LOGINLarut dalam perdebatan demi perdebatan sengit antar rival di kantor, Felicia dan Barney yang dijuluki ‘Kitty dan Jack’, tak sengaja menemukan sisi berbeda yang menjadi kelemahan satu sama lain. Bagaimana mereka mempertahankan rahasia itu? Seperti apa lanjutan hubungan kedua rival kerja yang saling memegang kartu AS?
View More“Kalau idenya begitu sih, kita bisa kehilangan proyek, Fel! Yakin saya!”
Felicia tercekat mendengar ucapan Barney yang penuh percaya diri. Dia yang tadinya berniat melanjutkan presentasi langsung memalingkan muka, menatap pria menyebalkan itu dengan tajam. ‘Tikus curut! Dia kira perhitungan dia doang yang selalu bener?!’ umpat Felicia dalam hati. Ruangan menjadi hening. Para peserta rapat saling melirik. “Mulai deh! Kita bakal lihat pertunjukan seru nih!” tukas salah satu dari peserta rapat, dengan suara pelan. Ada juga yang terkekeh geli. Katanya, “Hihihi! Pertempuran si Kitty and Jack nggak bakal mati deh.” Sementara yang lain mengembuskan napas panjang, lelah. Begitu juga dengan atasan mereka, Ms Carlota, yang sudah sejak tadi memijat pelipisnya. Pusing dengan kelakuan dua karyawan bintang di divisinya. Walau Felicia mendengar rekan yang menyindir, tetapi dia mengacuhkan. Ucapan Barney lebih perlu ditanggapi. Jadi. Dia langsung balik badan. Lelaki muda yang tergolong tampan dengan rambut ikal itu duduk santai di kursinya. Menampilkan wajah tenang, tetapi sorot matanya jelas menentang ide Felicia. Felicia mengepalkan tangan. Gerahamnya bergemeretak sementara ia membatin, ‘Sial! Orang edan! Baru juga mulai rapat, dia udah bikin ulah!’ Pandangan Felicia mengunci mata Barney. Suasana terasa pengap menurutnya. “Coba jelasin! Kenapa kamu bisa bilang gitu?” tanyanya sambil menahan amarah. “Lho! Harusnya kamu tahu, Fel. Kita nggak sedang nanganin proyek kecil!” Barney menjawab lugas. Felicia mendengkus kesal. “Iya, benar, Fel. Musti pertimbangin juga dampak untung dan ruginya!” celetuk salah seorang dari peserta meeting. ‘Busyet! Kenapa dia harus mendukung ide gila orang sinting ini?’ omelnya tanpa suara. Barney yang mendapat julukan sebagai Jack, tersenyum miring, merasa menang. Ada seseorang yang mendukungnya. Entah kenapa, setiap melihat senyum pemuda itu, Felicia merasa muak dan benci. “Kalau salah bikin strategi, bakal rugi dana. Hilang sudah kepercayaan klien!” tambah Barney lagi. Rasa dongkol sudah sampai di ubun-ubun kepala Felicia, membuat napasnya memburu. Melihat tatapan mata Felicia yang semakin membara, rekan-rekannya yang hadir bisa langsung menduga. Perang si Kitty and Jack benar-benar akan dimulai. “Denger dulu! Justru karena kita bakal ke pulau Vestofia, kita yang harus jemput bola!” bantah Felicia yang dijuluki Kitty. Namun, Barney ‘si Jack’ menolak santai. “Lebih efisien gelar event!” “Jemput bola lebih hemat biaya!” kata Felicia tidak goyah. “Event lebih menarik!” Salah satu alis Barney naik, dengan santai mempertahankan pendapatnya. Mata Felicia semakin berapi-api. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Budget event kamu besar! Hitung dulu, baru ngomong!” Sebelum Barney membantah, terdengar suara keras dari bangku paling depan. “Stop!” Ms Carlota angkat suara, memecah suasana. “Stop, stop!” Sang atasan segera berdiri dan berjalan ke depan kemudian tersenyum tipis ke arah Felicia. “Kamu boleh duduk, Fel!” Felicia meletakkan stik yang dipakai untuk presentasi dan berjalan ke tempat duduknya. “Terima kasih kalian berdua. Sudah semangat mikirin proyek yang saya tawarkan.” Ms Carlota menatap Barney dan Felicia bergantian. Ms Carlota menyambung kalimatnya dalam hati, ‘Walau bikin pusing juga kalian ini!’ Dua karyawan terbaiknya memang seperti itu sejak lama. Mereka akan mempertahankan pendapatnya dan tak akan ada yang mau mengalah. “Jadi, begin—” Kata-kata Ms Carlota belum selesai ketika tiba-tiba pintu diketuk. Semua mata memandang ke arah pintu yang terbuka pelan. Sekretaris Ms Carlota melongokkan kepalanya. “Maaf ganggu, Bu. Permisi.” Sang sekretaris segera menuju ke depan ruangan, menghampiri Ms Carlota dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah sang atasan berubah serius. “Saya tinggal sebentar. Kalian lanjut diskusi dulu!” katanya sambil berjalan keluar ruangan. Sepeninggalan Ms Carlota, Felicia duduk sambil mengembuskan napas panjang. Rekan yang duduk di sebelahnya membelai bahu Felicia dan menyodorkan segelas air mineral. “Nih, minum dulu, Fel!” kata Grace sambil tersenyum. “Biar adem.” Felicia menerima gelas plastik berisi air putih dan menusukkan sedotan lalu meneguk perlahan. Setidaknya cairan itu cukup menenangkan hati. “Udah, nggak usah diambil hati perkataan si Jack—eh! Si Barney,” kata Grace nyengir lebar. Namun, Felicia yang sudah tersulut emosi karena perdebatan tadi, masih tidak bisa menyingkirkan wajah masamnya. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya. “Gimana aku nggak jengkel coba?!” tukas Felicia geram. “Baru aja dimulai sudah bikin huru-hara!” Grace tertawa geli melihat tingkah sahabatnya, lalu menggodanya, “Hihihi! Sudah, jangan benci sama dia. Ntar malah jadian loh!” Felicia langsung berbalik dan melotot. “Hah?! Biar aku diberi sepuluh macam gitu secara cuma-cuma, aku gak bakal mau!” Grace menutup mulutnya supaya suara tawanya tidak terdengar banyak orang. Kemudian, dia mendekat ke telinga Felicia dan membisikkan sesuatu. “Gak boleh bilang gitu, Fel! Kata orang tua, benci itu bisa jadi cinta!” Felicia melengos sambil mencibir. Tangannya mendarat di lengan sahabatnya itu kemudian menjawab dengan ketus. “Cih! Amit-amit!” Grace tergelak dengan suara tertahan. Kali ini ia tidak bisa menahan diri. Membuat semua orang menoleh memperhatikan mereka. “Astaga! Aku nggak heran kalau nanti suatu saat dapat undangan nikah kalian berdua.” Barney yang duduk tiga baris di depannya merasa dijadikan bahan omongan menoleh ke belakang, tetapi matanya malah bersirobok dengan netra tajam Felicia. Dengan cepat Felicia membuang muka. Begitu juga dengan Barney yang berpaling lagi sambil mendengkus mengejek. 'Ugh! Ngeselin banget! Kenapa juga ada orang kayak dia?!’ batin Felicia mengomel. Di saat bersamaan, Ms. Carlota kembali. Ponsel masih melekat di telinganya seraya ia menutup panggilan itu. “Baik, Pak. Baik. Saya usahakan semaksimal mungkin. Selamat pagi!” Sang bos segera menyerahkan ponselnya pada sekretaris dan kembali menghadapi para staf yang masih menunggu di ruang rapat. “Baru saja saya dapat kabar dari Big Hug Agency. Sudah saya putuskan siapa yang pergi mewakili perusahaan,” kata Ms Carlota membuka kembali rapat yang tertunda tadi. Felicia was-was. Ia sudah berjuang untuk bisa mendapatkan proyek ini. Semua itu ia lakukan demi dua orang yang berharga yang ia miliki sekarang. Semua yang hadir menatap dengan bertanya-tanya, “Waduh! Siapa nih kira-kira yang bakal berangkat ke Vestofia?”Tut! Tut! Tut!Alarm di ponsel Felicia berdering nyaring sejak pukul lima pagi, memaksanya melompat dari tempat tidur meskipun seluruh otot tubuhnya masih terasa kaku akibat pindahan kemarin. Suasana rumah setengah berantakan, ruangan sempit itu masih dikelilingi kardus-kardus yang belum sempat dibongkar."Feli, ini bekal sarapanmu. Ibu baru sempat goreng telur dan roti mentega," kata Ibu dari arah dapur, menyodorkan sebuah kotak bekal stainless steel."Terima kasih, Bu. Feli harus berangkat sekarang, takut terjebak macet. Hari Senin begini biasanya bus kota penuh," sahut Felicia tergesa-gesa sambil mengancingkan blazer kerjanya. Matanya melirik ke arah kamar, tempat Sue masih meringkuk pulas di balik selimut. "Bu, hari ini Sue terpaksa bolos sekolah dulu ya. Feli benar-benar belum sempat mengurus berkas mutasinya ke sekolah baru,” katanya buru-buru.Ibu mengangguk paham, mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Iya, jangan khawatirkan Sue. Hati-hati di jalan, Fel."Sepanjang hari,
Sambil melepas lelah, mereka duduk di teras rumah. Menatap bulan yang menggantung di langit dan merasakan embusan angin malam. Percakapan dan canda tawa itu berlanjut hingga larut malam. Mereka mengakhirinya dengan masuk ke kamar masing-masing. Sementara Sue sudah tertidur sejak tadi. **********.Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Porteni saat Felicia membuka mata. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya. Sue masih tidur dengan pulas. Felicia membetulkan selimutnya.Ibu sudah di dapur untuk membuat minuman hangat. Kompor, panci dan beberapa gelas sengaja tidak dirapikan bersama yang lain.Wangi teh menguar dari sana. “Bu,” sapa Felicia. “Duduklah” kata Ibu penuh perhatian.Mereka duduk di kursi. Ibu menatap dalam-dalam. Dengan hati-hati dia bertanya, “ gimana dengan Nak Barney? Apa kamu benar-benar sudah melepasnya?” Felicia mengembuskan napas panjang. “Belum, Bu. Aku sendiri masih nggak tahu harus gimana.” “Jangan mempermainkan perasaan orang,
"Maafkan aku, Barn. Mereka adalah duniaku, Sama seperti keluargamu adalah duniamu," kata Felicia lembut. Dia mulai merapikan kertas-kertas di mejanya, menandakan bahwa malam sudah terlalu larut. "Biarkan aku menata hidupku dan keluargaku dulu. Setidaknya aku sudah merasa pantas untuk berdiri di depan keluargamu,” kata Felicia.Barney bangkit dari kursinya, memakai kembali jaket wollnya. Senyumnya kembali, meski kali ini terlihat sedikit dipaksakan demi menenangkan Felicia. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini, menunggumu siap.” Barney mengecup kening Felicia dengan lembut.Felicia mendongak, menatap Barney yang kini berdiri di hadapannya.. "Terima kasih karena selalu mengerti.""Ayo pulang. Aku antar kamu sampai ke depan," ajak Barney sambil mengulurkan tangannya.Felicia mematikan monitor layar, mengambil tasnya, lalu menyambut uluran tangan Barney. Di bawah temaram lampu koridor kantor yang mulai padam satu per
Ariella yang tak berhasil mengajak Felicia keluar, dia memutuskan untuk pulang.“Fel, aku pulang duluan. Usahakan besok kita bisa jalan bareng, ya.” pamit Ariella.Felicia mengangguk dia merasa bersalah. “Iya, Ar. Akan aku usahakan.Ariella melangkah keluar, Felicia sedikit merasa lega. Dia tak harus membuat kebohongan lagi.Tak lama kemudian, Louisa juga berpamitan. “Ms. Feli. Aku pulang, ya,” pamitnya. Felicia tersenyum. “Iya, makasih, ya. Sampai jumpa besok.” Louisa melambaikan tangan dengan senyum lalu melangkah pergi membawa tas laptopnya yang berat.Kini, ruangan lantai empat itu sepenuhnya dihuni oleh Felicia seorang.Wanita cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dia mengembuskan napas panjang, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Alih-alih merasa kesepian, dia justru menikmati momen ini. Matanya menatap tumpukan berkas dan layar monitor yang masih menyala, menampilkan grafik pencapaian proyek terbarunya. Dia masih ingin tinggal lebih lama. Bukan k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews