LOGIN**
Bagaimana kalau Gending ia nikahkan saja dengan Widya??
“Aih, aih, kenapa aku bisa sampai pada pemikiran itu?” Pikir Ibu Suri pula.
Kendati pun ia menyukai Gending dengan segala sikapnya, namun harapannya pada anak Setya Mukti masih membatu di dasar hatinya.
“Lagi pula.., Gending itu hanya seorang ajudan.” Batinnya lagi.
“Latar pendidikannya tidak terlalu mencolok.”
“Latar belakang keluarganya juga tidak je
**Di dalam hatinya Autumn ngedumel setengah mati.“Uuuh..! Apa-apaan sih kakekku ini?? Bikin aku semakin kangen saja!”Sekali lagi Autumn menatap Adi dengan tajam, jengkel sekali. Tapi sungguh ia juga bingung akan bagaimana menyikapi permintaan Adi itu.Kalau ia menolak maka itu berarti ia telah mengabaikan uluran kasih sayang dari kakeknya sendiri.“Itu wingko babat asli dari Magelang,” terang Adi, sambil menunjuk kue yang sudah berpindah tangan.“Tetangga Kek Bisma sendiri yang membuatnya. Kebetulan tetangganya itu seorang pembuat kue.”“Biasanya kue itu bisa tahan selama tiga hari. Sejak keberangkatanku dari Magelang maka ini sudah memasuki hari ketiga. Mudah-mudahan kuenya masih cukup enak untuk kamu makan.”Autumn masih kelihatan bimbang. Di tengah kebimbangannya itu, Adi menyusup semakin dalam ke relung psikologis Autumn.“Percayalah, tidak ada ra
**Pintu pun terbuka, krieeet..! Lalu muncullah sosok Autumn yang..,Adi terkejut.Autumn juga terkejut.Beberapa detik kedua orang ini saling berpandangan, saling menelisik, saling mengingat, dan saling mencocokkan dengan bayangan yang ada di memori masing-masing.“Kamu..,” suara Adi tertahan di ujung lidah.Ia terkejut karena rupanya Autumn adalah wanita aneh yang ia temui di persimpangan jalan tadi siang, ketika ia bertanya tentang Mayfield tujuannya.Tidak seperti penampilannya tadi yang berjaket hoodie dan mengendarai ATV. Autumn sekarang mengenakan baju hangat yang sederhana, celana panjang berbahan tebal, dan sandal rumah yang bahannya mirip dengan bulu domba.Autumn kini memakai kacamata yang juga sederhana. Bingkainya bulat lebar, terkesan klasik sekaligus kampungan.Tambahan lagi pada bagian lensanya terdapat retak. Sementara tangkainya sendiri, patah, dan diperbaiki ala kadarnya saja menggunakan se
**Sepertinya ini akan menjadi kegagalan pertama bagi Adi Jaya di sepanjang menjalankan misinya, apa pun itu. Lalu, apakah ksatria Giri Lodaya ini akan menyerah?Dalam keadaan diamnya itu Adi terus memikirkan rencana, strategi, taktik, apa pun yang bisa ia pergunakan untuk berbicara dengan Autumn.Ia merumuskan permasalahan yang sedang ia hadapi, dan menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah itu.Membujuk pulang, itu nomor tiga.Berbicara, itu nomor dua.Bertemu, bertemu saja dulu, ini yang nomor satu. Iya, yang penting bisa bertemu saja dulu, bertatap muka langsung dengan Autumn.Sekejap kemudian Adi menoleh lagi pada Nyonya Hastono.“Maaf Bu, kue wingko babat yang tadi, sudah ibu serahkan ke Autumn?”“Belum.”Adi menarik nafas lega. Otaknya langsung bekerja, dan ia akan menjalankan taktik yang beberapa detik lalu telah tersusun di dalam benaknya.“Kalau saya
**“Autumn..!” Autumn sontak hentikan langkah dan segera balikkan badan. Ia melihat Bibi Kelly sedang berjalan ke arahnya.“Ya, Aunty—bibi.” Autumn menyahut, menyebut Bibi Kelly dengan panggilan pendek, Aunty.“Kamu punya tamu.” Kata Bibi Kelly setelah sampai.Autumn pun terperanjat.“Tamu? Tamu untuk aku?”“Iya, dia dari Indonesia.”“Siapa?” Tanya Autumn penasaran.“Namanya Adi Jaya.”“So, he is a man—jadi dia seorang laki-laki?”“Yes.”Autumn terhenyak lagi beberapa detik.“Aku tidak kenal dengan laki-laki bernama Adi Jaya.”“Tapi, dia diutus oleh Kek Bisma. Dia membawa oleh-oleh untuk kamu, kue wingko babat.”Autumn menundukkan kepala, menatap sepatu bootnya yang kotor. Rasa rindu terhadap kakeknya itu tiba-t
**Tiba-tiba, Autumn teringat dengan rencananya sendiri. Rencana yang lain, bukan tentang menamam pinus. Apa itu?Ia sedang memikirkan untuk mencari lahan peternakan di daerah Mayfield ini. Benar, ia ingin mempunyai peternakannya sendiri. Dengan semua fasilitas dan kelengkapan yang akan ia duplikasi dari milik pamannya.Untuk itu, ia sedang mempelajari hal-hal teknis terkait pengelolaan lahan, terutama yang berkaitan dengan legalitas dari pemerintah Selandia Baru.Mengingat, ia bukanlah warga negara ini, dan hanya mengantongi izin tinggal untuk durasi yang selalu ia perpanjang.Selang tak berapa lama kemudian, Autumn pun sampai di padang gembala milik pamannya. Ini merupakan sisi barat, yang paling ujung, yang paling dekat dari tempatnya memungut biji pinus tadi.Autumn menghentikan ATV-nya, tapi tidak mematikan mesin. Ia memandang ke kejauhan, memperhatikan ratusan domba yang dilihat dari sini hanya tampak bagaikan gumpalan-gu
**Autumn menghentikan ATV-nya di tepi sebuah sungai kecil. Ia mematikan mesin, lalu turun dan berjalan menuju sungai yang lebarnya hanya sekitar enam meter itu, dengan bagian yang berair hanya dua kali lompatan saja.“Bronco! Clown!” Panggil Autumn pada dua anjingnya.“Come—ayo!”Serentak saja, kedua anjing itu berlompatan dari atas keranjang di boncengan ATV, lalu bergegas mengikuti langkah sang tuan ke tepi sungai.Autumn membuka hoodie kepalanya, kemudian berjongkok di atas sebuah batu. Ia menciduk air yang jernih dan dingin menggunakan tangkupan kedua tangannya.Ia membasuh wajah, merasakan air yang sangat sejuk, yang mengalir perlahan dari lelehan salju di puncak pegunungan Alpen sana.Bronco, anjing dengan ras German Sheperd, mengikuti Autumn ke tepi sungai. Ia menciduk air dengan lidahnya, tapi sontak mengibas-ngibaskan kepala dan sekujur bulunya.“Hahaha..,” Autum
**“Kalian bertiga, bekerja untuk siapa?”Pak Charles tersenyum sebentar. Senyum yang begitu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya.Ujarnya kemudian, “Bagaimana kalau pertanyaan itu nanti saja saya jawabnya.”“Saya mau jawaban sekarang
**“Gending Atma Jaya..,”Mendengar nama lengkap itu tiba-tiba Ibu Suri terkejut. Telinganya menegang dan matanya terpaku pada sebuah nama yang secara otomatis kemudian tertampil di layar tabletnya.“Gending..,” Ibu Suri menggumam pelan-pelan.&
**“Tidak punya masalah kamu bilangg?? What the fxuck..!”Gending mengangkat dagunya sedikit, coba membantah Kelvin. “Tapi kamu bilang, urusan kita sudah selesai. Kamu tidak lupa kan pada kata-kata terakhir kita sebelum berpisah di aparteman kam
**“Jadi, setelah pergi dari Acropolis, kamu mau ke mana?”“Untuk sementara, mungkin aku mau pergi ke Angke.”“Tempat siapa tuh?”“Tempat tinggal aku yang dulu, bareng teman karibku, sesama badut hello Kitty.”Mbak







