Share

BAB 7

Penulis: IKYURA
last update Tanggal publikasi: 2024-05-27 18:07:35

"Kamu pengen tahu rasanya senikmat apa bercinta yang sebenarnya?"

Julia seketika membelalak.

"Begini, Julia."

Kedua tangan Yudhistira lantas melingkar di pinggang Julia, lalu pria itu mulai mendekatkan wajahnya untuk melekatkan bibirnya di atas bibir perempuan itu.

Julia sempat menahan napas selama beberapa detik. Dia berusaha untuk memberontak, namun kedua tangan Yudhistira yang melingkar di pinggangnya sudah lebih dulu menahannya agar tidak bisa mengelak.

Jantungnya mendadak berdebar begitu kencang. Julia masih mencoba mencerna apa yang saat ini tengah terjadi, namun saat perempuan itu bisa merasakan desiran hebat yang memenuhi hatinya, Julia akhirnya memejamkan matanya.

Dibiarkannya Yudhistira menyapu bibirnya dengan penuh kelembutan. Kedua tangannya mengusap punggung Julia dengan pelan, bersamaan dengan desahan pelan meluncur dari bibir perempuan itu.

Yudhistira yang lebih dulu menarik diri. Dia sadar sepenuhnya dengan kegilaan macam apa yang baru saja dilakukannya. Sepasang matanya mendongak untuk mempertemukan tatapannya dengan Julia.

“How do you feel, Julia?” bisik pria itu parau.

Julia menunduk dalam-dalam dengan napasnya yang tidak beraturan. Jantungnya semakin berdebar kencang. Yudhistira tahu jika dia tidak akan mendapatkan jawaban dari perempuan itu. Tetapi tatapan Julia membenarkan dugaannya. Julia merasa baik-baik saja.

“Begitu cara seseorang memperlakukan orang yang dicintainya, Julia. Bukan dengan menyakiti seperti yang dilakukan dia terhadap kamu,” bisiknya sekali lagi.

“Apa yang barusan kita lakukan salah, Pak.”

Bibir Julia mendadak bergetar hebat. Pandangannya menoleh ke samping, menghindari tatapan Yudhistira yang terasa mengintimidasi.

"Jul…"

Pria itu lantas meraih wajah Julia, lalu memaksanya agar menoleh ke depan. Yudhistira menggeleng cepat.

“Kalau kamu pikir dengan mencuri hatimu dari dia adalah sebuah kesalahan, saya nggak masalah kalau tidak jadi benar.”

“Pak…”

“Trust me, Julia. Kamu nggak perlu melakukan apapun, biar semuanya menjadi urusan saya setelah ini.”

Julia baru saja ingin menjawab perkataan Yudhistira, tetapi suara perutnya yang berbunyi nyaring seketika menghancurkan segalanya.

Julia ingin sekali menahan diri untuk tidak tertawa, tapi gagal. Pun begitu dengan Yudhistira.

Pria itu tersenyum. “Kamu pasti belum makan malam, ya?”

Julia tak langsung menjawab. Perempuan itu lantas beringsut turun dari pangkuan Yudhistira, lalu duduk di samping pria itu bersamaan dengan hujan deras yang mendadak mengguyur Jakarta.

Keduanya menoleh ke samping. Pintu itu masih terbuka, dan Yudhistira langsung berjalan ke arah pintu tersebut untuk menutupnya.

“Kamu ada bahan makanan apa di dapur?”

“Cuma mie instan, Pak. Bapak juga belum makan, ya? Saya pesankan makanan saja—”

“Saya di sini bukan sebagai atasan kamu, Julia. Jadi jangan memperlakukan saya seperti saat kamu memperlakukan saya di kantor. Saya makan apa saja, kok. Kalau kamu punya mie, ya udah makan mie nggak apa-apa.”

“Beneran?" Yudhistira mengangguk. "Ya udah, Pak. Kalau begitu saya buatkan mie dulu.”

Perempuan itu lantas bangkit dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke dapur. Lalu Yudhistira yang masih merasa canggung, tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya mendadak kacau, tetapi setelah apa yang tadi dilakukannya dengan Julia, seolah ada getaran asing yang mendadak hadir di hatinya.

Yudhistira sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Tidak berbeda jauh dengan sahabat-sahabatnya, dia juga pernah dekat dengan banyak perempuan. Tetapi anehnya, dia tidak pernah merasakan hal seperti yang baru saja dirasakannya dengan Julia. Terlebih saat Yudhistira menyentuhnya.

“Jul.”

Julia yang tengah sibuk memasak mie di dapur, lantas menoleh. “Ya, Pak?”

“Maaf, ya. Soal yang tadi… saya benar-benar nggak bermaksud untuk mengambil kesempatan dari kamu.”

“Nggak apa-apa, Pak.” Julia tersenyum. “Lagipula… saya sudah lama sekali tidak pernah merasakan nikmatnya berciuman dengan seseorang, entah itu dengan Aditya.”

“Dia nggak pernah mencium kamu?”

Julia menggeleng. “Ketika dia butuh pelampiasan, mungkin keadaan saya lebih mirip seperti seorang perempuan yang diperkosa. Dia memukul wajah saya, mengingat tangan saya, bahkan menggigit hingga meninggalkan bekas di tubuh saya. Saya nggak tahu gimana rasanya foreplay,” ujarnya dengan gamblang.

Julia tersenyum getir mengingat apa yang selama ini dilakukan Aditya kepadanya. “Jadi terima kasih karena Bapak sudah mencium saya tadi,” ujarnya menambahkan.

Untuk selama beberapa saat, Yudhistira tertegun. Tidak menyangka jika perempuan yang selama ini dia sangka kuat, ternyata hatinya rapuh.

Pria itu lantas mengayunkan langkahnya mendekati Julia.

“Saya—”

Pergerakan Yudhistira yang tiba-tiba seketika membuat Julia terkejut. Pria itu lantas mendorong Julia hingga tubuh bagian belakangnya menubruk pinggiran kabinet dapur.

Satu tangannya lantas menyentuh tengkuk leher Julia, sementara satu tangan lainnya melingkar di pinggangnya. Lalu sedetik kemudian, Yudhistira kembali memagut bibir perempuan itu dengan penuh kelembutan.

Lelah memberontak, Julia memilih untuk pasrah. Tangannya yang masih memegang kemasan mie instan yang belum dibuka itu, refleks jatuh ke lantai. Lalu kedua tangan itu melingkar ke belakang leher Yudhistira, merasai sentuhan pria itu sekali lagi.

Seolah mendapatkan aksesnya dengan leluasa, Yudhistira semakin memperdalam ciumannya. Memagut lembut bibir kemerahan perempuan itu yang sensasinya terasa mendebarkan.

Napas keduanya terengah-engah. Mereka terpaksa saling melepaskan diri, lantaran air yang dipanasi Julia di sana telah menggurak.

Keduanya tersenyum malu-malu, membuat Yudhistira lantas mendaratkan kecupan di kening Julia, lalu dia kembali bersuara.

“Saya akan sering-sering mencium kamu kalau gitu.”

“Modus banget, sih Pak. Bapak lupa kalau saya udah ada pacar.”

“Selama janur kuning belum melengkung, kamu masih bisa saya tikung, Julia. Lagipula lebih hebat ciuman saya, kan daripada ciuman dia?”

Seketika wajah Julia memanas. Cepat-cepat perempuan itu membalikkan badan, wajahnya pasti sudah merona sekarang.

“Bapak nunggu di sana aja. Bisa-bisa mie-nya nggak matang-matang kalau Bapak gangguin saya terus.”

“Tapi suka, kan digangguin sama saya?”

“Apaan, sih Pak.”

Yudhistira lantas terkekeh, kemudian pria itu kembali menuju sofa sembari menunggu Julia selesai memasak mie instan di sana.

Tak berselang lama, Julia sudah datang dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua mangkuk mie instan yang mengepulkan asapnya.

“Bapak nggak suka pedas, kan?”

“Kok tahu?”

Julia kemudian mengangsurkan semangkuk mie instan yang tidak pedas ke arah Yudhistira, lalu satunya untuk dirinya sendiri. “Saya kerja bertahun-tahun untuk melayani lima bos besar, Pak. Saya sudah khatam betul makanan kalian semua.”

Yudhistira terkekeh. Memiliki sekretaris seperti Julia di tempat kerjanya terasa menyenangkan.

“Makasih, Julia.”

“Makasih untuk?”

“Makasih karena kamu nggak menolak saya,” ujar Yudhistira ambigu.

Untuk selama beberapa saat, keduanya memilih menikmati mie instan masing-masing. Hujan di luar sana semakin deras, lantaran akhir-akhir ini memang sering turun hujan.

“Pak…”

“Hm-mm?”

“Saya nggak terlalu dekat sama Bapak, saya juga nggak begitu kenal kehidupan pribadi Bapak selama ini. Boleh saya tanya sesuatu?”

“Mau tanya apa?”

“Maaf sebelumnya, ya Pak. Tadi Bapak bilang saya mengingatkan Bapak dengan ibunya Bapak. Ibunya Bapak masih ada, kan?”

“Masih, Julia. Mama saya masih ada.”

Julia manggut-manggut, tak lagi ingin bertanya. Dia memilih untuk melanjutkan makannya.

“Besok kamu ada acara, nggak?”

Julia menggeleng. “Nggak, Pak. Kenapa?”

“Saya mau ngajak kamu ke suatu tempat.”

Satu alis Julia tertarik ke atas. “Ke mana?”

“Besok kamu juga tahu,” jawab Yudhistira sembari kembali menghabiskan mie instannya.

Setelah menghabiskan mie instannya, Julia lantas membereskan mangkuk mereka yang kosong. Julia menaruhnya ke dalam wastafel, lalu membersihkan sisa-sisa sampah yang masih tersisa di sana. Baru setelahnya dia kembali menuju ruang tamu, dan Julia melihat Yudhistira tampak termenung.

“Pak?”

Yudhistira menoleh. “Hm-mm?”

“Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa, Jul. Sini,” kata Yudhistira sembari menepuk sisi di sebelahnya.

Julia menurutinya. Perempuan itu lantas duduk di sebelah Yudhistira tanpa mengatakan sepatah kata apapun.

“Luka kamu belum diobati. Obat yang dari rumah sakit masih ada, kan?” ujar Yudhistira tiba-tiba.

“Masih, Pak. Nanti saja.”

“No. Kamu obati dulu sana, gih.”

"Saya nggak tahu kalau Bapak bisa bicara sebanyak malam ini."

"Kenapa? Kamu nggak suka?"

Julia lantas menggeleng. Alih-alih menjawab pertanyaan Yudhistira, perempuan itu kemudian bangkit.

“Saya obati luka saya dulu, ya Pak.”

Julia berjalan menuju kamarnya untuk mengobati luka-luka gigitan di sekujur tubuhnya. Di depan layar kaca sana Julia bergidik ngeri. Tubuhnya terlalu banyak luka lebam dan bekas gigitan, dan itu mengerikan.

Perempuan itu lantas menurunkan piyama tidurnya hingga bahunya terekspos. Julia mengoleskan obat itu di jari telunjuknya, lalu dengan susah payah perempuan itu berusaha menggapai punggung belakangnya.

“Aw…” rintihnya pelan.

Ada banyak bekas luka gigitan di sekujur tubuhnya di bagian belakang. Harus dengan tenaga ekstra, Julia menggapai bagian belakang tubuhnya saat bersamaan perempuan itu merasakan sentuhan tangan lain di sana.

Julia mengangkat wajahnya, hingga tatapannya bertumbukan dengan tatapan Yudhistira di belakangnya melalui pantulan kaca.

“Bapak?”

Julia cepat-cepat menaikkan piyama yang dikenakannya, tetapi Yudhistira sudah lebih dulu menahannya. Perlahan pria itu menurunkan piyama itu hingga jatuh ke lantai dan kini tubuh Julia terekspos sempurna.

“Bapak mau ngapain?” tanya Julia sembari menyilangkan tangannya di dada perempuan itu.

Masih dengan tidak mengatakan apa-apa, Yudhistira lantas meraih obat yang ada di tangan Julia, lalu dia mulai mengoleskan obat itu di punggung perempuan itu yang sulit dijangkaunya.

Selama beberapa saat, Julia tampak terdiam. Sesekali dia merintih kesakitan, tapi tak jarang tubuhnya menegang, terlebih saat dia merasakan sentuhan lembut jari-jari Yudhistira yang menyentuh permukaan kulitnya. Pikirannya mendadak kacau.

“Andaikata kamu meminta saya untuk membunuh pria itu, saya akan melakukannya Julia,” bisik Yudhistira lirih. “Saya nggak bisa membiarkan Bajingan itu menyakitimu lebih banyak dari ini.”

“Pak…”

“Please, kamu pikirkan baik-baik ucapan saya,” tandas Yudhistira dengan lugas.

Sisa waktu yang ada, Julia tak lagi bersuara. Perempuan itu membiarkan Yudhistira membantunya mengoleskan obat di sekujur tubuhnya yang penuh luka. Barangkali pria itu tidak tahu jika jantung Julia kini mendadak bergemuruh hebat.

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 3

    "PAPAAAAAAA…"Suara teriakan bocah yang belum genap usia dua tahun itu membuat Julia yang tadinya sibuk dengan ponselnya lantas menoleh.Perempuan itu baru saja selesai yoga. Sementara Davanka saat ini tengah bermain dengan Mbak Wina—asisten rumah tangganya yang biasa datang ke apartemen Yudhistira tiga kali seminggu."Mas? Kok udah pulang?"Yudhistira lantas merentangkan kedua tangannya begitu melihat Davanka berlari menghampirinya, lalu mencium pipinya yang gembil dan langsung menggendongnya. "Kenapa, sih? Nggak suka banget kalau aku pulang awal?"Julia terkekeh. Perempuan itu saat ini tengah mengandung delapan bulan, dan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Julia diizinkan oleh Mahesa untuk bekerja dari rumah alias Work From Home."Tumbenan, kan? Biasanya juga larut banget pulangnya."Yudhistira berjalan menghampiri Julia sembari mencebikkan bibir. "Nyindir, ya? Padahal cuma seminggu kali, kecuali urgent.""Masalahnya yang urgent sering banget, Mas."Yudhistira lantas duduk

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 2

    Yudhistira sudah kehilangan kata-kata saat mendengar Julia terisak di dalam dekapannya. Bahkan suara perempuan itu terdengar menyayat hatinya."Bee…""Mas, Dede, Mas…"Tiga detik.Lima detik.Sepuluh detik."Jantungnya kembali berdetak, Dok."Dokter Wilson cepat-cepat menghampiri perawat itu, bersamaan dengan tangisan bayi itu yang memenuhi ruang persalinan.Yudhistira dan Julia dibuat takjub karenanya. Bahkan tangisan Julia tiba-tiba saja terhenti begitu mendengar tangisan bayinya."Selamat Bu Julia, ini keajaiban. Bayi Anda kembali bangun saat hampir dinyatakan meninggal."Julia kembali terisak. Tapi kali ini tangisannya bukan karena bersedih, melainkan tangisan kebahagiaan."Mas, anak kita."Pun begitu dengan Yudhistira yang tidak bisa membendung air matanya. Pria itu ikut terisak saat bayi yang usianya baru beberapa menit itu dibawa mendekati Julia.Tangisan bayi itu meraung-raung memenuhi ruang persalinan. Namun saat bayi itu diberikan Julia, tangisannya perlahan mereda. Dan saa

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 1

    "Kayaknya di dunia ini, ibu hamil yang kurang dua minggu lagi bakalan melahirkan tapi malah ngajak ngemall cuma Mbak Julia, deh."Sementara Julia hanya terkekeh."Aku nggak tanggung jawab kalau tiba-tiba Pak Yudhistira ngambek, ya Mbak. Bisa-bisa aku disuruh bikin laporan secara tertulis sama dia nanti," ujar Divya sembari bersungut-sungut."Nggak akan, Div. Kamu santai aja, dong. Aku udah izin sama dia juga, kok. Habisan aku bosen di rumah terus."Dua minggu lagi menurut perhitungannya, Julia memang akan melahirkan. Kemarin baru saja perempuan itu mengambil cuti. Dan hari ini, dia mengajak Divya jalan-jalan untuk menikmati sisa harinya sebelum mengurus bayi nanti.Tidak ada siapapun yang dikenal Julia secara dekat selain Divya. Setelah kelulusannya dengan perut yang juga membola lantaran perempuan itu hamil empat bulan, Julia mengajak Divya pergi ke salah satu mall terdekat."Mbak mau belanja apa emangnya?""Nggak ada, sih. Cuma mumpung masih bisa ngemall aja sih, Div. Nanti kalau De

  • Jerat Cinta Sang CEO   The Last Destiny

    "Mbak Julia, aku lagi galau, nih."Julia yang tadinya sibuk mengecek laporan, lantas mengangkat wajahnya lalu menatap Divya yang sejak tadi wajahnya ditekuk."Galau kenapa, Div?" tanya Julia dengan tenang.Sudah dua minggu lebih semenjak Julia pulang dari honeymoon, Julia dan Yudhistira sudah kembali ke rutinitas seperti biasanya. Menghabiskan hampir separuh waktunya di kantor, alih-alih menghabiskan waktunya bersama seperti sepasang suami istri."Kemarin tiba-tiba Pak Bayu membatalkan ajakan nontonnya. Dia yang ngajak, dia udah beli tiket, akunya udah beli dress cantik, eh, tiba-tiba dia bilang nggak bisa karena ada urusan mendadak!” ujar Divya sembari bersungut-sungut."Pak Bayu nggak bilang urusannya apa?"Divya merengut sembari menggeleng. "Nggak, Mbak. Dan aku nggak mau tanya, deh. Males banget kayak aku yang butuh aja! Emang sejak awal dia tuh, nyebelin ya!"Julia terkekeh. Cara bicara Divya itu memang menggemaskan sekali. Wajar jika suaminya seringkali menggodanya—dalam arti ha

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 81

    Penangkaran Buaya Diamond GroupBayusuta Bimantara: Ehm, yang lagi honeymoon kenapa nggak ada suaranya, ya? @Julia jangan digarap terus, Nyet! Napas dulu kek, itu kaki apa nggak tremor! @YudhistiraArjuna Wisesa: Syirik amat lo, Bay. Kalau pengen buruan jajan sana!Bayusuta Bimantara: Bosen gue jajan mulu, J. Pengen tobat gue. Menurut lo gimana?Senandika Antasena: Gue sih nggak yakin, Bay. Kecuali kalau Samantha jatuh cinta sama Buaya!Bayusuta Bimantara: Sialan! Kenapa jadi bawa-bawa Samantha, sih?Arjuna Wisesa: Gue jadi penasaran kenapa lo secemen ini sama Samantha, sih Bay? Inget umur udah uzur. Buruan kawin lo!Senandika Antasena: Kawinnya udah, J. Nikahnya yang belum. Lagian sampai lebaran monyet Samantha nggak bakalan ngelirik doi kali. Yang ditaksir Samantha bukan si Buaya ini. Atau jangan-jangan dia ngiranya lo homo kali, Bay?Arjuna Wisesa: Bisa jadi performanya menurun, Man. Tahannya lima menit doang.Bayusuta Bimantara: Bangsat! Nggak kira-kira lo ngatain gue homo. Sorry

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 80

    JULIA menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap menatap langit-langit kamarnya pagi itu. Samar-samar suara kicauan burung terdengar dari luar kamarnya. Aroma wangi dupa khas Bali dan hawa sejuk yang menyelinap masuk, membuat perempuan itu kembali menaikkan selimutnya tinggi-tinggi demi menghalau rasa dingin.Julia lantas menolehkan wajahnya ke samping, dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia memiringkan badannya agar bisa menatap Yudhistira dengan leluasa bersamaan dengan rasa nyeri pada pangkal pahanya.Julia tersenyum masam. Perempuan itu baru tahu jika hanya dengan menatap tubuhnya yang telanjang bulat, suaminya akan berubah menjadi liar dan maniak. Bahkan dia tidak menyangka jika Yudhistira akan memborgolnya di tiang ranjang, sementara pria itu mencumbuinya dengan membabi buta.“Mas…” desah perempuan itu leher.Satu kakinya diangkat ke atas, sementara kedua tangannya berada di atas tiang ranjang tidurnya dengan posisi tangannya diborgol. Tubuh perempu

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 68

    "Dari mana lo?"Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Arjuna. Kedua sahabat Yudhistira—Arjuna dan Bayusuta, tengah duduk-duduk santai di restoran pagi itu. Mereka sedang menikmati kopi setelah menikmati sarapan."Dari nganterin Julia pulang." Lalu pria itu menoleh ke sekitar. "Antasena ke mana?""Di

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 67

    "Mas, bangun. Udah pagi."Suara serak Julia terdengar menyapa indera pendengaran Yudhistira. Perempuan itu menggoyangkan lengan Yudhistira yang tengah terlelap di sampingnya, pria itu hanya menggumam pelan.Entah sampai pukul berapa akhirnya mereka memutuskan untuk terlelap semalam. Perempuan itu tahu

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 66

    Akhirnya pesawat komersil yang terbang dari Jakarta mendarat sempurna di Yogyakarta malam itu. Suasana bandara terlihat sepi lantaran mereka sengaja mengambil penerbangan terakhir dari Jakarta. Mereka berjalan melewati pintu kedatangan, dan bergegas menuju ke area penjemputan.“Halo, Pa.”“Nduk, udah

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 65

    “Mas? Beneran Pak Antasena mau nikah sama cewek yang bukan pacarnya?”Yudhistira lantas menoleh ke samping, lalu terkekeh. “Iya, Bee.”“Wah, sinting semuanya!” Julia geleng-geleng kepala, masih tidak percaya dengan kegilaan orang-orang ini. “Emang pacarnya nggak mau diajak nikah, Mas?”“Nanti kamu tany

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status