LOGIN"PAPAAAAAAA…"Suara teriakan bocah yang belum genap usia dua tahun itu membuat Julia yang tadinya sibuk dengan ponselnya lantas menoleh.Perempuan itu baru saja selesai yoga. Sementara Davanka saat ini tengah bermain dengan Mbak Wina—asisten rumah tangganya yang biasa datang ke apartemen Yudhistira tiga kali seminggu."Mas? Kok udah pulang?"Yudhistira lantas merentangkan kedua tangannya begitu melihat Davanka berlari menghampirinya, lalu mencium pipinya yang gembil dan langsung menggendongnya. "Kenapa, sih? Nggak suka banget kalau aku pulang awal?"Julia terkekeh. Perempuan itu saat ini tengah mengandung delapan bulan, dan karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Julia diizinkan oleh Mahesa untuk bekerja dari rumah alias Work From Home."Tumbenan, kan? Biasanya juga larut banget pulangnya."Yudhistira berjalan menghampiri Julia sembari mencebikkan bibir. "Nyindir, ya? Padahal cuma seminggu kali, kecuali urgent.""Masalahnya yang urgent sering banget, Mas."Yudhistira lantas duduk
Yudhistira sudah kehilangan kata-kata saat mendengar Julia terisak di dalam dekapannya. Bahkan suara perempuan itu terdengar menyayat hatinya."Bee…""Mas, Dede, Mas…"Tiga detik.Lima detik.Sepuluh detik."Jantungnya kembali berdetak, Dok."Dokter Wilson cepat-cepat menghampiri perawat itu, bersamaan dengan tangisan bayi itu yang memenuhi ruang persalinan.Yudhistira dan Julia dibuat takjub karenanya. Bahkan tangisan Julia tiba-tiba saja terhenti begitu mendengar tangisan bayinya."Selamat Bu Julia, ini keajaiban. Bayi Anda kembali bangun saat hampir dinyatakan meninggal."Julia kembali terisak. Tapi kali ini tangisannya bukan karena bersedih, melainkan tangisan kebahagiaan."Mas, anak kita."Pun begitu dengan Yudhistira yang tidak bisa membendung air matanya. Pria itu ikut terisak saat bayi yang usianya baru beberapa menit itu dibawa mendekati Julia.Tangisan bayi itu meraung-raung memenuhi ruang persalinan. Namun saat bayi itu diberikan Julia, tangisannya perlahan mereda. Dan saa
"Kayaknya di dunia ini, ibu hamil yang kurang dua minggu lagi bakalan melahirkan tapi malah ngajak ngemall cuma Mbak Julia, deh."Sementara Julia hanya terkekeh."Aku nggak tanggung jawab kalau tiba-tiba Pak Yudhistira ngambek, ya Mbak. Bisa-bisa aku disuruh bikin laporan secara tertulis sama dia nanti," ujar Divya sembari bersungut-sungut."Nggak akan, Div. Kamu santai aja, dong. Aku udah izin sama dia juga, kok. Habisan aku bosen di rumah terus."Dua minggu lagi menurut perhitungannya, Julia memang akan melahirkan. Kemarin baru saja perempuan itu mengambil cuti. Dan hari ini, dia mengajak Divya jalan-jalan untuk menikmati sisa harinya sebelum mengurus bayi nanti.Tidak ada siapapun yang dikenal Julia secara dekat selain Divya. Setelah kelulusannya dengan perut yang juga membola lantaran perempuan itu hamil empat bulan, Julia mengajak Divya pergi ke salah satu mall terdekat."Mbak mau belanja apa emangnya?""Nggak ada, sih. Cuma mumpung masih bisa ngemall aja sih, Div. Nanti kalau De
"Mbak Julia, aku lagi galau, nih."Julia yang tadinya sibuk mengecek laporan, lantas mengangkat wajahnya lalu menatap Divya yang sejak tadi wajahnya ditekuk."Galau kenapa, Div?" tanya Julia dengan tenang.Sudah dua minggu lebih semenjak Julia pulang dari honeymoon, Julia dan Yudhistira sudah kembali ke rutinitas seperti biasanya. Menghabiskan hampir separuh waktunya di kantor, alih-alih menghabiskan waktunya bersama seperti sepasang suami istri."Kemarin tiba-tiba Pak Bayu membatalkan ajakan nontonnya. Dia yang ngajak, dia udah beli tiket, akunya udah beli dress cantik, eh, tiba-tiba dia bilang nggak bisa karena ada urusan mendadak!” ujar Divya sembari bersungut-sungut."Pak Bayu nggak bilang urusannya apa?"Divya merengut sembari menggeleng. "Nggak, Mbak. Dan aku nggak mau tanya, deh. Males banget kayak aku yang butuh aja! Emang sejak awal dia tuh, nyebelin ya!"Julia terkekeh. Cara bicara Divya itu memang menggemaskan sekali. Wajar jika suaminya seringkali menggodanya—dalam arti ha
Penangkaran Buaya Diamond GroupBayusuta Bimantara: Ehm, yang lagi honeymoon kenapa nggak ada suaranya, ya? @Julia jangan digarap terus, Nyet! Napas dulu kek, itu kaki apa nggak tremor! @YudhistiraArjuna Wisesa: Syirik amat lo, Bay. Kalau pengen buruan jajan sana!Bayusuta Bimantara: Bosen gue jajan mulu, J. Pengen tobat gue. Menurut lo gimana?Senandika Antasena: Gue sih nggak yakin, Bay. Kecuali kalau Samantha jatuh cinta sama Buaya!Bayusuta Bimantara: Sialan! Kenapa jadi bawa-bawa Samantha, sih?Arjuna Wisesa: Gue jadi penasaran kenapa lo secemen ini sama Samantha, sih Bay? Inget umur udah uzur. Buruan kawin lo!Senandika Antasena: Kawinnya udah, J. Nikahnya yang belum. Lagian sampai lebaran monyet Samantha nggak bakalan ngelirik doi kali. Yang ditaksir Samantha bukan si Buaya ini. Atau jangan-jangan dia ngiranya lo homo kali, Bay?Arjuna Wisesa: Bisa jadi performanya menurun, Man. Tahannya lima menit doang.Bayusuta Bimantara: Bangsat! Nggak kira-kira lo ngatain gue homo. Sorry
JULIA menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap menatap langit-langit kamarnya pagi itu. Samar-samar suara kicauan burung terdengar dari luar kamarnya. Aroma wangi dupa khas Bali dan hawa sejuk yang menyelinap masuk, membuat perempuan itu kembali menaikkan selimutnya tinggi-tinggi demi menghalau rasa dingin.Julia lantas menolehkan wajahnya ke samping, dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia memiringkan badannya agar bisa menatap Yudhistira dengan leluasa bersamaan dengan rasa nyeri pada pangkal pahanya.Julia tersenyum masam. Perempuan itu baru tahu jika hanya dengan menatap tubuhnya yang telanjang bulat, suaminya akan berubah menjadi liar dan maniak. Bahkan dia tidak menyangka jika Yudhistira akan memborgolnya di tiang ranjang, sementara pria itu mencumbuinya dengan membabi buta.“Mas…” desah perempuan itu leher.Satu kakinya diangkat ke atas, sementara kedua tangannya berada di atas tiang ranjang tidurnya dengan posisi tangannya diborgol. Tubuh perempu







