LOGINJi Yuan tampak mengerutkan darinya, bibirnya tanpa sadar mengerucut dan pipinya dia kembangkan. Jika ada yang melihat wajah Ji Yuan saat ini mereka pasti akan tertawa terbahak – bahak. Karena wajahnya mirip dengan ikan mas koki yang sedang cemberut.Sementara Chu Yaoyao yang mendapat kabar dari Bibi Jiang mengenai kedatangan Ji Yuan dan maksudnya ke halaman Bangongshi, khususnya pada pintu halamannya, langsung mendatangi Halaman Bangongshi milik Bibi Jiang.“Nenek… Nenek… Aku datang.” Chu Yaoyao memasuki kamar Bibi Jiang dengan terburu – buru.“Anak nakal ini… Mengapa kamu terburu – buru. Kamu menggetarkan dinding kamarku.” Bibi Jiang menatap Chu Yaoyao dengan kesal.“Mana mungkin… Aku tidak sekuat itu untuk menghancurkan dinding…” Chu Yaoyao mengerucutkan mulutnya dan duduk di depan Bibi Jiang yang tengah makan kuaci, lalu ikut menyambarnya.“Anak nakal ini selalu menjawab…” Bibi Jiang mendengus resah.Chu Yaoyao hanya memberikan cengiran khasnya.“Nenek, apa Kakak Yuan sudah mulai b
Lu Shifu memandangi kereta yang menjauh. Kereta berisikan Nenek Biguo dan Pingguo mulai berjalan menjauhi balai pengobatan. Berkali – kali Lu Shifu berpesan pada Tucui untuk berhati – hati dan menjada Pingguo dengan baik. Anak kecil itu selalu banyak ingin tahu dan senang mencari tahu. Lu Shifu tidak ingin jika Tucui kehilangan Pingguo karena bocah kecil itu sangat aktif dan nantinya bisa berjalan sendiri dan tersesat, dan berujung Nenek Biguo kehilangan cucu satu – satunya.Tak lupa Lu Shifu juga berpesan kepada Nenek Biguo dan Pingguo untuk selalu patuh pada Tucui dan jangan berpisah darinya sampai mereka tiba di tempat tujuan. Keduanya menjawab pesan Lu Shifu dengan anggukan dan janji jika mereka akan menjaga diri mereka baik – baik dan mematuhi semua petuah Lu Shifu.“Kenapa kamu terlihat sangat sedih?” Acugo menepuk bahu Lu Shifu saat melihat Lu Shifu terbengong memandangi ujung jalan.“Aku tidak sedih…” Lu Shifu menjawab dengan suara yang sedikit parau.Acugo menatap Lu Shifu la
Lu Shifu memandangi kereta yang menjauh. Kereta berisikan Nenek Biguo dan Pingguo mulai berjalan menjauhi balai pengobatan. Berkali – kali Lu Shifu berpesan pada Tucui untuk berhati – hati dan menjada Pingguo dengan baik. Anak kecil itu selalu banyak ingin tahu dan senang mencari tahu. Lu Shifu tidak ingin jika Tucui kehilangan Pingguo karena bocah kecil itu sangat aktif dan nantinya bisa berjalan sendiri dan tersesat, dan berujung Nenek Biguo kehilangan cucu satu – satunya.Tak lupa Lu Shifu juga berpesan kepada Nenek Biguo dan Pingguo untuk selalu patuh pada Tucui dan jangan berpisah darinya sampai mereka tiba di tempat tujuan. Keduanya menjawab pesan Lu Shifu dengan anggukan dan janji jika mereka akan menjaga diri mereka baik – baik dan mematuhi semua petuah Lu Shifu.“Kenapa kamu terlihat sangat sedih?” Acugo menepuk bahu Lu Shifu saat melihat Lu Shifu terbengong memandangi ujung jalan.“Aku tidak sedih…” Lu Shifu menjawab dengan suara yang sedikit parau.Acugo menatap Lu Shifu la
Biguo sudah tua dan lelah. Dia hanya bertahan untuk mencari seseorang dimana dia bisa menitipkan cucunya Pingguo. Memberikannya kepada Tuan yang baik yang akan memberinya kehidupan. Bertahun – tahun Biguo bekerja di rumah Kediaman Gubernur kota Bongshi, menyerahkan hidup dan masa mudanya, kesehatannya dan tenaganya untuk mengabdi pada sebuah rumah tugas seorang yang memiliki jabatan paling tinggi. Walaupun tuannya berganti sebanyak tiga kali, tapi Biguo tetap menjalankan tugasnya sebaik – baiknya.Hanya pada tuan terakhirnya itu, Han Xiajung, Biguo merasakan kekecewaan yang teramat besar.Biguo melihat dengan mata kepalanya sendiri, Tuan Gubernur, pejabat tempat dia mengabdi itu menerima uang dari orang yang berbahaya. Biguo mulai merasakan kekecewaan dan kehilangan kepercayaannya pada orang itu sedikit – demi sedikit. Ditambah lagi, saat Biguo sakit, Han Xiajung memilih melepaskan kontrak kerjanya dan membiarkannya tinggal di jalanan, hanya karena Han Xiajung tidak mau membiayai peng
Acugo sampai di kota Bongshi satu setengah jam kemudian. Dia melambat selama setengah jam karena beban keretanya yang cukup berat, dan juga Acugo memang sengaja melakukan perjalanan dengan lebih santai. Karena dia benar – benar menganggap jika dia adalah seorang pedagang yang membawa bagasi penuh, Sehingga dia berjalan perlahan untuk menjaga keamanan barang – barang dagangan mereka.Kali ini Acugo pergi ke kota Bongshi dengan seorang pengawal halaman Bangongshi bernama Tucui. Dia pria muda yang sangat cekatan juga sedikit mahir berkelahi. Dia sangat jujur dan juga bisa dipercaya. Acugo akan membiarkan Tucui mengendarai kereta kosong nanti ke Ibukota dan melakukan perubahan pada kereta ini sehingga bisa digunakan untuk menyamar lagi di lain hari. Untuk tugas ini, Tucui dapat dipercayai menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.Kereta sudah masuk ke Gerbang kota, Acugo masuk dengan mudah karena penjaga yang berjaga disana mengenalinya. Dia hanya berpura – pura mengecek kelengkapan dokumen
“Nyonya, saya akan kembali ke kota Bongshi malam ini. Saya akan menemui Tuan Jendral Perang Chu Zhao dan membantu mengatasi masalah disana.”“Tidak!” Ji Yuan reflek menahan Acugo.“Katakan pada Chu Zhao jangan bertindak apa – apa dulu. Lakukan saja pengawasan. Sampai aku kembali kesana dan membawakan anti materi B*mnya. Baru kalian dapat bertindak.” Ji Yuan menjelaskan.“Maksud Nyonya? Apakah yang terjadi di kota Bongshi berkaitan dengan yang terjadi di kota Fulong?” Acugo mulai tegang. Wajahnya terlihat sangat buruk dan tegang.“Aku memiliki pemikiran yang sangat serius mengenai itu.” Ji Yuan mengernyitkan dahinya dan duduk dikursi kamarnya.Acugo mendengarkan dengan seksama.“Kota Bongshi, berada saju jam dari Ibu kota. Tempatnya indah dan masih alami. Banyak gunung – gunung dan bukit yang bisa digunakan sebagai tempat latihan militer. Gunung Fu salah satunya. Jika kamu ingin melakukan kudeta, dimana menurutmu tmpat yang paling pas untuk menyembunyikan pasukan?” Ji Yuan menjelaskan







