Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif

Bukan Pernikahan Impian: Pelarian dari CEO Obsesif

last updateLast Updated : 2026-09-07
By:  A.lyraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sharen dijodohkan dengan Elio Sagara, CEO muda paling sempurna se-Jakarta. Semua orang bilang dia beruntung. Yang mereka tidak tahu: di balik pintu tertutup, Elio mengontrol setiap langkahnya, dan menghukumnya diam-diam Dua hari sebelum pernikahan resmi diumumkan, Sharen kabur ke Leiden, kota kecil di Belanda yang menyimpan satu kenangan samar dari masa lalunya. Di sana dia bertemu Skyler, pemilik toko buku tua yang terasa aneh familiar. Tapi Elio tidak akan menyerah semudah itu. Dan saat dia menemukan Sharen, dia datang bukan untuk memohon, melainkan mengancam. Sharen harus memilih: kembai ke sangkar emas, atau berdiri melawan.

View More

Chapter 1

BAB 1

Cahaya spotlight yang redup di galeri seni malam itu memantul di gelas sampanye Sharen. Ia sudah dua jam berdiri di sana. Di sekitarnya, jas mahal dan aroma parfum desainer memenuhi ruangan. Ia memaksakan senyum kaku setiap kali menerima ucapan selamat yang terdengar berulang seperti kaset rusak.

"Pasangan paling serasi tahun ini," kata seorang kerabat jauh yang namanya bahkan tidak bisa Sharen ingat. Ia menepuk lengannya dengan gerakan penuh kasih sayang.

Matanya melihat penampilan Sharen dari kepala sampai kaki. Itu bukan tatapan kagum. Lebih mirip seperti pengelola pameran yang menilai apakah sebuah barang pantas dipajang.

"Elio benar-benar beruntung." Wanita itu tersenyum tipis. "Kamu juga sangat beruntung, pastinya."

"Terima kasih, Tante," jawab Sharen. Ia sudah sering berlatih senyum itu di depan cermin sejak remaja. Senyuman itu cukup ramah, tapi tidak terlalu lebar.

Enam bulan setelah pertunangannya diatur, Sharen belajar satu hal bahwa sandiwara ini harus terlihat sempurna di depan banyak orang. Semakin banyak yang memperhatikan, semakin rapi juga topeng yang harus ia pakai.

Elio tampak tertawa lepas di seberang ruangan seolah tidak punya hal yang perlu ia khawatirkan. tapi perhatiannya tidak pernah benar-benar lepas dari Sharen. Pria tersebut selalu tahu di mana Sharen berdiri, dengan siapa ia bicara, dan berapa lama obrolan itu berlangsung.

"Kamu tadi lihat ke mana?" bisik Elio pelan, tapi suaranya terdengar posesif. Nadanya terlalu tenang, seperti pria yang sedang menggoda.

Sharen terkejut saat Elio tiba-tiba sudah ada di sisinya dengan lengan kekar yang melingkar ke pinggangnya.

"Wah, pasangan serasi kita akhirnya kumpul juga," goda Pak Halim, ketua yayasan, yang muncul bersama rekan-rekannya. "Jadi, kapan nih tanggal pastinya? Jangan lupa undang saya."

Lidah Sharen terasa kaku. Bagaimana ia bisa menjawab, padahal mereka berdua belum pernah membahas pernikahan sama sekali? Menyadari Sharen tetap diam, jari-jari Elio di pinggangnya menekan lebih kuat. Itu peringatan yang hanya bisa ia rasakan sendiri.

"Secepatnya, Pak Halim. Nanti Bapak jadi orang pertama yang kami beri kabar," jawab Elio dengan mudah. "Sharen bahkan sudah memilih tempat untuk bulan madu kami."

Tamu tertawa hangat. Sharen hanya ikut tersenyum sambil mengepalkan tangannya erat untuk menahan sesak di dadanya.

"Permisi sebentar, kami cari udara segar dulu," kata Elio.

Begitu mereka tiba di sudut sepi, senyum malaikat Elio langsung hilang saat ia menggenggam pinggang Sharen lebih erat. Lalu, dengan satu gerakan kasar, ia mendorong tubuh Sharen hingga punggung gadis tersebut membentur dinding marmer yang dingin.

"Elio, sakit—" rintih Sharen.

"Kenapa kamu diam saja waktu Pak Halim tanya soal tanggal pernikahan?" bisik Elio. Ia mengurungnya dengan kedua lengan yang menumpu dinding. Wajah mereka hampir bersentuhan.

"Aku... nggak tahu harus jawab apa. Kita belum pernah tentuin tanggalnya bareng—"

"Kamu memang nggak perlu tahu jawabannya." Elio mencengkeram rahangnya dan memaksa Sharen mendongak. "Tugasmu cuma senyum. Bilang 'segera'. Serahkan sisanya ke aku. Berhenti bikin aku kelihatan bodoh di depan orang-orang, Sharen."

"Aku nggak bermaksud begitu," bisik Sharen, matanya berkaca-kaca.

"Aku rasa kamu lupa siapa pemilikmu sekarang," Elio menurunkan suaranya. Serak dan penuh ancaman.  "Jangan membantah, atau kau akan rasakan akibatnya."

Tanpa aba-aba, bibirnya menabrak bibir Sharen beringas. sebagai wujud murni hukuman dan penaklukan. Tangannya mencengkeram pinggang Sharen dengan kuat, memaksa tubuh gadis itu menempel rapat, lalu bibirnya bergerak turun meninggalkan bekas kemerahan di tulang selangka Sharen sebagai tanda kepemilikan. Sharen memejamkan mata erat, berusaha menumpulkan perasaannya agar tidak merasakan apa pun.

"Kamu itu punyaku, Sharen. Tubuhmu, pikiranmu, setiap hela napasmu," bisik Elio dengan suara serak.

"Iya, Elio," Sharen menelan ludah dengan susah payah.

Elio melepas cengkeramannya lalu merapikan jas dalam hitungan detik. Setelah itu, ia berjalan santai kembali ke ballroom sambil tersenyum seperti malaikat. Ia meninggalkan Sharen yang gemetar di lorong sunyi itu.

Sharen baru saja menarik napas dan memaksa kakinya untuk masuk lagi saat istri Pak Halim memanggilnya untuk berkenalan dengan putrinya, Vera, yang baru pulang dari Melbourne. Gadis muda tersebut memuji gaunnya secara berlebihan, lalu langsung membicarakan betapa beruntungnya Sharen menikahi Elio.

"Aku serius, deh. Kalau aku jadi kamu, aku pasti senang banget setiap hari," Vera tertawa kecil dengan suara ceria. "Elio itu kan idaman banyak orang di Jakarta."

"Iya, aku memang beruntung," jawab Sharen sambil tersenyum tipis.

Lagi-lagi pujian yang dibalut rasa iri. Rasanya seperti menonton rekaman yang sama berulang kali hingga ia merasa mati rasa. Sudut bibirnya sudah pegal sejak dua jam lalu, namun ia tetap mempertahankannya.

[Elio]: Kamu di mana? Aku nyariin dari tadi.

Sharen membalas singkat, pamit, lalu memasang kembali topeng sempurnanya sebelum mendekati Elio.

Dalam perjalanan pulang, kata-kata santai Elio langsung membuat tangan Sharen mengepal di pangkuannya.

"Ngomong-ngomong," kata Elio dengan mata lurus ke jalanan dan tangan bersantai di setir. "Ayah minta tanggal pernikahan dipercepat. Satu bulan dari sekarang."

Sharen menoleh cepat dengan jantung berdegup tak karuan. "Dipercepat? Kenapa tiba-tiba,"

"Ada kepentingan bisnis. Aku sudah bilang ke Om Bram tadi pagi." Nadanya mutlak, tidak memberi sedikit pun ruang untuk diskusi.

Elio menoleh sedikit dan tersenyum, persis seperti yang ia tunjukkan di depan Pak Halim tadi: sebuah senyum mematikan yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. "Kamu nggak keberatan, kan, sayang?"

Ucapan tersebut bukan pertanyaan, karena Sharen tahu persis bahwa kalimat itu adalah perintah tanpa kata.

"Nggak," jawab Sharen pelan, suaranya hampir seperti embusan angin.

Ia melihat ke luar jendela sambil menghitung dalam hati berapa banyak waktu yang baru saja diambil darinya tanpa ia sempat mengerti apa alasannya.

Satu bulan, pikirnya kemudian, mengulang angka itu diam-diam seperti sedang menghafal sesuatu yang penting. Tiga puluh hari. Kalau dipakai dengan benar, mungkin cukup.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status