Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu

Sang Intel yang Kupanggil Suami Palsu

last updateLast Updated : 2026-09-30
By:  Jesi SanctuaryUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Gendhis Kalarasati menemukan seorang pria terluka dan tak sadarkan diri di gubuk dekat ladang miliknya. Pria itu Bhaskara Jatikusumo, polisi intel yang kehilangan sebagian ingatannya setelah diserang saat menyelidiki jaringan mafia. Demi menyelamatkan Bhaskara dari orang-orang yang memburunya, Gendhis terpaksa mengaku sebagai istrinya. Sejak itu, setiap malam ia menambal dusta dengan dusta lain, sementara pria yang ia tipu menggenggamnya semakin erat dan memercayainya sepenuh hati. Namun, ketika ingatan Bhaskara perlahan kembali, kebohongan itu terancam terbongkar. Sebenarnya, siapakah pria itu?

View More

Chapter 1

BAB 1 - PRIA BABAK BELUR DI LADANGKU

“Kamu… toh yo mentang-mentang anak perawan hidup sendirian— belum juga ke balai desa buat urus surat tanah, Ndhis? Nanti diserobot orang, lho.”

Gendhis mendongkak dari ikatan jagung yang sedang dirapikannya.

Nama ‘Gendhis’ yang berarti gula, manis, lembut kini mengangkat sebelah alis, dengan sisa tawa di ujung bibir merah mudanya.  “Siapa juga yang bisa nyerobot tanah ini, Mbok?” 

“Satu-satunya ahli waris Bapak dan Ibu cuma aku.”

Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk bersila di antara nampan hasil panen terkekeh. Mbok Sumiyati menggenggam pisau kecil, sibuk membersihkan tanah yang menempel pada bawang-bawangan.

Benar juga. 

Hanya Gendhis yang secara sah bisa memiliki ladang ini. “Benar. Tapi wong jahat bisa muncul kapan saja. Surat tanah belum diurus, kamu juga perempuan tinggal sendirian.” Mbok Sumiyati meliriknya. “Mbok yang jantungan setiap hari.”

Gendhis mengikat rambutnya yang mulai terlepas. “Aku bisa jaga diri.”

“Terus mau sendiri sampai kapan?”

Pembahasan itu lagi.

Gendhis mengembuskan napas pelan. “Memangnya perempuan hidup harus selalu punya suami, Mbok?”

“Bukan begitu.” Gerakan Mbok Sumiyati mendadak melambat. “Ini sudah tahun ketiga setelah Bapak sama Ibumu meninggal, Ndhis. Mbok cuma nggak mau kamu terus-terusan sendirian.”

Gadis itu hendak menyahut, tetapi Sumiyati lebih dulu mengangkat wajah. “Ini sudah tahun ketiga setelah Bapak sama Ibu meninggal, yo, Ndhis?”

Kalimat itu sukses membuat Gendhis terdiam. “Kalau Bapak sama Ibu kangen Gendhis di surga,” gumamnya, “Gendhis diajak juga, ya, Mbok?” 

Meski sejak kecil Gendhis tinggal bersama adik dari ibunya yang ia sebut Mbah, karena lokasi sekolah yang lebih memadai di desa seberang, cinta gadis itu pada Bapak dan Ibunya tak pernah luntur. 

Pergerakan telapak tangan Mbok Sumiyati terhenti seketika. Buru-buru ia mengikat bawang-bawang itu dengan tali rafia hingga bunyi gesekannya terdengar. 

“Jangan ngomong sembarangan. Kamu itu masih hidup, masih sehat, masih punya tanah yang harus dijaga.” Mbok Sumiyati mengikat bawang-bawang tersebut dengan tali rafia lebih keras dari biasanya. “Makanya urus suratnya. Kalau sampai jadi sengketa, aduh, repot!” 

***

Sumiyati akhirnya meninggalkan ladang milik Gendhis. Gadis itu melambaikan tangan, disambut kekeh renta dari bibir Sumiyati sebelum sosoknya benar-benar hilang di ujung jalan.

Setelah punggung Sumiyati tak lagi terlihat, Gendhis berbalik menuju arah berlawanan–lahan belakang yang jauh lebih sepi, jauh lebih senyap ke arah rumah.

Tak jauh dari ladang. Posisinya berada di balik tembok rumahnya yang berdinding semen kelabu tanpa lapisan cat. 

“Semoga panen banyak.” keluhnya sambil menyabuti batang jagung yang matang. Peluh kembali jatuh membasahi pelipisnya. 

Sesekali, gadis itu berhenti membungkuk dan memilih meregangkan punggung yang mulai pegal.

“Pegal..” ulang Gendhis berbisik seorang diri. 

Setelah Bapak dan Ibunya meninggal. Gendhis seharusnya melanjutkan kuliah setelah magang di kantor lurah dekat kampungnya. Tapi karena orang tuanya renta dan kini tersisa dirinya seorang diri. Mau tak mau Gendhis harus menjalani hidup seorang diri.

Namun, samar-samar, ada bau anyir yang terbawa angin sore. 

Asing, tak biasa tercium di antara aroma lembab ladang dan daun kering yang sudah ia hapal di luar kepala. 

Gendhis mengernyit, ia mengendus sebentar tanpa benar-benar sadar sedang melakukannya. Kemudian ia memilih tuk mengabaikannya. Baginya, mungkin ia hanya salah sangka.

Gendhis baru saja hendak menarik batang jagung yang lain ketika maniknya menangkap sesuatu yang aneh di dalam gubuk alat-alat taninya, tempat yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan sabit dan pupuk.

“Lho, kok, kebuka?”

Padahal ia ingat betul, terakhir kali ia ke sana pagi tadi, pintu kayu itu sudah ia tutup rapat dengan gembok kayunya.

Awalnya, ia mengira benda itu ialah karung beras yang entah bagaimana bisa ada di sana. Tetapi, sejak kapan karung beras hasil panennya berwarna sehitam itu? 

“Ini… apa?”

Rasa penasaran membuatnya melangkah tanpa pikir panjang ke gubuk. Derit bukaan pintu terdengar nyaring di tengah sepinya ladang.

Hingga, langkahnya terhenti sepenuhnya begitu jarak antara dirinya dan gumpalan itu hanya tinggal beberapa meter.

Itu bukan karung beras. Itu jelas bukan benda mati.

“Ini…”

Sabit yang tadi ia pegang terjatuh begitu saja. Yang tersisa hanyalah telapak tangan kotor yang membekap mulutnya sendiri demi menahan jeritan yang telanjur lolos.

Di depan mata Gendhis yang membulat, seorang pria tergeletak miring di antara pupuk miliknya. 

Salah satu tangannya terkulai lemas di atas tanah basah yang bukan disebabkan oleh saluran air miliknya, melainkan rembesan merah gelap berbau anyir yang mulai mengering.

Kemeja hitam pekat yang dikenakan pria itu bahkan tak mampu menyamarkan betapa banyak rembesan darah yang membasahinya. “Mas?”

Tak ada sahutan.

“Mas, kamu dengar aku?”

Pria itu, terluka di mana-mana.

“T—tolong.” 

Gendhis berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeramannya justru semakin kuat.

Pria itu menatapnya seolah sedang mempertaruhkan sisa hidupnya pada perempuan asing yang baru ditemuinya.

“Jangan...” Napasnya terdengar berat. “Jangan panggil polisi.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status