LOGINIvy Collins kehilangan tunangan, sahabat, dan kepercayaannya dalam satu malam. Di saat hidupnya hancur, Arthur Sterling, seorang miliarder kejam yang paling ia benci tiba-tiba datang menawarkan perlindungan. "Kau boleh membenciku, tapi mulai sekarang, jangan berharap aku melepaskanmu." Di balik perlindungannya, Arthur menyimpan ketertarikan yang perlahan berubah menjadi obsesi. Akankah Ivy mampu menjaga jarak dari pria yang seharusnya menjadi musuhnya, atau justru jatuh ke dalam perangkap cinta bosnya yang tak mengenal kata melepaskan?
View MoreLondon sedang berada di puncak musim dingin yang menyiksa, tapi suhu di dalam kantor pusat Sterling Industries terasa jauh lebih dingin. Ivy Collins bisa merasakan tatapan tajam bosnya, Arthur Sterling, menembus tengkuknya saat dia mencoba merapikan tumpukan dokumen di meja pria itu.
"Kau bergetar, Collins. Apa kau sedang mengidap parkinson atau kau hanya tidak kompeten pagi ini?" tanya Arthur halus, tapi mengandung racun yang sanggup melubangi harga diri siapa pun. Ivy menarik napas tajam, jemarinya yang pucat mencengkeram tepi meja. "Saya hanya kurang tidur. Laporan audit yang Anda minta sudah selesai pukul tiga pagi tadi." Arthur berdiri dari kursi, bergerak dengan keanggunan seekor predator yang sedang bosan. Dia melangkah mendekat hingga Ivy bisa mencium aroma oud dan wiski mahal yang menjadi ciri khas pria itu. Arthur berhenti tepat di depan Ivy, menunduk hingga napas hangatnya menyentuh telinga wanita itu. "Kau terlihat berantakan. Mata merah dan bibir pecah-pecah ... kau merusak estetika kantorku," bisik Arthur dingin. Dia meraih selembar memo, lalu melemparnya ke dada Ivy. "Pulanglah. Aku tidak ingin melihat wajah mayatmu di sini sampai besok pagi. Jangan berterima kasih, aku hanya tidak ingin kau pingsan dan menuntut asuransi perusahaanku." Ivy tertegun. Arthur Sterling, pria yang dikenal tidak punya hati, baru saja memberinya setengah hari libur? Meskipun alasannya kasar, Ivy tidak peduli. Dia butuh menjauh dari pria brengsek ini. Dia butuh Liam, tunangannya yang hangat, yang selalu menjadi penawar racun setelah seharian menghadapi Arthur. "Terima kasih, Sir," ucap Ivy singkat, sebelum berbalik dan nyaris berlari keluar dari ruangan itu. Di dalam lift, Ivy memeriksa pantulan dirinya di cermin. Benar kata Arthur, dia tampak hancur. Namun, bayangan Liam yang sedang menunggunya di apartemen membuat Ivy tersenyum tipis. Liam adalah segalanya bagi Ivy. Pria itu adalah alasan Ivy bertahan bekerja di bawah tekanan iblis seperti Arthur selama dua tahun terakhir. Dua puluh menit kemudian, Ivy sudah berada di depan pintu apartemennya. Dia sengaja tidak menelepon Liam. Dia ingin memberi kejutan. Dia membayangkan mereka akan memesan pizza, menonton film di balik selimut, dan mungkin melakukan sesuatu yang jauh lebih panas untuk merayakan kepulangannya yang lebih awal. Ivy memasukkan kunci dan memutarnya dengan pelan. Pintu pun terbuka tanpa suara. Suasana apartemen sangat sunyi, tapi ada sesuatu yang aneh. Aroma parfum wanita yang menyengat, seperti aroma bunga melati yang sangat ia kenal, kini tercium di ruang tamu. Itu bukan parfum Ivy. Itu parfum Chloe, sahabat karibnya sekaligus rekan kerjanya di firma hukum lain. Ivy mengernyit. Apakah Chloe ada di sini? Lalu, suara itu terdengar. Sebuah erangan panjang dan berat dari arah kamar tidur di lantai atas. Ivy sontak membeku. Jantungnya mulai berdegup kencang, seperti menghantam tulang rusuknya dengan keras. Dia menaruh tas tangannya di atas meja, tangannya mulai gemetar hebat. Dia menaiki tangga dengan langkah sepelan mungkin, telinganya menangkap suara-suara yang membuat perutnya mual. Suara kulit yang beradu, suara napas yang terengah-engah, dan tawa kecil yang terdengar sangat menjijikkan. Pintu kamar mereka tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang memperlihatkan pemandangan yang seketika menghancurkan seluruh hidup Ivy. Di sana, di atas tempat tidur yang seprainya baru saja Ivy ganti kemarin pagi, Liam sedang berada di atas Chloe. Punggung Liam yang berotot bergerak maju-mundur dengan ritme yang buas. Chloe melilitkan kakinya di pinggang Liam, kukunya yang panjang mencakar punggung pria itu dan meninggalkan garis-garis merah. "Oh, Liam ... ya, terus ... jangan berhenti," rintih Chloe, kepalanya mendongak ke belakang, matanya terpejam dalam ekstasi. Liam menggeram, suaranya terdengar seperti binatang. "Kau jauh lebih baik daripada dia, Chloe. Ivy tidak pernah mau melakukannya seperti ini. Dia terlalu 'suci' untukku." "Bukankah itu alasanmu menyukainya? Dia wanita baik-baik yang bekerja keras untuk membiayaimu, bukan?" Chloe tertawa sinis di tengah desahannya. "Persetan dengan kebaikannya. Aku butuh wanita jalang di tempat tidur, bukan sekretaris yang kaku," sahut Liam kasar, sebelum kembali menghujamkan tubuhnya ke dalam Chloe dengan kekuatan yang membuat ranjang itu berderit keras. Ivy merasa seolah dunia di sekitarnya runtuh dan terbakar. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara. Jadi ini alasannya? Ini balasan untuk semua jam kerja lembur yang ia jalani demi membantu Liam melunasi utang judinya? Ini balasan untuk kesetiaan yang ia jaga selama empat tahun? Mual meluap di kerongkongannya. Ivy ingin lari, tapi amarah yang dingin tiba-tiba mengambil alih tubuhnya. Dia tidak akan menjadi korban yang menangis di pojokan. Matanya menyapu sekitar dan mendarat pada sebuah botol anggur mahal yang masih tertutup, hadiah yang ia siapkan untuk hari jadi mereka minggu depan yang tergeletak di meja rias dekat pintu. Ivy mengambil botol itu. Cengkeramannya sangat kuat hingga buku jarinya memutih. Dengan tenang, dia mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar. BRAKK! Kedua orang di atas ranjang itu tersentak hebat. Liam hampir terjatuh dari tubuh Chloe. Wajahnya yang tadi penuh gairah seketika berubah menjadi pucat pasi, seolah-olah seluruh darahnya baru saja disedot keluar. "Ivy! Aku ... aku bisa menjelaskan!" Liam mencoba menarik selimut, menutupi tubuhnya dan Chloe yang kini tampak panik. Ivy berdiri di sana, tegak dan dingin. Matanya menatap mereka seolah-olah mereka adalah kecoak yang baru saja ia temukan di tempat sampah. "Menjelaskan apa, Liam? Menjelaskan bagaimana kau menggunakan uang tabunganku untuk menyewa pelacur berkedok sahabat di tempat tidurku sendiri?" Ivy berusaha tenang, tapi setiap katanya mengandung belati. "Ivy, dengar ... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya ... aku hanya kesepian karena kau selalu sibuk dengan bosmu yang brengsek itu!" Liam mencoba membela diri, meskipun suaranya bergetar ketakutan. Ivy tertawa kering dan mengerikan. Dia berjalan mendekat ke tepi tempat tidur, botol itu berayun di tangannya. Liam mundur hingga terpojok ke sandaran tempat tidur. "Kesepian?" Ivy melirik Chloe yang sekarang mencoba menutupi dadanya dengan bantal. "Lalu kau, Chloe. Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa 'jalang' memang memiliki tempat tersendiri. Kau bisa memilikinya sekarang. Pria ini, utang-utangnya, dan semua kebohongannya. Dia milikmu."Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh
"Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers
Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec
Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.