Beranda / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / bab 122 - "dialah pembunuh ibuku"

Share

bab 122 - "dialah pembunuh ibuku"

Penulis: kim sujin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 20:55:57
“Aku benci dia.”

Ben berhenti sejenak, suaranya berat, seolah setiap kata menekan dadanya sendiri.

“Ibuku meninggal waktu aku umur sepuluh tahun.”

Vennesa terkejut. Tatapannya langsung naik, mencari mata Ben yang kini redup dalam cahaya lampu kamar. Perlahan, ia mengusap dada suaminya, memberi kekuatan dalam diam. Sentuhan lembutnya membuat Ben menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Suatu malam… ayahku pulang dalam keadaan mabuk,” ujarnya pelan, pandangannya menerawang jauh. “Dia mi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Jeo Anne
menyedihkan sekali masalalu si Ben
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Episod Akhir: Rumah Adalah Kamu

    Langit senja di Pulau Serenova dilukis warna keemasan. Ombak memecah perlahan di pantai, membisikkan lagu perpisahan untuk hari yang panjang. Di beranda vila kecil mereka yang menghadap laut, Ben duduk bersila di atas tikar rotan, memangku bayi kecil yang baru berusia dua minggu. Bryan dan Bryden sedang berlarian kecil di halaman rumput, tertawa bersama Edward dan Vellery yang datang menengok keponakan baru mereka. Vellery kini sudah resmi bertunangan, dan wajahnya tak henti tersenyum sejak pagi. Sementara itu, dari dapur, aroma sedap masakan menyapa angin. Vennesa sedang menyendok sup jagung ke mangkuk, rambutnya diikat rapi. Tubuhnya masih lelah pasca melahirkan, namun wajahnya berseri bahagia. Sesekali ia melirik ke luar jendela, memastikan suaminya tidak ‘menggila’ lagi dengan ide nyeleneh seperti mengajarkan anak-anak bermain gitar metal atau menyanyi lagu rock keras sebagai lullaby. Tapi sore ini, Ben terlihat… tenang. Ben mendekap putri kecilnya—mereka menamainya Elora, yan

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 127 - Misi bertahan dari mood Mama

    Beberapa bulan setelah pernikahan Benedict Addam, hari-hari di Velmare kembali berjalan penuh warna. Vellery semakin serius menjalani hubungan dengan Edward. Ia sering berkunjung ke rumah keluarga Edward, dan disambut hangat seperti calon menantu. Sementara itu, bisnis kecil Ben yang dijalankan dari rumah berkembang pesat. Ia tetap mengasuh anak-anak sambil mengelola penjualan daring dari produk-produk custom yang dulu dia rintis secara iseng. Vennesa juga tak kalah bersinar. Ia kini telah dipromosikan menjadi Manajer Senior Strategi Pelaburan di perusahaan besar tempat ia bekerja. Dengan pengalaman dan kerja kerasnya, Vennesa menjadi salah satu figur perempuan muda yang diperhitungkan dalam dunia korporat Velmare. Sore itu, langit cerah, angin sepoi-sepoi meniup dedaunan taman kota yang rindang. Di sebuah taman kecil tak jauh dari gedung perusahaannya, Ben duduk santai bersama kedua anak kembarnya yang kini berusia tiga tahun. Mereka asyik makan es krim—berantakan dan meleleh

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 126 - Peluang kedua

    Dua tahun telah berlalu. Pagi itu, cahaya matahari menari lembut di sela-sela tirai kamar, menyapa wajah Vennesa yang tengah merapikan riasannya di hadapan meja rias. Hembusan angin laut membawa aroma segar yang menerobos celah jendela, membuat helaian rambutnya yang digerai beralun tampak hidup, menari mengikuti irama alam. Dress labuh berwarna biru lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Potongannya sederhana, namun begitu serasi dengan keanggunan alaminya. Sentuhan riasan di wajahnya tak mencolok, tapi cukup menonjolkan sisi manis dan dewasa seorang istri, seorang ibu, seorang wanita yang telah tumbuh bersama cinta dan ujian hidup. “Ben! Ben!” panggilnya dari dalam kamar. Tak lama, Ben muncul di ambang pintu, mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang coklat muda. Wajahnya berseri saat memandang istrinya. “Kamu cantik sekali, Sayang,” katanya tulus, seolah baru pertama kali melihat wanita itu. Vennesa tersenyum malu, pipinya merona. “Anak-anak sudah siap?” “Sudah, Saya

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 125 - Kemaafan

    Petang itu, matahari mulai turun perlahan di ufuk barat ketika Ben dan Vennesa melambaikan tangan kepada Edward dan Vellery yang hendak kembali ke kota Velmare. Koper mereka sudah tersusun rapi di bagasi taksi yang menunggu di depan vila. Setelah pelukan singkat dan kata perpisahan, taksi meluncur pergi, meninggalkan jejak kenangan yang hangat. Ben masuk lebih dulu ke dalam rumah. Di ruang tamu, kedua anak kembar mereka tengah merangkak lincah, tertawa dan mengejar bayang-bayang sendiri di bawah cahaya sore yang masuk dari jendela besar. Sementara itu, Vennesa melangkah keluar untuk mengunci pagar. Ketika hendak menutup pintu besi itu, pandangannya tertumbuk pada sesosok pria tua berdiri tak jauh di seberang jalan. Tubuhnya sedikit membongkok, matanya penuh ragu, namun tatapannya tertuju tepat ke arah vila mereka. "Pak?" sapa Vennesa, pelan namun ramah. Pria itu tersenyum kaku. "Saya hanya mau lihat dari jauh..." “Masuklah. Kami di rumah,” ajaknya lembut, lalu membukakan paga

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 124 - Malam pertama

    “Jadi… kau mau aku lanjutkan?” tanya Ben lirih. Vennesa mendongakkan kepalanya dari dada Ben, menatap matanya yang mulai tenang meski masih menyimpan kelelahan emosional. Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Mungkin lain kali,” ucapnya lembut. “Maaf ya, Sayang… aku keterlaluan. Egois. Harusnya aku nggak memaksa kamu buka luka lama.” Ben menggeleng, tangannya membelai pipi Vennesa dengan penuh kasih. “Enggak, Sayang… kamu nggak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Aku… bukan lelaki yang baik buat kamu. Masa laluku terlalu kelam.” Vennesa menatapnya dalam-dalam. Kali ini matanya tak lagi bingung atau ragu—melainkan penuh keteguhan. “Kamu baik kok,” katanya dengan suara mantap. “Kamu orang baik… cuma pernah ketemu orang yang salah. Dan itu bukan salahmu.” Ben menunduk, matanya memerah. “Kamu berubah, Ben. Dan itu yang penting. Kamu sudah memilih jalan yang benar. Kita bisa tinggalkan semua masa lalu itu… kita bisa mulai hidup baru. Bersih. Tenang. Bersama.” Ben mengangg

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   bab 123 - kisah lalu

    “Aku dibawa ke vila mewah milik Mr. John,” lanjut Ben, suaranya kini sedikit lebih tenang, namun matanya masih memandang kosong pada kenangan yang jelas belum pernah ia bagi kepada siapa pun. “Dan di sanalah… aku bertemu Monica.”Vennesa mengerutkan dahi, lalu perlahan menutup mulutnya yang terbuka lebar, matanya membesar. “Maksud kamu… Mr. John itu ayah tiri Monica?”Ben hanya mengangguk pelan. Wajahnya datar, tapi jelas tersimpan beban.“Ibu Monica… mantan istri Mr. John, meninggal karena sakit parah. Setelah itu, Monica dibolehkan tetap tinggal di vila. Mr. John bilang dia sudah seperti anak sendiri.” Vennesa masih diam. Hatinya mulai terasa tidak enak, tapi ia menahan diri. Ia tahu, Ben belum selesai. “Awalnya… aku pikir Mr. John itu malaikat,” Ben melanjutkan, nadanya pahit. “Dia selamatkan aku dari jalanan, kasih tempat tinggal, kasih makanan, ajarin aku banyak hal. Tapi semua berubah… malam itu.” Ben menunduk, menatap jemarinya yang kini menggenggam erat helaian ram

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status