LOGINPria kedua mencoba melawan dengan cepat, tapi aku langsung menghajarnya dengan pukulan keras tepat di wajah.
Brak!
Ia terjatuh sambil mengumpat kasar.
Namun pria pertama kembali bangkit dan mencoba menyerangku dari samping.
Aku langsung menahan lengannya lalu menghantamkan siku ke rahangnya sekuat tenaga.
“AARGH!”
Suara barang pecah memenuhi kamar hotel itu.
Petugas wanita tadi segera menyelimuti tubuh Kak Julia dan be
“Oh, pria itu?”“Iya.”“Kami merasa kasihan melihatnya.”Aku mengerutkan kening. “Lalu?”“Dia masih pingsan cukup lama.”Aku diam.“Karena tidak tega membiarkannya begitu saja, kami akhirnya membawanya ke rumah sakit.”“Dengan ambulans?”“Tidak ada ambulans yang datang cepat.”Aku mengangkat alis.“Lalu bagaimana membawanya?”Petugas itu tertawa kecil dengan nada canggung.“Kebetulan ada mobil pick-up yang biasa digunakan untuk mengantar jenazah.”Aku terdiam dan mulai menahan tawa.“Jadi…”“Ya. Kami membawanya menggunakan mobil itu.”Aku menutup mata sebentar.Entah kenapa, aku justru ingin tertawa.Richard datang ke makam Lora dengan membaw
Aku berhenti sejenak.Menoleh ke belakang.Richard masih terbaring di samping makam Lora.Sepertinya dia pingsan.Aku sama sekali tidak peduli, entah apakah dia akan bangun.Entah apakah dia akan pergi setelah itu.Aku tidak tahu, juga tidak peduli!Benar-benar tidak peduli!Yang kutahu, dia sudah menuai hasil perbuatannya sendiri.Begitu kami sampai di rumah, suasana langsung terasa berbeda.Tidak ada yang berbicara.Julia bahkan tidak menatapku. Aku membantunya melepas sepatunya, lalu mendorong kursi rodanya masuk ke kamar.Aku menoleh, memperhatikannya orang yang masih berada di ruang tengah.Semua diam.Aku kembali mendorong kursi roda ke dalam kamar Julia.“Julia.”“Ada apa?”Aku ingin menjelaskan tentang Richard dan kenapa aku tidak peduli walau pria itu terlihat sekarat di kuburan tadi, tetapi melihat wajahnya yang murung, aku mengurungkan niat.“Tidak apa-apa.”Julia mengangguk kecil.“Kalau begitu, aku mau mengganti pakaian lalu tidur, tubuhku lelah dan pikiranku kosong.”"Ba
Dia terlihat sangat kurus.Mataku langsung mengeras.Pria itu berhenti beberapa meter dari makam.Tatapannya tertuju pada tanah yang baru saja menutupi tubuh Lora.“Lora…”Suaranya bergetar.Aku langsung berjalan menghampirinya.“Akhirnya kamu berani datang? Lihat dirimu! Apa yang sudah lakukan!”Richard tidak menjawab.Dia hanya menatap makam.Aku langsung kehilangan kendali.Brak!Satu pukulan telak mendarat di wajahnya.Richard terhuyung beberapa langkah.Julia terkejut lalu berteriak histeris, “Bayu!”Aku tidak peduli.“Kau datang setelah semuanya terlambat! Lihat Kak Lora! Lkihat! Ini yang kau mau?!”Richard menyentuh sudut bibirnya yang terluka. Dia tidak membalas.Kedua matanya terlihat sendu. Dia tidak melawan.Bahkan tidak marah.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang ICU kembali terbuka.Seorang dokter dan dua perawat keluar dengan wajah muram.Aku yang sejak tadi berdiri langsung melangkah maju.“Dokter…”Tidak ada jawaban segera.Hanya tatapan penuh belasungkawa yang membuat dadaku mendadak sesak.Perawat yang tadi memanggilku menundukkan kepala.“Maaf, Pak Bayu…”Aku membeku.“Pasien sudah meninggal dunia.”Dunia seakan berhenti berputar.“Apa?”Suara itu keluar begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kondisi pasien terlalu kritis. Kami benar-benar minta maaf.”Julia langsung terisak dalam tangisan. Sementara Eyang Sumi dipeluk erat oleh ibu tiriku.Aku melirik wajah ayah yang sudah berubah pucat di saat yang sama.Semua kehilangan
“Apa?”“Balas ... kan ... dendamku.”Tubuhku menegang.Lora membuka matanya. Tatapannya penuh kesedihan.“Untuk Richard.”Aku terdiam.Nama itu membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin berat.“Richard?”Lora mengangguk.“Aku ingin ... Richard ... dikubur di ... sampingku.”Aku menatapnya dengan bingung.“Kenapa? Bukankah kamu sangat membencinya?”Lora tersenyum pahit.“Karena aku ... pernah ... mencintainya.”Aku tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.“Kak Lora…”“Aku ... memang ... marah ke ... padanya.”Air mata mengalir semakin deras. “Sa ... ngat ma ... rah.”Suaranya bergetar.“Tapi meskipun begitu… aku tidak pernah benar-benar b
Aku segera membantunya bangkit dari ranjang.“Bik, Ayah dan Tante?”“Semua orang sudah pergi ke rumah sakit terlebih dahulu. Saya diminta menyampaikan kabar kepada kalian.”Aku tidak menunggu lagi.Aku segera mengenakan pakaian seadanya.Julia juga bersiap dengan tergesa-gesa.Tidak sampai beberapa menit kemudian, kami sudah keluar rumah.Sepanjang perjalanan, Bik Sari terus berdoa.Aku menggenggam tangan Julia.Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara.Suasana terasa begitu mencekam.“Semoga Kak Lora baik-baik saja,” bisik Julia.Aku mengangguk.“Dia pasti baik-baik saja.”Namun suara yang keluar dari mulutku terdengar jauh lebih lemah daripada yang kuharapkan.Aku sendiri tidak yakin.Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, aku langsung turun.Kami berlari menuju pintu masuk.“Ruang ICU di mana?” tanyaku kepada petugas.“Lantai tiga, Tuan.”Kami segera menaiki lift.Bik Sari berdiri di pojok sambil terus meremas kedua tangannya.“Kenapa bisa mendadak seperti ini?” tanyanya li







