LOGINSharen dijodohkan dengan Elio Sagara, CEO muda paling sempurna se-Jakarta. Semua orang bilang dia beruntung. Yang mereka tidak tahu: di balik pintu tertutup, Elio mengontrol setiap langkahnya, dan menghukumnya diam-diam Dua hari sebelum pernikahan resmi diumumkan, Sharen kabur ke Leiden, kota kecil di Belanda yang menyimpan satu kenangan samar dari masa lalunya. Di sana dia bertemu Skyler, pemilik toko buku tua yang terasa aneh familiar. Tapi Elio tidak akan menyerah semudah itu. Dan saat dia menemukan Sharen, dia datang bukan untuk memohon, melainkan mengancam. Sharen harus memilih: kembai ke sangkar emas, atau berdiri melawan.
View MoreCahaya spotlight yang redup di galeri seni malam itu memantul di gelas sampanye Sharen. Ia sudah dua jam berdiri di sana. Di sekitarnya, jas mahal dan aroma parfum desainer memenuhi ruangan. Ia memaksakan senyum kaku setiap kali menerima ucapan selamat yang terdengar berulang seperti kaset rusak.
"Pasangan paling serasi tahun ini," kata seorang kerabat jauh yang namanya bahkan tidak bisa Sharen ingat. Ia menepuk lengannya dengan gerakan penuh kasih sayang.
Matanya melihat penampilan Sharen dari kepala sampai kaki. Itu bukan tatapan kagum. Lebih mirip seperti pengelola pameran yang menilai apakah sebuah barang pantas dipajang.
"Elio benar-benar beruntung." Wanita itu tersenyum tipis. "Kamu juga sangat beruntung, pastinya."
"Terima kasih, Tante," jawab Sharen. Ia sudah sering berlatih senyum itu di depan cermin sejak remaja. Senyuman itu cukup ramah, tapi tidak terlalu lebar.
Enam bulan setelah pertunangannya diatur, Sharen belajar satu hal bahwa sandiwara ini harus terlihat sempurna di depan banyak orang. Semakin banyak yang memperhatikan, semakin rapi juga topeng yang harus ia pakai.
Elio tampak tertawa lepas di seberang ruangan seolah tidak punya hal yang perlu ia khawatirkan. tapi perhatiannya tidak pernah benar-benar lepas dari Sharen. Pria tersebut selalu tahu di mana Sharen berdiri, dengan siapa ia bicara, dan berapa lama obrolan itu berlangsung.
"Kamu tadi lihat ke mana?" bisik Elio pelan, tapi suaranya terdengar posesif. Nadanya terlalu tenang, seperti pria yang sedang menggoda.
Sharen terkejut saat Elio tiba-tiba sudah ada di sisinya dengan lengan kekar yang melingkar ke pinggangnya.
"Wah, pasangan serasi kita akhirnya kumpul juga," goda Pak Halim, ketua yayasan, yang muncul bersama rekan-rekannya. "Jadi, kapan nih tanggal pastinya? Jangan lupa undang saya."
Lidah Sharen terasa kaku. Bagaimana ia bisa menjawab, padahal mereka berdua belum pernah membahas pernikahan sama sekali? Menyadari Sharen tetap diam, jari-jari Elio di pinggangnya menekan lebih kuat. Itu peringatan yang hanya bisa ia rasakan sendiri.
"Secepatnya, Pak Halim. Nanti Bapak jadi orang pertama yang kami beri kabar," jawab Elio dengan mudah. "Sharen bahkan sudah memilih tempat untuk bulan madu kami."
Tamu tertawa hangat. Sharen hanya ikut tersenyum sambil mengepalkan tangannya erat untuk menahan sesak di dadanya.
"Permisi sebentar, kami cari udara segar dulu," kata Elio.
Begitu mereka tiba di sudut sepi, senyum malaikat Elio langsung hilang saat ia menggenggam pinggang Sharen lebih erat. Lalu, dengan satu gerakan kasar, ia mendorong tubuh Sharen hingga punggung gadis tersebut membentur dinding marmer yang dingin.
"Elio, sakit—" rintih Sharen.
"Kenapa kamu diam saja waktu Pak Halim tanya soal tanggal pernikahan?" bisik Elio. Ia mengurungnya dengan kedua lengan yang menumpu dinding. Wajah mereka hampir bersentuhan.
"Aku... nggak tahu harus jawab apa. Kita belum pernah tentuin tanggalnya bareng—"
"Kamu memang nggak perlu tahu jawabannya." Elio mencengkeram rahangnya dan memaksa Sharen mendongak. "Tugasmu cuma senyum. Bilang 'segera'. Serahkan sisanya ke aku. Berhenti bikin aku kelihatan bodoh di depan orang-orang, Sharen."
"Aku nggak bermaksud begitu," bisik Sharen, matanya berkaca-kaca.
"Aku rasa kamu lupa siapa pemilikmu sekarang," Elio menurunkan suaranya. Serak dan penuh ancaman. "Jangan membantah, atau kau akan rasakan akibatnya."
Tanpa aba-aba, bibirnya menabrak bibir Sharen beringas. sebagai wujud murni hukuman dan penaklukan. Tangannya mencengkeram pinggang Sharen dengan kuat, memaksa tubuh gadis itu menempel rapat, lalu bibirnya bergerak turun meninggalkan bekas kemerahan di tulang selangka Sharen sebagai tanda kepemilikan. Sharen memejamkan mata erat, berusaha menumpulkan perasaannya agar tidak merasakan apa pun.
"Kamu itu punyaku, Sharen. Tubuhmu, pikiranmu, setiap hela napasmu," bisik Elio dengan suara serak.
"Iya, Elio," Sharen menelan ludah dengan susah payah.
Elio melepas cengkeramannya lalu merapikan jas dalam hitungan detik. Setelah itu, ia berjalan santai kembali ke ballroom sambil tersenyum seperti malaikat. Ia meninggalkan Sharen yang gemetar di lorong sunyi itu.
Sharen baru saja menarik napas dan memaksa kakinya untuk masuk lagi saat istri Pak Halim memanggilnya untuk berkenalan dengan putrinya, Vera, yang baru pulang dari Melbourne. Gadis muda tersebut memuji gaunnya secara berlebihan, lalu langsung membicarakan betapa beruntungnya Sharen menikahi Elio.
"Aku serius, deh. Kalau aku jadi kamu, aku pasti senang banget setiap hari," Vera tertawa kecil dengan suara ceria. "Elio itu kan idaman banyak orang di Jakarta."
"Iya, aku memang beruntung," jawab Sharen sambil tersenyum tipis.
Lagi-lagi pujian yang dibalut rasa iri. Rasanya seperti menonton rekaman yang sama berulang kali hingga ia merasa mati rasa. Sudut bibirnya sudah pegal sejak dua jam lalu, namun ia tetap mempertahankannya.
[Elio]: Kamu di mana? Aku nyariin dari tadi.
Sharen membalas singkat, pamit, lalu memasang kembali topeng sempurnanya sebelum mendekati Elio.
Dalam perjalanan pulang, kata-kata santai Elio langsung membuat tangan Sharen mengepal di pangkuannya.
"Ngomong-ngomong," kata Elio dengan mata lurus ke jalanan dan tangan bersantai di setir. "Ayah minta tanggal pernikahan dipercepat. Satu bulan dari sekarang."
Sharen menoleh cepat dengan jantung berdegup tak karuan. "Dipercepat? Kenapa tiba-tiba,"
"Ada kepentingan bisnis. Aku sudah bilang ke Om Bram tadi pagi." Nadanya mutlak, tidak memberi sedikit pun ruang untuk diskusi.
Elio menoleh sedikit dan tersenyum, persis seperti yang ia tunjukkan di depan Pak Halim tadi: sebuah senyum mematikan yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. "Kamu nggak keberatan, kan, sayang?"
Ucapan tersebut bukan pertanyaan, karena Sharen tahu persis bahwa kalimat itu adalah perintah tanpa kata.
"Nggak," jawab Sharen pelan, suaranya hampir seperti embusan angin.
Ia melihat ke luar jendela sambil menghitung dalam hati berapa banyak waktu yang baru saja diambil darinya tanpa ia sempat mengerti apa alasannya.
Satu bulan, pikirnya kemudian, mengulang angka itu diam-diam seperti sedang menghafal sesuatu yang penting. Tiga puluh hari. Kalau dipakai dengan benar, mungkin cukup.
Sharen memutuskan datang setelah semalaman menimbang, uang tunainya menipis dan tiga kali bertemu Skyler tanpa insiden buruk mulai terasa cukup untuk mencoba, bukan jaminan penuh, tapi cukup.Lonceng kuningan De Bladzijde berbunyi keras jam sepuluh kurang lima menit, udara dingin masih menempel di jaket Sharen. "Tepat waktu," Skyler muncul dari balik rak, lengan kemeja digulung membawa dua cangkir kopi."Aku bilang mau pikirin dulu, bukan janji pasti," Sharen berkata, setengah menguji reaksinya."Aku tahu," Skyler tersenyum santai. "Makanya aku nggak nunggu di depan pintu kayak orang aneh."Sharen nyaris tersenyum meski buru-buru menahannya. "Kalau aku nggak datang gimana?""Ya udah, aku cari orang lain," Skyler mengangkat bahu ringan. "Nggak masalah. Kamu yang tentuin, bukan aku." Jawaban tersebut terasa asing di telinga Sharen, terlalu santai untuk sesuatu yang biasanya dijadikan alasan marah oleh orang lain di hidupnya."Mau kopi apa?" tanyanya mengalihkan topik."Hitam, tanpa gula
Hujan turun tiba-tiba sore itu, jauh lebih deras dari gerimis yang pernah membuat Sharen berteduh bersama Skyler beberapa hari lalu. Tanpa payung, ia berlari mencari tempat perlindungan terdekat, tasnya didekap erat ke dada.Kakinya berhenti tepat di depan toko buku yang dicat merah bata, toko milik pria yang sudah dua kali ia temui tanpa sengaja.“Kenapa harus toko ini,” batinnya kesal menatap langit yang semakin gelap. “Tapi hujannya beneran deras. Nggak ada pilihan lain.” Ia melirik ke kanan dan kiri, mencari alternatif tempat berteduh lain tapi tidak ada. Jalanan berbatu itu sepi, toko-toko lain sudah tutup lebih awal karena cuaca.Ia mendorong pintu kayu, lonceng kuningan berdenting keras. Aroma buku lama dan kopi hitam langsung menyambut, menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup. "Kamu lagi," suara bariton Skyler keluar dari balik meja kasir, terdengar terkejut dan geli. "Sudah tiga kali kita bertemu""Nggak sengaja," Sharen lagi-lagi menjawab singkat, menyeka air hujan dari leng
Tiga hari setelah insiden di kedai kopi, Sharen memutuskan tetap harus melewati jalan yang sama, toko kelontong terdekat hanya ada di ujung jalan berbatu tersebut, persis di dekat toko buku yang ia hindari.“Nggak apa-apa, Sharen. Kamu cuma perlu jalan terus, pria di toko buku itu bukan pengawal utusan Elio, kamu di Leiden sekarang bukan di Jakarta,” batin Sharen, terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri.Ia sudah hafal rute memutar sejak dua hari lalu, tapi hari ini kakinya terlalu lelah untuk berjalan lebih jauh dari yang seharusnya. Ia berjalan cepat, menundukkan kepala, kantong belanja plastik tipis menggantung di kedua tangannya berisi roti, susu, dan beberapa kaleng sup murah.Di tikungan yang sempit, kantong sebelah kanan robek, kaleng sup jatuh keras ke trotoar lalu menggelinding cepat ke arah selokan. "Aduh," Sharen buru-buru jongkok, mengejar kaleng yang terus menggelinding makin jauh.Sebuah tangan besar terulur lebih dulu, menangkap kaleng tersebut tepat sebelum jatuh ke s
Baru dua hari di Leiden, kamar sewa Sharen sudah terasa seperti kurungan baru. Ukurannya memang lebih kecil, tapi tempat itu tetap saja penjara. Ia harus keluar, meski sekadar duduk di tempat asing dan berlagak sibuk.Ia menemukan kedai kopi kecil di ujung jalan berbatu, jendela besarnya menghadap ke toko buku bercat merah bata di seberang. Tempat tersebut sepi dan hangat. "Yang terpenting, ada dua pintu keluar," gumamnya lega saat melihat pintu satu di depan dan satu di belakang dekat toilet.Dia selalu duduk di tempat yang bisa melihat pintu, memilih kursi di sudut. "Jika ada sesuatu yang aneh, aku bisa langsung pergi," pikirnya mempertahankan kebiasaan yang sudah sangat melekat tersebut.Di Jakarta, ia belajar menghadap pintu tanpa sadar, cara menghitung berapa langkah ke jalan keluar terdekat, dan juga cara membaca nada suara orang lain sebelum kalimatnya selesai.Pelayan muda mendekat sambil membawa buku menu kecil. "Mau pesan apa, Nona?""Kopi hitam. Yang paling murah," kata Sha


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.