LOGINBallroom Hotel Bintang Lima itu begitu mewah dan terang. Semua tamu penting keluarga Xie hadir, tertawa dan mengobrol. Di atas panggung kecil, Xie Gun berdiri dengan gagah, merangkul pinggang Yang Mian yang mengenakan gaun ketat dan mengelus perutnya yang masih rata dengan ekspresi pura-pura mual dan manja. Ibu mertua dan adik ipar Momo duduk di meja utama dengan senyum penuh kemenangan, seolah-olah sebentar lagi mereka akan mendapatkan cucu dari wanita yang mereka pilih.Mereka semua sudah melupakan Momo, yang berdiri diam di sudut ruangan dengan gaun sederhana.MC baru saja akan memberikan mikrofon kepada Xie Gun untuk mengumumkan kabar bahagia kehamilan Yang Mian, tapi Momo melangkah maju lebih dulu. Dengan tenang dia merebut mikrofon dari tangan MC yang terkejut."Selamat malam semuanya. Sebelum suamiku, Xie Gun, mengumumkan kabar bahagianya, izinkan aku, sebagai istri sahnya, Momo, untuk memberikan sebuah hadiah video untuk keluarga ini," kata Momo dengan suara yang jelas dan ten
Momo berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Wajah yang memantul di sana masih wajah yang sama, cantik dan muda, tapi sorot matanya sudah benar-benar berbeda. Ini bukan lagi tatapan Momo yang naif, yang mudah percaya, yang mati dibunuh dengan tragis di kehidupan sebelumnya oleh suaminya sendiri.Dia telah kembali. Tuhan memberinya kesempatan kedua untuk hidup kembali ke masa lalu, tepat sebelum semua tragedi itu dimulai.Ingatannya sangat jelas. Dia ingat rasa sakit yang luar biasa saat pisau itu menusuk di tubuhnya. Dia ingat bagaimana Xie Gun, suami yang sangat dia cintai, mengintruksikan anak buah nya untuk membuang mayatnya dengan tatapan dingin. Di sebelah Xie Gun, ada Yang Mian, wanita selingkuhannya yang selalu berpura-pura lugu, menangis dengan suara manja, "Kak Gun, Kak Momo kenapa? Apa dia sakit?"Padahal Momo tahu, Yang Mian lah dalang di balik semuanya.Dan yang lebih menyakitkan, ibu mertua dan adik iparnya yang selama ini terlihat sangat baik, setiap pagi membawakan t
'Sakit...tolong...siapapun...'Tangan Momo berusaha untuk meraih kedepan, saat dia sudah hilang harapan, dia merasakan kehangatan di tangannya."Mo'er!""Mo'er bangun!""Hah!"Yan Momo terbangun dengan bercucuran keringat, dia meraba dadanya yang masih utuh, tidak lagi merasakan sakit yang teramat dalam."Apa kamu bermimpi buruk?"Bai Mingzhe masih menggenggam tangan Momo, dia mengambil tisu lalu mengelap keringat Momo."Saudaraku..." Suara Momo serak, melihat Bai Mingzhe yang menatapnya dengan khawatir, entah mengapa hatinya menjadi tenang.Dia menarik Bai Mingzhe mendekat, lalu memeluknya dengan erat.Bai Mingzhe menghela nafas, dia mengelus kepala dan punggung Momo dengan lembut."Semuanya hanya mimpi."Yan Momo hanya mengangguk, sudah lama dia tidak bermimpi tentang kematian yang tragis, dia takut tidak bisa bangun, dan dia takut bahwa sekarang ini hanyalah imajinasi nya saja.Yan Momo semakin mengeratkan pelukannya pada Bai Mingzhe.Setelah tenang, dia melepaskan pelukannya, meli
Mendengar suara itu Yan Momo berbalik, dia melihat Bai Mingzhe berdiri di belakangnya, menatapnya dengan tatapan lembut yang menenangkan.Mata Yan Momo memerah, seolah-olah akan menangis saat itu juga, tapi tetap menahannya dengan sekuat tenaga.Walaupun Bai Mingzhe tahu itu semua hanya pertunjukan, tapi tetap saja membuat hatinya sakit, dia ingin segera menghancurkan Xie Gun saat itu juga."Saudaraku..." Suara Momo serak, dan dia memanggil Bai Mingzhe dengan lemah, orang-orang yang mendengar nya semakin merasa kasihan.Xie Gun, tidak tahu apa yang dia pikirkan? bagaiman bisa dia melakukan hal tercela itu di depan semua orang? apa selama ini sikap perhatian nya pada istrinya hanya omong kosong semata? atau memang benar yang mereka pikirkan bahwa Xie Gun hanya memanfaatkan Yan Momo?Mereka menebak-nebak dalam hati, tapi mereka hampir yakin dengan tebakan mereka."Ayo kembali."Bai Mingzhe menghampiri Momo, merai
Setelah keluar, wajah Yan Momo sudah kehilangan senyum nya. Dia mengeluarkan ponselnya, matanya dingin dan hatinya semakin membeku, setelah selesai mengirim pesan, dia menyungging kan senyum tipis pada bibir nya yang merah merona. Semuanya harus sesuai urutan, dia akan memberi hadiah pada Xie Ning terlebih dahulu, lalu setelah itu dia akan memberikan hadiah pada mertuanya yang serakah. Yan Momo menyenandungkan lagu, dia akan beristirahat dengan nyaman malam ini, dia tidak perlu khawatir dengan Xie Gun, karena lelaki itu sedang pergi menjumpai kekasih kecil nya, jadi Yan Momo dalam suasana hati yang baik sekarang. *** [Momo sayang, maaf aku tidak bisa menemanimu untuk memilih gaun untuk malam ini.] "Hmm..." [Jangan marah sayang, setelah ini aku akan membelikan mu hadiah yang kamu sukai, kalau begitu aku tutup.] "Masih belum lelah ber akting?" Yan Momo tersenyum lelah, dia memandang Bai Mingzhe dengan matanya yang menawan, melihat kotak yang ada di meja mereka dia meliri
"Momo! Xie Gun! akhirnya kalian sampai, ayo duduk."Mereka di sambut dengan hangat oleh Ibu mertuanya. Di ruang keluarga sudah ada adik iparnya yang duduk di sofa sambil melambaikan tangan padanya."Ayo duduk."Mendengar suara itu membuat Momo sedikit tersentak, dia dengan cepat menguasai emosinya."Ayah! Momo gak tau bahwa ayah sudah kembali.""Ya, Ayah harus segera kembali untuk merayakan ulang tahun adik mu, kalau tidak dia akan merajuk dan marah."Lelaki yang sudah cukup tua tapi tetap bisa mempertahankan ketampanan nya itu membalas dengan bercanda, sambil mengacak rambut Xie Ning dengan sayang.Sungguh pemandangan keluarga yang harmonis, Momo pun dulu sempat berfikir seperti itu, tapi di balik keharmonisan yang selalu terpampang di depannya, keluarga ini sudah di ambang kehancuran.Momo ikut bercanda dan tertawa bersama mereka, melihat cemilan yang di sodorkan di depannya, mata Momo berkilat tajam.
Xie Gun terjatuh ke aspal yang keras dengan malu, sedangkan Bai Ming Zhe masih berdiri dengan mantap."Bajingan ini! beraninya kau menghindar!?""Sudah ku katakan, jagalah ucapanmu, jangan mengeluarkan kata-kata makian di depan Momo." Bai Ming Zhe menundukkan tubuhnya sambil menginjak tangan Xie Gun d
"Yang Mian apa yang kamu linglung kan? fokuslah! sebentar lagi akan giliran mu untuk tampil, ingat kamu harus bisa mendapatkan salah satu peran dalam drama ini" Manager itu memperingati Yang Mian dengan kasar, tapi dia tetap menjaga volume suaranya agar tidak di dengar oleh orang lain
Yan Momo berjalan masuk ke restoran tempat dia membuat janji untuk bertemu dengan Bai Mingzhe. Salah satu pelayan melihat kedatangan Momo dan menyambut nya dengan sopan. "Saya sudah membuat janji atas nama Bai Mingzhe." "Baik Nona, mari saya antar." Mereka menuju ruangan pribadi yang sudah di
Saat Xie Gun bangun, dia merasakan tubuhnya lemah, melihat ke samping, Momo yang seharusnya tidur di samping nya sudah tidak ada. Melihat matahari terik di luar jendela membuatnya terkejut, mengingat kembali kenangan yang membuatnya puas, Xie Gun bangkit dengan gembira tanpa tahu ada hal yang aneh







