LOGINKehilangan orang tua membuat dunia Nawang runtuh. Dalam sekejap, rumah yang selama ini menjadi tempat ia berteduh berubah menjadi asing. Raditya dan Anindya, anak kandung ayah tirinya, menyingkirkannya dengan alasan ia tidak memiliki darah Kurniawan. Dipaksa meninggalkan segala kenangan bersama ibunya, Nawang harus memulai hidup baru di rumah bibinya—seorang perempuan yang pernah memutus hubungan dengan ibunya karena luka masa lalu. Di sanalah Nawang menghadapi kerasnya hidup, jauh dari segala kenyamanan yang pernah ia miliki. Ketika ia hampir menyerah, takdir mempertemukannya dengan seseorang. Bukan pria berjas rapi dengan senyum menawan, melainkan sosok preman pasar kasar dengan sorot mata tajam— yang oleh banyak orang ditakuti, namun justru membuatnya merasa aman. Di balik perjuangan hidup yang keras, Nawang menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Sebuah perjalanan yang mengajarkannya tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta—bukan dari harta, melainkan dari ketulusan orang-orang yang tetap setia di sisinya.
View MoreNawang melirik sekilas, tak menanggapi apa pun. Tak mungkin ia mengatakan kalau laki-laki itu adalah Hilal. Dikhawatirkan kalau Anisa akan mengadu pada Bi Laila.“Laki-laki itu pasti keren banget ya, Mbak. Makanya Bang Hilal Mbak tolak,” lanjut Anisa tanpa ampun. “Kayaknya ia deh. Makanya Mbak dandannya habis-habisan begini.” Anisa menjawab sendiri pertanyaannya.Nawang memutar bola mata.“Kamu kebanyakan nonton drama Korea, Nis,” sahutnya datar. “Ini cuma ulang tahun teman biasa kok.”"Oh teman biasa toh. Ya udah, pakai ini aja kalau memang teman biasa. Aku pilihin deh biar cepet." Anisa menyambar kemeja putih dan celana bahan berwarna coklat muda. "Ah, terlalu biasa, Nis." Nawang menggeleng. "Lah, kan memang ke acara ulang tahun biasa," sindir Anisa lucu. "Kalau ke ulang tahun luar biasa, baru pakai yang ini." Anisa meraih satu gaun biru tua dari tumpukan."Ini gayanya Mbak Nawang banget. Kalem, tapi kelihatan berkelas." Nawang menatap gaun yang diulurkan Anisa padanya. Tadinya
"Mau ke mana lagi kamu, Mbang? Kamu ini baru saja sadar lho. Mbok ya istirahat dulu?" "Aku sudah tidak apa-apa, Bu. Aku mau menemui pasienku dulu. Memalukan, aku pingsan di depan matanya tadi.""Tapi kamu baru sadar, Mbang. Istirahat saja dulu. Lagian Sri sudah memanggil Dokter Hafiz ke sini.""Tidak usah memanggil Dokter Hafiz lagi, Bu. Aku mau mengganti dokter syaraf lain. Dokter Hafiz bekerja tidak sesuai prosedur!" Nawang menajamkan pendengarannya. Saat ini ia sedang menguping pembicaraan di ruang rawat Pak Bambang. Setelah jatuh pingsan tadi, Pak Bambang langsung dibawa ke UGD. Setelah sadar, langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama Oma Laras dan Bu Sri menyusul masuk ke dalam ruangan. Karena pintu tidak tertutup sepenuhnya, Nawang bisa menguping pembicaraan dengan cukup jelas."Tidak sesuai prosedur bagaimana sih, Mas? Dokter Hafiz itu neurolog paling berpengalaman di Jakarta lho. Mas mau mencari dokter saraf sekompeten apalagi? Dia juga sudah menangani Mas dua puluh
Nawang menahan napas. Oma Laras Pasti mengamuk saat mengetahui Kenes bersamanya. "Jangan, Oma. Ngapain Oma ke sini? Iya... iya... Kenes pulang. Sama kok, Oma. Oma juga jantung hatinya Kenes. Sudah ya, Oma." Ada luka tak berdarah yang mengoyak hati Nawang walau tak ingin ia akui. Kenes mendapatkan semua dukungan di kala sedang kesusahan. Sedangkan dirinya harus menelan semuanya sendirianSementara itu Pak Gatot menatap Nawang dengan sorot mata teduh. Ia memahami gejolak yang ada dalam diri Nawang. "Kalau kamu membutuhkan sesuatu, Pakde selalu siap mendukungmu kapan pun itu. Jangan sungkan ya, Nawang?" Pak Gatot mengelus sekilas puncak kepala Nawang. Nawang melengos dan menghindari sentuhan Pak Gatot secara halus. Terhadap tawaran Pak Gatot, ia hanya menjawab dengan gumaman samar."Iya, Naw. Aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga. Sungguh! Aku pulang dulu ya." Kenes melambaikan tangan mengikuti langkah sang pakde. Nawang membalas ala kadarnya. Untungnya setelah itu beb
Sejak pagi Nawang merasa seperti berjalan di awang-awang. Karena kurang tidur, ia jadi sangat mengantuk. Beberapa kali kelopak matanya nyaris tertutup walau tangannya melayani pembeli. Untungnya Anisa sigap—mengambil alih timbangan, menghitung uang, bahkan menyapa pelanggan dengan senyum yang tetap terjaga."Kita tutup aja yuk? Mbak ngantuk kan? Mending Mbak istirahat di rumah. Toh cuma sisa satu boks," usul Anisa saat kios mulai lengang. Nawang menggeleng sambil mengerjap-ngerjapkan mata. "Tanggung, Nis. Kita habiskan saja ayamnya. Kamu aja yang pulang duluan. Giliran kamu yang jaga di rumah sakit kan?" kata Nawang sambil memandang ke seberang. Ke ruko Pak Zainuddin yang telah mereka beli. Tadi pagi ia telah memasang spanduk di depan ruko. Toko Amanah Jaya—nama toko grosir baru mereka.Tampak Zulham—yang baru pulang dari rumah sakit—sedang memeriksa karung beras, minyak, dan gula yang baru diturunkan sales sembako. Sesekali ia menulis di buku catatan, wajahnya juga tak kalah lelah.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews