MasukAku memesan kamar lain di hotel itu untuk sementara waktu.
Tidak mungkin membawa Kak Julia pulang dalam keadaan seperti sekarang. Tangannya masih gemetar hebat, wajahnya pucat, bahkan setiap kali ada suara keras sedikit saja tubuhnya langsung refleks menegang ketakutan.
Polisi masih sibuk di kamar sebelumnya.
Garis pembatas mulai dipasang, beberapa petugas keluar masuk membawa barang bukti, sementara rekaman kamera dan semua perangkat di kamar itu langsung disita untuk pe
Dia terlihat sangat kurus.Mataku langsung mengeras.Pria itu berhenti beberapa meter dari makam.Tatapannya tertuju pada tanah yang baru saja menutupi tubuh Lora.“Lora…”Suaranya bergetar.Aku langsung berjalan menghampirinya.“Akhirnya kamu berani datang? Lihat dirimu! Apa yang sudah lakukan!”Richard tidak menjawab.Dia hanya menatap makam.Aku langsung kehilangan kendali.Brak!Satu pukulan telak mendarat di wajahnya.Richard terhuyung beberapa langkah.Julia terkejut lalu berteriak histeris, “Bayu!”Aku tidak peduli.“Kau datang setelah semuanya terlambat! Lihat Kak Lora! Lkihat! Ini yang kau mau?!”Richard menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Dia tidak membalas.Kedua matanya terlihat sendu. Dia tidak melawan.Bahkan tidak marah.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang ICU kembali terbuka.Seorang dokter dan dua perawat keluar dengan wajah muram.Aku yang sejak tadi berdiri langsung melangkah maju.“Dokter…”Tidak ada jawaban segera.Hanya tatapan penuh belasungkawa yang membuat dadaku mendadak sesak.Perawat yang tadi memanggilku menundukkan kepala.“Maaf, Pak Bayu…”Aku membeku.“Pasien sudah meninggal dunia.”Dunia seakan berhenti berputar.“Apa?”Suara itu keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi pasien terlalu kritis. Kami benar-benar minta maaf.”Julia langsung terisak dalam tangisan. Sementara Eyang Sumi dipeluk erat oleh ibu tiriku.Aku melirik wajah ayah yang sudah berubah pucat di saat yang sama.Semua kehilangan
“Apa?”“Balas ... kan ... dendamku.”Tubuhku menegang.Lora membuka matanya. Tatapannya penuh kesedihan.“Untuk Richard.”Aku terdiam.Nama itu membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin berat.“Richard?”Lora mengangguk.“Aku ingin ... Richard ... dikubur di ... sampingku.”Aku menatapnya dengan bingung.“Kenapa? Bukankah kamu sangat membencinya?”Lora tersenyum pahit.“Karena aku ... pernah ... mencintainya.”Aku tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.“Kak Lora…”“Aku ... memang ... marah ke ... padanya.”Air mata mengalir semakin deras. “Sa ... ngat ma ... rah.”Suaranya bergetar.“Tapi meskipun begitu… aku tidak pernah benar-benar b
Aku segera membantunya bangkit dari ranjang.“Bik, Ayah dan Tante?”“Semua orang sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Saya diminta menyampaikan kabar kepada kalian.”Aku tidak menunggu lagi.Aku segera mengenakan pakaian seadanya.Julia juga bersiap dengan tergesa-gesa.Tidak sampai beberapa menit kemudian, kami sudah keluar rumah.Sepanjang perjalanan, Bik Sari terus berdoa.Aku menggenggam tangan Julia.Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.Suasana terasa begitu mencekam.“Semoga Kak Lora baik-baik saja,” bisik Julia.Aku mengangguk.“Dia pasti baik-baik saja.”Namun suara yang keluar dari mulutku terdengar jauh lebih lemah daripada yang kuharapkan.Aku sendiri tidak yakin.Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, aku langsung turun.Kami berlari menuju pintu masuk.“Ruang ICU di mana?” tanyaku kepada petugas.“Lantai tiga, Tuan.”Kami segera menaiki lift.Bik Sari berdiri di pojok sambil terus meremas kedua tangannya.“Kenapa bisa mendadak seperti ini?” tanyanya li
Julia tersenyum.“Bukankah kamu sudah pulang?”Aku mengangguk.“Ya.”Aku merebahkan tubuh di sampingnya.Julia mendekat, lalu menyandarkan kepalanya di dadaku.Aku memeluknya erat.Untuk beberapa saat, kami hanya diam.Tidak ada pertanyaan. Tidak ada masa lalu. Tidak ada Sebastian. Tidak ada Jelita. Tidak ada Joshua dan tidak ada catatan dendam yang harus dibalas.Tenang. Hanya aku dan Julia.“Aku mencintaimu, Julia,” bisikku.Julia mengangkat wajah. “Benarkah?”“Benar.”“Kalau begitu jangan hanya mengatakannya.”Aku mengernyit. “Apa maksudmu?”“Buktikan.”Aku tertawa pelan.“Bagaimana?”Julia tersenyum jahil. “Temani aku malam ini. Aku memang kehilangan rahim, tetapi aku bisa melakukannya.”
Aku masih berdiri di depan pagar besi yang menjulang tinggi itu.Gerbang telah tertutup rapat.Sebastian sudah membawa Jelita masuk ke dalam rumah, sementara aku hanya bisa mematung di tempat, mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jariku memutih.Entah kenapa, perkataan pria itu terus terngiang di kepalaku.*Kalau begitu, lihat saja sendiri.*Aku tidak menyukai tatapan Sebastian.Pria seperti dia tidak akan mengatakan sesuatu tanpa alasan.Dia terlalu tenang. Terlalu percaya diri. Seolah-olah apa pun yang terjadi, dia yakin pada akhirnya Jelita akan berada dalam genggamannya.Dan dari tatapan matanya, aku tahu satu hal.Kehidupan Jelita tidak akan mudah setelah menikah dengannya.Sebastian mungkin menginginkan Jelita.Namun aku tidak yakin dia mencintainya.Pria itu hanya menginginkan rasa manis yang ada dalam diri Jelita. Dia ingin memiliki wanita itu, menaklukkannya, memastikan Je







