Se connecterLari dari perjodohan, Viona Estella melamar menjadi pelayan di sebuah mansion mewah. Dia pikir hidupnya akan tenang, hanya perlu mengurus rumah dan melayani empat majikan pria yang tampan. Namun, ketenangan itu hancur saat dia mendengar Davian Cameron—si sulung yang otoriter berbicara di telepon. Fakta menghantam Viona dengan keras: Davian adalah calon suami yang dia hindari! Saat Viona mengemasi barang untuk kabur, keempat bersaudara itu sudah berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan keluarnya. "Masuk ke kandang singa mungkin sebuah kesalahan, Viona. Tapi mencoba keluar darinya adalah hal yang mustahil." Kini, Viona terperangkap selamanya dalam jerat obsesi empat pria yang tidak akan pernah melepaskannya.
Voir plus“Aku tidak bisa kembali,” bisiknya pada diri sendiri. “Lebih baik mati di jalanan ini daripada harus menikahi rentenir tua itu.”
Di trotoar yang basah dan licin, Viona menyeret langkahnya yang semakin berat. Gaun selutut berwarna cream yang membalut tubuh rampingnya kini tak lagi berbentuk; basah kuyup, kotor oleh cipratan lumpur, dan menempel dingin di kulitnya yang memucat.
Wanita berusia 25 tahun itu berhenti sejenak di bawah naungan halte bus yang lampunya berkedip sekarat. Dia menatap pantulan dirinya di kaca buram halte. Menyedihkan.
Rambut panjangnya lepek, bibirnya membiru, dan kakinya—oh, kakinya adalah sumber siksaan utama saat ini.
Sepatu hak tingginya telah lama dia tanggalkan dan kini tergenggam erat di tangan kanan, sementara telapak kaki telanjangnya penuh dengan luka gores akibat kerikil tajam trotoar.
Bayangan wajah ayahnya yang memelas dan ibunya yang menangis saat memaksanya menerima lamaran demi melunasi utang keluarga kembali menghantui.
Viona menggeleng kuat-kuat untuk mengusir memori itu. Ia merogoh saku gaunnya, jari-jarinya yang gemetar menyentuh dua keping logam dingin.
Hanya itu sisa hartanya. Tidak cukup untuk membeli roti, apalagi menyewa kamar motel termurah di kota asing ini.
Sebuah cahaya lampu sorot yang menyilaukan tiba-tiba memecah kegelapan, memaksa Viona menyipitkan mata.
Di seberang jalan, sebuah gerbang besi hitam setinggi lima meter menjulang angkuh. Cameron Estate. Tulisan emas di pilar marmer itu berkilau tertimpa lampu jalan. Itu adalah kawasan paling elit di Vernonia, benteng kemewahan yang tak tersentuh oleh rakyat jelata.
Sebuah truk boks logistik sedang berhenti di depan gerbang, mesinnya menderu kasar seolah tidak sabar. Viona melihat seorang supir berteriak kepada penjaga gerbang dari jendela truk yang terbuka separuh. Instingnya menyuruhnya mendekat, berharap ada keajaiban.
“Buka gerbangnya, Viktor! Demi Tuhan, ini sudah terlambat!” teriak sang supir yang terdengar jelas meski beradu dengan suara hujan.
Viktor, sang kepala keamanan yang bertubuh raksasa dengan seragam hitam ketat, tidak bergeming. Ia berdiri di balik pos penjagaan dengan wajah masam.
“Prosedur tetap prosedur, Yanto. Tunjukkan surat jalanmu. Tuan Besar sedang dalam perjalanan menuju kemari!”
“Ah, sial! Kau tahu, di dalam truk ini ada pesanan katering tambahan yang diminta langsung oleh Nyonya Martha!” Supir itu memukul kemudi dengan frustrasi.
“Kau tahu kan, tiga pelayan dapur baru saja dipecat satu jam yang lalu karena menumpahkan sup ke celana Tuan Julian? Mereka kekurangan orang di dalam! Kepala Pelayan sedang murka.”
Viona yang bersembunyi di balik pilar jembatan layang tersentak. Kekurangan orang. Pelayan dipecat.
Kata-kata itu berdenging di telinganya seperti lonceng keselamatan. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi karena adrenalin yang memuncak. Ini satu-satunya kesempatan.
Tanpa berpikir panjang, Viona menyeberang jalan dengan langkah tertatih. Rasa perih di kakinya ia abaikan. Ia harus terlihat layak, setidaknya ia harus mencoba.
Truk logistik itu baru saja menderu masuk ketika Viktor hendak menekan tombol penutup gerbang. Langkah kaki Viona yang menyeret air menarik perhatian pria besar itu. Viktor berbalik, wajah garangnya seketika mengerut jijik.
“HEI! BERHENTI!” Hardik Viktor dan tangannya dengan sigap memegang pentungan di pinggang. “Ini bukan panti sosial! Enyah kau dari sini!”
“Saya ... saya bukan pengemis, Pak,” ucap Viona dengan suara gemetar karena kedinginan.
Viktor tertawa sarkas. “Oh ya? Mataku masih normal, Nona. Kau terlihat seperti tikus got yang baru lolos dari banjir. Pergi dari sini sebelum aku panggil polisi patroli untuk menyeretmu!”
Viona menelan ludahnya sembari menahan air mata yang hendak tumpah.
Dia lalu melangkah maju satu langkah dengan nekat. “Tunggu! Saya mendengar pembicaraan Bapak dengan supir tadi. Kalian butuh tenaga tambahan. Saya mau melamar jadi pelayan di rumah ini.”
Viktor tertegun sejenak, lalu matanya menyipit tajam. “Kau menguping? Lancang sekali. Dan apa yang membuatmu berpikir Cameron Estate akan mempekerjakan gembel sepertimu? Kami butuh yang profesional, bukan wanita yang bahkan tidak punya alas kaki.”
Viona terdiam sembari memegang erat gaun lusuhnya itu. Pria itu melangkah maju dengan postur tubuh yang mengintimidasi.
Bayangan tubuh besarnya menelan Viona. “Sekarang pergi, atau kulempar kau ke parit!”
“Saya akan bekerja apa saja!” Viona berteriak putus asa saat Viktor mulai mendorong bahunya dengan kasar. “Cuci piring, angkat barang, membersihkan lantai. Saya hanya butuh tempat berteduh dan makanan malam ini. Saya mohon!”
“Cukup!” Viktor kehilangan kesabaran. Ia mencengkeram lengan Viona kuat-kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan. “Aku sudah berbaik hati memberimu peringatan lisan!”
Viona meronta, namun tenaga Viktor terlalu kuat. Ia didorong kasar ke belakang hingga hampir terjungkal ke aspal yang keras. “Lepaskan! Anda menyakiti saya!”
“Maka enyahlah! Tempat ini bukan untuk orang sepertimu!” Viktor mengangkat tangannya, siap mendorong Viona keluar area gerbang sepenuhnya.
Namun, sebelum tangan kasar itu menyentuh Viona lagi, sebuah sorot lampu LED yang tajam dan kebiruan membelah kegelapan dari arah jalan raya, menyilaukan mata mereka berdua.
Suara mesin mobil yang halus namun bertenaga terdengar mendekat, bagaikan auman binatang buas yang tertahan.
Viktor membeku. Wajah garangnya seketika berubah pucat pasi. Ia segera melepaskan cengkeramannya dari lengan Viona dan berdiri tegak dengan sikap sempurna, seolah patung lilin.
Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam matte, jenis yang harganya bisa membeli satu blok perumahan di pinggiran kota berhenti tepat di depan gerbang, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempat Viona berdiri mematung.
Jantung Viona serasa berhenti berdetak. Ia terjebak di antara penjaga yang kasar dan monster besi yang baru datang ini. Perlahan, kaca jendela mobil di sisi penumpang turun dengan desingan halus elektronis.
Aroma cologne maskulin yang mahal menyeruak keluar, melawan bau hujan dan tanah basah. Di dalam sana, duduk seorang pria muda. Wajahnya terpahat sempurna dengan rahang tegas dan mata setajam elang.
Davian Cameron. Pria itu menatap lurus ke depan sejenak, sebelum perlahan menolehkan kepalanya ke arah keributan.
“Ada alasan khusus mengapa ada keributan di gerbang utamaku saat aku lelah setelah rapat panjang?”
Viktor membungkuk dalam-dalam, keringat dingin bercampur air hujan di dahinya.
“Maafkan saya, Tuan Muda! Wanita gila ini, dia memaksa masuk. Dia mengganggu ketertiban. Saya sedang berusaha mengusirnya agar tidak menghalangi jalan Anda.”
Davian tidak menatap Viktor. Matanya yang dingin terkunci lurus pada Viona. Ia menyapu pandangannya dari kaki Viona yang berdarah, naik ke gaunnya yang koyak, hingga ke wajahnya yang pucat dan basah oleh air mata.
Davian mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke jendela yang terbuka. Tatapannya menusuk Viona, menilai, menimbang. “Kau ... yang berdiri di sana dengan gemetar. Kau membutuhkan pekerjaan?”
Viona mengangguk pelan. “Be-benar, Tuan.”
Davian menatap datar wajah Viona dari atas hingga ke bawah.
“Masuklah,” perintah Davian santai. Sementara Davian masuk kembali ke mobilnya dan melaju menuju garasi rumah.
Sementara Viona berlari dengan sisa tenaganya mengejar Davian yang sudah turun dari mobil mewahnya.
Davian melirik sekilas dengan ekspresi datarnya. “Kau diterima sebagai pelayan di sini. Selamat datang di neraka barumu,” gumam Davian dingin. “Berdoalah kau tidak menyesali keputusanmu malam ini.”
“Tunggu dulu ... lelucon macam apa ini, Kak?”Mata Julian membelalak tak percaya saat membandingkan foto wanita anggun di dalam map dengan sosok pelayan kusam yang kini gemetar di hadapannya.Dia lalu bangkit dari kursi dengan gerakan kasar hingga kakinya menyenggol meja dan membuat botol kristal bergetar.“Viona Estella? Putri tunggal Mike yang bangkrut itu?” Julian menatap Viona dengan pandangan baru, bercampur di antara rasa takjub dan ngeri. “Jadi, maid kecil yang baru saja kugoda untuk minum bersama ini adalah calon kakak iparku?”Elian yang duduk di sebelahnya tersedak minumannya sendiri. Dia lalu meletakkan gelas itu dengan keras. “Sialan. Pantas saja kau bilang dia punya struktur wajah bangsawan. Kita baru saja mencoba menggoda tunangan Davian Cameron?”Davian tidak memedulikan keterkejutan adik-adiknya. Pandangannya terpaku pada Viona, dengan tatapan tajam dan mematikan seperti mata pisau yang baru diasah.Dia lalu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma
Viona merayap di sepanjang dinding lorong pelayan, tas kain lusuhnya didekap erat di dada. Napasnya pendek-pendek, tertahan oleh rasa takut yang menghimpit paru-parunya.Pikirannya terus memutar ulang suara bariton Davian yang penuh kebencian: “Seret dia ke sini. Aku akan pastikan dia menyesal seumur hidupnya.”“Aku harus keluar,” isaknya tanpa suara.Air mata membasahi pipinya, namun dia segera menyekanya dengan kasar. Jika dia tertangkap sekarang, dia bukan lagi hanya seorang pelayan yang melarikan diri, tapi buronan yang masuk ke jebakan secara sukarela.Viona sampai di pintu baja berat menuju area belakang rumah, akses yang biasanya digunakan oleh kurir logistik dan tukang kebun.Dia tahu gerbang depan dijaga ketat oleh Viktor yang raksasa, maka satu-satunya harapan adalah memanjat pagar rendah di dekat area rumah kaca belakang.Dengan tangan gemetar, dia menekan tuas pintu tersebut. Dia sudah bersiap mendengar suara alarm yang memekakkan telinga, namun yang terdengar hanyalah des
“Bajingan! Gadis kecil itu rupanya ingin main-main denganku!”Setelah mengatakan hal itu, Davian menutup panggilan tersebut dan menurunkan ponselnya perlahan, punggung tangannya yang lebar menegang, menampakkan urat-urat yang menonjol akibat emosi yang belum sepenuhnya mereda.Di sudut ruangan, tepat di ambang pintu walk-in closet tempatnya tadi berusaha bersembunyi, Viona berdiri kaku.Dia ingin melangkah keluar sepersekian detik sebelum Davian benar-benar memergokinya menguping di dalam sana, sebuah keputusan impulsif yang didorong oleh insting bertahan hidup.Lebih baik terlihat sedang bekerja membersihkan debu di area lemari daripada tertangkap basah bersembunyi seperti tikus pengintai.Davian memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya yang tajam dan dingin langsung terkunci pada sosok mungil yang berdiri gemetar di dekat deretan jas mahalnya.Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang menyiksa. Viona merasa seolah lantai di bawah kakinya berubah menjadi es tipis
Wajah Viona berubah menjadi pucu pasi, seolah darahnya disedot habis. “Sa-saya, Tuan? Tapi ... saya baru bekerja tiga hari! Saya bahkan belum hafal letak ruangan-ruangan di lantai atas!”“Tidak ada pilihan lain,” tegas Sebastian. “Tuan Davian membutuhkan kamarnya dibersihkan dari pecahan gelas dan noda kopi sekarang juga. Mood-nya sedang sangat buruk, jadi tidak ada pelayan lain yang berani masuk.”“Tunggu sebentar, Sebastian,” sela Elian, wajahnya kini tampak khawatir.“Kau mengirim anak kucing ini ke kandang singa yang sedang terluka? Dia akan dimakan hidup-hidup. Lihat tangannya, dia bahkan gemetar memegang kain pel.”“Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Elian,” jawab Sebastian kaku. “Tuan Davian meminta pengganti sekarang. Jika tidak ada yang masuk dalam lima menit, dia akan memanggil kepala keamanan.”Sebastian kembali menatap Viona yang kini tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat ia bersembunyi di balik pilar.“Dengar, Viona,” perintah Sebastian dengan nada fin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.