Compartilhar

Bab 8

Autor: Syara
Tiga hari kemudian, Anita akhirnya tersadar dari komanya. Kali ini, dia melihat Anthony di samping tempat tidurnya. Pria itu terlihat lesu dan matanya sangat merah.

Melihat Anita sudah sadar, Anthony mengulurkan tangan yang agak gemetar untuk memapahnya. Akan tetapi, Anita menghindar.

Tangan Anthony tetap membeku di udara untuk waktu yang lama sebelum dia menariknya kembali. Dia berkata dengan suara tercekat, "Kamu masih bisa berjalan normal, tapi nggak bisa menari lagi. Kalau nggak bisa menari lagi, ya sudah. Lagian, ada aku yang menghidupimu. Jessi itu tunanganku. Aku nggak bisa telantarkan dia."

Anita seharusnya merasakan banyak emosi. Dia seharusnya marah, putus asa, sedih, menderita, bahkan histeris. Namun, semua emosi itu menumpuk di dalam hatinya dan akhirnya hanya menyisakan rasa tak berdaya.

Pada akhirnya, Anita hanya berkata dengan suara serak dan tercekat, "Aku mohon, keluarlah."

Keheningan panjang menyelimuti kamar rawat inap. Akhirnya, Anthony bangkit dan menyuruhnya beristirahat dengan baik sebelum pergi dalam diam.

Saat pintu tertutup, orang yang wajahnya sudah dibasahi air mata akhirnya menangis tersedu-sedu.

Gadis kecil yang pernah menghabiskan seluruh waktunya di studio tari untuk menari dan berlatih tanpa henti bahkan di musim panas yang terik, wanita muda yang pernah mengatakan akan memimpin kelompok tarinya menuju puncak kejayaan dan mendedikasikan hidupnya untuk menari, kini sudah hancur bersamaan dengan kakinya yang cedera.

Impian Anita sudah sepenuhnya hancur!

Sejak dokter memberitahunya bahwa dia tidak akan pernah bisa menari lagi, Anita perlahan-lahan menjadi mayat hidup. Dia tidak lagi menangis ataupun tertawa, hanya duduk di kursi dengan selimut menutupi kakinya dan menatap kosong ke luar jendela.

Hingga hari kelompok tari resmi menampilkan pertunjukan, tanpa memedulikan upaya anggota Keluarga Pangestu untuk menghalanginya, Anita dipapah ke tempat pertunjukan dan duduk di barisan paling belakang.

Lampu diredupkan dan piano mulai dimainkan.

Anita menatap ke arah panggung. Jessica mengenakan gaun yang seharusnya adalah miliknya, menari tarian yang seharusnya ditampilkannya, menerima tepuk tangan dan bunga yang seharusnya ditujukan kepadanya.

Saat confetti berjatuhan, semua orang berdiri dan bertepuk tangan. Anthony bahkan naik ke panggung dengan membawa bunga, lalu mencium Jessica. Orang lainnya juga berdiri untuk memuji dan mengagumi Jessica.

Hanya Anita yang duduk diam di tempat sambil menyaksikan orang-orang datang dan pergi, lalu bubar. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, dia akhirnya berdiri dan berjalan ke atas panggung.

Melihat Anita mendekat, Anthony secara refleks mengadang di depan Jessica. "Kalau kamu marah, lampiaskan saja padaku. Jangan sakiti dia."

Anita hanya menatap Anthony dalam diam. Matanya seperti kolam yang tenang.

Jessica tersenyum menantang kepada Anita, lalu menarik lengan baju Anthony dan berpura-pura kasihan. "Tony, nggak apa-apa. Lagian, itu memang salahku. Aku sudah rebut posisinya sebagai penari utama dan tampilkan koreografinya. Wajar saja dia marah."

Anita menggeleng. "Aku nggak marah. Aku datang untuk beri kalian hadiah."

Kata-kata ini seketika membuat semua orang terdiam sejenak. Hadiah? Hadiah apa?

"Ikutlah denganku."

Seusai berbicara, Anita berjalan keluar dari tempat acara.

Begitu mereka keluar, sebuah kembang api memelesat ke langit dan langsung mekar. Kelopaknya berjatuhan bagaikan hujan. Selanjutnya, satu demi satu kembang api menerangi langit.

Sekilas keterkejutan melintas di mata Anthony. Pada detik berikutnya, dia mendengar Anita berujar, "Anthony, kamu ingat hari di mana aku diangkat jadi penari utama? Waktu itu, kamu juga nyalakan kembang api yang spektakuler untukku. Kamu bilang, semoga sepanjang sisa hidupku, aku bisa bersinar terang dan hidup sebebas angin."

"Sekarang, aku mau membalasnya dengan kembang api yang sama. Semoga kamu dan Kakak Ipar punya hubungan yang langgeng dan bisa saling mencintai sampai tua."

Saat mendengar kata "kakak ipar", mata Anthony melebar. Dia secara refleks menoleh ke arah Anita. Ini adalah pertama kalinya Anita memanggil Jessica "kakak ipar" di depan umum.

Hati Anthony seketika merasa seperti diremas. Sebelum dia sempat berbicara, Anita sudah berbalik dan menghilang tanpa jejak.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status