Masuk"Selira." Suaranya mengeras sedikit. "Aku cuma mau tau satu hal." Aku menatapnya. Dan dalam detik itu, aku tahu bahwa dia sudah mencium sesuatu. Sesuatu yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat. "Waktu aku menceraikanmu..." ucapnya perlahan. Setiap kata seperti menghantam dada, "apa kamu sedang hamil?"
Lihat lebih banyakPov RendraSore itu Jakarta sedang ramai-ramainya. Langit berwarna jingga kusam, jalanan penuh suara klakson, dan udara terasa berat oleh debu serta sisa panas matahari. Aku berdiri beberapa meter dari minimarket tempat Selira bekerja sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.Sudah hampir dua puluh menit aku di sana.Dua puluh menit hanya untuk memastikan aku benar-benar siap masuk.Lucu. Aku pernah menghadapi orang bersenjata tanpa rasa takut, pernah duduk satu meja dengan bandar yang bisa membunuh seseorang hanya karena nada bicara yang salah. Namun, sekarang, untuk melangkah masuk menemui satu perempuan saja, lututku terasa lebih lemah dari seharusnya.Aku mengangkat kepala dan melihat pantulan diriku di kaca depan minimarket.Wajahku memang berubah.Lebih kurus. Lebih lelah.Beberapa minggu terakhir hidupku seperti lorong sempit yang perlahan menutup dari segala arah. Setelah sidang itu, semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang mulai bicara. Nama-nama mulai disebut. Jal
Mobil melaju pelan di bawah langit yang mulai berubah warna. Senja turun perlahan, menyisakan cahaya keemasan yang memantul di kaca depan. Jalanan di perbatasan itu sepi.Kami sudah menyelesaikan semuanya.Keluarga saksi sudah aman. Identitas baru, tempat tinggal baru, dan pekerjaan baru.Dunia lama mereka perlahan ditinggalkan, meski luka itu jelas tidak akan pernah benar-benar hilang.Aku bersandar di kursi, menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadaku terasa tidak sesak.Reva duduk di sampingku. Diam seperti biasanya kalau pikirannya sedang penuh. Namun kali ini, diamnya berbeda.Aku meliriknya. “Capek?”Dia menggeleng pelan. “Bukan capek, cuma lagi mikir.”“Mikir apa?”Reva menoleh. Tatapannya tidak lagi setajam biasanya, lebih lembut dan lebih terbuka.“Kita udah sejauh ini ya.”Aku tersenyum tipis. “Iya. Dari yang awalnya hampir saling bunuh tiap briefing.”Dia mendengus kecil. “Itu karena lo nyebelin.”“Sekarang?”Reva tidak langsung jawab. Dia just
Putusan itu akhirnya jatuh, bersih, tegas, dan tidak menyisakan celah.Selira bebas.Ruang sidang riuh, tetapi bagiku semuanya terdengar seperti gema jauh yang tidak benar-benar penting lagi.Fokusku sudah berpindah sejak beberapa menit sebelumnya, bukan lagi ke hasil, tetapi ke konsekuensi. Karena setiap kemenangan seperti ini selalu ada harga yang harus segera dibayar.Aku keluar dari ruang sidang lebih dulu. Tidak ikut dalam momen haru. Bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu paham bahwa pekerjaan kami belum selesai.Masih ada satu janji yang harus kutepati.Janji pada seseorang yang sudah tidak bisa menagihnya lagi.Di lorong belakang Arman sudah menunggu. Tangannya bersedekap, wajahnya datar tapi matanya langsung menangkap maksud kedatanganku.“Sudah diputus,” kataku singkat.“Saya tau,” jawabnya. “Tim kita di luar langsung kirim update.”Aku mengangguk. “Kita jalan sekarang.”Arman tidak banyak tanya. Hanya mengangguk sekali. “Reva di parkiran. Semua sudah siap.”Aku be
Beberapa hari setelah sidang itu, suasana belum benar-benar tenang. Setidaknya tidak di kepalaku.Kemenangan kecil yang kami dapatkan di ruang sidang terasa seperti ilusi tipis yang bisa runtuh kapan saja.Nama Rendra sudah terucap di depan semua orang, bukti sudah dipaparkan, dan saksi sudah bicara. Namun, aku tahu bahwa permainan seperti ini tidak akan berhenti hanya karena satu hari sidang.Dan aku benar.Pagi itu aku sedang berada di kantor, merapikan ulang berkas dan mencoba menyusun langkah berikutnya, ketika ponselku bergetar.Nomor dari rumah sakit. Dadaku langsung berdebar kencang.Aku menjawab cepat. “Ya.”“Pak Bagas…” Suara di seberang terdengar pelan, hati-hati, “kondisi saksi menurun. Kami butuh Anda ke sini.”Aku menutup mata sebentar. Nada itu… aku kenal.“Dia?” tanyaku singkat. Hening sepersekian detik.“Cepat.”Aku tidak menunggu dan langsung bergegas.Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak seperti ma
PoV SeliraMalam turun perlahan di apartemen kami. Lampu-lampu kota mulai menyala di luar jendela, memantulkan cahaya lembut di kaca ruang tamu. Dari lantai setinggi ini, Jakarta terlihat seperti lautan cahaya kecil yang bergerak pelan.Apartemen sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam lal
PoV RakaEnam bulan setelah semuanya berakhir, hidup akhirnya benar-benar terasa tenang. Bukan tenang seperti jeda sebelum badai. Bukan juga tenang yang dipenuhi rasa waspada, tapi tenang yang sederhana.Tenang yang terasa seperti rumah.Kasus jaringan narkotika yang dulu mengguncang kota ini akhir
PoV SeliraSejak penyidikan di kantor BNN hari itu, hidupku terasa seperti berjalan di atas sesuatu yang rapuh. Dari luar semuanya tampak normal. Aku masih bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk Arsa dan Raka. Lalu membereskan apartemen dan menghabiskan waktu dengan membaca buku atau menonton telev
PoV RakaPagi itu televisi di ruang tamu menyala sejak aku bangun. Suara pembawa berita memenuhi apartemen. Bercampur dengan suara sendok yang Selira gunakan di dapur dan suara kecil Arsa yang sedang bermain robot di lantai.Aku berdiri di depan televisi dengan tangan menyilang di dada. Di layar,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan