Compartilhar

Bab 7

Autor: Syara
Sejak Jessica bergabung dengan kelompok tari karena satu kalimat dari Anthony, kelompok itu secara bertahap terpecah menjadi dua kubu.

Satu kubu dipimpin oleh Anita dan anggotanya berjuang demi mengejar tujuan. Kubu lainnya dipimpin oleh Jessica. Anggotanya mengabaikan latihan tari, malah fokus untuk menyanjung Jessica agar Jessica bisa membantu mereka mendapatkan lebih banyak keuntungan dari Anthony.

Kedua kubu tersebut tidak pernah berkonflik, hingga kelas berakhir hari ini.

Jessica tersenyum dan menghentikan Anita. "Nita, ada bagian yang nggak kumengerti. Bisa nggak kamu mengajariku?"

Melihat perilaku Jessica yang tidak biasa, Anita tanpa sadar mengerutkan kening. Tepat ketika dia hendak berbicara, pengikut Jessica tiba-tiba mendorongnya.

"Apa maksudmu? Jessi sudah dengan baik hati minta bantuanmu, tapi sikapmu malah begini?"

Teman-teman Anita yang tidak tahan lagi segera mengadang di depannya. "Apa maksud kami? Aku justru mau tanya apa maksud Jessica. Dia jelas-jelas punya begitu banyak waktu untuk bertanya di kelas, tapi dia bersikeras menanyakannya setelah kelas berakhir. Apa dia sengaja?"

Anita ingin menghindari konflik dan menarik lengan baju temannya. Namun, orang lainnya mengira mereka takut dan berbicara lebih kasar lagi.

"Sudah takut sekarang? Asal kalian tahu, Jessi itu calon istri Anthony! Anita seharusnya merasa terhormat bisa membimbingnya!"

"Benar! Dia cuma seorang yatim piatu! Kalau dia buat Jessica nggak senang, Pak Anthony bisa mengusirnya kapan saja!"

Saat berdebat, entah siapa yang memulai, kedua kubu mulai saling menyerang. Di tengah kekacauan, Jessica tiba-tiba muncul di samping Anita dan mendorongnya dengan kuat. Anita pada dasarnya berdiri di tepi platform. Ketika hampir jatuh, dia secara refleks meraih Jessica sehingga mereka jatuh bersama.

Melihat keduanya jatuh dari platform bersama, semua orang berteriak ketakutan dan situasinya menjadi kacau.

Ketika Anthony tiba, keduanya sedang dibawa ke ruang operasi. Melihat tubuh mereka yang berlumuran darah, wajahnya pucat pasi dan suaranya yang biasanya tenang diwarnai sedikit kepanikan.

"Bagaimana keadaan mereka?"

Dokter bergegas keluar dan melapor, "Pak Anthony, Nona Anita dan Nona Jessica sama-sama jatuh dari platform. Kedua kaki mereka patah, tapi keadaan Nona Anita bahkan lebih parah karena Nona Jessica jatuh menimpanya. Saat ini, cuma ada satu obat khusus untuk obati kaki yang patah. Tapi, Nona Jessica bisa sembuh tanpa obat itu. Menurutmu ...."

Sebelum dokter selesai bicara, Anthony menyela, "Berikan obatnya pada Jessi!"

"Tapi ...."

"Jangan omong kosong lagi. Cepat mulai operasinya!"

Mendengar nada tegasnya, Anita yang baru saja tersadar karena rasa sakit merasa seperti disambar petir. Dia tahu jelas betapa pentingnya kaki bagi seorang penari. Dokter telah dengan jelas mengatakan bahwa kaki Jessica akan baik-baik saja bahkan tanpa obat khusus.

Anita menahan rasa sakit dan menggunakan sisa kekuatannya untuk berbicara. Kini, dia yang selalu memiliki harga diri tinggi malah memohon sambil menangis, "Kak, jangan. Kumohon, berikan obatnya padaku, ya?"

"Nggak masalah meski kamu nggak menyukaiku. Nggak masalah meski kamu menelantarkanku di kaki gunung selama sehari semalam. Tapi, kamu tahu jelas betapa pentingnya kaki ini bagiku. Aku nggak bisa kehilangan kakiku. Aku masih mau lanjut menari! Menari adalah impianku. Aku mohon!"

Saat berbicara sampai akhir, Anita sudah menangis tersedu-sedu. Air mata yang besar dan berkilauan mengalir di pipinya yang pucat.

Melihat gadis yang tidak pernah menangis meskipun dilukai seperti apa pun itu menangis dengan putus asa seperti ini, tangan Anthony yang terkepal di samping tubuhnya sedikit gemetar. Tepat ketika dia hendak berbicara, Jessica yang pingsan di samping juga tersadar karena rasa sakit.

Mengingat rasa sakit di kakinya akibat jatuh dari gedung, Jessica pun menangis ketakutan. "Tony, sakit. Kakiku sakit sekali .... Aku mohon, selamatkan aku ...."

Mendengar ini, Anthony menepis tangan Anita dan bergegas menggenggam tangan Jessica. "Sayang, aku akan segera suruh dokter untuk memberimu obat khusus!"

Tanpa ragu, Anthony mendesak dokter untuk memberikan obat khusus itu kepada Jessica.

Melihat ini, Anita berusaha sekuat tenaga untuk mencondongkan tubuhnya ke arah Jessica. Dia mencoba merebut obat itu dari tangan dokter. Namun, kedua kakinya yang patah terasa sangat berat dan mencegahnya untuk bergerak.

Jarum dingin itu akhirnya ditancapkan ke kaki Jessica. Anita hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat obat itu perlahan-lahan mengalir ke tubuhnya!
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status