Beranda / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 191. Pupusnya Kebahagiaan

Share

Bab 191. Pupusnya Kebahagiaan

Penulis: Zhang A Yu
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 22:14:36

Sebuah kereta berhenti di jalan sepi yang membelah hutan bambu.

Malam turun berat di atas atap kereta, lampion kecil yang tergantung di sudutnya berayun tertiup angin, cahayanya redup seperti napas yang hampir padam.

Dari dalam kereta, Han meloncat turun usai membuka tirai tebal.

Di dalamnya, tampak tubuh kecil seorang gadis terbaring di permukaan selimut abu-abu gelap. Wajahnya pucat tak berdarah, bibirnya kering, rambutnya yang hitam panjang menempel di pipi karena keringat dingin.

Dialah put
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Rahayu Ningsih
Semoga saja tidak akan jadi duri dalam rumahmu Jéndral
goodnovel comment avatar
Rina Damayanti
sang jenderal menempatkan duri dalam rumahnya....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 238. Musuh Juga Datang

    Hujan semalam masih menyisakan jejak di tanah desa Beiling.Kabut tipis pagi menggantung rendah di antara atap-atap jerami, dan jalan tanah di tengah desa berubah lembek, penuh bekas roda serta jejak kaki.Penduduk desa sudah mulai beraktivitas sejak matahari belum tinggi.Di dapur terbuka di samping rumah-rumah kayu, beberapa wanita sedang meniup tungku. Asap tipis naik perlahan, bercampur dengan bau nasi yang baru dimasak.Di kandang kecil dekat pagar bambu, seorang pria tua sedang menuang pakan ke palung kuda.Di tepi sungai kecil, dua wanita muda mencuci pakaian sambil berbincang pelan.Di pasar kecil dekat gerbang desa, beberapa pedagang sudah membuka lapak sederhana.Keranjang sayur, ikan asin, dan gandum diletakkan di atas meja kayu pendek.Suasana pagi itu biasa saja; tenang, lambat, seperti hari-hari lain di desa kecil yang jauh dari pusat kota. Namun, tiba-tiba—Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!Suara derap kuda terdengar dari arah jalur hutan di barat desa.Semua kepala langsun

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 237. Kecewa

    Di dalam kamar, Shen Liu Zi masih duduk di tepi ranjang.Punggungnya tegak, tapi tidak lagi santai seperti tadi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jari-jarinya bergerak pelan, tanpa sadar, seperti menahan sesuatu di dalam hati.Lampu minyak di meja kecil masih menyala.Cahayanya hangat, tetapi wajah Shen Liu Zi tidak lagi berseri.Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu. Masih juga tertutup, masih juga sunyi.Semakin lama, alisnya semakin berkerut tipis.Dia menunduk, tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.“Akan terjadi perang besar,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Yu Li.Napasnya tertahan sebentar.Bayangan buruk melintas dalam benaknya begitu saja.Beberapa detik berlalu, guntur menggelegar diikuti kilatan petir. Suara hujan jatuh pun menyusul setelahnya.Shen Liu Zi mengangkat kepala. Sorot matanya bergerak ke arah jendela.Hujan turun mendadak, deras, seperti langit pecah tanpa peringatan.Dia menarik napas panjang. Harapan yang tadi masih tersisa di wajahny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 236. Menunggu Jenderal tapi Tak Kunjung Datang

    Malam itu, gerbang utama kota Kekaisaran terbuka lebar. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan utama, cahayanya berderet seperti garis api yang memanjang. Udara malam di musim dingin kian menggigit, tetapi suasana kota tidak sunyi, tidak ada yang tidur. Suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Pelan lalu semakin jelas, semakin berat, semakin banyak. Dari ujung jalan, seratus pasukan Gagak Hitam muncul satu per satu. Mereka semua menunggang kuda perang. Zirah hitam menutup dada dan bahu, jubah gelap berkibar pelan tertiup angin malam. Di punggung mereka tergantung busur, di pinggang pedang, di pelana terikat tombak pendek. Wajah-wajah itu tidak muda lagi. Banyak di antara mereka memiliki bekas luka di pipi, di leher, di tangan. Menandakan pasukan ini bukan pasukan baru. Di barisan paling depan, komandan Miao Feng memimpin. Tubuhnya tegap di atas kuda hitam besar. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi sorot matanya keras seperti batu. Begitu pasukan memasuki pusat

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 235. Dua Situasi Berbeda

    Di atas ranjang, Shen Liu Zi terbaring dengan tubuh lemas, tangannya terkulai di samping seperti tidak bertulang. Wajahnya pucat, napasnya pelan, alisnya sedikit berkerut seolah masih menahan rasa pusing yang belum hilang. Tabib keluarga Shang duduk di kursi kecil di sisi ranjang. Dua jarinya menekan pelan di pergelangan tangan Shen Liu Zi, matanya terpejam, wajahnya serius mendengarkan denyut nadi. Di belakangnya, kepala Xun dan Yu Li berdiri hampir berdampingan. Keduanya sama-sama menahan napas, wajah mereka tegang, tidak berani bersuara. Beberapa saat berlalu, tabib membuka mata. Anehnya, dia malah mengerutkan alis. Dia lantas menunduk lagi, memegang pergelangan tangan Shen Liu Zi lebih lama dari sebelumnya. Hening. Kepala Xun dan Yu Li secara naluriah saling melihat sepersekian detik. Lalu, tiba-tiba saja mata tabib itu melebar! Tangannya berhenti sejenak di udara, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan. Dia sampai kembali menempelkan jariny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 234. Pusing Karena Perjalanan?

    Gerbang selatan kota Kekaisaran terbuka perlahan. Kayu tebal setinggi dua manusia itu bergerak berat, menimbulkan suara panjang yang menggema di sepanjang tembok kota. Drap! Drap! Nyaris bersamaan dengan itu, kereta kuda milik jenderal Shang memasuki kota, diikuti satu gerobak barang besar di belakangnya. Karung beras, keranjang buah, sayur kering, dan berbagai hadiah dari penduduk Baishan bergoyang pelan setiap roda melewati batu jalan. Orang-orang di gerbang langsung menepi. Beberapa penjaga memberi hormat tanpa diminta. Di dalam kereta, jenderal Shang menutup bukunya. Tatapannya keluar sebentar, lalu dia berkata pendek, “Putar ke arah barak.” Kusir langsung menarik tali kekang. “Hya!” Kereta berbelok ke arah barat, menuju barak pasukan Kekaisaran. Tak lama kemudian, suara latihan mulai terdengar dari kejauhan. “Hah!”

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 233. Meninggalkan Kota Beishan

    Pagi hari berikutnya. Alun-alun kota Baishan sudah penuh sesak bahkan sebelum matahari naik tinggi. Kabut tipis pagi masih menggantung di udara, tetapi keramaian manusia membuat suasana terasa panas dan gaduh. Pedagang, warga, pengemis, sampai penjaga kota semua berkumpul di satu tempat, berdesakan, saling dorong, saling bertanya. Di tengah alun-alun berdiri tiang kayu tinggi yang biasanya dipakai untuk menggantung pengumuman resmi. Namun hari ini, yang tergantung di sana bukan papan pengumuman. Melainkan tubuh gempal bupati Da Tong! Tubuhnya diikat menggunakan rantai besi di kedua tangan, kepalanya terkulai ke samping, ditambah bertelanjang dada. Perutnya robek panjang dari bawah dada sampai pusar, luka itu sudah mengering tetapi masih terlihat jelas, membuat isi perut yang pernah terburai meninggalkan bekas gelap mengerikan. Beberapa wanita langsung menutup mulut. Seorang anak kecil menangis ketakutan. Beberapa pria mundur dua langkah dengan wajah pucat. Bisikan mulai terde

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status