Compartilhar

Bab 9 

Autor: Syara
Menjelang hari pernikahan Anthony dan Jessica, semua orang di Kediaman Keluarga Pangestu sangat sibuk.

Pada larut malam, lampu di lantai bawah masih menyala. Juliana mengarahkan pembantu untuk memindahkan perlengkapan pernikahan dan mendekorasi kamar pengantin.

Di lantai atas, sebuah lampu yang redup juga masih menerangi kamar Anita. Dia duduk di atas karpet, dan secara perlahan memasukkan semua hadiah yang diberikan Anthony selama bertahun-tahun ke dalam sebuah kotak besar.

Boneka beruang kecil itu adalah hadiah yang diberikan Anthony pada hari pertama Anita datang ke Kediaman Keluarga Pangestu. Saat itu, dia sangat takut sehingga tidak bisa tidur setiap malam. Anthony akan menyelinap ke kamarnya dan menceritakan dongeng sebelum tidur.

Anthony bahkan mengatakan bahwa beruang itu adalah perwakilannya. Kelak, beruang itu akan menggantikan dirinya melindungi Anita.

Sepatu balet itu adalah hadiah yang dipesan Anthony secara khusus dari luar negeri pada hari Anita memutuskan untuk belajar menari. Anthony menghadiahkan sepatu balet itu untuk menyemangatinya, juga berharap sepatu itu akan menemaninya saat dia bersinar di atas panggung.

Sepatu kristal itu adalah hadiah yang Anthony pakaikan sendiri ke kaki Anita pada ulang tahun Anita yang ke-18. Anthony berkata bahwa meskipun telah dewasa, dia harus selalu menempel pada kakaknya seumur hidup.

Anita mengemas hadiah itu satu per satu, lalu mengangkat kotak yang dipenuhi barang dan menuruni tangga secara perlahan.

Di malam yang sunyi, rumah ini dipenuhi dekorasi meriah. Setiap sudutnya diam-diam mengingatkan Anita bahwa keluarga ini akan segera menyambut nyonya rumah yang baru.

Anita berhenti memandang dekorasi itu, hanya membawa kotak itu ke luar. Dia kebetulan berpapasan dengan Anthony yang baru saja pulang dari Kediaman Keluarga Juskitar.

Melihat kotak besar di tangan Anita, Anthony tiba-tiba merasa cemas dan bertanya, "Kamu mau ke mana?"

"Buang barang yang nggak diperlukan lagi," jawab Anita dengan tenang. Kemudian, dia hendak berjalan melewati Anthony menuju gerbang.

"Nita!"

Melihat sosok Anita yang menjauh tanpa menoleh, Anthony merasa tegang tanpa alasan yang jelas. Sejak insiden itu, Anita menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Awalnya, dia mengira Anita akan membuat keributan karena tidak bisa menari lagi. Akan tetapi, Anita tetap tenang, bahkan terlalu tenang hingga membuat orang cemas.

Anita menoleh ke arah Anthony. Pada detik berikutnya, dia mendengar pria itu berujar, "Jessi bilang, dia berharap kamu bisa jadi pengiring pengantinnya di pernikahan nanti."

Mendengar ini, ekspresi Anita tetap acuh tak acuh. Dia menjawab dengan sopan, "Sekarang, dia itu kakak iparku, bukan sahabatku. Peran semacam itu nggak cocok untuk seorang junior sepertiku. Sebaiknya kalian cari orang lain."

Seusai berbicara, Anita memalingkan muka dan berjalan keluar. Bukan karena tidak cocok, melainkan karena dia harus pergi pada hari pernikahan mereka.

Pada malam sebelum hari pernikahan, Anita sengaja pergi mencari Andre dan Juliana dengan membawa sebuah kotak.

"Ayah, Ibu." Menatap kedua wajah penuh kasih sayang di hadapannya, mata Anita sedikit memerah. "Aku nggak bisa hadiri pernikahan Kakak besok. Orang tua kandungku sudah pesankan tiket pesawat besok pagi untukku. Aku akan berangkat besok."

Andre dan Juliana saling bertukar pandang, lalu bertanya dengan terkejut, "Kenapa tiba-tiba sekali?"

Anita tersenyum sambil menggeleng. Dia mengeluarkan amplop yang sangat tebal dari sakunya, lalu menyerahkannya kepada mereka. "Nggak tiba-tiba kok. Aku seharusnya sudah pergi sejak awal. Di dalam, ada uang yang sudah kutabung selama bertahun-tahun. Nominalnya kebetulan cukup."

Cukup untuk membayar semua uang yang Keluarga Pangestu habiskan untuknya selama 15 tahun terakhir.

Andre dan Juliana menggeleng berulang kali, lalu mencoba mengembalikan uang itu kepada Anita. "Dasar kamu ini ...."

Anita dengan tegas menolaknya dan menyuruh mereka untuk harus menerimanya. Kemudian, dia berlutut di atas lantai dan bersujud tiga kali kepada kedua orang itu dengan penuh khidmat dan kuat.

Saat mengangkat kepala, mata Anita berkaca-kaca, sedangkan dahinya terlihat sedikit berdarah.

"Ayah, Ibu, terima kasih atas perhatian dan kasih sayang kalian terhadap Nita selama 15 tahun terakhir. Aku nggak akan pernah lupakan jasa kalian membesarkanku seumur hidup. Mulai sekarang, Nita nggak bisa lagi berada di sisi kalian. Semoga kalian sehat dan panjang umur."

Pada hari pernikahan, Anthony seharusnya pergi menjemput pengantin wanita. Namun, dia tetap tidak berangkat, malah berjalan bolak-balik di luar pintu kamar Anita.

Melihat pintu yang tertutup, hati Anthony tiba-tiba terasa sakit. Dia merasa dirinya tidak boleh pergi. Jika tidak, dia akan kehilangan sesuatu yang sangat penting baginya.

"Kak, ada apa?"

Anita membuka pintu dan melihat Anthony berdiri di sana sambil memegangi dadanya.

Keacuhan dan dinginnya tatapan mata Anita membuat hati Anthony menegang. Dia menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Bagaimana kalau kamu ikut aku pergi jemput pengantin wanita?"

Anita pun termenung. Ikut dengan Anthony pergi menjemput pengantin wanita? Untuk apa? Menyaksikan dia dan Jessica memamerkan kemesraan?

Anita tanpa sadar melirik jam tangannya. Dia tidak punya waktu. Jadi, dia menggeleng dan menjawab, "Ada beberapa urusan yang harus kuurus. Aku akan langsung pergi ke lokasi pernikahan untuk menunggu kalian."

Baru saja Anthony hendak berbicara, Juliana yang ada di lantai bawah mendesaknya, "Tony, cepatlah! Waktu baik untuk jemput pengantin sudah mau lewat!"

Meskipun Anita menolak dan orang tuanya mendesak, Anthony masih ragu untuk pergi. Dia terus menghalangi pintu kamar dengan tangannya.

Sampai suara desakan makin nyaring, Anthony baru menekan kepanikannya dan berujar, "Temui aku sebelum resepsi pernikahannya dimulai. Ada yang mau kukatakan padamu."

Anita tetap diam dan menunduk dengan acuh tak acuh.

Namun, Anthony terlihat bertekad untuk mendapatkan jawaban darinya dan mengulangi lagi, "Yang mau kukatakan itu penting. Kamu harus temui aku!"

Melihat bahwa dirinya tidak akan bisa pergi kecuali menjawab, Anita hanya bisa berbohong dan mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."

Jawaban itu akhirnya membuat Anthony tenang. Dia melepaskan tangannya dari ambang pintu, lalu berbalik dan pergi.

Anita mengangguk, lalu memperhatikan Anthony turun. Setelah dia masuk ke mobil pengantin, semua orang juga mengikutinya.

Akhirnya, petasan dinyalakan dan mobil pengantin melaju pergi. Semuanya perlahan-lahan mengecil dalam pandangan Anita hingga akhirnya menghilang sepenuhnya. Dia berbisik, "Anthony, selamat atas pernikahanmu. Selamat tinggal selamanya."

Seusai berbicara, Anita membungkuk untuk mengambil koper yang sudah dikemasnya, lalu turun dan meninggalkan rumah. Dia berjalan menuju bandara dengan langkah tegas dan tanpa menoleh lagi ....
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 23

    Satu demi satu fakta yang dilontarkan Karina membuat Anthony perlahan-lahan memejamkan matanya. Kata-kata yang ingin diucapkannya menjadi sangat sulit diucapkan. Rasa pahit memenuhi mulutnya.Anthony tiba-tiba teringat malam ketika gadis kecil itu terlalu takut untuk tidur. Dia membawa boneka beruang kecil dan duduk di samping tempat tidur gadis itu untuk membacakan dongeng pengantar tidur. Di akhir cerita, dia meletakkan boneka beruang itu di samping bantal si gadis, lalu berbicara dengan lembut tapi tegas, "Kakak akan selalu melindungimu, seperti boneka beruang ini. Aku nggak akan pernah sakiti kamu. Kamu akan selalu jadi pilihan pertamaku." Sekilas keterkejutan melintas di mata gadis kecil itu, tetapi dia segera menunduk lagi. "Kakak cuma mencoba menghiburku.""Nggak. Ayo kita buat janji kelingking.""Oke. Kalau Kakak benar-benar menyakitiku kelak, aku nggak akan pernah peduli sama kamu lagi!" Air mata mengalir tanpa suara di wajahnya. Anthony membuka matanya lagi dan menatap ora

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 22

    Di kuil pegunungan di luar kota. Langit perlahan-lahan memutih dan kabut juga makin tebal. Gumpalan asap putih tebal naik bersama kabut dan menutupi seluruh jalan.Karina dan Jonathan berjalan selangkah demi selangkah di sepanjang jalan setapak batu menuju kuil di puncak gunung. Di kejauhan, terdengar lantunan doa samar dan bunyi lonceng yang panjang. Di halaman kuil, pepohonan tua menjulang tinggi dan batu-batunya ditutupi lumut. Angin yang bertiup membuat daun berguguran dan menimbulkan suara gemerisik. Lonceng perunggu yang tergantung di atap juga bergetar pelan.Karina menarik napas dalam-dalam dan duduk di kursi batu yang ada di sudut halaman. Dia memperhatikan Jonathan melihat ke sana kemari, seperti seorang anak kecil yang penasaran. Momen yang seharusnya indah terganggu oleh kedatangan Anthony. Pria ini benar-benar bagai hantu gentayangan. Itulah pikiran pertama Karina ketika melihat Anthony berjalan ke arahnya."Karin, bisa nggak kita bicara baik-baik?" Kata-kata Juliana ke

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 21

    Jessica pada dasarnya sudah kesal mendengar kata-kata Anthony. Sekarang, pria itu malah bersikap galak padanya. Dia juga tidak perlu bersembunyi lagi. Dia bangkit dan berjalan mendekat, lalu ingin meraih lengan Anthony. Akan tetapi, pria itu menghindar dengan cekatan.Jessica menggertakkan giginya, lalu mengamati Karina dari atas sampai bawah. Pada akhirnya, tatapannya berhenti di kaki Karina. Dia berkata dengan santai, "Kelompok tari kami sudah terima tawaran untuk menampilkan pertunjukan dari Keluarga Kusnadi. Kami awalnya berlatih dengan baik, tapi manajer kami tiba-tiba masuk dan bilang pertunjukan kami dibatalkan.""Setelah ditanyakan, alasannya ternyata karena kamu nggak sanggup nonton pertunjukan menari setelah nggak bisa menari. Tapi, kamu juga payah banget. Kalau nggak bisa nonton pertunjukan, ya jangan nonton. Kenapa acaranya harus dibatalkan? Jadinya, ada begitu banyak orang yang kehilangan penghasilan. Kamu memang masih seegois biasanya!""Diam!""Diam!" Beberapa pria itu

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 20 

    Pertanyaan itu membuat Anthony termenung. Dia membuka mulutnya. Apa yang harus dia katakan? Apa dia harus mengatakan bahwa dia menyadari perasaannya pada Karina setelah Karina pergi. Itulah alasan dia ingin mendapatkan Karina lagi.Mengenai Jessica, Anthony bisa saja mengusirnya setelah dia melahirkan. Lagi pula, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka.Anthony menelan ludah, lalu menatap gadis di belakang kedua pria itu. Hanya dalam waktu setengah tahun, keadaan Karina sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat dia berada di Kediaman Keluarga Pangestu. Matanya yang dulu suram kini dipenuhi cahaya."Karin, aku tahu aku salah. Aku nggak seharusnya memperlakukanmu seperti itu. Aku selalu mengira aku nggak menyukaimu. Sampai kamu pergi, aku baru sadar orang yang benar-benar kucintai adalah kamu. Jessica cuma alat yang kugunakan untuk buat kamu kesal. Jadi, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan lagi?" Anthony bersikap seperti seorang suami yang akhirnya menyadari kesalahannya setelah

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 19

    Jika itu dulu, Jessica pasti akan menolak. Sekarang, dia tidak punya pilihan selain datang. Jika bisa memenangkan hati Keluarga Kusnadi dengan menginstruksikan tarian ini, statusnya di Keluarga Pangestu akan meningkat. Memikirkan hal ini, dia menegakkan punggungnya dan berseru, "Yang paling kiri, angkat kakimu sedikit lebih tinggi lagi." Saat semua orang berlatih dengan antusias, manajer baru itu tiba-tiba masuk dengan wajah suram dan bertepuk tangan. "Untuk apa kalian masih berlatih? Pulanglah!" Menghadapi amarah manajer yang tiba-tiba, semua orang saling memandang. Bahkan Jessica yang sedang duduk di kursi juga berdiri dan berjalan menghampirinya secara perlahan."Bukannya latihannya berjalan dengan baik? Kenapa tiba-tiba berhenti?" Melihat Jessica, manajer itu langsung kesal. Namun, karena takut pada status Jessica, dia hanya bisa menjawab dingin, "Mana kutahu? Keluarga Kusnadi baru saja kirim orang untuk suruh kita nggak perlu berlatih lagi. Mereka nggak jadi tampil di acara in

  • Jangan Ceritakan Tentangku Padanya   Bab 18 

    Setelah membereskan barang-barang, Karina dan Jonathan mengobrol sebentar dengan ibu Jonathan. Kemudian, mereka baru membawa hadiah dan berjalan kaki ke Kediaman Keluarga Kusnadi untuk mengunjungi mentor Susana.Sebelum pergi, mereka tidak lupa berpesan kepada ibu Jonathan untuk tidak menyisakan makanan untuk mereka. Ibu Jonathan mengangguk, lalu mengingatkan mereka untuk berhati-hati sebelum memperhatikan mereka pergi.Jarak dari Kediaman Keluarga Wijaya ke Kediaman Keluarga Kusnadi tidak jauh. Namun, Jonathan adalah orang yang tidak bisa diam. Dia terus meminta Karina untuk menceritakan kisah tentang ibu kota.Meskipun telah tinggal di ibu kota selama 15 tahun, Karina hanya selalu bolak-balik antara studio tari dan Kediaman Keluarga Pangestu. Dia sangat jarang pergi ke tempat lain. Apalagi setelah Anthony mengetahui perasaannya, dia lebih jarang keluar rumah lagi, kecuali perjalanan ke kuil di luar kota itu.Mendengar tentang kuil itu, Jonathan terus-menerus meminta Karina untuk meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status