ログインAgnes terpaku melihat sosok yang ada di hadapannya. Sensasi dingin nan asing mendadak merayapi tengkuknya saat rasa muak beradu dengan keterkejutan. ‘Kalau seandainya Vivi tahu bahwa artis genit yang pecicilan itu ada di ruangannya sekarang, pasti Vivi sudah meludah tiga kali, seperti ketika ada orang yang meludahi setan.’
Agnes menelan ludah, berusaha tenang dan tidak terlihat terintimidasi. Mengatur napasnya yang mulai tak beraturan, ia mencoba
Agnes menarik pergelangan tangan Felix dengan cengkeraman keras, nyaris menyeret adiknya itu keluar dari pintu depan hingga ke halaman samping rumah yang temaram. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma tanah kering dan keputusasaan, mengiringi langkah tergesa mereka agar percakapan mematikan ini tidak sampai terdengar oleh telinga rentan Elvira dan Namira.“Apa kamu bilang? Coba ulangi!” desis Agnes tertahan, suaranya bergetar hebat antara lonjakan amarah dan teror yang membekukan darah. Matanya membelalak lebar, masih menolak keras untuk mempercayai apa yang baru saja meluncur dari bibir adiknya.“Ada orang-orang bayaran yang melindungi Tora, Kak! Mereka menyekapku di jalan dan mengancam untuk memenjarakan aku. Awalnya aku sama sekali tidak peduli kalaupun harus dipenjara, asalkan Tora si brengsek itu juga ikut membusuk di sel yang sama. Tapi kemudian... mereka menempelkan pisau dingin ke leherku dan mengancam akan
H-2 Konferensi Pers. Waktu tak lagi terasa berdetak, melainkan menyeret Agnes secara paksa menuju tepi jurang yang tak berdasar.Agnes melangkah gontai ke dalam rumah, berharap menemukan sejenak suaka dari rentetan krisis yang mencekik kewarasannya. Namun, bukannya pelukan hangat atau kedamaian yang menyambut, ia justru langsung ditodong oleh Elvira, mamanya. Tanpa tedeng aling-aling, ibunya itu menuntut cerita detail mengenai rencana pernikahannya. Lebih menyesakkan lagi, Elvira ternyata tak sendirian; ia sengaja mengundang Tante Ayu dan Om Abdi untuk menggelar sebuah 'sidang keluarga' dadakan yang niatnya baik, namun terasa bagai jerat baru di leher Agnes.“Jadi, gimana rencana pasti pernikahan kamu, Nes?” tanya Tante Ayu, kakak Elvira, dengan raut wajah penuh ekspektasi kebahagiaan yang sangat kontras dengan kehampaan di dada Agnes.“Aku dan Daniel akan menikah tanggal tiga puluh, Tante
H-3 Konferensi Pers.Waktu tak lagi terasa seperti deret angka di layar ponsel, melainkan bagai paku tak kasatmata yang dipalu perlahan ke dalam tengkoraknya setiap kali detik berganti. Kepanikan yang merayap diam-diam di pembuluh darahnya membuat napas Agnes terasa selalu memburu, seolah oksigen di udara Jakarta telah tersedot habis oleh pusaran skandal yang menantinya.Agnes melangkahkan kakinya yang terasa seberat timah memasuki lobi klinik. Aroma khas antiseptik dan pengharum ruangan beraroma lavender yang biasanya menenangkan, pagi ini justru membuat lambungnya bergejolak mual. Baru saja ujung sepatunya menyentuh batas meja resepsionis, rentetan pertanyaan sudah
H-4 konferensi pers.Waktu terasa melesat begitu cepat bagai anak panah yang meluncur dari busurnya, namun di saat yang sama merayap lambat menyiksa layaknya eksekusi mati yang tertunda.Agnes dan Daniel duduk bersisian di sebuah ruang meeting eksklusif di firma hukum tempat Monik bernaung. Hawa dingin dari pendingin ruangan menusuk pori-pori, berpadu dengan ketegangan pekat yang mengendap di sudut-sudut ruangan. Monik, dengan raut wajah profesional yang tak tertembus dan aura ketegasan yang memancar dari posturnya, menggeser selembar kertas baru melintasi meja kaca yang memantulkan pendar lampu neon putih. Kertas itu berisi rentetan daftar pertanyaan yang kemungkinan besar akan ditembakkan tanpa ampun oleh para pemburu berita saat konferensi pers nanti. Di mata Agnes, deretan kalimat itu tak ubahnya ranjau darat yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya kapan saja.“Kita akan memulai simulasi tanya jawa
Beruntung ada Vivi, malam itu Agnes bisa tidur dengan lumayan nyenyak walau ada jutaan beban masalah yang menghimpit batinnya. Kehadiran sahabatnya bagai jangkar di tengah samudra kecemasan yang mengamuk. Karena hari Minggu, Vivi pun bisa menemani Agnes menikmati sarapan pagi di ruang makan *penthouse* yang megah namun dingin.“Sudah berapa lama kerja sama Mas Daniel?” tanya Vivi, mencoba mencairkan keheningan dengan obrolan ringan.“Sudah hampir sepuluh tahun, Mbak,” jawab Mbak Sisil yang terpaksa ikut bergabung di meja makan karena terus-menerus didesak oleh Vivi. Ada kecanggungan halus yang terpancar dari gesturnya, namun kehangatan suasana perlahan meluluhkan rasa sungkannya.Mbak Sisil menceritakan bahwa Daniel selalu menyuruhnya untuk makan bersama, “Tapi percuma. Saya kalau makan di sini, Mas Daniel makan di atas.”“Oh, gitu?” tanya Vivi kaget, alisnya terangkat menatap Sisil.“Mas Daniel itu pendiam. Jarang ngomong. Kalau ada kerj
Dunia di sekeliling Agnes terasa berputar terlalu cepat, memusnahkan ketenangan jiwa yang tadinya berusaha ia bangun.Agnes termenung di sofa, menatap lurus ke arah balkon yang terbuka lebar. Ruang tengah yang mewah itu mendadak terasa bak penjara tak kasatmata yang menyiksa batinnya. Angin malam yang dingin berembus kencang, menerpa kulitnya hingga meremang, namun ia sama sekali tidak memedulikannya. Dalam kepasrahan yang pekat, ia berharap angin itu bisa membawa semua masalahnya berlalu dan melenyapkan keputusasaan yang mengimpit rongga dadanya.Kalau ada orang yang menginginkan hidupnya penuh dengan masalah hanya agar tidak merasa bosan, Agnes akan mengutuk orang itu dalam hati. Sebab kini ia sadar betul, hidup tanpa masalah adalah sebuah rezeki serta kedamaian tak ternilai yang tidak didapatkan oleh semua orang.Dengan jemari yang dingin dan gemetar, ia mengambil ponselnya dari atas meja. Di layar yang menyala terang, tertera pesan dari Daniel yang men







