MasukSaat makan, Morgan bertanya padanya, “Apa ada janjian sama klien nanti malam?”Theresia mengedipkan matanya yang sedikit diturunkan. Dia merasa sedikit bersalah, tapi malah mengangguk dan berkata, “Iya, belakangan ini agak sibuk.”Morgan mengiakan dan tidak berkata lain.Selesai makan, mereka berdua sama-sama meninggalkan rumah. Mereka mengendarai mobil masing-masing melaju ke luar kompleks perumahan.Theresia juga tidak berencana untuk berbohong. Dia memang merasa sangat lelah. Ketika Ingga masuk untuk melaporkan urusan pekerjaan, dia pun mengungkit, “Hari Sabtu besok akan diadakan acara ulang tahun Nyonya Jovita di rumah, katanya acara nggak dilakukan secara besar-besaran. Hanya saja, dia juga sudah mengundang begitu banyak orang. Seharusnya Tuan Roger juga akan tinggal di rumah untuk merayakan ulang tahun ibunya. Bisa jadi, Nyonya Jovita akan memanfaatkan acara ulang tahunnya untuk memilih menantunya!”Ingga menatap Theresia. “Gimana kalau aku cari tahu siapa-siapa saja yang mengha
Morgan berkata, “Kalau kamu tidak bisa tidur, kita juga bisa lakukan yang lain.”Theresia terdiam sejenak. Dia berkata dengan suara yang sangat ringan, “Kenapa kamu tinggal di sini? Kamu itu seorang pemimpin, kamu malah sempit-sempitan tidur di sofa, kenapa?”Morgan menurunkan kelopak matanya, lalu berkata dengan suara datar, “Sudah turun hujan. Tidak bisa pulang.”Akhirnya Theresia mengerti. “Ternyata begini.”Morgan tersenyum tipis. “Kamu kira gara-gara apa?”“Aku kira ….” Theresia mengangkat tangannya untuk mencengkeram kemeja di depan dada Morgan. Bulu matanya sedikit bergetar. Dia melirik pundak Morgan, lalu mengeluarkan suara lembutnya. “Aku kira Tuan Morgan tinggal di sini karena ingin makan sandwich buatanku besok pagi.”“Sandwich buatanmu memang enak.”“Kalau begitu, besok aku buatkan lagi untuk kamu.”“Emm.”Saat Theresia berbicara, dia sudah memejamkan matanya. “Aku sudah ngantuk, mau tidur dulu. Jangan ganggu aku.”“Tidurlah!” Pria itu merangkul Theresia ke dalam pelukannya
Entah sudah suara petir ke berapa, Theresia bersandar di atas pundak Morgan. Dia memejamkan matanya dan tubuhnya sedikit gemetar.Bola mata hitam pria itu semakin gelap lagi. Dia menunduk mencium pipi samping Theresia dengan membara.Ketika Theresia mendengar suara buka tali pinggang, dia mengedipkan matanya, lalu berdiri dari tubuh si pria. Theresia memutar bola matanya menunjukkan senyuman menggoda. Dia membalikkan tubuhnya, lalu berjalan ke kamarnya sendiri.“Bamm.” Suara pintu kamar ditutup. Theresia mengunci pintu, lalu menunjukkan senyuman puas. Dia pun bersandar di sisi pintu dan tersenyum lebar. Setelah tersenyum sejenak, dia baru menutupi kemejanya, lalu berjalan ke sisi kamar mandi.Di dalam ruang tamu, si pria sedang berdiri di luar pintu kamar utama yang tertutup rapat. Terlihat sedikit sindiran dan rasa tidak berdaya dari ekspresinya. Dia pun berdiri, lalu pergi mencuci tangannya di kamar mandi.Setelah Morgan kembali, ponsel bergetar dan masuk sebuah pesan. Dia mengambil
“Kalau begitu, aku tidak ganggu kamu lagi. Selesai kerja, ingat pulang ke rumah,” pesan Aska.Theresia mengiakan dengan tersenyum. Setelah mengakhiri panggilan, dia pun menyimpan nomor kontak Aska. Setelah meletakkan ponselnya, Theresia melanjutkan pekerjaannya. Tidak berhenti terlintas kata “pulang ke rumah" yang diucapkan Aska tadi di benaknya. Akhirnya Theresia memiliki rumah.Tak lama kemudian, pelayan Kediaman Keluarga Angsara datang mengantarkan makan siang. Rantang itu terdiri dari lima tingkat, dengan empat jenis lauk dan satu jenis sup. Selain itu, semuanya adalah beberapa jenis lauk yang lebih banyak dicicipi Theresia saat makan malam semalam.Aska mengingat selera makannya. Hati Theresia mulai terasa hangat. Dia merasakan rasa kekeluargaan yang begitu kental.Sore harinya, Theresia menerima panggilan dari Julia. Dia memberi tahu Theresia bahwa akan turun hujan malam ini. Theresia disuruh untuk mempersiapkan payung, lalu mengakhiri acara kumpul bersama klien, dan segera pulan
Julia berkata, “Mau bawa apa di rumah? Aku beresin sama-sama kamu.”Theresia membalas dengan tersenyum, “Nggak apa-apa. Biar aku sendiri saja. Nggak banyak juga!”Nada bicara Aska terdengar ramah. “Kalau begitu, kamu mesti pulang setelah pulang. Ada yang ingin Kakek diskusikan sama kamu.”Theresia membalas, “Oke.”Hallie berkata dengan tersenyum, “Setelah Theresia pulang ke rumah, dia tinggal di sebelah kamarku saja. Jadi, kita juga bisa jadi teman ngobrol.”Julia menolak dengan tersenyum datar, “Nggak usah. Aku sudah suruh pelayan untuk bereskan kamar di sampingku. Aku ingin lebih dekat sama Jeje.”Hallie tersenyum cerah. “Bagus juga.”Selesai sarapan, Morgan mengantar Theresia ke perusahaan. Aska juga mengantar mereka ke depan pintu gerbang halaman.Hallie duduk di mobil yang dikendarai sopir Keluarga Angsara. Ketika melihat Aska tidak merelakan mobil Morgan, hatinya pun terasa dingin. Ternyata memiliki hubungan darah memang berbeda. Padahal Hallie sudah tinggal berbulan-bulan di sin
“Memangnya kenapa kalau bermarga Bina? Theresia sendiri yang bersedia.” Jemmy pantang menyerah.“Itu karena dulu dia belum kembali ke Keluarga Angsara. Sekarang, dia sudah kembali, tentu saja marganya juga mesti diubah.” Aska kelihatan keras kepala, tidak berniat untuk mengalah.Jemmy bertanya, “Jeje itu nama panggilannya. Dulu, kalian beri dia nama apa?”Begitu Aska mendengar pertanyaan itu, raut wajahnya menjadi suram. “Begitu Jeje lahir, aku dan Julia mulai bertengkar. Tidak lama kemudian, dia bawa Jeje meninggalkan Kota Kembara, lalu memberinya nama panggilan ‘Jeje’. Setelah pulang ke rumah, aku juga terus mengusulkan untuk memberi nama kepada Jeje. Tapi setiap kalinya, pendapatku selalu bentrok dengan Julia. Jadi, namanya masih belum dipilih.”Jemmy berkata dengan gembira, “Itu berarti Jeje memang ditakdirkan untuk diberi nama Theresia Bina. Aku rasa tidak perlu diubah lagi!”Aska mendengus dingin. “Tidak mungkin. Besok, aku akan diskusikan masalah ini dengan Julia. Kemudian, mena
Dua jam lalu, mereka sedang rapat bersama. Tiba-tiba Reza menerima panggilan, dan menyuruh Chandra untuk memimpin rapat, kemudian langsung meninggalkan rapat.Gina berkata, “Sudah kembali. Pak Reza sudah kembali dari satu jam lalu. Tapi raut wajahnya jelek banget, sepertinya dia lagi marah.”Biasanya
Jason tidak mendorong Kelly, dia menunggu hingga Kelly tertidur nyenyak, baru lanjut mengelap badannya dan menyelimutinya.Sekitar setengah jam kemudian, Jason kembali mengelap keringat Kelly dengan handuk panas. Kali ini Kelly sama seperti sebelumnya, masih tidak merasa tenang. Dia bolak-balik di at
Beberapa hari kemudian, saat Reza masuk ke rumah dan melewati lantai dua, dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Diana yang sedang berada di balkon. “Apa kamu masih berhubungan dengan Sonia?”“Jangan alasan, ya!”“Kalau kamu merasa Sonia itu anaknya baik, kamu harus dekati dia. Kalau kamu nggak ambil
Kelly terkejut. Dia spontan mengangkat kepalanya untuk menatap Sonia.Saat ini raut wajah Sonia terlihat sangat normal seperti biasa. Dia menundukkan kepalanya untuk menyantap steak di depannya.Pacarnya Yusa, Tere, kebetulan duduk di samping. Dia pun menyodorkan piring berisi kue tar keju ke hadapan







