Share

BAB 6

Penulis: IKYURA
last update Tanggal publikasi: 2024-05-27 18:07:08

Yudhistira merasa gusar sekarang. Melihat Julia dan Aditya baru saja meninggalkan kantor, entah kenapa hatinya mendadak berubah jadi tak tenang.

Oleh Yudhistira, katakan saja dia benar-benar gila sekarang. Kegusarannya kali ini benar-benar tak lagi bisa dikendalikannya. Pria itu lantas melajukan mobilnya, membuntuti mobil yang sudah lebih dulu berjalan di depan sana yang diyakini adalah mobil Aditya.

Sampai akhirnya Yudhistira menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah Julia. Berkali-kali pria itu membuang napas, bahkan dia tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya sekarang.

"Lo gila, Dhis!" gumam pria itu pada dirinya sendiri.

Bayangan bagaimana Julia dilukai sebanyak itu, mengingatkannya pada seseorang. Dan entah mengapa Yudhistira bisa tenggelam sampai sejauh ini.

Entah sudah berapa lama, Yudhistira berdiam diri tanpa melakukan apa-apa di sana. Sesekali dia menoleh, dan berharap jika Aditya akan segera bergegas pergi. Semakin lama pria itu berada di sana, semakin membuat pertahanan diri Yudhistira perlahan terkikis. Hatinya mendadak berubah menjadi kalut.

"Brengsek!" umpat pria itu cemas.

Untuk menuntaskan rasa cemasnya itu, Yudhistira mulai memikirkan alasan yang tepat untuk menemui Julia. Dia berniat untuk turun dari mobilnya, namun samar-samar di depan sana, Yudhistira bisa melihat Aditya baru saja keluar dari rumah itu.

Tatapan Yudhistira lurus ke depan, melihat pria itu tengah mengenakan ikat pinggangnya, Yudhistira bisa menebak apa yang baru saja dilakukan Bajingan itu.

"Bajingan!" desis Yudhistira masih mencoba mengendalikan diri.

Setelah mobil itu meninggalkan kediaman Julia, Yudhistira dengan cepat melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah itu. Pria itu lantas turun dengan cepat. Tidak peduli dengan bagaimana pendapat Julia nanti, dia hanya ingin memastikan kondisi Julia sekarang.

Yudhistira berdiri dengan pikiran berkecamuk. Tangannya terangkat ke atas, lalu dia mulai mengetuk pintu itu dengan pelan.

Dia telah bersumpah akan mendobrak pintu yang ada di hadapannya sekarang, jika Julia tidak membukakan pintu untuknya.

Namun, tak berselang lama, suara derap langkah dari dalam terdengar, Yudhistira tidak perlu repot-repot untuk mendobrak pintu tersebut.

Yudhistira baru saja membuka mulutnya, namun pemandangan yang ada di hadapannya seketika membuat hati pria itu mencelos.

"Julia?"

Julia dengan wajah penuh luka lebam, kini berdiri di hadapannya dan hal itu membuat sekujur tubuh Yudhistira bergidik ngeri.

Perempuan itu baru saja ingin mengeluarkan suaranya, tetapi Yudhistira yang mendadak memeluk Julia, seketika membuatnya urung. Matanya melebar seketika, perempuan itu kehilangan kata-kata.

Julia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Yudhistira ada di rumahnya sekarang. Yang ingin dilakukannya saat ini, hanyalah memikirkan alasan yang tepat untuk menutupi semua ini, namun sepertinya gagal lantaran ucapan Yudhistira justru membenarkan dugaannya.

"Saya akan membunuh Bajingan itu, Julia," desis Yudhistira sembari menggertakkan rahangnya.

"Bapak, ada apa ke sini?" Julia mencoba mengalihkan.

Yudhistira menarik diri. Dia berdiri di hadapan Julia dengan tatapan tak lepas dari perempuan itu.

"Berhenti berpura-pura, Julia. Kamu pikir saya nggak tahu apa yang barusan terjadi sama kamu, hm?" Dadanya bergemuruh hebat, emosi Yudhistira mulai meledak-ledak di dada.

"Pak, saya—"

"Katakan apa saja yang dia lakukan sama kamu barusan. Dan saya akan membunuh dia, Julia. Saya—"

"Pak, tolong jangan melewati batas," potong Julia dengan cepat.

"Kamu yang memaksa saya untuk melewati batas, Julia," desis Yudhistira tak terima. "Fine, kalau kamu nggak mau mengaku, saya bisa mencari tahu sendiri."

"Pak, saya mohon jangan lakukan itu," rengek perempuan itu lirih, tidak ada lagi yang bisa ditutupi Julia dari Yudhistira.

"BERHENTI MEMBELANYA, JULIA! KAMU MAU MATI, HAH?" sentak Yudhistira sekali lagi.

Kepala Julia mendadak berdengung begitu mendengar Yudhistira berteriak. Dadanya berdenyut perih dan dia tak lagi mampu menahan air mata yang sejak tadi tertahan untuk tidak jatuh sekarang.

Yudhistira sontak tergamam. Pria itu lantas meraup wajahnya dengan gusar. Lalu mengusap lengan Julia untuk menenangkan perempuan itu. Dia benar-benar menyesal.

"Maaf, Julia. Saya nggak bermaksud untuk membentak kamu, tapi—" Yudhistira mendesah kasar. "—dia udah kelewatan. Kalau kamu mempertahankan dia, kamu bisa mati, Julia!"

"Saya baik-baik saja, Pak."

"Baik-baik saja kamu bilang?" sengal Yudhistira naik pitam. "Well, kalau kamu bilang baik-baik saja, jangan salahkan saya unt—"

"Please, Pak. Jangan. Saya akan melakukan apa saja untuk Bapak. Jadi saya mohon, berhenti sekarang juga," cegah Julia dengan cepat.

Yudhistira terhenyak selama beberapa saat. Melihat betapa rapuhnya Julia saat ini, seolah dia sama sekali tidak mengenal sosok perempuan yang kini berdiri di hadapannya.

“Kamu harus membayar mahal semua ini, karena kamu berhasil membuat saya mati-matian menahan diri untuk tidak menghabisi Bajingan itu, Julia.”

“Apapun, Pak. Saya akan melakukan apa saja, asal jangan apa-apakan dia.”

“Brengsek!” umpat Yudhistira mencoba menelan habis-habisan emosinya.

Yudhistira lantas menggandeng tangan Julia untuk masuk ke dalam rumah. Langkahnya yang sedikit terseok membuat Yudhistira memelankan langkahnya.

Dibiarkannya perempuan itu duduk di sofa, sementara dia berjalan menuju dapur untuk mengambil batu es.

Seolah tak peduli jika si tuan rumah kini tengah memperhatikannya, Yudhistira dengan cekatan menemukan apa yang dicarinya.

Pria itu mengambil sebuah mangkuk, lalu mengambil batu es dari dalam lemari pendingin. Dia juga meraih handuk kecil yang rupanya sudah disiapkan Julia di sana, lalu membawanya mendekati perempuan itu.

Untuk selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Pun begitu dengan Yudhistira yang tampak kacau pikirannya.

Dia menggulung lengan kemeja putih yang terlihat lusuh sekarang. Lalu tangannya mulai sibuk membungkus batu es itu dengan handuk hingga membentuknya seperti bongkahan kecil. Sebelum akhirnya Yudhistira menjulurkannya ke arah Julia.

"Biar saya saja, Pak."

Yudhistira menggeleng. Tangan Julia yang tadinya hendak meraih bongkahan batu es itu, ditangkap Yudhistira, lalu digenggamnya dengan erat. Julia sempat tercenung selama beberapa saat. Sikap pria itu sejujurnya membuat Julia tak nyaman.

Di waktu yang bersamaan, anehnya, Julia bisa merasakan hangat menjalar di tubuhnya. Terlebih saat tatapan Yudhistira tak lepas dari menatapnya.

"Kamu sudah berjanji akan melakukan apapun untuk saya, kan Jul?" ujar Yudhistira mulai memecah keheningan yang sempat hadir di antara mereka.

Julia menunduk, menatap tangannya yang masih digenggam Yudhistira. Perempuan itu termenung selama beberapa saat, sebelum ucapan Yudhistira kembali terdengar.

"Dan saya berharap kamu bisa menepatinya."

"Apapun, Pak. Kecuali untuk yang satu itu."

Gerakan tangan Yudhistira kontan terhenti. Matanya menatap lurus ke arah Julia yang kini terlihat tak gentar menatapnya. Seolah ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

"Well, kalau kamu nggak mau ninggalin dia, nggak apa-apa, Julia. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana cara kerja saya selama ini, kan?"

"Bapak ngancem saya?" desis Julia lirih.

"Anggap saja begitu, karena kamu nggak menuruti ucapan atasan kamu."

"Atasan mana yang mencampuri urusan bawahannya, Pak? Ini ranah pribadi saya, Pak. Tidak seharusnya Bapak melibatkan diri," sanggah Julia tak terima.

Julia menarik tangannya dari genggaman Yudhistira. Perempuan itu menundukkan wajahnya, dan dia mendadak merasa nyeri hebat.

"Saya nggak bisa ninggalin dia, Pak," kata Julia setelah tak kunjung mendapatkan tanggapan dari Yudhistira.

"Kenapa? Dia mengancam kamu? Atau dia berusaha memaksa kamu?" sahut Yudhistira tak sabaran.

Julia menggeleng. "Aditya sebenarnya orang baik, Pak. Dia sangat mencintai saya. Hanya saja… dia sedikit berbeda dan istimewa."

Yudhistira mencebikkan bibirnya. "Istimewa untuk menyebut seorang sadomasokis itu terlalu berlebihan, Julia."

"Kenyataannya memang begitu, kan Pak? Tolong jangan ikut campur. Saya melakukannya dengan sadar sepenuhnya, Pak. Saya sama sekali nggak keberatan kalau—"

"Dan dengan membiarkan kamu mati, begitu?" potong Yudhistira dengan cepat. "Cara mencintai seseorang itu nggak begini, Julia. Dia sakit dan harus segera diselamatkan. Bukan malah kamu manjakan dengan menuruti apa maunya dia!"

"Pak, bisa nggak kalau Bapak nggak usah ikut campur sama urusan saya? Tolong, untuk yang satu ini saja," rengek Julia mencoba membujuk Yudhistira.

"Saya sudah telanjur tahu sebanyak ini, Julia. Saya juga sudah bilang ke kamu kalau saya akan mengusahakannya, kan?

"Saya mau kamu memilih saya. Tidak masalah kalau kamu belum tertarik sama saya, bukankah semuanya perlu waktu?"

"Bapak tertarik sama saya?" tembak Julia dengan cepat.

Tentu saja Yudhistira tidak bisa menjawabnya. Bahkan perasaannya masih terasa abu-abu, dan dia tidak tahu seperti apa hatinya saat ini.

"Nggak, kan Pak? Saya nggak suka dikasihani, Pak. Kalau apa yang Bapak lakukan sekarang hanya karena kasihan dengan saya, lebih baik Bapak berhenti," ujar Julia menohok hingga ke ulu hatinya.

"Bukan begitu, Julia. Kamu… sempat mengingatkan saya dengan seseorang."

"Jadi Bapak menyamakan saya dengan orang itu?"

Yudhistira menelan ludah dengan susah payah, lalu dia menatap Julia sesaat, sebelum dia menganggukkan kepalanya.

"Kamu mengingatkan saya dengan Mama."

Seketika bibir Julia terkatup rapat. Ada raut kesedihan yang terpancar di mata Yudhistira, dan Julia bisa merasakannya.

"Jadi tolong, bisa kan kamu berhenti?"

Julia menggeleng. "Saya nggak bisa ninggalin dia, Pak."

"Saya akan menukarnya dengan hidup yang jauh lebih baik, lebih layak, dan aman buat kamu, Julia. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Kasih saya celah sedikit saja, dan saya akan memenangkan hati kamu dari dia. Percaya dengan saya."

"Maaf, Pak. Saya nggak bisa meninggalkan Aditya," ujar perempuan itu bersikeras. "Saya nggak bisa untuk tidak menuruti permintaan terakhir Mama saya, Pak. Beliau mau saya menikah dengan Aditya."

"Mama kamu pasti akan menyalahkan dirinya kalau melihat kamu menderita begini, Julia."

Julia menggeleng.

"Keluarga Aditya selama ini baik sama saya, Pak. Ibunya Aditya adalah teman dekat mendiang Mama saya. Dan saya nggak mau menyakiti banyak orang, Mama, Tante Anggun, dan keluarga lainnya yang berharap saya bersama Aditya."

"Mereka baik, tapi tidak dengan Aditya. Saya nggak peduli, kamu mau berhenti atau dia berakhir di penjara dengan cara saya?"

Julia menggeleng dengan cepat. "Jangan, Pak. Saya mohon. Tolong jangan apa-apakan dia."

"Tinggalkan dia segera."

Julia menghela napas panjang. "Jangan persulit saya, Pak. Semua akan rumit kalau saya meninggalkannya.

"Jawab pertanyaan saya dengan jujur, Julia."

Julia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. "Apa?"

"Apa yang kamu rasakan saat melakukannya, hm? Kamu merasa puas? Kamu merasa bahagia? Atau kamu juga menikmatinya, hm?"

Julia tak mampu membendung air matanya. Terlalu bingung untuk menjawab pertanyaan Yudhistira, lantaran apa yang dirasakannya justru sebaliknya.

"Kamu menikmatinya? Jawab, Julia!" desak Yudhistira sekali lagi.

"Sakit, Pak." Tangisan Julia semakin menggugu. "Kalau Bapak pikir, saya menikmatinya, Bapak salah besar. Dari mana orang normal seperti saya bisa merasa terpuaskan dengan hal-hal yang menyakitkan, hm? Hati saya sudah membeku, Pak. Bahkan untuk sekadar menikmati saja, rasanya tidak pernah ada."

Hati Yudhistira terasa dicabik-cabik sekarang. Pria itu meraup wajahnya dengan kasar, sebelum akhirnya dia menarik Julia untuk duduk di pangkuannya dan membuat Julia terkesiap.

"Kamu pengen tahu rasanya senikmat apa bercinta yang sebenarnya?"

Julia seketika membelalak.

"Begini, Julia."

Belum sempat Julia memberontak, Yudhistira sudah lebih dulu membungkam Julia dengan bibirnya.

***

Terima kasih sudah mampir dan membaca, ya!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 3

    "PAPAAAAAAA…"Suara teriakan bocah yang belum genap usia dua tahun itu membuat Julia yang tadinya sibuk dengan ponselnya lantas menoleh.Perempuan itu baru saja selesai yoga. Sementara Davanka saat ini tengah bermain dengan Mbak Wina—asisten rumah tangganya yang biasa datang ke apartemen Yudhistira tiga kali seminggu."Mas? Kok udah pulang?"Yudhistira lantas merentangkan kedua tangannya begitu melihat Davanka berlari menghampirinya, lalu mencium pipinya yang gembil dan langsung menggendongnya. "Kenapa, sih? Nggak suka banget kalau aku pulang awal?"Julia terkekeh. Perempuan itu saat ini tengah mengandung delapan bulan, dan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Julia diizinkan oleh Mahesa untuk bekerja dari rumah alias Work From Home."Tumbenan, kan? Biasanya juga larut banget pulangnya."Yudhistira berjalan menghampiri Julia sembari mencebikkan bibir. "Nyindir, ya? Padahal cuma seminggu kali, kecuali urgent.""Masalahnya yang urgent sering banget, Mas."Yudhistira lantas duduk

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 2

    Yudhistira sudah kehilangan kata-kata saat mendengar Julia terisak di dalam dekapannya. Bahkan suara perempuan itu terdengar menyayat hatinya."Bee…""Mas, Dede, Mas…"Tiga detik.Lima detik.Sepuluh detik."Jantungnya kembali berdetak, Dok."Dokter Wilson cepat-cepat menghampiri perawat itu, bersamaan dengan tangisan bayi itu yang memenuhi ruang persalinan.Yudhistira dan Julia dibuat takjub karenanya. Bahkan tangisan Julia tiba-tiba saja terhenti begitu mendengar tangisan bayinya."Selamat Bu Julia, ini keajaiban. Bayi Anda kembali bangun saat hampir dinyatakan meninggal."Julia kembali terisak. Tapi kali ini tangisannya bukan karena bersedih, melainkan tangisan kebahagiaan."Mas, anak kita."Pun begitu dengan Yudhistira yang tidak bisa membendung air matanya. Pria itu ikut terisak saat bayi yang usianya baru beberapa menit itu dibawa mendekati Julia.Tangisan bayi itu meraung-raung memenuhi ruang persalinan. Namun saat bayi itu diberikan Julia, tangisannya perlahan mereda. Dan saa

  • Jerat Cinta Sang CEO   Extra Part 1

    "Kayaknya di dunia ini, ibu hamil yang kurang dua minggu lagi bakalan melahirkan tapi malah ngajak ngemall cuma Mbak Julia, deh."Sementara Julia hanya terkekeh."Aku nggak tanggung jawab kalau tiba-tiba Pak Yudhistira ngambek, ya Mbak. Bisa-bisa aku disuruh bikin laporan secara tertulis sama dia nanti," ujar Divya sembari bersungut-sungut."Nggak akan, Div. Kamu santai aja, dong. Aku udah izin sama dia juga, kok. Habisan aku bosen di rumah terus."Dua minggu lagi menurut perhitungannya, Julia memang akan melahirkan. Kemarin baru saja perempuan itu mengambil cuti. Dan hari ini, dia mengajak Divya jalan-jalan untuk menikmati sisa harinya sebelum mengurus bayi nanti.Tidak ada siapapun yang dikenal Julia secara dekat selain Divya. Setelah kelulusannya dengan perut yang juga membola lantaran perempuan itu hamil empat bulan, Julia mengajak Divya pergi ke salah satu mall terdekat."Mbak mau belanja apa emangnya?""Nggak ada, sih. Cuma mumpung masih bisa ngemall aja sih, Div. Nanti kalau De

  • Jerat Cinta Sang CEO   The Last Destiny

    "Mbak Julia, aku lagi galau, nih."Julia yang tadinya sibuk mengecek laporan, lantas mengangkat wajahnya lalu menatap Divya yang sejak tadi wajahnya ditekuk."Galau kenapa, Div?" tanya Julia dengan tenang.Sudah dua minggu lebih semenjak Julia pulang dari honeymoon, Julia dan Yudhistira sudah kembali ke rutinitas seperti biasanya. Menghabiskan hampir separuh waktunya di kantor, alih-alih menghabiskan waktunya bersama seperti sepasang suami istri."Kemarin tiba-tiba Pak Bayu membatalkan ajakan nontonnya. Dia yang ngajak, dia udah beli tiket, akunya udah beli dress cantik, eh, tiba-tiba dia bilang nggak bisa karena ada urusan mendadak!” ujar Divya sembari bersungut-sungut."Pak Bayu nggak bilang urusannya apa?"Divya merengut sembari menggeleng. "Nggak, Mbak. Dan aku nggak mau tanya, deh. Males banget kayak aku yang butuh aja! Emang sejak awal dia tuh, nyebelin ya!"Julia terkekeh. Cara bicara Divya itu memang menggemaskan sekali. Wajar jika suaminya seringkali menggodanya—dalam arti ha

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 81

    Penangkaran Buaya Diamond GroupBayusuta Bimantara: Ehm, yang lagi honeymoon kenapa nggak ada suaranya, ya? @Julia jangan digarap terus, Nyet! Napas dulu kek, itu kaki apa nggak tremor! @YudhistiraArjuna Wisesa: Syirik amat lo, Bay. Kalau pengen buruan jajan sana!Bayusuta Bimantara: Bosen gue jajan mulu, J. Pengen tobat gue. Menurut lo gimana?Senandika Antasena: Gue sih nggak yakin, Bay. Kecuali kalau Samantha jatuh cinta sama Buaya!Bayusuta Bimantara: Sialan! Kenapa jadi bawa-bawa Samantha, sih?Arjuna Wisesa: Gue jadi penasaran kenapa lo secemen ini sama Samantha, sih Bay? Inget umur udah uzur. Buruan kawin lo!Senandika Antasena: Kawinnya udah, J. Nikahnya yang belum. Lagian sampai lebaran monyet Samantha nggak bakalan ngelirik doi kali. Yang ditaksir Samantha bukan si Buaya ini. Atau jangan-jangan dia ngiranya lo homo kali, Bay?Arjuna Wisesa: Bisa jadi performanya menurun, Man. Tahannya lima menit doang.Bayusuta Bimantara: Bangsat! Nggak kira-kira lo ngatain gue homo. Sorry

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 80

    JULIA menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap menatap langit-langit kamarnya pagi itu. Samar-samar suara kicauan burung terdengar dari luar kamarnya. Aroma wangi dupa khas Bali dan hawa sejuk yang menyelinap masuk, membuat perempuan itu kembali menaikkan selimutnya tinggi-tinggi demi menghalau rasa dingin.Julia lantas menolehkan wajahnya ke samping, dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia memiringkan badannya agar bisa menatap Yudhistira dengan leluasa bersamaan dengan rasa nyeri pada pangkal pahanya.Julia tersenyum masam. Perempuan itu baru tahu jika hanya dengan menatap tubuhnya yang telanjang bulat, suaminya akan berubah menjadi liar dan maniak. Bahkan dia tidak menyangka jika Yudhistira akan memborgolnya di tiang ranjang, sementara pria itu mencumbuinya dengan membabi buta.“Mas…” desah perempuan itu leher.Satu kakinya diangkat ke atas, sementara kedua tangannya berada di atas tiang ranjang tidurnya dengan posisi tangannya diborgol. Tubuh perempu

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 15

    Tidak ada yang bisa menjabarkan seperti apa yang saat ini tengah dirasakan Julia. Jantungnya berdebar kencang, sensasi mendebarkan di dalam dadanya seolah hampir meledak sekarang.Bibirnya yang saling bertautan, membimbing langkah mereka menuju pada sebuah ruang yang gelap. Mereka membiarkan pintu it

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 14

    “Julie…”Suara Yudhistira yang terdengar berat menyapa indera pendengaran perempuan itu. Terlebih saat dress yang dikenakan Julia sudah merosot ke lantai dan kini hanya menyisakan pakaian dalam hitamnya. Dan detik itu juga Yudhistira hampir menggila.Seolah tidak mengacuhkan peringatan yang meluncur d

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 12

    “Wah, kita kedatangan tamu istimewa kayaknya, nih?” Anggun kemudian bangkit menghampiri Karina dan sosok pria yang ada di sampingnya. Perempuan itu memeluk putri bungsunya, lalu beralih menatap Yudhistira. “Siapa ini, Rin?”“Teman, Ma.” Karina lantas menoleh ke arah Yudhistira. “Kenalin, Ma, Pa, Mbak

  • Jerat Cinta Sang CEO   BAB 11

    "MBAK JULIAAAAAA!" Suara teriakan Rayya seketika menarik perhatian banyak orang yang ada di sekitarnya. Perempuan itu lantas melotot tajam ke arah Rayya, Julia benar-benar sibuk sekarang dan dia malas menanggapi ocehan Rayya dan teman-temannya."Nggak mau pakai toa sekalian teriaknya, Ray?"Rayya meri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status