hidupnya akan sepelik ini. Sejak ibunya divonis gagal ginjal, semuanya berubah. Ayahnya entah pergi ke mana, semua tabungan habis untuk biaya pengobatan, dan sekarang setiap minggu masih harus menyiapkan uang untuk cuci darah.

Cia hanya mengangkat bahu dengan acuh, wajahnya tetap tenang.

“Ona, gue cuma mikir jalan pintas aja.”

Tubuhnya kini condong ke depan, kepalanya sedikit meneleng ke samping, sorot matanya tajam menusuk Cleona.

“Duit segitu banyak… lo nggak bakal dapet cuma dari nyeduh kopi aja.”

Cleona menghena napas. Ia memang butuh uang banyak dan—cepat. tapi nggak dengan jual diri juga. Pikir nya.

Sekilas bayangan ibunya terbaring di ranjang rumah sakit, jarum infus menusuk lengan rapuh itu… membuat pikirannya terus berputar.

Helaan napas terdengar lagi kali ini lebih berat.

“Tapi… gue nggak mungkin ngobatin ibu pakai uang haram.”

Cia berdecak. “Ya terserah lo… gue cuma ngasih solusi aja!” Katanya, kemudian menyendok makannya lagi.

Gadis itu menatap sahabatnya dengan wajah yang sulit diartikan. Ia tahu Cia tidak benar-benar jahat, hanya saja terlalu blak-blakan dan keras kepala.

Sore itu, mereka duduk di sebuah warung makan sederhana, memanfaatkan libur kerja Cleona untuk sekadar melepas penat.

Cleona, dengan hoodie oversize dan wajah tanpa riasan, tampak seperti gadis biasa yang menyembunyikan beban berat.

Sementara itu, Cia—yang masih berbalut seragam kerja OB dari perusahaan farmasi tempatnya bekerja—tampak kelelahan. Matanya sayu, rambutnya diikat seadanya, tapi ia tetap berusaha terlihat santai sambil menyendok makanan di depannya.

“Enak ya lo, sore gini nyantai,” gumam Cia sambil menyeruput es tehnya. “Gue mah masih harus lembur, nyiapin ruang meeting, Capek banget.”

Cleona menoleh sekilas, sudut bibirjya terangkat sedikit. “Kalau bisa, gue rela kerja tiap hari asal duitnya cukup. Cuci darah ibu itu nggak murah, Cia.”

Cia mendengus, menaruh sendoknya ke piring.

“Makanya lo jual diri aja. Nanti kalau hasilnya banyak, gue ikut deh,” katanya setengah serius, setengah bercanda.

“Ngawur lo lama-lama!” Cleona spontan meraih tisu dari meja dan melemparnya ke arah Cia.

Cia terkekeh, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

Warung tempat mereka duduk sore itu sederhana saja: meja-meja kayu panjang dengan cat yang mulai mengelupas, kipas angin berdecit di langit-langit, dan aroma campuran nasi goreng, mie rebus, serta kopi hitam yang memenuhi udara.

Beberapa pengunjung lain tampak santai—ada yang asyik dengan gawai, ada pula bapak-bapak yang sibuk mengobrol sambil merokok di sudut ruangan.

Di tengah hiruk pikuk kecil itu, tawa Cia dan wajah kesal Cleona seolah menambah warna. Hingga, pertemuan singkat itu pun berakhir. Cia buru-buru kembali ke kantornya karena harus lembur, sementara Cleona berjalan pulang dengan langkah gontai.

Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap tapak ikut membawa beban pikiran. Kata-kata Cia barusan terus terngiang di telinganya.

“Menjual diri? Yang benar saja!”

Cleona menghela napas panjang, menengadah sebentar ke langit sore Jakarta yang mulai meredup. Ia menggeleng, mencoba menepis bayangan ide gila itu.

Begitu pintu rumah terbuka, ia langsung melihat sosok Danila—ibunya—duduk santai di kursi tua, jarum rajut masih menari di tangannya. Wajah pucatnya tidak bisa menyembunyikan rasa lelah, tapi senyum tipis tetap berusaha ia ukir.

“Ibu… kenapa nggak di kamar aja?” tanya Cleona, cepat menghampiri lalu berjongkok di depannya.

Danila mengangkat wajah, mengusap lembut kepala putrinya. “Ibu capek kalau di kamar terus. Kamu dari mana, Nak?”

Cleona menggenggam jemari ibunya yang dingin. “Barusan ketemu Cia, Bu. Ngobrol sebentar aja.”

Danila menatapnya hangat, meski mata sayunya sulit berbohong tentang sakit yang ia derita.

“Ibu udah makan?” tanya Cleona pelan.

Sang ibu hanya menggeleng pelan.

Cleona buru-buru mengangkat plastik yang ia bawa, tersenyum manis. “Ini, aku bawain nasi kesukaan Ibu. Makan ya, biar badan Ibu kuat.”

Danila mengangguk, matanya berkaca-kaca.

Cleona buru-buru menyiapkan piring dan lauk dari bungkusan yang ia bawa. Aroma nasi hangat bercampur sayur kesukaan Danila segera memenuhi ruangan sederhana itu.

“Ibu makan dulu, ya. Biar aku suapin.” Cleona tersenyum lembut, meski hatinya perih melihat ibunya yang semakin kurus.

Danila mengangkat tangan, menolak halus. “Ah, Ona… Ibu masih bisa sendiri.”

Namun Cleona tetap bersikeras, menyuapkan sesuap nasi dengan penuh kasih.

Senyum tipis merekah di wajah Danila. “Enak sekali… tangan kamu selalu bikin Ibu betah makan.”

Cleona menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia mencoba tertawa kecil.

Mereka pun makan dalam hening. Hanya suara sendok dan detik jam di dinding yang terdengar, seakan menutupi kenyataan pahit: bahwa hidup masih terus berjalan.

Dalam diam, Cleona menatap ibunya—seolah berjanji pada dirinya sendiri: apa pun caranya, ia harus membuat ibunya tetap hidup.

.

***

Keesokan harinya, Cleona kembali berangkat kerja seperti biasa—dari jam sepuluh pagi hingga malam nanti.

Siang itu, kafe tempatnya bekerja cukup ramai. Hampir tak ada celah untuk sekadar menarik napas panjang. Ia sibuk melayani pelanggan, membuat minuman, dan membersihkan meja, hingga tubuhnya terasa lelah.

Menjelang sore, setelah jam makan siang reda, Cleona kebagian tugas membuang sampah ke belakang kafe. Dengan malas, ia menyeret kantong sampah besar itu keluar.

Namun, langkahnya terhenti ketika samar-samar terdengar suara seseorang berbicara. Cleona menyipitkan mata, mencoba mengenali suara itu.

“Silvia?” gumamnya lirih, lalu perlahan mendekat, menempelkan telinganya di balik dinding samping.

Suara Silvia terdengar jelas, nada bicaranya rendah namun cepat.

“Gue tinggal cari cewek yang mau pura-pura tidur sama dia aja, kan?” tangannya satu memegang ponsel, satu lagi bertengger di pinggang.

Cleona menahan napas.

“Berapa bayarannya per foto? … Hah, lima juta? Oke, deh.” Suara Silvia semakin pelan, tapi cukup membuat bulu kuduk Cleona meremang.

Ia terdiam di tempatnya, jantungnya berdetak kencang. Kata-kata Silvia barusan terus terngiang di telinganya.

Satu foto… lima juta?

Angka itu terasa begitu besar di kepalanya. Bayaran satu bulan kerja di kafe bahkan tidak ada setengahnya. Untuk biaya obat dan cuci darah ibunya, lima juta bisa bertahan beberapa kali perawatan.

Tangannya gemetar, memegang erat kantong sampah yang kini terasa ringan dibanding beban pikirannya.

Kalau cuma pura-pura tidur… dan cuma sekali… apa salahnya? batinnya berbisik, meski hatinya menolak.

Lamunan Cleona buyar ketika tiba-tiba Silvia menjerit kaget.

“Lo! Bikin gue kaget aja, Na!” katanya ketus sambil mengusap dadanya. Matanya sempat bergerak panik—takut kalau Cleona mendengar obrolannya barusan. Tanpa banyak bicara, Silvia buru-buru melenggang pergi.

Namun langkahnya terhenti ketika suara Cleona terdengar mantap.

“Sil… gue mau.”

Silvia menoleh tajam, matanya menyipit, antara curiga dan tak percaya. “Mau Apa?”

Cleona melangkah maju, sedikit gemetar.

“Gue denger obrolan lo tadi… dan gue mau. Bayarannya lima juta kan?”

Mata Silvia membesar, mulutnya nyaris menganga. ‘Apa suara gue tadi keras banget sampe dia denger semua?’ pikirnya.

“Gimana, Sil?” Kata Cleona lagi, mendesak

Silvia berkedip cepat, bingung antara harus percaya atau menolak. Tapi jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa lega—karena itu berarti ia tak perlu repot lagi mencari “pemeran perempuan” yang diminta.

“Lo… yakin?” Silvia memastikan, suaranya dibuat bebisik.

Cleona menggumam ‘iya’, lalu mengangguk mantab. “Gue yakin!”

Silvia meneliti wajah sahabatnya itu, mencari keraguan di sana. Begitu yakin Cleona tidak sedang main-main, ia akhirnya mengangguk kecil.

“Oke,” katanya tegas. “Besok malam, pulang kerja, ikut gue.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status