LOGINKehilangan orang tua membuat dunia Nawang runtuh. Dalam sekejap, rumah yang selama ini menjadi tempat ia berteduh berubah menjadi asing. Raditya dan Anindya, anak kandung ayah tirinya, menyingkirkannya dengan alasan ia tidak memiliki darah Kurniawan. Dipaksa meninggalkan segala kenangan bersama ibunya, Nawang harus memulai hidup baru di rumah bibinya—seorang perempuan yang pernah memutus hubungan dengan ibunya karena luka masa lalu. Di sanalah Nawang menghadapi kerasnya hidup, jauh dari segala kenyamanan yang pernah ia miliki. Ketika ia hampir menyerah, takdir mempertemukannya dengan seseorang. Bukan pria berjas rapi dengan senyum menawan, melainkan sosok preman pasar kasar dengan sorot mata tajam— yang oleh banyak orang ditakuti, namun justru membuatnya merasa aman. Di balik perjuangan hidup yang keras, Nawang menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Sebuah perjalanan yang mengajarkannya tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta—bukan dari harta, melainkan dari ketulusan orang-orang yang tetap setia di sisinya.
View MoreHening pagi itu pecah oleh suara pintu kamar yang terbuka tergesa.
“Neng Nawang... bangun, Neng,” suara parau Bik Fatimah merambat ke alam bawah sadar Nawang, yang masih terjerat dalam mimpi. “Ada tamu besar di ruang kerja Bapak.”
Nawang menggeliat pelan. Kelopak matanya berat, seolah enggan berpisah dari sisa mimpi yang menenangkan. Baru malam tadi ia bisa terlelap, setelah seminggu penuh tak henti menangis—membasahi bantal dengan rindu yang tak lagi bersambut. Seminggu sudah sejak kecelakaan pesawat itu merenggut kedua orang tuanya sekaligus. Sejak saat itu, tidurnya selalu dihantui mimpi buruk. Baru pagi ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan lelap.
“Tamu besar siapa, Bik?” gumamnya setengah sadar. Jemarinya mengucek mata, dan tiba-tiba satu bayangan berkelebat di kepalanya. “Jangan bilang...”
“Tebakan Non benar. Anak-anak Pak Rasyid sudah menunggu,” suara Bik Fatimah terdengar cemas. “Mas Radit dan Mbak Nindi ada di ruang kerja.”
Seketika kesadaran Nawang kembali. Ia duduk di tepi ranjang dengan rambut kusut dan mata sembab. Tamu besar... selalu berarti masalah besar.
Cepat atau lambat, ia tahu saat ini akan datang. Mereka pasti akan membicarakan harta peninggalan Pak Rasyid.
Dengan langkah gontai, Nawang membasuh wajah. Air dingin mengguncang kantuk dan sisa tangisnya. Rambutnya ia rapikan seadanya, lalu ia bergegas.
Dan di sanalah mereka.
Raditya Kurniawan, putra tertua Pak Rasyid, duduk di kursi kesayangan ayahnya. Di hadapannya, Anindya Kurniawan—berwajah datar dan dingin. Begitu Nawang masuk, dua pasang mata itu menoleh serempak.
Nawang menarik napas panjang. Berhadapan dengan anak-anak kandung ayah tirinya selalu membuatnya merasa kerdil.
“Selamat pagi, Mas Radit, Mbak Nindi,” sapanya kaku. Kata-kata itu terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
“Baru bangun?” sindir Radit. Bibirnya tak memberi ruang pada senyum. “Kami sudah menunggu selama...” Radit memindai jam di pergelangan tangannya. “Lima belas menit.”
“Maaf, saya tidak tahu kalau Mas dan Mbak datang. Makanya—”
“Tidak usah diteruskan.” Radit mengibaskan tangan. “Kami ke sini bukan untuk basa-basi, tapi untuk memberitahu kalau besok kamu harus meninggalkan rumah ini.”
“Hah, besok? Ke... kenapa?” suara Nawang tercekat. Ia terperanjat dengan pemberitahuan tiba-tiba ini.
“Karena kamu bukan bagian dari keluarga ini lagi,” jawab Nindi dingin. “Ayah kami dan ibumu sudah tiada, dan kamu juga bukan anak kandung ayah. Jadi, untuk apa kamu terus tinggal di sini?” ucap Nindi ketus.
“Ibumu juga menikah secara siri dengan ayah kami. Itu artinya, kamu tidak punya hak atas apa pun,” tambah Radit tegas.
“Tapi... saya sudah lama sekali tinggal di sini. Ini rumah saya juga...”
“Bukan!” potong Nindi. Matanya berkilat. “Ini rumah keluarga Kurniawan. Ibumu dulu cuma perawat ibu kami—pelakor keji, perusak rumah tangga orang!”
Kata itu menusuk telinga Nawang, pedih bagai sembilu. Lidahnya kelu. Ia tahu, meski ia menjelaskan, tak ada yang akan percaya. Ibunya tidak pernah merebut Pak Rasyid dari Bu Maryamah. Pak Rasyid menikahi ibunya setelah Bu Maryamah meninggal dunia.
“Saya… tidak tahu harus ke mana kalau kalian mengusir saya. Seumur hidup, saya hanya punya Ibu,” ucapnya lirih, hampir berbisik.
“Mau mendengar satu cerita?” Radit mengangkat alis. “Tapi sebaiknya kamu duduk dulu. Ceritanya panjang soalnya.”
Nawang menuruti. Firasatnya buruk—cerita itu pasti ada ringkasnya dengan dirinya.
“Dulu ada dua kakak beradik yatim piatu di perkampungan kumuh,” Radit memulai, suaranya tenang tapi dingin. "Si kakak cuma tamatan SD, tapi dia punya cita-cita mulia, yaitu menyekolahkan adiknya setinggi mungkin. Ia tidak mau berpacaran dan bekerja mati-matian siang malam demi membiayai pendidikan si adik. Tapi si adik malah hamil di luar nikah. Karena kecewa, sang kakak pun mengusir adiknya. Mereka pun berpisah sejak saat itu. Nama kakak beradik itu adalah Laila dan Laily."
Tubuh Nawang bergetar. Ia tahu siapa Laily itu—ibunya. Artinya, dia masih punya seorang bibi: Laila.
"Kamu sudah bisa menebak sisa ceritanya, bukan? Besok kami akan mengantarmu ke rumah bibimu, Laila. Mulai saat itu dan seterusnya, kamu akan tinggal di sana."
Nawang menatap Radit nanar. “Mas bilang... ibu saya dulu diusir Bi Laila. Kehadiran saya pasti akan ditolak...”
“Kami sudah lebih dulu berdiskusi,” kata Radit tidak sabar. “Bibimu bilang, dia bersedia menampungmu asal kamu bersedia hidup seadanya dan tidak banyak tingkah,” tegas Tukas Radit.
“Dan satu lagi,” Nindi menimpali. “Kamu juga harus ikut bekerja di sana.”
"Kerja? Kerja apa?" suara Nawang tercekat.
“Bibimu punya usaha ayam potong di pasar. Kamu harus ikut berjualan setiap pagi buta bersama suami dan kedua anaknya,” jelas Nindi.
Radit menambahkan dengan tajam, "Kamu jangan banyak bertingkah. Ingat, kamu bukan siapa-siapa sekarang. Jangan transmisi seperti tuan putri kalau kamu tidak mau bernasib sama seperti ibumu."
Nawang menggigit bibir, menahan tangis yang naik ke tenggorokan. Mereka akan membuangnya ke tangan orang asing—darah dagingnya, tapi asing. Ia tak tahu apakah kehadirannya akan diterima atau ditolak.
"Segera kemasi barang-barangmu. Dan jangan coba-coba membawa apa pun yang bukan milikmu. Besok pagi kamu akan kami jemput," ujar Radit sambil berdiri. Jasnya ia rapikan agar tidak ada bagian yang kusut. Nindi ikut berdiri menyusulnya.
"Kamu punya waktu satu hari untuk berkemas. Setelah itu, jangan menampakkan wajahmu di rumah ini lagi."
Mereka pun pergi.
Begitu pintu tertutup, tubuh Nawang limbung. Ia bersandar di dinding, membiarkan matanya air luruh kembali. Rumah ini—dinding, lantai, langit-langit—setiap sudutnya menyimpan banyak kenangan bersama ibu. Dan sebentar lagi, semua kenangan itu harus ia tinggalkan.
Ia seperti sampah tak berguna, dibuang begitu saja. Nawang ketakutan. Ia tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan ia hadapi di luar sana.
Nawang tidak bereaksi. Ia tidak mau membuat Devi makin tidak terkendali.Di tengah kepanikan itu, Hilal menangkap gerak di sudut matanya. Dua sosok muncul di batas taman belakang. Gerry dan Vonny. Keduanya memberi kode singkat-isyarat agar diam.Hilal mengerti.Ia kembali menatap Devi, suaranya lembut dan membujuk."Devi... lihat aku. Lihat mataku. Kita bicarakan semuanya seperti dulu ya? Kamu mau kan? Ayo, letakkan dulu pisaunya."Mendengar bujukan Hilal, perhatian Devi teralihkan. Saat itulah Gerry bergerak cepat. Dalam satu gerakan terukur, ia menerjang, meraih pergelangan tangan Devi. Pisau terlepas dan jatuh ke rerumputan. Vonny langsung merangkul Devi dari belakang, menahan tubuhnya yang menggigil."Cukup ya, Dev. Cukup!" Vonny, menahan tubuh Devi erat.Devi menjerit histeris. Meronta-ronta keras, berusaha melepaskan diri."Aku tidak mau hidup lagi! Tidak mau kalau tidak bersama Mas Hilal !"Tangisnya pecah, mengguncang tubuhnya yang ringkih.Suasana yang tadi tegang meluruh. Bu
"Ayo kita semua makan dulu baru mengobrol, Pak Rahmat, Bu Aminah, Devi. Kata orang, perut yang kenyang membuat segala urusan jadi lancar." Suara Bu Mira memecah ketegangan. Ia melangkah di antara Hilal dan Devi. Berusaha mencairkan suasana. Hilal mengedipkan mata dua kali. Kata-kata sang ibu membuatnya tersadar. Ia kemudian menoleh ke samping. Nawang berdiri dengan wajah pucat dan kedua tangan mengepal. "Mas Hilal jawab dulu, apakah Mas bersedia kembali menerimaku?" desak Devi dengan suara bergelombang. Ia galau saat melihat wanita cantik yang berdiri di samping Hilal. Mendengar desakan sang putri, Pak Rahmat segera maju ke depan."Ayo, Bu Mira. Sudah lama sekali kami tidak menikmati masakan Bu Mira yang terkenal enak-enak." Pak Rahmat menggeser dengan luwes pegangan tangan istrinya di kursi roda Devi. Kini ia menggantikan tugas sang istri mendorong kursi roda. "Silakan... silakan." Tangan Bu Mira terulur ke meja prasmanan, mempersilakan tamu-tamunya menikmati hidangan. "Jangan
"Selamat ya, Nawang. Kamu sudah resmi menjadi member keluarga Hadiningrat. Kenalkan, saya Mira Hadiningrat, ibunya Hilal. Dan pria tua gagah perkasa nan sakti mandraguna ini adalah Haidar Hadiningrat—ayah Hilal." Bu Mira memperkenalkan diri beserta suami. Satu hal yang membuat Nawang tidak kuasa menahan cengiran adalah, Pak Haidar membuat gerakan ala binaraga yang sedang mengikuti kontes saat disebut sakti mandraguna oleh Bu Mira. "Dan lelaki paling gagah seantariksa ini adalah Safar Hadiningrat— adik Mas Hilal." Safar menundukkan sedikit tubuhnya dan memegang dada dengan gaya konservatif. "Saya Rianti—istri dari lelaki yang kerjanya pamer ketampanan di antara awan, petir dan burung-burung di angkasa." Wanita cantik yang air mukanya jenaka ikut memperkenalkan diri."Asal kamu tahu, dulu saya pendiam, anggun dan bersahaja. Sayangnya setelah masuk ke keluarga ini, jadi ya beginilah." Rianti mengangkat bahunya pasrah. "Zayn juga ganteng, walau masih kecil." Seorang anak lelaki berusi
Laju mobil melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah pintu gerbang berwarna hitam dengan aksen tembaga keemasan. Di kejauhan, berdiri sebuah rumah megah bergaya kolonial modern—anggun, kokoh, namun terkesan hangat. Ada beberapa mobil mewah yang terparkir di sana. Nawang menelan ludah.Ia mengedarkan pandangan. Rumah itu terpisah cukup jauh dari bangunan lain, meski di sepanjang jalan yang sama terdapat rumah-rumah besar lain dengan desain tak kalah mewah. Jalan ini bukan sekadar kawasan elit. Ini kawasan orang-orang berada—mereka yang kekayaannya bukan lagi soal uang. Melainkan gengsi dan pengaruh.Nawang gelisah. Setelah Hilal membuka jati dirinya ia memang membayangkan kalau keluarga Hilal sebagai keluarga mapan. Tapi pemandangan di depannya ini jauh... jauh melampaui ekspektasinya. "Ini… rumah Abang?" tanya Nawang lirih. Hilal tersenyum menenangkan. Ia tahu isi kepala Nawang."Bukan, Nawang. Ini rumah orang tua saya,” jawabnya lembut. Nawang mengembuskan napas pelan."Abang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews