LOGINCuma gara-gara tikus, Zoya, janda muda yang baru cerai 7 bulan, harus menikah dengan pria yang tak dikenal. Awalnya pernikahan itu hanya kesepakatan untuk menutup mulut warga. Namun, lama-lama hati mereka mulai goyah. Sampai Enzo, pria 2 tahun lebih muda darinya itu, memperkenalkan Zoya pada keluarganya. Dan bom pun meledak. Ternyata Enzo adalah adik dari Frisca — wanita yang merebut suami Zoya dulu. Lalu, bagaimana nasib pernikahan mereka nanti? Apakah cinta yang baru tumbuh akan hancur... atau, justru jadi awal pembalasan?
View MoreSinar matahari pagi menyelinap lewat celah gorden yang tipis.
Namun, hangatnya mentari tak bisa menembus dinding hati Zoya yang dingin, semenjak 7 bulan yang lalu. Zoya Amanda, perempuan usia 27 tahun, duduk di depan cermin kusam. Tangannya sibuk meremas handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Bau semerbak sampo melati memenuhi ruangan sempit itu. Mata Zoya menatap lurus ke arah cermin. Tapi, pikirannya entah ke mana. 'Tujuh bulan.' Tujuh bulan, sejak tanda tangan di atas kertas cerai itu mengering. Dengan alasan `mandul`. Tujuh bulan, sejak namanya jadi menu utama di setiap arisan RT. `Lha, masih muda udah jadi janda.' Tujuh bulan, sejak dia bersumpah, `Aku gak butuh laki-laki lagi. Cukup sekali aku kecewa gara-gara lelaki brengsek si tukang selingkuh itu.` Pikirannya masih terus terngiang-ngiang atas kejadian yang telah menimpanya dulu. Hingga tiba-tiba .... `CITTT... CITTTT!' Suara tak asing langsung membuyarkan lamunan. Zoya menoleh, mencari dari mana sumber suara itu berasal. Jantungnya langsung copot. Saat melihat dari kolong meja rias, dua ekor tikus mengintip. Matanya merah. Satu di antaranya berlari lurus ke arah kaki telanjang Zoya. Otaknya nge-lag dua detik. Dan, detik ketiga .... “AAAAAAAAAAAKKK!!! TIKUSSS!!! TOLOOONG!!! IBUUU!!!” Teriakannya memecah pagi. Refleks Zoya melompat. Handuk putih yang melilit tubuhnya melorot sedikit. Dia tak peduli. Dia lari. Keluar kamar, melewati ruang tamu, langsung ke pintu depan yang memang belum dikunci. `Tok. tok. tok!' Berbarengan dengan itu, pintu kayu depan terbuka. Di ambang pintu berdiri seorang laki-laki. Tinggi. Kaos hitam polos yang ketat di badan, celana jeans sobek di lutut. Rambut sedikit gondrong masih basah karena gerimis. Di tangan ada helm. Wajahnya datar, tapi matanya tajam menilai situasi. Enzo. Temannya Raka. Karyawan supermarket. Belum sempat dia mengucapkan salam, "Permisi. Assalamu ala --”, dari arah dalam ada peluru berpakaian handuk yang langsung menerjang. “AAA ... ADA TIKUS!!! TOLOOONG!!!” `Brug!` Badan Zoya menabrak dada Enzo. Keduanya oleng dan jatuh. Zoya di atas. Enzo di bawah. Dengan posisi... ya Allah. Handuk Zoya nyaris lepas. Rambut basahnya menetes ke leher bertato milik Enzo. Napas mereka sama-sama kacau. `Dug-dug... dug-dug...` Mereka saling tatap. Dua detik. Diam. Saling shock. Dunia seolah langsung berhenti berputar. Zoya terpaku, menatap wajah tampan pria itu. "Ya Allah, Ini siapa? Kenapa ganteng banget? Terus... aku lagi pake apa sekarang? HANDUK DOANG?! Astaghfirullah...." Sementara batin Enzo, 'Anjir! Siapa nih cewek? Wangi. Mata indah, rambut basah, bibir gemetaran. Seksi. Tapi eh, ngapain dia meluk aku sekenceng ini? Terus kenapa pula, jantung ku balapan kayak ketemu mantan?' Hingga— "ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!! APA-APAAAN INI?!” Suara Bu RT memecah segalanya. Ibu Zoya, Raka, Bu RT, dan Pak RT. Empat orang. Masih pegang kresek gorengan anget. Mata mereka melotot. Mulut Bu RT sampai kebuka lebar. Pemandangan di depan pintu. Seorang janda muda hanya berbalut handuk putih, menindih seorang laki-laki di teras rumah. Hening seketika. Raka yang pertama melek. Wajahnya pucat. “B-BANG ENZO?! NGAPAIN kamu di sini?" Zoya langsung terlonjak. Panik. Dia buru-buru berdiri sambil narik handuk sekuat tenaga. Lututnya lemas. Wajahnya memerah, malu setengah mati. Enzo ikut berdiri. Mengusap tengkuknya yang pegal. Wajahnya tetap datar, tapi telinganya merah. Matanya tak sengaja melirik Zoya dari atas ke bawah. Cepat. Di tengah genting seperti ini, sempat-sempatnya dia malah mikirin bahu Zoya yang putih, mulus, tanpa cela. Namun sedetik kemudian, ia tersadar. 'Fokus Enzo. Fokus! Kamu ke sini mau nyari Raka. Bukan malah mandangin bahu mulus tuh cewek!' "EH, BUKAN BU!” Zoya buru-buru bersuara. Suaranya serak. “Ini salah paham! Aku takut tikus! Dan dia tadi nolongin! Sumpah Bu! Kami nggak ngapa-ngapain kok." Zoya langsung sembunyi di belakang punggung Enzo. Tangannya mencengkeram kaos Enzo dari belakang. Cari perlindungan. Enzo merasakan tarikan di punggungnya. Hangat. Sigap Raka melepas jaket dan memberikan pada kakaknya. “Iya Bu. Tadi dia kaget. Gak sengaja nabrak saya." Suara Enzo datar, tapi badannya otomatis maju selangkah. Menghalangi Zoya dari sapu Bu RT. Ibu Zoya sudah duduk lemas di kursi. Nangis. “Oalah, Nduk ... malu sama tetangga... malu sama bapakmu di kuburan. Ya Allah, ya Robb!" Zoya menunduk. Air matanya mulai jatuh. Enzo melihat bahu Zoya yang bergetar. `Sial. Kenapa aku jadi kasihan? Ini bukan urusanku. Tapi... kalau aku diem, cewek ini bakal hancur. Dan aku benci liat orang hancur gara-gara omongan orang.' Enzo menghela napas panjang. Dia maju setengah langkah. “Bu, saya Enzo. Temannya Raka. Saya cuma mau mampir," ujarnya tenang tapi dingin. “TEMEN?!” Pak RT mendengus keras. "Jam 7 pagi main ke rumah janda? Pake acara jatuh-jatuhan lagi. Udah! Gak usah muter! Tanggung jawab!” Rahang Enzo mengeras. “Tanggung jawab apa, Pak? Orang kita gak ngapa-ngapain, kok." Bu RT menyahut cepat. Matanya nyala. "NIKAH! Kamu harus nikahin Zoya! Besok! Biar gak jadi fitnah se-kampung!" Dunia Zoya berhenti saat itu juga. "APA?! NIKAH?!” Zoya dan Enzo terpekik shock. Tidak percaya.'CIIIT!` Suara rem mobil sport hitam mewah milik Enzo berhenti mulus tepat di depan gerbang rumah besar keluarga Bautista. Enzo turun duluan. Kemeja putihnya agak berantakan, jasnya sudah ia lempar di jok belakang. Tanpa ragu, ia buka pintu penumpang dan kembali mengangkat tubuh Zoya dengan bridal style. Tidak diturunkan sama sekali dari kantor. "Mas, turunin... aku bisa jalan kok," bisik Zoya malu-malu. "Diam. Kakimu bengkak," jawab Enzo pelan. Pintu rumah dibuka, Enzo masuk sambil terus gendong Zoya. Di ruang tamu, Frisca dan Vanessa lagi duduk santai menyilangkan kaki sambil menyeruput teh. Mereka berdua menoleh. Awalnya bingung dan melongo. Mereka melihat Enzo menggendong seorang wanita cantik. Rambutnya tergerai rapi, dress creamnya elegan, kulitnya glowing. Jauh banget dari Zoya yang mereka kenal yang biasanya kucel pakai daster. "Eh, itu siapa yang digendong sama Enzo? Sepertinya bukan Zoya deh?" bisik Vanessa ke Frisca, kaget. Frisca juga mengerutkan dahi, "
Pelan, mereka lewat koridor, turun tangga besi, masih di gendong terus! Karyawan di lantai 1 dan lantai 2 auto berhenti kerja, melongo dan berbisik. "Sumpah itu Zoya? Glowing banget digendong Pak Enzo! Beda banget sama yang dulu!" "Iya, dulu cuma kasir biasa. Tapi, sekarang udah jadi Nyonya Besar beneran!" Setiap langkah Enzo yang pelan tapi pasti itu seperti pernyataan. Bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi Zoya yang nunduk-nunduk di gudang, tidak ada lagi Zoya yang dicap mandul. Yang ada hanya Nyonya Zoya Bautista, yang kakinya saja tidak boleh menyentuh lantai kotor supermarket ini. Di ujung koridor lantai 2, Amelia melihat itu semua. Mukanya yang tadi merah karena malu, sekarang ungu kehitaman! Panas! Iri! Benci! "Curang! Curang! Harusnya aku yang digendong Kak Enzo! Harusnya aku yang jadi Nyonya Besar!" geramnya dalam hati sambil menginjak-injak lantai sampai heelsnya mau patah. Sementara Pak Deon yang masih berdiri di depan pintu ruangannya, hanya bisa geleng-gelen
BRAK!` Pintu ruangan Pak Deon terbuka kasar! Enzo keluar dengan wajah merah padam. Dari dalam ruangan kaca, ia melihat semua. Di detik terakhir, Enzo dengan sigap menangkap tubuh Zoya yang hampir jatuh! Zoya langsung jatuh ke pelukan Enzo. Grep! "Sayang! Kamu gak apa-apa?!" Zoya memeluk dada Enzo, gemetar. "Aku gak papa," jawabnya pelan. Enzo yang melihat siapa pelakunya, matanya langsung menyala. "KAMU BILANG APA TADI SAMA ISTRI SAYA?! DAN KAMU BERANI DORONG ISTRI SAYA?!" Wajah Amelia langsung pucat dan nangis takut beneran. Tangannya yang masih di udara langsung turun lemas. "Ma... maaf Kak Enzo. A-aku... tadi gak sengaja." Enzo sudah mengepalkan tangan, mau lanjut bentak Amelia lagi, TAPI... "SUDAH CUKUP, ENZO!" Suara berat Pak Deon membentak dari dalam ruangannya. Ia keluar dengan wajah super dingin dan kecewa. Ia menatap Enzo, Zoya, dan Amelia yang masih mematung di koridor. Semua staff langsung diam, takut. "Jangan bikin malu di kantor! Ini kantor, bukan
Pintu kaca tertutup. `KLEK!` Hanya tersisa Pak Deon dan Enzo di dalam ruangan kerja yang ber-AC dingin. Zoya menunggu di luar. Pak Deon melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. Lalu sambil memijat ujung hidung dia mulai menatap Enzo dengan tatapan menyelidik. Wajahnya tidak marah, tapi lebih ke kecewa dan serius. "Duduk!" Enzo tidak duduk. Ia masih berdiri tegak. "Ada apa, Pa?" Pak Deon menghela napas panjang. "Papa mau tanya serius sama kamu, Enzo. Kamu balik ke kantor ini, kamu serius mau kerja? Mau bantu Papa ngurus Superstar ini? Atau kamu cuma mau main-main? Bikin keributan sama Damar?" Enzo terdiam. "Papa lihat sendiri kan dari tadi. Kamu bawa Zoya ke sini, pamer di depan Damar. Kamu mau bikin kantor ini jadi arena tinju kamu sama Damar rebutan perempuan, Enzo?" "Bukan gitu, Pa," jawab Enzo dingin. "Aku bawa istri sendiri ke kantor. Salahnya di mana?" Pak Deon mengebrak meja pelan. `BRAK!` "Salahnya, istri kamu itu mantan istri karyawan Papa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore