เข้าสู่ระบบ**
“Tidak punya masalah kamu bilangg?? What the fxuck..!”
Gending mengangkat dagunya sedikit, coba membantah Kelvin.
“Tapi kamu bilang, urusan kita sudah selesai. Kamu tidak lupa kan pada kata-kata terakhir kita sebelum berpisah di aparteman kamu?”
Kelvin tentu saja blingsatan. Sebab, ‘sebelum berpisah’ yang dimaksud Gending adalah hari naas ketika dirinya dipelasah oleh Gending.
Dibuat tak berdaya dengan cara yang amat mengerikan sekaligus juga amat memalukan.
“Nonsense!” Maki Kelvin spontan.
"Gara-gara kamu Gending! Hubunganku dengan Widya jadi hancur. Game over!”
“Semuanya gara-gara kamu!” Kelvin semakin muntab. Wajahnya menegang.
Kulitnya yang kemerahan semakin memerah macam kepiting rebus di bawah matahari begini.
“Kelvin!” Sanggah Miss Widya tiba-tiba dari balik sosok Gending.
“Semua ini tida ada hub
**“Angkuh sekali ini manusia!” Barok bersungut-sungut dalam hati.“Siapa sih dia..??”Lelaki berjanggut lanjut bertanya,“Sesuai order yang kamu bilang itu, maksudnya bagaimana?”Barok tersenyum sebentar, jawabnya pula dengan balas bersikap angkuh. “Misalnya Bapak menyuruh saya menghajar seseorang. Apa yang Bapak mau sebagai barang bukti? Satu jarinya? Satu telinganya?” “Wah, sadis juga kamu.” Komentar lelaki berjanggut.Barok menoleh pada Niko yang juga terhenyak mendengar kata-katanya itu. Akan tetapi, Niko sontak menjaga gengsinya dengan mengangkat dagu sedikit.“Ah, saya tidak sadis kok. Saya tetap seperti manusia kebanyakan yang punya belas kasihan. Makanya, kalau saya mau menghabisi orang, saya selalu minum obat.”Obat yang dimaksud Barok di sini adalah narkoba, tentu saja.“Kamu bisa memakai beceng—pist
**“Di lounge kelas bisnis itu Bapak punya janji dengan siapa?”“Pak Charles.”“Baik, dengan Pak Charles.”Sang resesionis pun mengalihkan pandangannya sedikit ke samping. Ia mencermati layar komputer di depannya untuk memeriksa sebuah tabel di sistem manajemen tamu.Beberapa detik kemudian, sang resepionis kembali menatap Barok, memberi konfirmasi.“Baik, Pak. Pak Charles berada di lounge Diamond 3.” Selanjutnya dengan diantar seorang petugas hotel Barok pun berjalan menuju area lounge kelas bisnis.Tak lama kemudian Barok dan petugas hotel itu sampai di depan sebuah pintu yang dalam keadaaan tertutup.“Ini lounge Diamond 3. Silahkan, Pak.” Petugas hotel kemudian berbalik dan meningggalkan Barok.Sempat canggung sebentar, Barok kemudian mengetuk pintu. Sembari menunggu pintu di depannya terbuka, Barok kembali menduga-duga.
**"Saya tahu beberapa waktu belakangan ini kamu menyelidiki saya. Iya kan?”Mata Gending sampai membeliak membaca pesan ini. Bersamaan dengan itu darahnya terasa berdesir, dan jantungnya berdegup lebih kencang.Ini pasti Charles! Batinnya.Beberapa detik Gending terus mematung. Pikirannya disibukkan oleh skenario-skenario yang berserabutan di mana masing-masing dari pilihannya nanti bisa membawa resiko.Baiklah, Gending akan berpura-pura untuk menutupi usaha penyelidikannya.“Maaf ini siapa?” Balasnya dalam pesan.Tak lama kemudian, kliingg! Pesan dari nomor asing barusan pun datang pula. “You must know who I am—kamu pasti tahu siapa saya.”Nah, betul dugaan Gending. Memang dia adalah Pak Charles. Maka, simaklah, dan baca ulanglah isi pesannya.Bukankan isinya menyiratkan bahwa Pak Charles itu memang mempunyai rahasia yang sedang ia tutupi d
**Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasa. Miss Widya bisa bekerja di ruangan kantornya dengan tenang.Ia tidak perlu merasa khawatir, karena ia percaya bahwa Gending bisa mendampinginya dalam keadaan yang bagaimana pun.Pukul sepuluh, Gending sedang berada di ruangan Mbak Vera, membicarakan sebuah agenda untuk Miss Widya yang belum juga mendapatkan keputusan final.“Jadi, si calon costumer ini mengundang Miss Widya untuk berkunjung ke kantornya, juga ke site pabriknya langsung.”“Di mana, Mbak?”“Di Cilegon.”“Untuk apa?”“Yang pasti, untuk show of force, semacam unjuk pamer lini bisnis, begitu. Ini lho pabrik kami. Ini lho barang kami. Ini lho muatan yang bisa kalian angkut dengan kapal kalian.”Gending menangguk-angguk. Mbak Vera melanjutkan.“Jadi, mereka meminta penawaran kerja sama untuk jangka panjang.”“Bukankah Mi
**“Lanjutkan cerita kamu, Gending. Bagaimana selanjutnya kisah kamu dengan wanita itu? Dan, eee.., siapa namanya?”Gending terdiam beberapa saat. Pandangannya terpaku pada cup es krim di tangannya yang telah kosong.Pada titik ini ia sudah mulai bosan untuk menceritakan masa lalunya. Karena baginya, itu semua tidak akan menimbulkan apa-apa untuk Miss Widya.Simpati, atau empati misalnya, supaya dengan begitu Miss Widya bisa memberi sedikit respect dengan cara menghormati janjinya, untuk lekas menikah, dengan Dio, atau siapa saja.“Ayolah, Gending.., lanjutkan cerita kamu. Saya penasaran banget. Kisah kamu itu sangat menyentuh lho.”“Oh ya?”“Iya.”Akhirnya, Gending pun melanjutkan ceritanya kembali.“Setelah pertemuan yang pertama itu, kemudian, setiap minggu dia mengunjungi saya, Miss.”“Dia rutin datang menjenguk, sambil bawah oleh-oleh mak
**“Oke, sekarang tentang kamu. Bagaimana ceritanya kamu bisa mendekam dalam penjara.”Gending tersenyum getir, lalu menunduk, menghindari tatapan Miss Widya yang seakan mau menguliti semua masa lalunya.Terlebih dulu menghirup nafas Gending pun mulai bercerita.“Waktu itu saya sedang mengamen, Miss. Saya menjadi badut lampu merah dengan kostum badut hello Kitty sebagaimana yang Miss ketahui.”“Ada seorang wanita dengan anaknya yang masih kecil, menyeberang jalan di zebra cross lampu merah itu.”“Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menerobos lampu merah. Naasnya si wanita terserempet mobil hingga dia terjatuh ke aspal.”“Wanita itu kesakitan, kakinya terluka, sementara di sisinya ada anaknya yang menangis histeris. Saya pun membantu wanita itu. Saya buka bagian kepala kostum badut saya terlebih dulu, lalu saya memapah wanita itu ke pinggir jalan.”“Rupanya, mob







