LOGINGendhis Kalarasati menemukan seorang pria terluka dan tak sadarkan diri di gubuk dekat ladang miliknya. Pria itu Bhaskara Jatikusumo, polisi intel yang kehilangan sebagian ingatannya setelah diserang saat menyelidiki jaringan mafia. Demi menyelamatkan Bhaskara dari orang-orang yang memburunya, Gendhis terpaksa mengaku sebagai istrinya. Sejak itu, setiap malam ia menambal dusta dengan dusta lain, sementara pria yang ia tipu menggenggamnya semakin erat dan memercayainya sepenuh hati. Namun, ketika ingatan Bhaskara perlahan kembali, kebohongan itu terancam terbongkar. Sebenarnya, siapakah pria itu?
View More“Kamu… toh yo mentang-mentang anak perawan hidup sendirian— belum juga ke balai desa buat urus surat tanah, Ndhis? Nanti diserobot orang, lho.”
Gendhis mendongkak dari ikatan jagung yang sedang dirapikannya.
Nama ‘Gendhis’ yang berarti gula, manis, lembut kini mengangkat sebelah alis, dengan sisa tawa di ujung bibir merah mudanya. “Siapa juga yang bisa nyerobot tanah ini, Mbok?”
“Satu-satunya ahli waris Bapak dan Ibu cuma aku.”
Wanita paruh baya yang sedari tadi duduk bersila di antara nampan hasil panen terkekeh. Mbok Sumiyati menggenggam pisau kecil, sibuk membersihkan tanah yang menempel pada bawang-bawangan.
Benar juga.
Hanya Gendhis yang secara sah bisa memiliki ladang ini. “Benar. Tapi wong jahat bisa muncul kapan saja. Surat tanah belum diurus, kamu juga perempuan tinggal sendirian.” Mbok Sumiyati meliriknya. “Mbok yang jantungan setiap hari.”
Gendhis mengikat rambutnya yang mulai terlepas. “Aku bisa jaga diri.”
“Terus mau sendiri sampai kapan?”
Pembahasan itu lagi.
Gendhis mengembuskan napas pelan. “Memangnya perempuan hidup harus selalu punya suami, Mbok?”
“Bukan begitu.” Gerakan Mbok Sumiyati mendadak melambat. “Ini sudah tahun ketiga setelah Bapak sama Ibumu meninggal, Ndhis. Mbok cuma nggak mau kamu terus-terusan sendirian.”
Gadis itu hendak menyahut, tetapi Sumiyati lebih dulu mengangkat wajah. “Ini sudah tahun ketiga setelah Bapak sama Ibu meninggal, yo, Ndhis?”
Kalimat itu sukses membuat Gendhis terdiam. “Kalau Bapak sama Ibu kangen Gendhis di surga,” gumamnya, “Gendhis diajak juga, ya, Mbok?”
Meski sejak kecil Gendhis tinggal bersama adik dari ibunya yang ia sebut Mbah, karena lokasi sekolah yang lebih memadai di desa seberang, cinta gadis itu pada Bapak dan Ibunya tak pernah luntur.
Pergerakan telapak tangan Mbok Sumiyati terhenti seketika. Buru-buru ia mengikat bawang-bawang itu dengan tali rafia hingga bunyi gesekannya terdengar.
“Jangan ngomong sembarangan. Kamu itu masih hidup, masih sehat, masih punya tanah yang harus dijaga.” Mbok Sumiyati mengikat bawang-bawang tersebut dengan tali rafia lebih keras dari biasanya. “Makanya urus suratnya. Kalau sampai jadi sengketa, aduh, repot!”
***
Sumiyati akhirnya meninggalkan ladang milik Gendhis. Gadis itu melambaikan tangan, disambut kekeh renta dari bibir Sumiyati sebelum sosoknya benar-benar hilang di ujung jalan.
Setelah punggung Sumiyati tak lagi terlihat, Gendhis berbalik menuju arah berlawanan–lahan belakang yang jauh lebih sepi, jauh lebih senyap ke arah rumah.
Tak jauh dari ladang. Posisinya berada di balik tembok rumahnya yang berdinding semen kelabu tanpa lapisan cat.
“Semoga panen banyak.” keluhnya sambil menyabuti batang jagung yang matang. Peluh kembali jatuh membasahi pelipisnya.
Sesekali, gadis itu berhenti membungkuk dan memilih meregangkan punggung yang mulai pegal.
“Pegal..” ulang Gendhis berbisik seorang diri.
Setelah Bapak dan Ibunya meninggal. Gendhis seharusnya melanjutkan kuliah setelah magang di kantor lurah dekat kampungnya. Tapi karena orang tuanya renta dan kini tersisa dirinya seorang diri. Mau tak mau Gendhis harus menjalani hidup seorang diri.
Namun, samar-samar, ada bau anyir yang terbawa angin sore.
Asing, tak biasa tercium di antara aroma lembab ladang dan daun kering yang sudah ia hapal di luar kepala.
Gendhis mengernyit, ia mengendus sebentar tanpa benar-benar sadar sedang melakukannya. Kemudian ia memilih tuk mengabaikannya. Baginya, mungkin ia hanya salah sangka.
Gendhis baru saja hendak menarik batang jagung yang lain ketika maniknya menangkap sesuatu yang aneh di dalam gubuk alat-alat taninya, tempat yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan sabit dan pupuk.
“Lho, kok, kebuka?”
Padahal ia ingat betul, terakhir kali ia ke sana pagi tadi, pintu kayu itu sudah ia tutup rapat dengan gembok kayunya.
Awalnya, ia mengira benda itu ialah karung beras yang entah bagaimana bisa ada di sana. Tetapi, sejak kapan karung beras hasil panennya berwarna sehitam itu?
“Ini… apa?”
Rasa penasaran membuatnya melangkah tanpa pikir panjang ke gubuk. Derit bukaan pintu terdengar nyaring di tengah sepinya ladang.
Hingga, langkahnya terhenti sepenuhnya begitu jarak antara dirinya dan gumpalan itu hanya tinggal beberapa meter.
Itu bukan karung beras. Itu jelas bukan benda mati.
“Ini…”
Sabit yang tadi ia pegang terjatuh begitu saja. Yang tersisa hanyalah telapak tangan kotor yang membekap mulutnya sendiri demi menahan jeritan yang telanjur lolos.
Di depan mata Gendhis yang membulat, seorang pria tergeletak miring di antara pupuk miliknya.
Salah satu tangannya terkulai lemas di atas tanah basah yang bukan disebabkan oleh saluran air miliknya, melainkan rembesan merah gelap berbau anyir yang mulai mengering.
Kemeja hitam pekat yang dikenakan pria itu bahkan tak mampu menyamarkan betapa banyak rembesan darah yang membasahinya. “Mas?”
Tak ada sahutan.
“Mas, kamu dengar aku?”
Pria itu, terluka di mana-mana.
“T—tolong.”
Gendhis berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeramannya justru semakin kuat.
Pria itu menatapnya seolah sedang mempertaruhkan sisa hidupnya pada perempuan asing yang baru ditemuinya.
“Jangan...” Napasnya terdengar berat. “Jangan panggil polisi.”
“Kita belum pernah seranjang dan aku juga belum siap untuk itu, Mas.”Semalam, genggaman Bhaskara berangsur mengendur setelah mendengar kalimat yang diucapkan Gendhis. Gadis itu tahu dari sorot matanya, bahwa Bhaskara tampak kecewa.“Aku benar-benar menyakitimu sedalam itu, ya?”Pertanyaan yang sesungguhnya tidak bisa Gendhis jawab dibalik dusta yang kini dipilihya.“Kita… kita hanya tidak seperti pasangan pada umumnya, Mas. Belum ada cinta di antara kita berdua. Aku harap kamu mengerti posisiku.”Suara dentingan sendok besi dengan cangkir keramik berisikan kopi panas itu menyadarkan Gendhis. Ayam sudah berkokok, langit sudah berubah biru cerah. Dengan telaten ia bawa kopi buatannya itu di atas nampan, berikut sup nasi yang subuh tadi ia masak. Derit pintu kamar orang tuanya–kamar Bhaskara saat ini–terdengar. “Sarapan dulu, Mas.”“Lho, Gendhis?”Gendhis bisa melihat Bhaskara yang tengah membuka jendela kamar. Hutan luas di belakangnya terlihat begitu segar. “Kamu sudah bangun pagi-p
Kartika mengarahkan sorotan senter medisnya ke arah pupil mata Bhaskara, memperhatikan reaksinya sebelum kembali menyimpan alat itu kembali ke kantung jasnya.“Coba rasakan,” ucapnya sambil menekan pelan bagian kepala Bhaskara, “Sakit?”Mendengar ringisan Bhaskara dan bagaimana reaksi tubuhnya menjauh dari tekanan telapak tangannya cukup membuat Kartika mengangguk. “Sakit, Dok.”“Nah, itu,” ujar Kartika menyetujui. Ia menemukan jawaban dari dugaan awalnya kala mendengar kondisi Bhaskara yang diceritakan oleh Gendhis pasca pria itu sadarkan diri. Wanita berpakaian putih itu berbalik menghadap Gendhis yang masih berdiri di sisi ranjang dengan gelisah. “Dari pemeriksaan ini, ada kemungkinan suamimu mengalami benturan kepala yang cukup keras, Ndhis.”Kartika mengembuskan napas saat menyebutkan identitas tipuan Bhaskara yang dititipkan Gendhis sebelumnya, meski sepersekian detik Gendhis tahu wajah Kartika sempat berubah ketus karena ikut menipu pria ini bersamanya.“Apa itu sebabnya Mas
“KAMU GILA, NDHIS?!”“Bantu aku, Mbak… sekali ini aja…”“Bantu bagaimana? Kamu nyembunyiin orang terluka selama seminggu, terus sekarang bilang mau pura-pura jadi isterinya?” Gadis yang rambutnya dicepol rendah itu berkacak pinggang sementara telapak kakinya mondar-mandir di balik pintu kliniknya.“Aku bisa bantu periksa dia,” lanjut Kartika. “Tapi yang nggak bisa aku pahami itu kenapa kamu malah umpetin semuanya!”“Aku takut, Mbak.”“Takut apa, sih? Wes kamu yang nemuin dia, ‘kan?”Gendhis mengangkat wajah, alis di keningnya menekuk, sarat akan rasa ngeri, “Waktu aku nemuin dia, pintu gubuk taniku sudah terbuka. Padahal aku yakin paginya aku sudah kunci itu, Mbak. Dan lihat dia terluka parah di sana sementara aku nggak punya petunjuk siapa yang melakukannya–aku bener-bener takut, Mbak Tika.”Kartika terdiam, turut menghela napas menyaksikan sorot lelah yang terlihat dari mata Gendhis.“Kalau aku lapor, aku harus jawab apa? Balai desa saja nggak mau mengabulkan permintaanku buat meny
“Kamu sakit toh Ndis?”Ditanyai seperti itu membuat Gendhis berdeham kikuk. Memang benar, seminggu terakhir ini ia sudah empat kali bolak-balik ke satu-satunya apotik yang paling dekat dengan rumahnya, yang letaknya di sisi timur posyandu desa. Gendhis bukan orang yang paham merawat orang sakit, ia tidak pernah menyangka akan membutuhkan obat yang macam-macam bentuknya seperti sekarang. Minyak, salep, kain kasa, dan alkohol yang hampir habis. Duh, banyak sekali.“Habis panen ya? Makanya luka-luka? Atau si Mbok?” kata Kartika, penjaga apotek sekaligus teman sekolahnya dulu bertanya, selagi ia tengah mengambil minyak yang dipinta Gendhis dari balik etalase kaca.“Anu…” Gendhis mencicit, “Tapi aku. Akhir-akhir ini lagi nggak fokus ngurus ladang, jadi sering luka.”“Lukanya dalam nggak?” tanya Kartika penasaran. “M–maksudnya?” tanyanya berimbuh.“Gimana, toh, kamu. Luka memang kelihatan dari luar. Tapi pas kamu jatuh, siapa yang tahu kalau ternyata ada luka dalam? Gak mau ke dokter aj












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.