Mag-log inJendral Perang termuda idola semua wanita, namun dianggap sebagai perjaka tidak laku karena sikapnya yang kaku. Bertemu dengan seorang Ilmuwan Kimia pembuat Bom yang melintasi waktu. Mereka bersama untuk menangkap penjahat yang akan melakukan kudeta pada Kaisar. Namun, perlukah mereka bersama untuk hal lain juga?
view more“Hah… Hah…. Hah….”
Ji Yuan berlari terus dan terus hingga dirasa nafasnya akan segera habis. Dia berbelok ke kanan dan terus berlari. Dibelakangnya ada sekitar tujuh pria tegap berpakaian jas hitam mengejarnya. Ji Yuan tau apa mau mereka. Mereka ingin menangkapnya untuk membuat materi baru untuk pembuatan Bom.
Materi baru yang Ji Yuan temukan setelah mencoba mencari pengobatan penyakit langka pada anak – anak. Secara tidak sengaja dia mengungkap materi baru itu, Bioriptor. Ledakannya sangat dahsyat hingga bisa menghancurkan seperempat bumi hanya dengan satu tetes materi baru itu.
Nafasnya terengah, Ji Yuan Sudah kehabisan jalan. Apa yang harus dia lakukan? Proyek pencarian obatnya terbayang dikepalanya, sedikit lagi… ya sedikit lagi. Dia hanya tinggal sedikit lagi menemukan komposisi antar materi yang harus dia racik. Sebentar lagi anak – anak yang terbaring tak berdaya itu berhasil dia selamatkan.
Apa yang harus dia lakukan? Jika dia tertangkap, dia hanya akan dipaksa untuk membuat materi peledak itu. Tidak! Dia tidak sanggup menanggung jutaan nyawa yang akan menjadi korban.
Ji Yuan tersandung, kakinya sudah melemah. Tubuhnya sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Kakinya sudah tidak mau lagi menopang tubuhnya untuk terus berlari. Paru – parunya bahkan sudah menjerit kesakitan.
Ji Yuan menutup matanya. Tuhan… hanya satu yang aku pinta, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan penelitian ku. Beri aku kesempatan untuk membantu anak – anak itu.
Terdengar banyak langkah kaki mendekat.
Ji Yuan benar – benar tidak mau ditangkap dan dibawa oleh mereka. Demi Tuhan dia tidak mau membuat peledak itu.
Diingatnya jika dia memiliki beberapa materi di tasnya, dibukanya tas yang dibawa, memeriksanya satu – persatu.
Kepalanya menggeleng samar. Senyum sumir tercipta di bibirnya yang kini ikut memutih. Wajahnya pias.
Dia tidak punya kesempatan lagi, hanya ini satu – satunya cara.
Dilihatnya lingkungan dimana dia kini berada, diperhitungkan luas dan jarak, dia tidak mau ada korban tak bersalah disini. Cukup dia dan beberapa orang penjahat ini saja.
Perhitungan materinya tidak pernah salah. Ji Yuan adalah seorang penyuling materi yang sangat akurat.
Helaan nafas terdengar lirih dari mulutnya.
Selesai…
Ji Yuan berdiri dengan kaki gemetar. Kakinya masih lemah untuk menopang tubuhnya. Dengan berpegangan pada sebuah tembok, Ji Yuan berdiri dan menyambut pada penjahat itu. Senyum dingin dia berikan saat mereka mendekat.
“Menyerah saja Nona. Cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh ke tangan kami.” Seorang dari tujuh pria itu mendekat dan tersenyum merendahkan.
Ji Yuan hanya berdiam tidak menanggapi. Dia menunggu mereka semua masuk dalam lingkup ledakannya.
“Aku tidak mau.” Ji Yuan berkata dengan suara yang datar. Jantungnya berpacu cepat. Dia hanya berdoa semoga dia tidak perlu melakukan ini.
Pria yang paling besar berjalan semakin mendekatinya. Keenam orang lain mengikuti. Ji Yuan menghitung jaraknya. Sebentar lagi.
“Kamu tidak mau?” Ucapnya lalu tertawa. Suara tertawanya bagaikan lonceng kematian bagi Ji Yuan.
“Tidak apa – apa. Kami hanya ditugaskan untuk membawa mu. Tidak disebutkan hidup atau m*ti. Kemungkinan kami hanya membutuhkan otakmu saja. Jika itu rusak, baru menjadi masalah. Nyawa mu tidak ada urusannya dengan kami.” Ucapnya lagi dengan tatapan yang menjijikkan.
Ji Yuan menelan ludahnya yang kering. Dia tertawa miris. Haruskah senjatanya didekatkan ke kepalanya. Agar dia memastikan otaknya tidak akan tersisa untuk mereka?
Ji Yuan tertawa miris. Hidupnya sungguh kasihan. Yatim – piatu tinggal di panti asuhan dan asrama. Seumur hidupnya dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup.
Kini dia harus mengakhiri hidupnya sendiri. Sungguh sebuah Ironi. Hal yang sangat keras dia perjuangkan, kini harus berakhir ditangannya sendiri.
"Begitu…” Ji Yuan menatap mereka satu persatu. “Kalau begitu kemari dan ambilah…”
Para penjahat itu tersenyum kejam lalu mulai mendekati Ji Yuan, selangkah demi selangkah. Ji Yuan memandang mereka dingin, menghitung jarak. Sedikit lagi…
Tiga…
Dua…
Satu…
Boooommmm….
Ji Yuan meledakkan mereka semua, tubuhnya hancur berkeping – keping hingga nyaris berupa serpihan. Begitu juga dengan ketujuh orang yang mengejarnya. Tuhan… berikan aku kesempatan menemukan obat bagi anak – anak itu. Atau setidaknya biarkan mereka menyelesaikannya untuk ku. Pinta Ji Yuan dalam hatinya.
*
Rasa sakit disekujur tubuhnya mulai memudar. Ji Yuan mengernyitkan dahinya, tubuhnya basah kuyup karena keringat. Perlahan reseptor tubuhnya kembali berfungsi. Dia mulai mendapatkan rasa tubuhnya kembali.
Punggungnya merebah pada sebuah selimut bulu yang halus namun tipis, tumpukan Jerami dan kapas yang sudah mengeras terasa di punggungnya. Tangan dan kakinya kebas, kepala yang terasa berat.
Ji Yuan, mencoba meraba tubuhnya. Dalam ingatan terakhirnya semua bagian tubuhnya hancur lebur menjadi potongan kecil. Utuh! Semuanya masih ada. Llu dimana, kah dia? Apakah Dewa neraka urung menjemputnya?
“Ju Yuan… Ji Yuan… Ada Tuan Bo Senggu dari Akademi Hanlin mencari mu.” suara seorang pria tua yang berwibawa terdengar dari luar.
Ji Yuan mengernyit, Akademi Hanlin? Apa di neraka ada Akademi Hanlin?
Setelahnya, ingatan seorang wanita dengan nama yang sama masuk ke dalam kepalanya. Dia memiliki nama yang sama, Ji Yuan. Putri Guru Negara yang menikah dengan gadis dari bangsa lain, dan memutuskan untuk hidup di perbatasan.
Saat Ji Yuan, pemilik tubuh, menginjak usia tiga belas tahun, kedua orang tuanya meninggal karena sakit yang misterius. Awalnya Ibunya, kemudian dalam dua minggu Ayahnya menyusul.
Maka Ji Yuan tinggal sendiri di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Selama ini dia bertahan hidup dengan bantuan pada penduduk desa yang masih menjunjung tinggi saling tolong – menolong dan juga karena Panatua desa yang sangat menyayanginya.
Namun dua hari lalu, Ji Yuan, pemilik Tubuh mulai terserang penyakit misterius itu. Penyakit yang sama yang merenggut Ayah Ibunya. Tapi Ji Yuan, menyembunyikannya. Dia tidak mau warga desa tahu.
Ji Yuan asli yang kesepian merindukan Ayah Ibunya, menyebabkan dia hanya berbaring pasrah menanti Ayah Ibunya, menjemputnya.
Pada hari kedua sakitnya, Ji Yuan pemilik tubuh ini benar – benar pergi. Namun, siapa sangka, Ji Yuan dari jaman lain, yang masuk ke dalam tubuh pemilik.
“Ji Yuan!!” panggil pria tua itu lagi.
Dalam ingatan pemilik asli tubuh ini, itu adalah suara kepala desa.
Ji Yuan mengankat tangannya, menatap tangan ramping kecil berkulit halus dan pucat. Tangan itu meraba wajah dan tubuh pemilik asli yang sudah basah oleh keringat.
“Ji Yuan! Apa kau ada di dalam?” suara Paman kepala desa lagi terdengar.
“Aku telah bertransmigrasi…” lirih Ji Yuan.
Dengan perlahan, Ji Yuan bangun dan mengganti pakaiannya, lalu keluar dengan perlahan.
“Paman Ji Bao.” Sapa Ji Yuan.
“Kamu… Apa kamu sakit?” Paman Ji Bao menatap Ji Yuan dengan khawatir.
“Aku sudah lebih baik.” Jawab Ji Yuan.
Kepala desa menatap Ji Yuan masih dengan tatapan khawatir.
”Tuan Bo Senggu, mencari mu.” ucap Ji Bao setelah melihat Ji Yuan yang tampaknya berdiri tegak, tidak kesakitan.
“Nona, saya mengundang Anda ikut seleksi untuk menjadi guru di Ibukota. Kaisar memutuskan mendirikan Akademi khsusus Putri. Dan mencari guru wanita berbakat di seluruh negeri. Selamat. Anda terpilih mewakili daerah kita.” Ujar Bo Senggu dengan penuh semangat.
Ji Yuan tersenyum samar. Apa ini? Dia baru saja masuk ke zaman ini dan sudah harus mengikuti tes seleksi?
*****
“Berhasil…” ucap Ji Yuan pelan.“Apa katamu?” ucap Bibi Jiang. Dia mendengar Ji Yuansmengatakan sesuatu namun dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.“Selesai Bibi. Kita berhasil.” jawab Ji Yuan kali ini dengan suara yang lebih lantang.“Kamu yakin?” tanya Bibi Jiang.“Ya. Hanya saja kita perlu mencobanya.” Jawab Ji Yuan.“Mencobanya? Apa maksudmu?” Tanya Bibi Jiang dengan kebingungan.“Ya kita perlu mencobanya dulu.” Ucap Ji Yuan.Ji Yuan mengambil beberapa bungkus anti materi b*m diatas meja dan berjalan keluar ruang berkubah.Sebenarnya pembuatan anti materi b*m ini tidak sulit untuk Ji Yuan. Dia jaman modern dia pernah membuatnya beberapa kali. Namun kini di jaman kuno, terasa akan lebih sulit karena kekurangan alat dan bahan yang masih sangat mentah. Sehingga Ji Yuan harus mengekstrasi bahannya satu persatu sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.Bibi Jiang mengikuti Ji Yuan ke luar ruangan berkubah.Ji Yuan berjalan menuju kumpulan pengawal dan pasukan Chu Wei yang ditingg
Hari ke empat hingga ketujuh semua masih berjalan seperti biasa. Chu Yaoyao sudah bisa menjalani dengan ringan. Dia sudah terbiasa. Dan lagi keadaan pasien – pasien dengan luka berat (para prajurit Chu Zhao) sudah lebih baik.Peilu sudah bisa bernafas normal. Paru – parunya mengalami peningkatan penyembuhan setelah beberapa kali meminum ramuan obat yang dibuat oleh Ji Yuan. Bibi Jiang sendiri memberikan ramuan lain untuk mempercepat pengeringan lukanya. Kini, Peilu sudah bisa duduk dan bergerak ringan di atas tempat tidur.Dingbang juga sudah lebih baik. Bengkak di kakinya sudah hampir hilang. Kini yang tersisa adalah perawatan lukanya, baik itu luka di kaki dan tangannya. Paru – parunya juga sudah membaik. Luka kecil pada paru – parunya akibat hembusan panas dari b*m dahsyat itu telah sembuh beberapa hari lalu. Kini Dingbang hanya menunggu luka – lukanya mongering. Yang menurutnya luar biasa adalah luka bakar pada tangannya, luka itu kini sudah tidak sakit lagi. Memang masihlah ditut
Selesai menemui Nenek Buguo dan Pingguo kecil, Chu Yaoyao kembali menghampiri Song Yaoyi di taman belakang bangunan utama halaman miliki Bibi Jiang.“Ibu~” Chu Yaoyao langsung duduk meringsek Song Yaoyi dan memeluknya erat.“Apa kamu sudah selesai?” Song Yaoyi tersenyum dan memeluk Chu Yaoyao.“Sudah Ibu.” Chu Yaoyao meletakkan kepalanya pada pangkuan Song Yaoyi dan menarik nafas panjang.“Ada yang ingin Ibu bicarakan. Ibu akan kembali ke Rumah Utama Kediaman Jendral Agung Chu, untuk ke mengaburkan fakta jika di halaman Bibi Jiang sedang ada beberapa pasukan Chu Zhao yang terluka.” Ucap Song Yaoyi sambil mengusap kepala Chu Yaoyao yang ada dipangkuannya.Chu Yaoyao segera mengeluarkan suara keberatannya.“Apa yang kamu lakukan? Ibu harus melakukan itu, agar tidak ada yang mencurigai aktivitas di halaman Bangongshi. Kita tidak ingin orang lain tau mengenai hal ini. Ibu yakin fraksi pendukung Selir Tua Gui sedang mengawasi semua orang. terlebih keluarga Jendral Agung Chu.” Song Yaoyi be
Keesokan harinya, halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu sangat sibuk. Prajurit dan pelayan yang dimiliki Chu Wei, mulai bergerak keluar dengan hati – hati untuk mencari bahan obat – obatan dengan bantuan jaringan perdagangan yang dimiliki Song Yaoyi dan Zhu Yu. Zhu Yu sendiri bahkan ikut sibuk untuk mencari dan memastikan bahan – bahan tersedia.Beberapa Prajurit bahkan mencari Ikan salmon dan Ikan Aselarat dengan terjun langsung ke sungai – sungai berarus deras. Mereka menjaring dengan hati – hati dan juga sembunyi – sembunyi.Chu Yaoyao sudah sibuk sejak pagi. Dia mempersiapkan obat dan peralatan pergantian perban dan olesan obat untuk luka bakar. Ji Yuan sudah memberikan resepnya dan sudah menuliskan Langkah – Langkah pembuatannya dengan sangat rinci. Chu Yaoyao tidak merasa kesulitan membuatnya. Dalam hatinya dia berpikiran jika Ji Yuan memang sangat tepat menjadi guru. Karena Ji Yuan menuliskan baik cara pembuatannya maupun cara memberikan obat – obatannya dengan sangat deta
“Nyonya, saya akan kembali ke kota Bongshi malam ini. Saya akan menemui Tuan Jendral Perang Chu Zhao dan membantu mengatasi masalah disana.”“Tidak!” Ji Yuan reflek menahan Acugo.“Katakan pada Chu Zhao jangan bertindak apa – apa dulu. Lakukan saja pengawasan. Sampai aku kembali kesana dan membawak
“Bibi Jiang, aku membutuhkan bantuan mu,” Ji Yuan menatap Bibi Jiang dengan tatapan memohon.“Apa maksud mu?” Bibi Jiang menantan Ji Yuan dengan acuh tak acuh. “Bukankah kamu hanya merasa bosan di halaman militer dan datang ke halaman ku?”Ji Yuan terbelalak lalu memutar bola matanya. “Bibi kamu ti
Setelah perjalanan yang ditempuh hampir delapan jam lamanya, mereka kini sudah memasuki wilayah yang dikenal. Hutan perbatasan menuju Bangongshi. Ji Yuan yang kini telah berada di dalam kereta melihat dari dalam memalui jendela. Hutan rindang yang sangat sunyi, yang pernah dia lewati saat meninggal
Jendral Foxli mengubah tujuannya secepat kilat. Seorang anak buahnya melaporkan melihat seorang pemuda berambut coklat di pertokoan elite Kota Fulong. Tanpa pikir panjang Jendral itu pun berubah tujuan dan segera ke pertokoan yang dimaksud.Dia melihatnya, Pemuda kurus dan pendek berambut coklat da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.