LOGINAgnes, gadis psikolog spesialis terapis seksual, harus melunasi warisan utang dari almarhum ayahnya yang membuat rumahnya akan disita dan ibunya dalam ancaman. Hingga malam itu, ia bertemu Daniel, artis super tampan yang juga jadi idolanya, mau membayarnya 4x lipat untuk tiap sesi terapi dan uangnya dibayar dimuka. Ternyata, sentuhan Agnes membuat impotensi Daniel sembuh, saat itu juga! “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi sentuhanmu…. aku menginginkan itu!”
View More“Ada pasien yang mau membayar empat atau lima kali lipat harga normal per konsultasi, tapi pasien ini punya penyakit khusus. Aku percaya, kamu bisa menyelesaikannya!”
“Penyakit khusus? Membayar empat atau lima kali lipat? Pasti ini penyakit yang berat?”
“Aku tidak bisa memberikan detailnya. Yang pasti dia siap membayar mahal dan langsung di muka,” kata dr. Indra, seorang dokter spesialis andrologi.
Agnes sebenarnya ingin menolak tawaran dari dr. Indra, teman sekaligus rekanan dokternya. Namun, Agnes ingat, bahwa ibunya pernah bilang mereka sedang terlilit hutang.
Di samping itu, Agnes sadar, sertifikasi terapis psikologinya tidak bisa diambil, kecuali dirinya menyelesaikan satu pasien dengan keluhan khusus, dari total tiga kasus unik yang memang jadi salah satu syarat utama.
“Agnes, aku paham, kamu kan butuh satu pasien lagi untuk bisa mengambil sertifikasi psikolog dengan spesialisasi terapi seksual. Ini kesempatan bagus untuk kamu, Nes.”
“Baik, nanti akan aku hubungi. Terima kasih, Dok,” jawab Agnes menyudahi teleponnya, lalu menatap kontak yang dikirimkan oleh dr. Indra di ponselnya. Ia tahu, dr. Indra tidak akan sembarangan merujukan pasien padanya.
‘Pasien ini pasti merupakan kasus unik lainnya’, pikir Agnes.
Ketika ia ingin menghubungi nomor itu, tiba-tiba ruang kerjanya diketuk oleh Lina, resepsionis kliniknya.
“Ya?”
“Maaf, mbak,” kepala Lina menyembul dari balik pintu. “Ada ibu mbak di lobi.”
“Mama? Ya udah, suruh ke sini.” Agnes kaget karena tiba-tiba ibunya datang ke kliniknya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, Elvira, perempuan paruh baya yang memakai pakaian sederhana dengan rambut dicepol berantakan dan keringat di pelipisnya.
Agnes langsung membantu Elvira duduk di kursi, “Mama, kenapa kok nggak bilang Agnes mau ke sini?”
Elvira duduk di kursi pasien, sambil termenung.
Agnes bergegas mengambil dua gelas kertas dan mengisinya dengan air minum dari dispenser di dekat meja kerjanya, lalu memberikannya pada Elvira. “Mama dari mana?”
Elvira meminum air minum yang diberikan Agnes, dua teguk lalu berkata, “Mama sebenernya nggak mau ganggu kamu.”
“Felix. Ini pasti soal Felix yang balik lagi main judol, kan?” Agnes menebak penyebab mamanya mengalami stress adalah adik laki-lakinya yang pengangguran meski sudah punya istri dan anak satu.
“Bukan. Ini soal rumah kita,” Elvira menatap Agnes dengan tatapan sedih. “Ternyata papa dulu menjaminkan rumah kita untuk modal usahanya.”
Agnes terdiam. Ia teringat masa-masa ketika papanya sakit keras sejak usahanya bangkrut sampai akhirnya meninggal dunia. Masa-masa itu adalah masa-masa paling sulit dalam hidupnya.
“Tadi pagi ada debt collector datang. Mereka mengusir mama sama Felix dari rumah, kalau utang papa nggak dilunasi hari ini.”
Agnes memejamkan mata, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya.
“Mama tadi ke rumah tante Ayu, tapi…,”
“Berapa utang papa yang harus kita bayar, Ma?”
“Lima ratus…,”
Agnes menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menghela napas. ‘Astaga’
Elvira bangkit, “Mama mau ke rumah om Abdi aja. Mungkin dia bisa bantu kita.”
“Ma, tunggu!” Agnes bangkit dan menarik lengan ibunya, menahannya untuk tidak pergi. “Nggak usah pinjem sodara lagi. Biaya S2 aku yang papa pinjem dari tante Ayu aja belum aku lunasin. Kita jangan merepotkan mereka lagi.”
Elvira memegang kedua lengan Agnes, “Tapi dari mana kita bisa dapet uang segitu banyak, Nes?”
“Biar aku coba minta keringanan. Kalau bisa dicicil, mungkin aku bisa melunasi utang papa.”
Elvira terdiam. Tak lama kemudian ia memeluk Agnes. “Maafin mama. Mama selalu menyulitkan kamu.”
“Nggak, ma.”
“Mama akan coba bujuk Felix untuk cari kerja. Biar dia juga bisa bantu bayar utang papa.” Elvira melepaskan pelukannya, lalu mengusap poni yang di wajah Agnes.
Agnes mengangguk perlahan. Ia tahu Felix yang dari kecil selalu dimanja oleh mamanya, tidak akan pernah bisa jadi pria bertanggungjawab. Tapi ia tidak mungkin menyalahkan mamanya, karena semuanya sudah terjadi.
“Mama sekarang pulang. Nggak usah ke rumah tante Ayu atau om Abdi.”
“Iya.”
“Kalau debt collectornya datang lagi, telepon aku. Biar aku yang bicara sama mereka.”
“Iya.”
Agnes melangkah ke meja kerjanya lalu mengambil ponselnya dan memesankan taksi online. “Aku pesenin taksi buat mama.”
Tak lama kemudian taksi datang. Agnes mengantarkan mamanya pulang, lalu kembali ke ruangannya.
Agnes berdiri di depan meja kerjanya. Kedua telapak tangan menumpu di atas meja. Napasnya terengah-engah. Kepalanya berdenyut hebat, berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Ia melihat ponselnya di atas meja.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi kontak yang dikirimkan dr. Indra.
Dua dering kemudian terdengar suara seorang pria, “Halo?”
“Saya Agnes Magnolia, psikolog dengan sertifikasi khusus terapi seksual. Saya mendapatkan nomor telepon …,” Agnes melihat nama di layar ponselnya, “Pak Deri, dari dokter Indra Gunawan.”
“Oh, iya. Halo, mbak Agnes. Apa bisa saya datang ke klinik hari ini juga? Saya akan bayar empat kali lipat untuk setiap sesi dan langsung saya bayar di muka untuk empat sesi, bagaimana?”
“Masuk,” ucap Vivi seraya memutar daun pintu, memberikan jalan bagi Agnes untuk menyusup ke dalam kehangatan huniannya.Agnes melangkah masuk dengan gestur yang rapuh, membawa serta beban keputusasaan yang masih menggelayut kaku di pundaknya. Ia menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai area menonton televisi, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam empuknya bantalan. Pandangan matanya menyapu sekeliling, mencari presensi lain. “Kakak kamu... ada di rumah?”Vivi menggelengkan kepala pelan. “Lagi ada jadwal terbang,” sahutnya ringkas. Tanpa membuang waktu, Vivi berjalan menuju area meja makan yang menyatu secara terbuka dengan ruang tengah. “Makan yuk, aku tadi sempat beli mi tektek.”“Aku masih kenyang, Vi,” tolak Agnes halus. Suaranya terdengar begitu tipis dan tak berdaya.“Makan berdua aja.
Ketukan pelan berturut-turut di pintu ruang kerja memecah keheningan yang sejak tadi membekap Agnes. Keheningan itu sebenarnya terasa sangat melelahkan, dipenuhi gema ingatan dan bayang-bayang kecemasan yang tak henti-hentinya merayapi relung jiwanya. Ruang konseling yang biasanya menjadi suaka tempat ia mengurai benang kusut kehidupan orang lain, kini terasa seperti kurungan dingin yang menghimpit dada.“Masuk,” ucap Agnes pelan, memaksakan intonasi suaranya agar terdengar tegar dan profesional.Pintu kayu beritur halus itu terdorong terbuka, menampilkan sosok Lanang. Pria itu menyunggingkan senyum hangat yang jujur tanpa selubung pretensi—sebuah kontras yang cukup menyegarkan di tengah atmosfer klinik yang mencekam sejak skandalnya mencuat. Lanang mengangguk sopan, meminta izin untuk masuk dan mengajak Agnes berbincang sejenak mengenai sebuah kasus yang membingungkannya.Meskipun di dala
Tujuh fajar telah berlalu, dan setiap kali kelopak matanya terbuka menyambut terang, Agnes terbangun dengan perasaan hampa yang pekat. Ada beban tak kasatmata—seperti sebongkah batu raksasa—yang menindih tepat di tengah dadanya, menyiksa setiap helaan napas yang berusaha ia hirup. Tujuh hari berlalu, namun ingatan tentang malam itu tak pernah terkikis sedikit pun. Sensasi dingin dan sayatan perih ketika Daniel membanting pintu penthouse itu masih terngiang begitu nyaring di telinganya, menyisakan gema keputusasaan yang terus berulang tanpa ampun.Setiap pagi, dalam remang ruang tengah yang lengang, ilusi tentang Daniel kembali merayap menguasai pikirannya. Agnes masih bisa membayangkan gambaran itu dengan teramat jelas: Daniel yang berdiri tegap di sudut dapur dengan kaus olahraga yang basah oleh keringat, napasnya sedikit memburu setelah berlari, lalu meneguk protein shake hingga kandas dalam satu tegukan panjang. Pria itu selalu memiliki aroma keringat yang mask
Hening yang membekukan melapisi seluruh kabin mobil yang dikemudikan oleh Deri. Sepanjang perjalanan membelah riuhnya lalu lintas kota menuju penthouse, tak ada satu pun patah kata yang terucap dari bibir Daniel maupun Agnes. Lidah mereka seolah terkelu oleh krisis emosional yang teramat dahsyat, meninggalkan atmosfer berat yang menyesakkan dada. Deri yang mengemudi di depan pun hanya bisa melirik dari kaca spion dengan raut prihatin yang amat dalam, tak berani memecah keheningan yang sarat akan duka tersebut.Bayangan kejadian beberapa puluh menit lalu masih berputar liar di kepala Agnes, menggeledah sisa-sisa kewarasannya. Tepat setelah Sabina mengambil alih podium dan dengan nada penuh kebanggaan mengumumkan pernikahan dirinya dengan Daniel—pada tanggal dan lokasi yang sama persis dengan yang telah direncanakan Daniel untuk Agnes—dunia Agnes rasanya runtuh seketika. Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Agnes melangkah kaku melarikan diri ke dalam ruang tunggu.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore