LOGINWarning (Area 21+) Mohon untuk tidak membaca di tempat umum. “Pe—pelan sedikit…” “Kamu sadar ‘kan… kita sepupuan?” “Kalau iya, memangnya kenapa?” "Kamu Nakal..." Kunjungan pertamaku ke keluarga besar ibu tiri seharusnya menjadi momen hangat dan penuh silaturahmi. Tapi siapa sangka, di balik keramahan mereka, tersimpan godaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tiga sepupu perempuanku–yang satu dingin dan menantang, yang satu lembut dan penuh perhatian, dan yang satunya lagi diam namun berbahaya–mulai membuatku kehilangan kendali. Ketiganya sama cantik, tubuh mereka yang sintal dan padat dengan sisi kedewasaan penuh, selalu bisa membuat pria tulen seperti diriku mengalami kesulitan untuk bertahan dari godaan. "Aku tahu kami sepupuan, tapi saat mereka mendekat dan bertindak seakan aku milik mereka, aku mulai bertanya, sampai kapan aku bisa menahan diri?" Tatapan, sentuhan kecil, hingga bisikan samar di malam hari, perlahan mengaburkan batas antara keluarga dan hasrat. Kupikir aku bisa menahan diri, sampai malam terakhir sebelum kepulanganku… saat semuanya berhenti menjadi sekadar godaan.
View MoreLorong rumah itu terlalu panjang dan sunyi, membuat langkah kakiku terdengar lebih jelas dari yang kuinginkan. Aku sedang mencari kamar tamu ketika sebuah suara menghentikanku tepat di tengah langkah.
Suara perempuan.
Aku menautkan alis, suara... desahan.
Rendah, sedikit terputus, seperti ditahan agar tidak terdengar keluar kamar.
“Erghhh... Aku sudah bilang jangan terburu-buru,” katanya.
Ada helaan napas tipis setelahnya, lalu suara lain dari seseorang, seperti suara yang keluar dari speaker ponsel. Suara pria yang tidak bisa kudengar jelas.
"Buka, aku ingin melihatnya, Baby..."
Aku refleks menghentikan langkahku.
Pintu di sampingku terbuka sedikit. Cukup untuk memperlihatkan sebagian ruang kamar dan sosok perempuan yang duduk di sisi ranjang, membelakangiku. Rambut ikalnya yang sepanjang pinggang itu tergerai, bahunya naik turun pelan. Di tangannya, ponsel menyala terang. Video call.
Aku tahu aku seharusnya pergi.
Tapi tubuhku terlanjur diam. Rasa penasaranku sebagai seorang pria tulen, mulai tidak terkontrol.
Tangannya bergerak ke arah pakaiannya, menurunkan tali gaun tidurnya sampai ke lengan dengan gerakan cepat, seperti seseorang yang merasa sedang bergairah.
Semua menarik perhatianku dari gerakan sesingkat itu. Mataku menangkapnya terlalu jelas dan jantungku berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Lalu perempuan itu berkata, dengan nada setengah kesal, setengah menggoda, suara yang membuat desiran di dadaku semakin tidak bisa kucegah.
“Lihat, jadi berantakan begini. Aku... mulai basah 'kan.”
Aku menelan ludah.
Kalimat itu mungkin tidak berarti apa-apa, tapi cara dia mengatakannya, membuat dadaku terasa hangat dengan cara yang salah.
Perempuan itu, sedang melakukan video call dengan seseorang untuk membuatnya berhalusinasi.
Aku menelan ludah, merasakan desiran di dadaku mulai mengalir ke bagian bawah perutku, membuat celanaku terasa sempit.
"Lebih baik aku segera pergi," gumamku dalam hati.
Aku baru hendak melangkah pergi ketika dia bergerak sedikit ke samping.
Dan matanya menangkap bayanganku di cermin, tepat saat sebelah tangannya sedang meremas salah satu daging berkulit putih miliknya yang hampir terbuka.
"Uhhhgh..." pekiknya lalu buru-buru menyembunyikan ponselnya ke belakang punggungnya.
Sesaat, dunia seperti berhenti. Aku mematung dengan wajah polos.
Dia menoleh. Tatapan kami bertemu—langsung, tanpa jarak. Wajahnya membeku sepersekian detik sebelum rona merah naik ke pipinya. Dia lalu memutus panggilan dengan gerakan cepat, hampir kasar, lalu membenahi pakaiannya secara asal. Tidak rapi. Jauh dari kesan terkendali yang tadi kulihat.
"Hei! Siapa kamu?!"
Aku hendak berlari, namun suara kerasnya mencegahku bergerak lebih. "Berhenti!"
Dia melangkah mendekati pintu dan membukanya lebar.
“Apa kamu tidak diajari mengetuk?” katanya.
Nada suaranya kesal. Bukan malu atau mungkin malu yang disamarkan dengan kemarahan.
“A—aku cuma cari kamar tamu,” jawabku cepat. “Maaf. Aku tidak sengaja.”
Dia menghela napas, memalingkan wajah, membenahi pakaiannya yang berantakan lalu kembali menatapku dengan sorot yang tajam.
Aku memalingkan wajahku yang terasa hangat saat menyadari betapa tipisnya gaun tidur berwarna gading yang sedang ia pakai dan lekuk tubuh itu tercetak dengan jelas.
"Siapa kamu?"
Aku menundukkan kepalaku dengan kaki yang bergetar. Sudah jelas sekali perempuan itu lebih pendek dariku satu kepala, tetapi dia terlihat seperti berusia lebih beberapa tahun di atas usiaku.
"A-aku, anak Ayahku. Maksudku, Ayahku baru menikah dengan anak perempuan Eyang Sumi. Dan aku anaknya, uhh... maksudku." Perkataanku terpatah-patah karena canggung dan sepertinya tidak ada satu pun rangkaian kalimatku yang benar dan bisa menjelaskan situasiku saat ini.
"Ohh, jadi kamu sepupu tiriku yang baru," gumamnya sembari melipat tangan di bawah dada.
Aku melirik dengan lirikan kecil. Terutama tangannya yang terlipat di bawah dada. Terlintas di bayanganku, adegan yang membuat tubuhku membeku dan … menegang.
“Lain kali hati-hati,” katanya dingin. “Ini rumah orang. Dan...” perempuan itu mendekati telingaku.
Aroma parfum yang berbau seperti permen itu membuat jantungku kembali berpacu dengan cepat.
"Lupakan apa yang sempat kamu lihat,” ucapnya dengan wajah ketus.
“Aku pikir ada lelaki yang menyusup, aku hanya… ternyata itu suara dari video call kamu dengan…”
“Lupakan! Kamu paham?” selanya.
Aku mengangguk dengan cepat dan berulang kali, merasa mulai rileks kembali seperti semula.
"Berapa umurmu?" tanyanya dengan ketus.
"Sembilan belas... tahun, Kak."
"Hmmm..."
Aku terkejut saat jari telunjuknya yang lentik menyentuh dada bidang milikku. Melingkar membuat circle kecil yang membuat dadaku seperti sedang terpanah.
"Tubuhmu terlihat lebih dewasa daripada usiamu… Ingat! Lupakan apa yang kamu lihat atau kucolok matamu!"
Pekikannya memecah keheningan ruangan.Aku refleks melangkah mendekatinya. Ingin segera merangkulnya ke dalam pelukanku."Julia, tunggu! Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan!"Namun Julia sudah berbalik.Air matanya terus mengalir saat ia berlari meninggalkan ruang itu."Julia!"Aku hendak mengejarnya.Baru satu langkah kakiku bergerak, terdengar suara lirih dari belakang."Bayu..."Aku langsung menoleh.Kelopak mata Nara bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka.Tatapannya masih kosong beberapa detik, seolah berusaha mengenali tempat di mana ia berada."Bayu..."Suaranya begitu lemah.Aku menutup mata sesaat. Kakiku seolah dipaku di lantai.Di satu sisi, Julia baru saja pergi dengan hati yang hancur.Di sisi lain, Nara baru saja sadar setelah kehilangan neneknya."Nenek..." bisik Nara pelan.Matanya bergerak ke sekeliling ruangan.
Sulit dipercaya bahwa di balik keheningan itu, ada kehidupan lain yang baru saja mulai tumbuh.Dadaku terasa sesak. Menyadari bagaimana aku sudah membuat kehidupan Nara menjadi lebih rumit tanpa bisa menjanjikan apapun kepadanya."Maafkan aku, Nara...."Suaraku nyaris tak terdengar."Aku tidak bisa...."Aku memejamkan mata sesaat.Jemari tanganku sedikit bergetar di atas selimut."Bagaimana mungkin... aku..." Aku mengembuskan napas panjang. "Aku bahkan belum mampu bertanggung jawab. Aku masih kuliah. Aku belum punya pekerjaan tetap. Aku bahkan belum selesai membangun masa depanku sendiri....""Aku masih harus kembali ke kota minggu depan, tepatnya dua hari lagi. Bagaimana aku bisa bertanggungjawab terhadap kehamilanmu? Aku sudah memberimu obat anti, kenapa kamu tidak memakainya?"Aku menggigit bibir, menahan kegelisahan yang memenuhi pikiranku."Ini... semua terjadi begitu cepat."Aku memukul kepalaku sendiri, merasa menyesal karena tidak mampu mengendalikan nafsu sendiri.Bayangan wa
Beberapa petugas rumah sakit segera berlari memasuki ruangan."Pasien mengalami sinkop. Bawa ke IGD sekarang!"Tanpa menunggu lebih lama, aku langsung mengangkat tubuh Nara ke dalam gendongan. Tubuhnya terasa begitu ringan, seolah semua tenaganya telah habis bersama tangisnya.Aku berlari mengikuti petugas menuju Instalasi Gawat Darurat.Di belakangku, Eyang Sumi memanggil namaku."Bayu!"Aku menoleh sekilas. "Eyang akan mengurus semuanya di sini. Pemakaman tidak bisa ditunda terlalu lama."Aku mengangguk pelan, meski terasa berat."Tolong... dampingi dia.""Aku akan menjaga Nara."Eyang mengembuskan napas panjang."Kalau begitu biar Eyang dan Julia yang mengurus proses pemakaman neneknya. Nanti... kalau Nara sudah sadar, kita jelaskan semuanya."Keputusan itu memang menyakitkan, tetapi tidak ada pilihan lain. Kondisi Nara tidak memungkinkan untuk ikut mengantar jenazah ke pemakaman.Aku kembali mengikuti perawat hingga ke IGD.---Beberapa puluh menit berlalu.Nara sudah dipindahkan
Aku memegang bahunya, "sudah, tidak usah pikirkan. Yang penting kita selesaikan dulu prosesi pemakaman yang layak untuk nenekmu."Nara mengangguk dengan wajah yang lesu. Bahunya mulai bergetar saat air mata mengalir membasahi pipinya.Aku tidak bisa menahan lagi rasa simpati yang muncul begitu saja. Aku segera menariknya ke dalam pelukan."Sudah, sudah. Jangan menangis lagi.""Bayu, Nara sebatang kara sekarang.""Tidak apa-apa, kamu ada aku, ada Eyang dan juga ..." aku melirik Julia yang hanya melirikku sesekali. "Ada Kak Julia, dia pasti bisa menjadi kakakmu juga."Nara mengangguk dalam pelukanku. Kedua tangannya memegang pinggangku dan isak tangisnya mulai terdengar.Menyadari tatapan Julia yang mulai terlihat tidak nyaman, aku segera melepaskan pelukanku."Kemarilah, duduk dulu dan tenangkan dirimu."Selama menunggu, Nara duduk diam di kursi ruang tunggu.Nara duduk dengan patuh di kursi tunggu.Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.Aku me
Sejak semalam aku sudah cukup kesal dengan ucapan Julia. Sekarang Diana ikut-ikutan. Semua gara-gara Kak Lora yang memergokiku membeli obat untuk Ayah.Aku menarik napas keras lalu menahan emosiku beberapa detik. Namun rupanya kesabaranku benar-benar habis.Dengan kesal aku menarik
Diana menghela napas, lalu menatapku dengan ekspresi setengah kesal, setengah canggung. “Tenang. Aku nggak aneh-aneh. Kamu duduk di depan pintu. Membelakangi. Aku cuma… nggak mau sendirian.”Diana menyatukan kedua telunjuknya dan menatapku dengan tatapan memohon. Sungguh
Aku menggeleng sambil menjatuhkan tubuh ke atas ranjang.Tubuhku benar-benar lelah.Hari ini terasa seperti satu minggu penuh kejadian aneh.Ayah di rumah sakit.Ciuman dengan Kak Lora.Panik karena Kak Diana hampir memergoki lalu janda toko lampu yang mencoba m
Aku benar-benar tidak ingin terlibat dalam pertengkaran aneh ini.Tanpa berkata apa pun, aku berjalan melewati mereka menuju gudang kecil di dekat dapur lalu mengambil tangga lipat.Kedua perempuan itu masih berdebat bahkan ketika aku kembali.Mereka bahkan tidak menyadari ak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews