Beranda / Romansa / Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan / Bab 48: Membuatnya Terlalu Mudah

Share

Bab 48: Membuatnya Terlalu Mudah

Penulis: Salwa Maulidya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 09:29:44

“Aku tidak suka antre. Aku tidak suka berdesak-desakan. Dan aku tidak suka dilihat orang banyak saat aku berteriak di roller coaster,” jelas Viona dengan nada santai namun menuntut.

“Jadi, aku ingin kau menyewa seluruh taman hiburan itu untuk kita berdua saja. Seharian penuh. Tidak boleh ada satu pun pengunjung lain yang masuk. Hanya ada aku, kau, dan para petugas wahana. Titik.”

Viona mundur selangkah sambil melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan. Dalam benaknya, permintaan ini sangat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Icha Qazara Putri
Sabar ya Vi ngadepin orang kaya satu ini emang kudu extra sabar wkwkwk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 114: Ruangan Seketika jadi Panas

    Suhu di dalam ruang galeri pribadi itu mendadak naik, mengalahkan sejuknya pendingin ruangan yang terpasang di sudut langit-langit.Davian tidak lagi bisa menahan diri. Sentuhan lembut Viona tadi seolah menjadi pemantik api yang membakar seluruh pengendalian diri pria itu. Matanya menggelap, dipenuhi kabut gairah yang menuntut penuntasan.Davian tampak tergesa-gesa saat jemarinya yang gemetar karena hasrat mulai membuka mini dress yang dikenakan oleh Viona.Dia tidak sabar, tarikannya begitu kuat hingga beberapa kancing kecil di bagian belakang gaun itu terlepas.Bersamaan dengan itu, Davian menghujani wajah dan leher Viona dengan ciuman panas membara yang membuat Viona mendesah pelan.Viona bisa merasakan betapa liarnya Davian sore ini, seolah pria itu sedang menuangkan seluruh rasa takut kehilangan dan cintanya yang meluap ke dalam setiap sentuhan.Dalam sekejap, gaun itu jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Viona telanjang sepenuhnya di bawah sorotan lampu galeri yang remang. Kulitn

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 113: Meremehkan Cara Melukis Viona

    Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Viona sedang berdiri di depan kanvas besarnya, memegang palet dengan gerakan yang sangat presisi.Dia baru saja akan menyapukan warna biru kobalt saat sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya dari belakang.Davian menyandarkan dagunya di bahu Viona, menghirup aroma cat dan parfum mawar yang selalu melekat pada tubuh istrinya.“Sepertinya melukis itu mudah, Viona. Kau hanya menggerakkan tanganmu dan tiba-tiba ada wajah manusia di sana,” bisik Davian dengan pelan.Viona terkekeh, namun dia tetap fokus pada kanvasnya. “Mudah katamu? Aku butuh waktu sepuluh tahun untuk membuat gerakan ini terlihat mudah di matamu, Davian.”“Boleh aku mencoba?” tanya Davian tiba-tiba.Viona menoleh, menatap suaminya dengan ragu. Davian yang biasanya memegang pulpen mahal untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, kini ingin memegang kuas?“Kau serius? Jasmu bisa terkena noda cat, dan aku tidak mau mendengar keluhanmu soal harga setelan itu nanti.”“Buka saja jasn

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 112: Alasan Davian Membenci Vincent

    Pagi itu, langit di atas pemakaman mewah keluarga Cameron tampak kelabu, seolah-olah awan sengaja menahan diri untuk tidak menumpahkan hujan.Davian berdiri tegak di depan sebuah nisan marmer hitam yang kokoh, tempat mendiang ayahnya beristirahat.Dia mengenakan setelan hitam formal yang membuat auranya terasa semakin dingin.Di sampingnya, Viona berdiri dengan gaun senada, jemarinya menggenggam sebuket bunga lili putih, bukan anggrek yang kemarin sempat memicu badai di rumah mereka.Davian meletakkan tangannya di atas nisan itu, mengusap debu imajiner dengan gerakan yang tidak menunjukkan kerinduan, melainkan beban.“Papa pergi saat aku baru saja menyelesaikan kuliah di luar negeri,” ujar Davian memecah kesunyian.“Dia meninggalkan kekaisaran yang tampak megah dari luar, tapi sebenarnya sedang digerogoti utang dan skandal internal. Aku harus menghadapi semuanya sendirian, Viona.”Viona menoleh lalu menatap profil samping suaminya yang tampak keras. “Kau tidak punya pilihan lain saat

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 111: Aku akan Memberikannya

    Viona duduk diam di sofa ruang tengah yang luas, menumpu dagu dengan sebelah tangannya sementara matanya tak lepas dari rangkaian bunga anggrek putih yang diletakkan Vincent di atas meja kaca.Kelopak bunga itu tampak segar, namun entah mengapa, kehadirannya justru terasa mengintimidasi.“Apakah anggrek ini juga bunga kesukaan Alicia?” gumam Viona pelan pada dirinya sendiri.Dia mulai meragukan niat baik siapa pun yang datang ke rumah ini. Apakah Vincent sengaja membawa anggrek ini hanya untuk memancing amarah Davian?Atau ada pesan tersembunyi yang jauh lebih gelap di balik pilihan bunga yang tampak elegan ini?Viona menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa curiga yang mulai meracuni pikirannya, lalu dia menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk.Elian muncul dengan wajah yang tampak lelah namun bersih. Dia baru saja menyelesaikan jadwal koasnya hari ini.Elian melepas jas dokternya, namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menan

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 110: Bukan hanya Sekadar Ego

    Lantai teratas gedung Cameron Corp yang biasanya tenang oleh kedisiplinan tinggi, siang itu terasa mencekam.Davian duduk di balik meja kerja mahoninya yang luas, matanya terpaku pada layar monitor, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik.Konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan, dan langkah kaki yang sangat dia kenali bergema di lantai marmer.Vincent melangkah masuk dengan gaya santai yang meremehkan. Dia berdiri di depan meja Davian, kemudian menarik napas seolah menikmati aroma kekuasaan di ruangan itu.“Marsha masih mencoba menghubungimu, hm? Atau mungkin kau yang sengaja membiarkan pintunya tetap terbuka?” tanya Vincent dengan senyum miring yang provokatif.Davian tidak sedikit pun mendongakkan kepalanya. Dia terus mengetik, mengabaikan kehadiran adiknya seolah-olah Vincent hanyalah butiran debu yang mengganggu pemandangan.Suasana hening sejenak, hanya menyisakan bunyi klik dari mouse dan deru pendingin ruangan yang halus.Vincent mendengus, me

  • Jerat Obsesi Empat Majikan Tampan   Bab 109: Senang Sekali Jadi Provokator

    Aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruang lukis pribadi Viona yang luas. Cahaya matahari pagi masuk dengan sempurna melalui jendela-jendela besar, menyinari kanvas yang kini sedang dia kerjakan.Hatinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Kejadian semalam, keintiman yang jujur dengan Davian, seolah menghapus lapisan debu yang selama ini menutupi keceriaannya.Viona sedang fokus melukis wajah seorang wanita muda tampak dari samping. Sapuan kuasnya terasa lebih luwes, menangkap lekuk rahang dan sorot mata figur dalam lukisan itu dengan detail yang tajam. Dia tidak lagi melukis dengan amarah; dia melukis dengan harapan.Suara langkah kaki yang santai terdengar mendekat, disusul ketukan pelan di bingkai pintu yang terbuka.“Kau terlihat sangat serius, Viona,” sapa sebuah suara yang familiar.Viona menoleh dan mendapati Vincent, adik kedua Davian, berdiri di sana dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Viona meletakkan paletnya sejenak dan tersenyum.“Oh, kau rupanya, Vincent.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status