Mag-log inIvy Collins kehilangan tunangan, sahabat, dan kepercayaannya dalam satu malam. Di saat hidupnya hancur, Arthur Sterling, seorang miliarder kejam yang paling ia benci tiba-tiba datang menawarkan perlindungan. "Kau boleh membenciku, tapi mulai sekarang, jangan berharap aku melepaskanmu." Di balik perlindungannya, Arthur menyimpan ketertarikan yang perlahan berubah menjadi obsesi. Akankah Ivy mampu menjaga jarak dari pria yang seharusnya menjadi musuhnya, atau justru jatuh ke dalam perangkap cinta bosnya yang tak mengenal kata melepaskan?
view more“Mr. Vance,” my secretary repeats after a pause. “Did you hear me?”
I did. Of course I did. As if I can help but listen to every word that leaves her mouth. “The board of directors is threatening a hostile takeover if you don't give them a reason not to,” she continues. “They think you're too cold, too distant. You haven't had a public partner in years, and they're spinning it to make you look unstable for leadership. You have until the end of the quarter to find someone, anyone, to prove them wrong.” I close my eyes for a fraction of a second as I try to make sense of what she's saying. Not a single person in this firm or anywhere else knows the true reason why I haven't dated anyone in the past few years, not since Clare started working for me, three years ago. “You mean to tell me,” I hiss, “that if I don’t start dating someone to appeal to their idiotic minds, they will take over my company?” I stand up so abruptly that my chair almost falls over. “I am the CEO of this company,” I continue, my voice rising. “I built this empire from the ground up. They do not have the right to dictate how I live my life.” I take a sharp breath, forcing the anger down, because I know, deep down, terrifyingly, that if all of them unite against me, I won't have a company left to call my own. My secretary simply blinks, completely unfazed by my reaction. She's come so far in these past three years, I think. I remember the first time I ever saw Clare: a nervous little thing with black-rimmed glasses and curly hair that framed her face, who used to flinch at loud noises. “I have prepared a list of eligible candidates for you to choose from,” she murmurs, dragging my mind back from the thoughts that plague my every waking moment. She slides a paper across my desk. “Now, stop feeling sorry for yourself, Mr. Vance, and start working.” A muscle in my jaw ticks as I glance down at the paper, then back at her in sheer disbelief. “You did what?” I grip the edge of the desk, my voice dropping to a dangerous register. “You had the audacity to sit down and make a list of women for me to choose from?” I watch, completely dumbfounded, as she simply smirks, an expression that immediately halts the fury coursing through my veins. “You're very welcome, Mr. Vance.” She turns on her heel and heads for the door, leaving me alone with my multi-million-dollar corporation, a ruined chair, and a single sheet of paper filled with women I have zero intention of calling, because the one I want, the woman who has completely ruined me for anyone else, just left my office with a self-satisfied grin. For a second, I consider calling her back, demand she stay, and force her to acknowledge the ruin she leaves in her wake. Instead, I simply shake my head, a defeated sigh escaping my mouth. Challenge accepted, I think bitterly. Or rather, forced upon me.Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh
"Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers
Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec
Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.