LOGINSesekali ada mobil wisatawan yang melintas di jalan pegunungan. Di kejauhan, tampak beberapa lampu penginapan menyala. Meskipun berada di tengah kegelapan malam, pemandangan itu justru menghadirkan rasa hangat dan tenang di hati.“Aroma apa ini? Kayaknya bau apel!” Tasya melangkah beberapa langkah ke depan, lalu menoleh dengan gembira. “Di sana ada pohon apel!”Yandi mengernyitkan dahi. “Jangan ke sana. Kita harus jalan lagi.”“Aku cuma petik satu saja!” jawab Tasya sambil berlari menuju pohon apel.Ini pertama kalinya Tasya melihat pohon apel. Dia memanfaatkan bantuan cahaya rembulan untuk memetik buah apel terbesar. Saat ini, dia kepikiran untuk memetik satu buah apel lagi untuk Yandi.Baru saja tangan Tasya menyentuh apel, dia pun terdengar suara jeritan. “Siapa yang mencuri buah apelku! Berhenti, jangan bergerak!”Cahaya senter terlihat di dalam kegelapan. Suara jeritan juga terdengar semakin mendekat. Ada yang berlari dari kejauhan. Tasya pun tertegun. Dia mengira pohon apel ini a
“Kota Owara.”Kota Owara adalah kota yang bersebelahan dengan Kota Jembara, juga dikenal sebagai kota wisata.Tasya berpikir sejenak, lalu membuat keputusan. “Aku pergi bersamamu!”Yandi mendengus dingin. “Apa kamu tahu apa yang mau aku lakukan di sana? Malah mau pergi bersamaku?”Tasya membalas dengan tersenyum, “Aku nggak peduli kamu mau ngapain. Intinya, aku mau pergi bersamamu!”Yandi langsung menolak, “Tidak boleh!”“Kenapa nggak boleh?”“Aku tidak bisa pulang hari ini. Aku akan tinggal dua hari di sana. Tidak praktis kalau kamu ikut ke sana.”“Anggap saja aku pergi untuk liburan!”Yandi tidak berbicara, tetapi dia tetap mengendarai mobil menuju Kediaman Keluarga Herdian.Tasya juga tidak panik. “Kamu antar aku pulang saja, biar aku kemas barang-barangku. Nanti aku akan bawa mobil sendiri ke Kota Owara. Bisa jadi kita bisa ketemuan di sana.”“Tasya!” Raut wajah Yandi berubah muram.Tasya menggigit bibirnya untuk melihat Yandi. “Rekan kerjaku pada pergi jalan-jalan. Aku bisa tetap
Di suatu area pemakaman Kota Jembara.Makam Kalong, T-rex, dan yang lain sudah dipindahkan tepat di samping makam Serigala. Mereka seolah-olah sedang berkumpul bersama lagi.Setelah Yandi tiba, dia menyalakan sebatang rokok di masing-masing depan makam. Tasya juga meletakkan bunga di depan batu nisan.Seperti biasanya, Yandi duduk di atas anak tangga batu. Dia menatap pegunungan di kejauhan sembari mendampingi mereka dengan hening.Tasya juga duduk menemani Yandi sejenak. Pada saat ini, dia berkata, “Kamu ceritakan lagi kisah kalian sebelumnya kepadaku!”Raut wajah Yandi kelihatan datar. “Aku sudah cerita semuanya!”Setiap kali kemari, Tasya selalu meminta Yandi menceritakan kisah di Benua Delta sebelumnya. Dia juga sudah menceritakan semua yang masih diingatnya.Tasya berkata, “Bukannya kedatangan banyak teman seperjuangan baru. Pasti ada banyak kisah lagi!”“Tidak ada lagi!” Yandi menekuk satu kaki dengan sikap santai dan cuek, bahkan tampak sedikit tidak sabar.“Kalau begitu, lain k
Tasya berkata, “Kalau begitu, aku terpaksa lapor polisi!”Pria bertato merasa agak kesal. “Bukannya cuma seorang pelayan, malah bersikap belagu. Aku bisa minta nomor WhatsApp-mu juga karena memandang tinggi dirimu!”Tasya menatap pria bertato dengan tatapan dingin. Dia melihat pria itu tidak menghentikan aksinya, dia pun langsung berteriak, “Bos Yandi, ada yang datang merusak restoranmu!”Tak lama kemudian, Yandi berjalan keluar dari dapur. Dia mengenakan kaos berwarna hitam. Postur tubuhnya tinggi dan kokoh. Saat berjalan kemari, udara sekitar seolah-olah telah membeku.Tatapan dingin Yandi menyapu ke sisi pria bertato. Pria bertato merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Punggungnya terasa merinding. Dia pun spontan mundur selangkah.Tasya mengangkat tangannya menunjuk pria bertato itu. “Dia nggak mau bayar sebelum aku beri dia nomor WhatsApp-ku.”Teman pria bertato mendengar kegaduhan di sana. Mereka segera berdiri dan melihat ke sana. Mereka kelihatannya seperti preman saja.Leo
Tasya langsung tertawa. “Dia nggak bakal curi teko tehmu. Tenang saja!”Yandi langsung memelototi Tasya, lalu berkata dengan nada kesal, “Dia datang untuk mencarimu. Kalau ada urusan, kalian bisa pergi sana. Toko tidak terlalu sibuk.”Tasya menyadari raut wajah kesal Yandi. Dia takut Yandi akan marah, jadi dia pun segera berkata, “Nggak apa-apa. Aku akan suruh dia pergi dulu!”Usai berbicara, Tasya membalikkan tubuhnya untuk melihat Oscar. Dia menyadari Oscar sedang mengambil teko teh Yandi dan mengamatinya dengan saksama. “Letakkan!” Tasya berlari ke sana dengan buru-buru.Tangan Oscar gemetar. Dia hampir menjatuhkannya. “Kenapa?”Tasya merebut teko teh itu. “Bos Yandi menghabiskan uang dua … ratus juta untuk membelinya. Kalau sampai jatuh, apa kamu sanggup untuk ganti rugi?”“Dua ratus juga?” Oscar merasa ragu. “Benda itu tidak mirip dengan barang antik seharga 200 juta!”Tasya tersenyum. “Memangnya kamu mengerti soal barang antik?”“Tidak ngerti!”“Ya sudah!” Tasya memeluk teko teh
Oscar membalikkan tubuhnya berjalan keluar. Tasya merasa kaget, segera mengejar langkahnya dan meraih lengannya. “Ngapain kamu beri tahu ibuku?”Mata Oscar kelihatan memerah. Dia menoleh dan membalas, “Kamu juga bukan anak kecil yang lagi cinta monyet, kenapa tidak boleh beri tahu orang tuamu?”“Pokoknya kamu nggak boleh pergi!” Tasya segera menarik Oscar.Oscar mencengkeram pergelangan tangan Tasya, lalu menepisnya. “Lepaskan aku!”“Nggak! Oscar, atas dasar apa kamu ikut campur sama urusanku!”“Anggota keluargamu pada tahu kamu lagi bekerja di tempatku. Aku mesti tanggung jawab sama kamu!”“Apa kamu nggak waras! Kamu juga bukan tempat penitipan anak. Aku cuma atasanmu. Atas dasar apa kamu mesti tanggung jawab dengan masalah asmaraku!”“Kamu ada di tempatku, jadi aku mesti tanggung jawab dengan semua urusanmu!”“Kamu … aneh sekali!”“Kamu tidak tahu diri!”“Kamu bilang siapa nggak tahu diri?” Tasya merasa kesal. Dia mencengkeram lengan Oscar, lalu mengangkat kakinya untuk menendang bok
Orang di ruang ganti memang sedikit, hanya saja orang di luar sana lalu lalang di belakang sekat, Sonia pun tidak fokus dalam berciuman. Saat digigit oleh si pria, Sonia mengulurkan tangannya untuk mendorong Reza.Reza mengangkat tangannya dan mengulum ujung bibir Sonia. Dia berkata dengan tersenyum
“Apa kamu masih mau main?” tanya Juno dengan tersenyum.“Main!” Wajah Rose kelihatan pucat, tetapi terlihat rasa tidak mau kalah di dalam tatapannya. Dia sungguh mirip seperti dia yang mengejar Devin dengan susah payah waktu itu. “Aku mau main yang paling menantang!”Juno membawa Rose untuk main wah
“Apa yang kamu pikirkan?”“Aku percaya dia nggak bohong, tapi jelas sekali Ester mendekatinya karena ada motif tersembunyi!” ucap Rose dengan suara serius.Hanya saja, Devin tidak menyadari motif wanita itu. Dia tidak menolak dan menjaga jarak dengan Ester, melainkan malah memberi Ester kesempatan u
“Di mana kamu?” tanya Juno dengan suara berat.“Aku lagi di jalan raya,” ucap Rose dengan menangis.“Kamu pulang dulu. Aku akan segera pergi cari kamu!” ucap Juno sembari mengambil mantel. Dia bergegas berjalan keluar.“Kamu rayakan Hari Raya di rumah sana. Aku baik-baik saja. Aku cukup tenangkan di







