Share

Bab 5

Penulis: Major_Canis
"Menurutku, dasi ini yang paling cocok untukmu."

Anisa mengambil satu dasi dari sekian banyak koleksi yang dimiliki Dimas. Dia tahu Dimas hanya meladeninya karena perjanjian itu, tetapi Anisa berusaha tidak memusingkannya. Yang terpenting sekarang, rencananya tetap berjalan, setidaknya sampai perjanjian itu berakhir.

Lagi pula, setelah itu mereka takkan pernah bertemu lagi. Jadi, tak ada salahnya dia berpura-pura seolah mimpinya terwujud, sebuah fantasi romantis di mana suami tercintanya ada hanya untuk dirinya. Kemudian, ketika mimpi itu berakhir, dia akan kembali pada realita pahitnya, yaitu menjadi seorang perempuan yang ditakdirkan hidup seorang diri.

Anisa memainkan perannya dengan anggun dan tenang, tak pernah meminta imbalan apa pun. Selama Dimas tidak mengusirnya, Anisa menganggap itu sebagai bentuk penerimaan, meski dengan enggan. Setiap gerakan yang dia buat, setiap kata yang dia ucapkan, meninggalkan jejak yang tak bisa diabaikan oleh Dimas.

Dimas mengangkat alis. "Aku bisa urus diriku sendiri."

"Aku tahu," kata Anisa sambil tersenyum simpul. "Tapi biarkan aku memilih sesuatu untukmu hari ini."

Dia menaruh setelan jas dan dasi yang serasi di sofa.

"Terserah kamu saja," gumam Dimas tanpa melihat ke arahnya. "Kamu itu bodoh .... Menghabiskan waktumu buat hal-hal nggak berguna seperti ini ...."

Anisa berbalik ke arahnya, tampak tenang. Tidak terluka. Tidak tersinggung. Senyum simpul tidak pernah pudar dari bibirnya.

"Mungkin. Sabar saja. Cuma sebulan kok."

"Dimas, Sayang!"

Suara melengking seorang wanita yang berlebihan dan terlalu bersemangat mengoyak udara, membuat Anisa terpaku.

Dimas pun buru-buru mengenakan blazernya seolah seseorang sudah menunggunya.

"Itu ... Vera?" tanya Anisa.

"Aku nggak tahu kenapa dia kemari sepagi ini." Dimas berjalan keluar dari kamar. Anisa berusaha agar tetap terlihat tenang sebelum menyusul Dimas dari belakang.

Di ruang tamu, Vera dan Jesika sedang asyik mengobrol. Wajah mereka terlihat lebih berseri saat melihat Dimas datang. Namun ...

"Ngapain kamu di sini?" kata Jesika dengan ketus, matanya menatap wanita di belakang Dimas dengan tajam.

Anisa tersenyum. "Aku cuma mau antar suamiku berangkat kerja."

Vera tertawa terbahak-bahak, disusul oleh Jesika. Tawa mereka penuh dengan cemooh.

"Ya Tuhan! Kamu dengar itu, Vera?" kata Jesika di sela-sela tawanya.

"Nggak tahu malu sekali ini perempuan," ejek Vera, tangannya disilangkan di depan dada.

"Cukup," sela Dimas, tidak ingin memulai harinya dengan melihat drama mereka. "Apa yang membuatmu datang sepagi ini, Sayang?"

Vera segera menghapus raut kesal dari wajahnya dan merapat manja pada Dimas, tidak memedulikan Anisa yang menatap mereka dengan lembut, sendu, dan pasrah. Memang seperti inilah seharusnya. Vera memang milik Dimas, sementara Anisa hanyalah orang luar yang sejak awal tidak pernah diterima di rumah ini.

"Aku mau minta kamu antar aku ke studio, Sayang," kata Vera dengan manja.

Dimas terlihat sedikit kesal, tetapi dia tidak melawan. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menurut. "Baiklah. Ayo."

Anisa menyaksikan semuanya dan berusaha meneguhkan hatinya. Ini bukan pertama kali, juga bukan terakhir kalinya dia akan menyaksikan Dimas dan Vera memamerkan kemesraan mereka di depannya.

Seharusnya, sekarang dia sudah terbiasa dengan rasa sakit itu.

Namun, tetap saja ... rasanya masih sakit.

"Hati-hati di jalan, Dimas," katanya dengan lembut.

Kata-kata itu membuat Dimas berhenti sejenak dan menoleh.

Anisa tersenyum tipis ke arahnya, mata cokelatnya menatap mata pria itu, lembut dan tulus.

"Semoga harimu menyenangkan," tambah Anisa.

"Ayo." Vera buru-buru menggapai tangan Dimas, menariknya menuju pintu dengan ekspresi menahan amarah. Kalau bukan karena janji dengan orang studio, dia pasti sudah menghabiskan waktunya untuk memastikan Anisa tidak berbuat di luar batas.

'Sial! Ini semua salah Dimas karena sudah memberi wanita itu terlalu banyak kesempatan!'

Begitu mereka pergi, Anisa mengembuskan napas panjang yang bergetar. Rasa sakit di dadanya tak juga mereda. Dia perlu menenangkan diri. Namun, ketika dia berbalik dan hendak meninggalkan ruang tamu, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

Rasanya perih .... Sangat perih.

"Sadar diri, Anisa!" teriak Jesika, matanya membelalak marah. "Kamu itu cuma parasit di hubungan anakku dengan Vera. Benar-benar menjijikkan, dasar perempuan nggak tahu malu!"

Anisa memegang pipinya yang panas, terkejut.

"Apa kamu buta? Kamu nggak lihat betapa mesranya mereka? Mereka itu serasi, Anisa. Sementara kamu?" Jesika mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke wajah Anisa. "Kamu itu cuma orang luar yang menyedihkan, numpang tinggal di sini karena dikasihani ibuku. Kamu itu seharusnya bersyukur kami masih mau membiarkanmu tinggal."

Anisa hanya bisa menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar.

"Jangan pernah mimpi bisa menjadi bagian dari keluarga ini!"

....

"Ibu," bisik Anisa. Pipinya masih terasa nyeri, tetapi dia tidak bisa mundur dari keputusan yang sudah dia buat. "Tolong bantu kuatkan aku untuk terus bertahan."

Dia menatap pantulan dirinya di cermin tinggi. Gaun yang dia kenakan adalah hadiah dari Evelin, wanita baik hati dan penuh kehangatan yang begitu dekat dengannya.

Kepergian Evelin meninggalkan kekosongan mendalam di hati Anisa. Sama seperti saat dia kehilangan ibunya sendiri, yang mengembuskan napas terakhirnya setelah cedera kepala fatal akibat kecelakaan itu .... Anisa tak mampu berhenti menangis.

Evelin diam-diam membeli beberapa gaun elegan untuknya, berkata bahwa mungkin suatu hari Anisa bisa menghadiri acara resmi bersama Dimas. Sayangnya, hari itu tidak pernah datang.

Hingga malam ini.

Anisa mengenakan gaun berwarna emas pucat yang berkilau lembut di bawah cahaya. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan potongan sederhana tetapi berkelas. Garis lehernya terbuka, hanya dihiasi kalung mutiara lembut peninggalan terakhir ibunya.

Rambut Anisa ditata dalam sanggul rendah, rapi dan lembut, beberapa helainya di bagian depan membingkai wajahnya. Riasannya tipis, cukup untuk menonjolkan ketenangan di matanya dan senyum lembut yang menghiasi bibirnya. Dia tidak terlihat seperti wanita dari latar belakang sederhana. Anisa Kumala benar-benar terlihat seperti bangsawan yang keluar dari cerita klasik.

"Ini yang Dimas minta dariku .... Bagian dari peranku sebagai istrinya, 'kan? Semoga saja ... aku bisa melewati malam ini dengan lancar," bisiknya kepada diri sendiri, berusaha mengumpulkan keberanian.

Saat dia membuka pintu dan melangkah ke aula utama, Dimas sudah ada di sana, berdiri sambil sibuk menggulir layar ponselnya, seolah dunianya terlalu penuh untuk memperhatikan hal lain.

Dia tiba-tiba berhenti menggulir ketika mendengar bunyi ketukan sepatu hak di lantai. Matanya terangkat dan ekspresinya sedikit berubah. Dia tak berucap apa-apa, tetapi tatapannya terpaku pada Anisa. Tangannya terkulai jatuh, ponsel dalam genggamannya terlupakan, dan garis samar terbentuk di antara alisnya.

Anisa berjalan mendekat, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. "Sudah ... menunggu lama?"

"Nggak," jawab Dimas singkat.

"Apa ... apa gaunnya terlalu berlebihan?" tanyanya, sedikit gugup karena terus ditatap Dimas. Bagaimanapun, pria ini belum pernah menatapnya seperti itu sebelumnya. "Kalau terlalu berlebihan, aku akan ganti ke yang lainnya saja."

"Nggak usah," balas Dimas dengan tenang. Ayo, mobilnya sudah menunggu."

Selama perjalanan, Dimas lebih banyak diam. Namun, dia tidak menjauh seperti biasanya. Dia duduk tenang di samping Anisa, dan untuk pertama kali, dia tidak menghindar saat Anisa secara naluriah meraih dasinya untuk merapikannya.

Tangan Anisa terhenti ketika jemarinya menyentuh kerah kemeja. Mata mereka bertemu hanya sekejap, tetapi itu cukup membuat Dimas menarik napas secara tajam dan cepat-cepat memalingkan wajah ke arah jendela.

"Ah, maaf," ucap Anisa buru-buru, menarik tangannya untuk memberi ruang.

Dimas tetap tak berkata apa-apa.

"Aku nggak akan berdiri terlalu dekat denganmu malam ini," kata Anisa setelah diam sejenak, suaranya tenang tetapi hati-hati. "Karena sebentar lagi kamu akan menikahi Vera, kurasa sudah sepatutnya aku tahu batasan."

Dimas menoleh perlahan, tatapannya tajam. "Apa maksudmu?"

"Nanti aku akan berdiri sedikit di belakangmu," jelas Anisa dengan lembut sambil menampilkan senyum tipisnya, berusaha terdengar masuk akal. "Mungkin aku akan berdiri di sisi kananmu, jaraknya sedikit ke belakang, cukup supaya kamu tahu aku ada di sana dan ... nggak mengganggumu. Aku nggak mau terjadi kesalahpahaman."

Dimas memejamkan mata untuk sesaat sebelum membukanya kembali, suaranya rendah dan dingin. "Kalau kamu berani menjauh dariku atau berpura-pura bukan istriku di depan mereka ...," katanya dengan nada ancaman yang tenang. "Kamu akan menyesal."

Anisa mematung. Dia menatap Dimas, tak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. "Dimas, aku cuma ...."

"Nggak ada 'cuma'," bentaknya, matanya menyipit. "Malam ini, kamu berdiri di sampingku. Sebagai istriku. Seperti seharusnya."

Keheningan pekat menyelimuti mereka.

Anisa sedikit menundukkan kepala, membiarkan beberapa helai rambut jatuh menutupi wajahnya.

"Baiklah ...," bisik Anisa akhirnya. "Kalau itu yang kamu mau."

Namun, di dalam hatinya, satu pertanyaan terus menggema.

'Kenapa? Kenapa Dimas melakukan ini?'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 50

    "Kadang aku lupa betapa menenangkannya keheningan seperti ini," kata Kelvin pelan.Anisa menimpali sambil mengangguk, "Setelah bertahun-tahun hidup dalam kekacauan dan kebisingan, inilah jenis ketenangan yang paling aku syukuri."Kelvin menoleh ke arahnya. Tatapannya mantap ketika berujar, "Aku harap semua kekacauan itu nggak pernah membuatmu merasa dirimu nggak berharga."Anisa menundukkan pandangan untuk menyeruput kopinya. Kemudian, dia berucap, "Itulah alasan aku sangat menghargai hidup yang aku jalani sekarang. Terutama dengan Jevan di sisiku. Aku benar-benar bersyukur.""Apakah rasa syukur itu juga berlaku untukku?" tanya Kelvin lembut,. Sepasang matanya terkunci pada mata Anisa.Anisa menanggapi, "Tentu saja aku juga bersyukur karena ada kamu, Pak Kel ....""Kamu sudah berjanji nggak memanggilku begitu di luar sekolah, apalagi saat kita nggak lagi bareng Jevan," potong Kelvin sambil memasang ekspresi seolah kesal, tetapi jelas bercanda.Anisa terkekeh-kekeh. Dia berujar, "Kamu s

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 49

    "Enak banget, Bu!" seru Jevan sambil menyuapkan satu garpu besar makaroni panggang ke mulutnya. Wajah kecilnya langsung bersinar kegirangan, lalu dia mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke arah Anisa sebagai tanda puas."Aku setuju, Jagoan Kecil," tambah Kelvin sambil mengangguk. Nada suaranya penuh apresiasi ketika melanjutkan, "Bu Anisa, sejujurnya aku jadi penasaran apa kamu pernah ikut kelas memasak? Soalnya masakanmu itu bikin ketagihan. Bisa-bisa aku mulai mengidamkannya setiap hari lho."Anisa tersenyum ke arah Kelvin. Dia berusaha menyembunyikan rasa hangat yang naik ke pipinya. Wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri dengan menuangkan air ke gelas Jevan.Anisa membalas, "Kalian makan yang banyak saja. Terutama kamu, Jev. Jangan bicara sambil mengunyah, nanti tersedak lho.""Ya, Bu," jawab Jevan ceria. Dia masih tersenyum lebar.Meski sesekali diingatkan, Jevan tetap sulit menahan antusiasmenya. Kebahagiaan di wajahnya terlihat begitu jelas. Makan malam

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 48

    "Bu, boleh nggak Paman Kelvin datang makan malam di rumah?" tanya Jevan dengan mata berbinar penuh harap sambil menarik lengan baju Anisa saat mereka keluar dari kafe.Anisa menunduk untuk menatapnya. Dia membalas, "Um, Ibu bahkan belum bertanya apakah dia mau ikut makan malam bersama kita."Kelvin dan Lydia sudah lebih dulu keluar dan menunggu di dekat mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk kafe. Pria itu menyahut sambil tersenyum santai, "Aku mau kok.""Hore!" seru Jevan kegirangan. Dia langsung mengangkat kedua tangannya untuk minta tos dan segera dibalas Kelvin dengan penuh semangat. Melihat itu, Anisa hanya bisa menghela napas pasrah."Jagoan, jadi nanti malam kita makan apa?" tanya Kelvin sambil menggenggam tangan Jevan."Ibu bilang makaroni panggang. Keju ekstra buat aku!" balas Jevan.Kelvin mengangkat alisnya ketika berucap, "Makaroni panggang buatan Bu Anisa? Sulit untuk menolaknya."Mereka berjalan menyusuri trotoar. Cahaya senja keemasan melunakkan sisa-sisa hari.

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 47

    "Berapa lama lagi kamu akan terus menolaknya?" Pertanyaan itu datang dari Lydia yang duduk di seberang Anisa sambil menyeruput espreso. Dia menatap sahabatnya dengan sorot mata tajam. Anisa menghela napas pelan, lalu meletakkan garpunya di samping sepotong kue red velvet yang nyaris tidak tersentuh."Lydia, aku bukan menolaknya. Aku cuma ... butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya," balas Anisa.Mereka duduk di salah satu sofa empuk yang menghadap area bermain. Keduanya menyeruput teh hangat sambil sesekali melirik pemandangan yang berada tidak jauh dari mereka.Kafe itu cukup ramai, tetapi tidak bising. Sinar matahari sore berwarna keemasan masuk melalui jendela-jendela besar, lalu menyelimuti lantai kayu dengan cahaya hangat. Interiornya dirancang ramah keluarga dengan nuansa pastel lembut. Ada sudut bermain yang nyaman dengan karpet tebal, serta rak-rak berisi mainan edukatif, puzzle, dan buku bergambar.Di sana, tepat di tengah semuanya, ada Jevan. Pipi bocah tujuh tahun itu mem

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 46

    "Selamat pagi, semuanya," sapa Anisa dengan ramah saat dia memasuki ruang guru."Pagi, Anisa," jawab beberapa orang bersamaan. Beberapa yang lain memberinya senyum sopan."Kamu bawa sarapan lagi? Pas banget, kopiku baru saja selesai diseduh," tanya Timo si guru olahraga yang selalu penuh energi sambil bangkit dari duduknya."Apa kamu nggak bisa mampir ke toko roti saja dalam perjalanan ke sini?" gumam Metta yang merupakan guru matematika di sekolah itu. Dia jelas tidak terlalu terkesan dengan antusiasme Timo.Timo tertawa kecil sebelum membalas, "Apa salahnya mengharapkan keajaiban?""Aku memang bawa sedikit. Jevan suka, jadi aku buat agak lebih banyak," jawab Anisa sambil tersenyum lembut. Anisa mengeluarkan sebuah kantong kertas berisi roti kismis panggang berwarna keemasan. Aroma manis dan mentega langsung memenuhi ruangan. Itu menarik perhatian beberapa guru yang terlihat lapar."Silakan ambil," ucap Anisa hangat sambil menawarkannya pada semua orang."Wah, kamu memang jago urusan

  • Jeritan Hati Istri yang Tak Pernah Dicintai Sepenuh Hati   Bab 45

    Tujuh tahun kemudian."Jev, jangan singkirkan brokolinya," ucap seorang wanita sambil tetap sibuk memasak di depan kompor. Tanpa perlu menoleh, dia tahu bahwa anak laki-lakinya pasti sedang menghindari sayuran di piringnya."Bu, aku nggak suka," gumam bocah bermata biru itu perlahan. Bibir kecilnya mengerucut kesal ketika melanjutkan, "Apa aku boleh makan yang lain saja tanpa brokoli?"Anisa menghela napas sabar. Dia melepaskan celemeknya dan mematikan kompor, lalu berjalan ke meja makan, tempat putranya duduk membungkuk di depan sarapan yang baru setengah habis."Jevan Kumala," ucap Anisa tegas. Suaranya tenang, tetapi sama sekali tidak bisa diabaikan."Ya, Bu," jawab Jevan sambil perlahan mengangkat kepala.Anisa bertanya, "Kamu tahu nggak betapa bagusnya brokoli untuk tubuhmu?" Mendengar itu, Jevan cemberut. Tentu saja dia tahu, tetapi tetap saja dia tidak suka."Makan sedikit saja. Jangan sisakan terlalu banyak di piring. Bukannya Bu Aulia bilang, terlalu pilih-pilih makanan itu co

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status