Se connecterAku memesan kamar lain di hotel itu untuk sementara waktu.
Tidak mungkin membawa Kak Julia pulang dalam keadaan seperti sekarang. Tangannya masih gemetar hebat, wajahnya pucat, bahkan setiap kali ada suara keras sedikit saja tubuhnya langsung refleks menegang ketakutan.
Polisi masih sibuk di kamar sebelumnya.
Garis pembatas mulai dipasang, beberapa petugas keluar masuk membawa barang bukti, sementara rekaman kamera dan semua perangkat di kamar itu langsung disita untuk pe
Jelita justru tersenyum tipis."Kamu sedang memikirkan tentang masa depanku?"Aku terdiam.Dia rupanya bisa membaca pikiranku. Tidak ada kata yang tepat untuk kuucapkan kepadanya saat ini."Aku tidak mau kamu menikahiku hanya karena kasihan," ucapnya sesaat kemudian.Aku menatapnya."Jelita.""Aku serius," sahutnya cepat. Matanya mulai berkaca-kaca."Kalau kamu menikahiku hanya karena merasa bertanggung jawab, suatu hari nanti kamu akan menyesal."Aku menggenggam tangannya."Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa semua yang terjadi tidak memiliki akibat.""Aku tahu." Jelita mengusap air matanya."Tapi aku masih punya hak untuk menentukan hidupku sendiri."Aku terdiam.Kalimat itu membuatku berpikir lebih dalam.Selama ini aku terus menganggap pernikahan sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, apakah pernikahan yang dibangun dari rasa b
"Daddy ada di mana saat aku diculik?" Jelita menantang ayahnya dengan tatapan tajam dan suara lantang."Jangan katakan Daddy sedang sibuk di atas ranjang perempuan lain saat aku juga sedang dilecehkan oleh enam pria tidak beradab itu!"Plak!Sebuah tamparan dilayangkan Joshua tepat mengenai wajah Jelita."Jelita!" Aku berusaha bangkit tetapi rasa nyeri di perutku tidak mengizinkanku untuk bergerak sama sekali."Daddy, perempuan yang menculikku mengakui semua ini untuk membalas dendam kepada daddy. Seharusnya daddy mencari tahu, bukan malah menyalahkan Bayu atas apa yang tidak dia lakukan. Dia malah melindungimu saat daddy tidak ada!"Joshua berusaha memegang tangan Jelita tetapi Jelita segera menepisnya lalu mendekati ranjangku.Jelita menggenggam tanganku. "Bayu tidak bersalah."Aku menatapnya dalam diam.Sementara Joshua menatap kami berdua dengan ekspresi yang sulit kubaca.
Disusul suara benda jatuh dan langkah kaki yang berlarian."Jangan! Lepaskan aku! Bayu, tolong!" pekik Jelita samar-samar."Sepertnya ... mereka ingin membawa Jelita pergi lagi, melarikan diri," ucapku dengan panik.Arka langsung berdiri. "Memangnya ada berapa orang di sana?""Enam!"Arka membulatkan kedua matanya, "Enam melecehkan satu wanita? Mereka benar-benar minta dikebiri!""Benar-benar Bajingan! Aku akan ke sana."Arka meraih tongkat bisbolnya dengan marah.Aku meraih lengannya. "Arka..."Dia menoleh."Jangan biarkan mereka membawa Jelita pergi lagi. Kalian harus bisa menyelamatkan Jelita. Kumohon.""Aku janji."Arka segera berlari menyusul yang lain.Aku kembali bersandar pada dinding.Rasa sakit di perutku semakin kuat. Aku menutup mata beberapa detik, berusaha menahannya.&
Aku turun bersama Jelita.Di hadapan kami berdiri sebuah bangunan besar yang tampak sudah lama tidak digunakan. Lampunya redup, pagar tinggi mengelilingi seluruh area, dan suasana di sekitarnya sangat sepi.Aku langsung mengenalinya dari percakapan para penculik sebelumnya.**Gudang Cempaka.**Aku menelan ludah.Jadi benar.Aku hanya bisa berharap, petunjuk yang kutinggalkan melalui baut kecil yang kubungkus dengan potongan sprei dan kutulisi menggunakan darahku mudah-mudahan berhasil membawa Arka ke tempat ini secepatnya.Setidaknya itu harapan terakhirku karena aku sangat yakin, Sebastian mungkin tidak sepintar yang kuharapkan.Aku baru saja hendak bergerak ketika dua orang pria langsung menarik Jelita ke arah berbeda."Hei! Kalian mau apa?""Jelita!"Aku refleks mengejar.Namun, seorang pria menghadangku."Lepaskan dia!"
"Sudah, cepat keluar, jangan terlalu lama di sini!" perintah pria yang lain sambil mendorong pundak temannya.Pria itu kembali melangkah keluar.Pintu besi ditutup.Klik.Aku segera menatap Jelita."Kamu dengar tadi dia bilang di mana?"Jelita mengangguk."Gudang Cendana.""Ya."Aku tersenyum tipis."Mereka baru saja memberikan kita petunjuk."Jelita menatapku bingung."Tapi kita tidak tahu di mana tempatnya.""Benar."Aku mengusap wajah. "Tapi sekarang kita sudah tahu kita ada di mana."Aku tidak tahu apakah nama gudang Cendana dan gudang Cempaka itu cukup untuk membuat kami ditemukan.Namun, dibandingkan sebelumnya, setidaknya sekarang aku memiliki sesuatu yang bisa digunakan.Dan aku yakin satu hal. Kalau aku bisa keluar dari tempat ini, aku akan memberikan nama itu kepada Ardi.Aku hanya perlu bertahan sampai kesempatan itu datang.Malam semakin larut.Aku masih duduk bersandar di dinding, sementara Jelita berada di sampingku."Bayu..."Aku menoleh. "Ya?""Kalau mereka membawa kit
Aku mengusap punggungnya perlahan."Tenang." Aku memegang kepalanya yang sedang menempel di dadaku.Namun, sebenarnya aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.Aku juga terjebak di tempat ini.Pintu besi itu terkunci dari luar. Kami tidak tahu siapa yang menjaga tempat ini, ke mana mereka membawa kami, ataupun kapan mereka akan kembali.Bagaimana mungkin aku bisa menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja?Aku hanya bisa memeluk Jelita lebih erat."Bayu...""Hm?""Aku sangat takut."Aku menatap wajahnya."Aku juga takut."Jelita terdiam, seolah tidak menyangka aku akan mengakuinya."Tapi kita tidak boleh menyerah, bukan?"Aku mengusap rambutnya."Joshua mungkin belum datang karena dia belum tahu kita berada di sini. Jangan langsung berpikir sesuatu yang buruk.""Tapi bagaimana kalau mereka benar-benar melakukan sesuatu kepada kita?"Aku menggeleng."Kita akan mencari cara untuk mencegahnya."Aku kembali menatap pintu besi di hadapan kami.Aku tidak tahu berapa lama waktu yang k







