เข้าสู่ระบบPicking up where "Jasper: The Beginning" left off, Jasper comes into his own as he searches for a way to rescue Lila and her fellow witches from the evil vampires while hiding his association with the zombies from the werewolves. Filled with thrills, chills, and intrigue, "Jasper: Love and Monsters" [book two of this exciting trilogy] will keep you on the edge of your seat turning pages!
ดูเพิ่มเติมPuncak Gunung Sumbing pagi itu nampak berkabut akibat hujan yang turun cukup lebat tadi malam. Hampir keseluruhan dedaunan pepohonan di gunung itu masih tampak basah dan berembun.
Arya yang tengah asyik berlatih, lantas berhenti lalu melangkah ke arah pondok begitu mendapat panggilan sang guru.
Pondok itu berukuran tidak terlalu besar, tetapi memiliki anak tangga yang tingginya sekitar 5 kaki. Arya pun menaiki tangga itu di mana di dalam pondok Nyi Konde Perak tengah duduk bersila.
Setiba di atas pondok itu Arya pun ikut duduk bersila di depan Nyi Konde Perak, tak lama kedua mata perempuan tua di depannya terbuka setelah beberapa saat yang lalu ia picingkan.
“Kenapa tiba-tiba saja Eyang memanggil saya? Padahal saya belum selesai berlatih pagi ini,” tanya Arya.
“Saya rasa sudah cukup kamu berlatih, semua ilmu yang saya wariskan sepertinya telah kau kuasai dengan baik. Saya memanggilmu ingin memberi tahu bahwasanya sudah waktunya kamu untuk turun gunung muridku,” tutur Nyi Konde Perak yang ternyata guru dari Arya.
“Lantas apa tugas yang akan saya lakukan karena Eyang memintaku segera turun gunung? Apakah saya ke Pulau Andalas dulu mencari keberadaan Ibu Saya itu?” Arya bertanya kembali.
“Hemmm, tentu saja tidak harus terlebih dahulu mencari Ibumu ke Pulau Andalas sana. Di Tanah Jawa ini banyak sekali permasalahan yang terjadi, perampokan, penindasan serta pemerkosaan yang dilakukan para manusia bejad. Pertempuran di mana-mana berebut kekuasaan dan itu menyebabkan banyaknya manusia-manusia tak berdosa yang menjadi korban, kau harus bisa memilah mana yang harus kamu bela mana yang musti kamu tumpas nantinya,” tutur Nyi Konde Perak.
“Tapi saya nanti diizinkan juga untuk mencari Ibu saya di Pulau Andalas sana kan Eyang?”
“Tentu saja Arya, sebab di Pulau Andalas juga kerap terjadi kekacauan oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Mereka umumnya para pendekar-pendekar dari golongan hitam yang selalu suka berbuat kejahatan demi mencapai keinginannya, kamu harus berhati-hati mereka bukan saja tega membunuh siapa saja tapi juga pandai menyusun siasat licik.”
“Baik Eyang, nasehat dari Eyang akan selalu saya ingat.”
“Di dalam rimba persilatan sosok pendekar selalu memiliki julukan di samping nama yang melekat pada dirinya, julukan itu biasanya diberikan oleh sosok yang dihormati seperti Raja ataupun Guru. Untuk itu kamu saya beri julukan Rajawali Dari Andalas, tujuannya bukan untuk memamerkan diri karena memiliki ilmu tinggi melainkan sekedar julukan yang akan memudahkan bagi siapa saja yang pernah kamu tolong untuk mengingatmu nantinya,” tutur Nyi Konde Perak.
“Oh, seperti halnya Eyang yang dijuluki Nyi Konde Perak, begitu?” tanya Arya.
“Ya benar, tapi julukan saya ini bukan dari Guru saya melainkan dari seorang Raja yang dulu pernah saya bantu mempertahankan Kerajaannya dari serangan musuh.”
“Lalu apakah Brahma akan saya bawa serta dalam memulai perjalanan menegakan kebenaran di muka bumi ini, Eyang?”
Pemuda itu teringat pada seekor burung rajawali yang sangat besar berwarna putih. Sejak kecil, Arya selalu bermain dan dijaga oleh burung rajawali itu saat Nyi Konde Perak berpergian sejenak meninggalkan puncak Gunung Sumbing. Saking besarnya burung rajawali itu, Brahma bahkan mampu membawa beberapa orang dewasa di punggungnya sambil terbang dan mampu pula menjinjing dua ekor induk kerbau ke udara.
Brahma juga akan dengan mudah membunuh siapa saja yang ia lihat saat terbang di udara membuat keonaran di muka bumi, meskipun dia tak pandai bicara layaknya manusia namun ia faham setiap kata-kata yang diucapkan Nyi Konde Perak dan Arya.
Nyi Konde Perak terdiam, sebelum akhirnya ia berbicara, “Hemmm, kamu tidak boleh manja. Brahma bisa saja kamu panggil kapanpun kamu mau asal dalam keadaan benar-benar terdesak seperti halnya menggunakan Pedang Rajawali Putih,” jawab Nyi Konde Perak.
Arya pun mengangguk. “Baik Eyang, saya tidak akan sembarangan menggunakan Pedang Rajawali Putih atau juga memanggil Brahma.”
“Sekarang berangkatlah muridku. Selalu ikuti kata hatimu dalam setiap menentukan arah langkah, jika kau telah melangkah jangan pernah menoleh lagi ke belakang. Ingat Arya selalulah berpegang teguh pada amanah untuk menegakan kebenaran membasmi keangkaramurkaan di muka bumi ini,” Nyi Konde memberi nasehat.
“Baik Eyang, ilmu yang Eyang wariskan ini akan saya gunakan untuk membela kebenaran. Terima kasih selama ini saya Eyang asuh dan gembleng menjadi seorang pendekar, saya tidak tahu dengan apa akan membalas budi baik Eyang ini,” ucap Arya.
“Saya tak pernah mengharapkan balas budimu Arya, dengan kamu tetap berpegang teguh menggunakan ilmu yang kau miliki di jalan yang benar itu sudah cukup membuatku senang.”
“Saya pamit Eyang,” ucap Arya seraya membungkuk dan mencium kedua tangan Gurunya, Nyi Konde Perak tersenyum lalu mengusap-usap pundak muridnya itu.
Setelah Arya turun dari pondok ia pun langsung langkahkan kakinya menuruni lereng Gunung Sumbing itu sambil bersiul-siul.
Seperti yang tadi disarankan Gurunya, Arya tak sekalipun menoleh ke belakang ke arah pondok di mana di sana Nyi Konde Perak yang masih duduk bersila memicingkan kedua matanya kembali seperti orang yang sedang bersemedi.
Yang namanya seorang pendekar berilmu tinggi tentu tidak sama cara menuruni lereng gunung dengan manusia biasa pada umumnya, tubuh Arya seperti kapas yang ringan berkelebat dari atas ujung dahan pepohonan ke ujung dahan pepohonan lainnya hingga dalam sekejab saja ia telah tiba di lembah.
*****
Tak lama, Arya pun tiba di lembah Gunung Sumbing.Anak sungai berbatu-batu membuatnya melompat dan menjejakan kedua kakinya di batu yang satu ke batu yang lainnya Arya pun tiba di seberang.
Seakan tantangan belum berhenti, setelah menyeberangi anak sungai berbatu-batu, Arya dihadapkan dengan hutan belantara, pepopohan di hutan itu sangat rapat dan berdaun rimbun.
Anehnya, dia merasakan hawa tak mengenakan saat menyelusuri hutan belantara itu.
Perkataan sang guru untuk menegakan kebenaran di manapun ia berada tiba-tiba terlintas.
Sebagai Pendekar, ia telah berjanji untuk menyelesaikan semua tugas menumpas segala keangkaramurkaan dari orang-orang jahat atau para pendekar dari golongan hitam yang selalu membuat keonaran di Pulau Jawa. Setelahnya, ia baru akan mencari Ibunya di Pulau Andalas.
Diam-diam, pemuda itu pun berdoa dalam hati. "Semoga perjalananku selancar ketika aku menuruni Gunung Sumbing."
Hank nodded a greeting to Jasper as he wrestled with an extremely large vampire. Both impressed and surprised that the zombie leader was able to deal with a supernatural creature whose stature was twice his own with such calm assurance, Jasper watched as Hank used a few martial arts moves to take the vampire down just long enough to sink his teeth into his arm. After immediately jumping back as far as he could, he watched and waited the few seconds it took for the venom to attack the vampire’s system. The enormous supernatural foe was able to get on his feet and, with hate filled eyes, charge toward Hank, but he never quite reached him before his legs buckled and he fell in a heap on the castle’s stone floor. In no time at all, the creature lay lifeless.“Where did you get those moves?” Jasper asked with obvious admiration.“Before I was infected, I was a martial arts instructor,” Hank informed him. “I thought that I might have
Time dragged to the point of standing still as the guards continued to use her body with deliberate brutality. Whenever darkness blissfully consumed her, she was brought back around by a slap on the face or ice water tossed over her body. On the few occasions when a bone was accidentally broken, the vampire would feed her his blood to heal it before continuing with the abuse. Worried for her sanity, she focused on the memories of holding little Roger in her arms. Although the stamina of a vampire was extreme, the guards eventually tired of abusing her and sent for replacements.The reprieve she had gave her an opportunity to ponder upon her foolishness in being overly confident in her position with Samuel. Has she realized that her vile outburst would have suffered such consequences, she would have held her tongue. It was just that she’d said such things to him in the past with no repercussions. Then, she’d never said them with such abundance and vehemency. Nor ha
Lila struggled against the guards as they presented her to Oscar. She’d had enough exposure to him during her time in the castle both with Jasper and now to realize the cruel streak he possessed. Even in her panicked state, it was impossible to miss the glint of excitement in his eyes as he listened to the guards pass on his king and maker’s instructions.After ordering them to tie her down on a nearby cot, he walked to the opposite side of the long and narrow room and disappeared through a door. Her head spun as she did her best to take in her surroundings. There were a dozen cots holding naked, handless, and legless females. Most of them sported bulging bellies from the life that grew in them. Had she not been so traumatized upon witnessing the mutilation that occurred to her fellow witches, she would have been mortified about the fact that they were afforded absolutely no modesty. It was as if they were nothing more than livestock to be handled and used in acco
Jasper flattened his body against the exterior wall of his lab. With Marcus and Freya just feet away from him, his faith in the invisible cloak that Ben spelled for him was lacking. Holding his breath, he listened intently to their conversation as they slowly passed by him.“Have you any clue on the whereabouts of our scientist?” Freya asked as she slipped her hand through the crook of Marcus’ arm.“We’ve searched high and low,” Marcus mused. “I can only think that the damn fool took it upon himself to try to rescue Lila on his own.”Freya pursed her lips with disapproval as she muttered, “We cannot have him rescuing that abomination. It and the witch need to die.”“The local witch coven was raided not too long ago,” Marcus informed her. “The warlocks were killed. We think they took the witches for breeding.”“That’s not good news, Marcus,” F
The first thing that Lila did when she recovered from her fainting spell was to focus on her surroundings. They looked familiar. Yet, her still muddled mind couldn’t quite place them. It took several minutes of study before she realized that she was back in the wing of the vampire castle wh
Cora sucked in air as she cautiously approached the bed where Cerie lay. Even though the restraints were strong enough to protect the vampires from an ancient witch’s retaliation, she was still fearful of what the notorious magic woman would do to her.She’d seen very few witch
An expression of pure disgust consumed Samuel’s face as he and Oscar looked down at Cerie’s naked, sleeping form. Not only was her skin, dry, wrinkled, and grey from head to toe, but her ankles and wrists were tied to the bedposts. She’d struggled against the restraints so much
Jasper popped the last of the roast beef sandwich he’d made for his lunch into his mouth and shuddered. The closer it got to the moon being full, the less he cared for the taste of cooked meat. Even the rare roast beef tasted off to him. This wasn’t a common complaint of the
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.