LOGIN“Nyonya, saya akan kembali ke kota Bongshi malam ini. Saya akan menemui Tuan Jendral Perang Chu Zhao dan membantu mengatasi masalah disana.”“Tidak!” Ji Yuan reflek menahan Acugo.“Katakan pada Chu Zhao jangan bertindak apa – apa dulu. Lakukan saja pengawasan. Sampai aku kembali kesana dan membawakan anti materi B*mnya. Baru kalian dapat bertindak.” Ji Yuan menjelaskan.“Maksud Nyonya? Apakah yang terjadi di kota Bongshi berkaitan dengan yang terjadi di kota Fulong?” Acugo mulai tegang. Wajahnya terlihat sangat buruk dan tegang.“Aku memiliki pemikiran yang sangat serius mengenai itu.” Ji Yuan mengernyitkan dahinya dan duduk dikursi kamarnya.Acugo mendengarkan dengan seksama.“Kota Bongshi, berada saju jam dari Ibu kota. Tempatnya indah dan masih alami. Banyak gunung – gunung dan bukit yang bisa digunakan sebagai tempat latihan militer. Gunung Fu salah satunya. Jika kamu ingin melakukan kudeta, dimana menurutmu tmpat yang paling pas untuk menyembunyikan pasukan?” Ji Yuan menjelaskan
“Bibi Jiang, aku membutuhkan bantuan mu,” Ji Yuan menatap Bibi Jiang dengan tatapan memohon.“Apa maksud mu?” Bibi Jiang menantan Ji Yuan dengan acuh tak acuh. “Bukankah kamu hanya merasa bosan di halaman militer dan datang ke halaman ku?”Ji Yuan terbelalak lalu memutar bola matanya. “Bibi kamu tidak tau apa – apa…”Bibi Jiang hanya mendengus dan kembali bicara. “Aku hanya orang tuan yang sibuk mengembangkan obat saja. Aku memang tidak tahu apa – apa. Kamu jangan meminta apa – apa dari ku.”Ji Yuan terkejut dan menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak. Tidak, Bibi Jiang kamu masihlah orang tuan yang paling hebat. Paling pandai dan paling mengetahui segalanya. Ahh, apakah kamu sudah mengaca terakhir kali. Lihatlah wajahmu yang berseri – seri. Kerutan di wajahmu banyak menghilang. Bibi, kamu semakin hari semakin cantik. Itu semua pancaran dari hati mu. Hati mu baik wajahmu juga semakin baik.”“Huh! Manis sekali mulut mu itu.” Bibi Jiang terkekeh bangga. Hatinya terhibur. Kedatangan Ji Yua
Setelah perjalanan yang ditempuh hampir delapan jam lamanya, mereka kini sudah memasuki wilayah yang dikenal. Hutan perbatasan menuju Bangongshi. Ji Yuan yang kini telah berada di dalam kereta melihat dari dalam memalui jendela. Hutan rindang yang sangat sunyi, yang pernah dia lewati saat meninggalkan Bangongshi. Setelah perjumpaannya yang pertama kali dengan seorang Jendral Perang Muda dan berbakat, Chu Zhao, yang lucunya saat ini telah menjadi suaminya. Memorynya kembali disaat dia diserang seorang pembun*h bayaran ketika itu. Betapa takutnya dia saat itu, namun, naluri bertahan hidupnya terlalu besar saat itu sehingga dia bisa bertahan, dan memberikan waktu bagi Chu Zhao untuk datang dan membantunya.Wangi bunga azalea yang kala itu semerbak di hutan, kini juga tercium oleh Ji Yuan. Bunga itu dalam benak Ji Yuan, membentuk bayangan Chu Zhao yang tampak mempesona dengan tarian pedang yang mematikan. Hati Ji Yuan selalu berdesir ketika mengingatnya.Dalam kehidupan Ji Yuan di dunia m
Jendral Foxli mengubah tujuannya secepat kilat. Seorang anak buahnya melaporkan melihat seorang pemuda berambut coklat di pertokoan elite Kota Fulong. Tanpa pikir panjang Jendral itu pun berubah tujuan dan segera ke pertokoan yang dimaksud.Dia melihatnya, Pemuda kurus dan pendek berambut coklat dan berjanggut kecil sedang masuk kesebuah toko perhiasan. Dia membeli beberapa barang, dan keluar dengan tas belanja yang cukup besar.Tampaknya pemuda ini tak lebih dari seorang pesolek dan perayu wanita. Jika dia membeli untuk dia sendiri, tentu pemuda itu adalah seorang pesolek. Jika membeli untuk seorang wanita, tentu dia adalah perayu yang ulung. Cuhh…, Jendral Foxli langsung merasakan jijik pada pemuda itu tanpa sebab.Pemuda itu, naik ke kereta dengan lambang Kekaisaran. Tentu saja dia adalah tamunya Pangeran Murong Feng. Berarti yang diceritakan oleh bawahannya ketika dia mengintai bangunan hancur itu benar. Pemuda itu adalah tamu dari Pangeran Murong Feng. Siapa dia mengapa dia menan
Kereta yang ditumpangi Ji Yuan keluar dari penginapan umum menuju jalan utama. Berbelok di depan lalu ke kiri sudah mencapai jalan utama. Alun – alun ada diujung jalan, tetapi sebelum sampai di alun – alun kereta sudan berbelok ke kanan menuju arah ke luar kota. Gerbang kota sendiri berjarak kurang lebih satu jam dari ujung jalan utama. Biasanya, aka nada pemeriksaan di gerbang kota. Tetapi Acugo telah menyiapkan segalanya. Dia bahkan sudah memiliki surat jalan dari sebuah toko di Curugu, selatan Ibu Kota. Seharusnya semua aman.Kereta kini sudah berada di jalan utama, Alun – alun sudah terlihat di depan. JI Yuan membuka Jendela melihat situasi di luar. Benar saja, Ji Yuan melihat banyak pasukan militer Kota yang sedang berada di Alun – Alun. Ji Yuan menyalin lambang pasukan yang sedang bertugas di Kota Fulong ke dalam buku kecil yang selalu dia bawa. Dia hanya penasaran, pasukan dari keluarga manakah yang nampaknya tengah mencari api dengan Pangeran Murong Feng. Putra Mahkota Kekaisa
Chu Zhao berdiri dalam gelap di pucuk sebuah pohon Evergreen yang menjulang tinggi. keberadaannya di ngarai suatu lembah membuat Chu Zhao dapat melihat dengan jelas aktivitas di dibawahnya. Pasukan yang sedang berkemah di ujung lembah ngarai itu Chu Zhao curigai sebagai pasukan Bozima yang dimaksud. Dengan hati – hati Chu Zhao mulai mengamati mereka. Bahkan menghitung jumlah persediaan makan mereka sebelum mereka bergerak ke kota Bongshi dan meminta bahan makanan pada Han Xiajung.Yang membuat Chu Zhao heran adalah mengapa mereka berada di kota ini. Kota Bongshi terletak tidak terlalu jauh dari Ibu Kota. Wilayah Bongshi secara administrative berada dalam lindungan Raja Pu Yi. Beliau adalah adik dari Mendiang Raja terdahulu, yang berarti Kakek Paman dari Kekaisaran saat ini. Raja Pu YI adalah seorang Raja Kecil yang bersahaja, yang memilih tinggal seperti rakyat biasa. Seorang Raja yang sangat mencintai rakyat dan alam. Keturunan – keturunannya pun hidup damai bersanding dengan alam. M







