MasukDenting lift yang halus memecah keheningan koridor penthouse saat jarum jam hampir menyentuh angka dua pagi. Aku tetap bergeming di sofa kulit Italia yang dingin, membiarkan kegelapan ruangan hanya ditembus oleh kerlip lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca raksasa.Suara langkah kaki diseret terdengar mendekat. Nadia masuk dengan bahu merosot, rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, dan blus sutranya tampak sangat kusut dengan beberapa kancing yang seolah dipaksakan kembali ke lubangnya.Nadia melepaskan tas kulit mahalnya ke lantai tanpa suara, lalu melangkah perlahan menghampiriku. Tanpa instruksi, dia langsung bersimpuh di lantai marmer tepat di depan pahaku.Aroma keringat pria, alkohol, dan parfum maskulin yang tajam menguar dari tubuhnya, bercampur dengan bau alaminya yang mulai memudar."Maafkan saya, Tuan. Saya... saya baru bisa lepas dari mereka."Suaranya parau, nyaris habis. Dia menundukkan kepala begitu dalam hingga dahi mulusnya menyentuh lututku
Layar tiga dimensi di depanku bergetar sesaat sebelum menstabilkan citra ruangan kantor Hardi yang luas. Nadia berdiri mematung di depan pintu, jemarinya meremas tali tas kulitnya hingga buku jarinya memutih.Matanya yang sipit membelalak, menyapu tiga sosok pria paruh baya yang duduk santai di sofa kulit hitam."Kenapa diam saja di pintu, Nadia? Masuklah."Hardi menyeringai dari balik meja kerjanya, menyesap kopi hitam dengan gaya yang dibuat-buat tenang. Nadia melangkah ragu, matanya tak lepas dari ketiga pria yang menatapnya seperti serigala melihat domba terjepit."Pak Bram? Pak Anton? Pak Broto?"Suara Nadia bergetar halus. Aku mengenali nama-nama itu dari berkas petinggi perusahaan. Bram, sang Wakil Direktur Finansial yang angkuh karena statusnya sebagai keponakan pemilik perusahaan ini. Anton, Direktur Logistik yang dingin. Dan Broto, kepala keamanan bertubuh raksasa dengan kumis tebal yang selalu tampak mengancam."Saya kira... ini hanya pertemuan dengan Pak Hardi saja."Bram
Layar tiga dimensi di depanku bergetar halus, menampilkan setiap detail peluh yang mengucur di tubuh Sari. Aku menyandarkan kepala di sofa beludru penthouse, menyaksikan bagaimana sepuluh kuli itu mengelilingi Sari yang sudah lunglai di lantai dapur."Gila bos, Enggak ada habisnya ini," si kumis lebat, kuli yang tadi paling brutal, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh semen kering.Kuli di sebelahnya, pria kurus dengan tato naga yang tampak pudar di lengan, tertawa parau sambil mengancingkan kembali celana jinsnya yang dekil. "Dagingnya kenyal banget, Bang. Kayak karet. Makin dihantam makin melar."Sari hanya melenguh, matanya yang sayu menatap langit-langit dapur dengan tatapan kosong yang dipenuhi sisa-sisa kenikmatan. Rambutnya yang berantakan menempel di wajahnya yang basah."Heh, Neng Sari. Masih hidup kan?" Si Kumis menendang pelan paha Sari yang putih mulus, meninggalkan bekas
Setelah berbelanja, aku kembali ke apartemen. Dengan langkah santai, aku melewati deretan gerai komersial sebelum mencapai pintu kaca minimarket. Di balik rak-rak kaca, sosok mungil berkerudung itu tampak sibuk menyusun botol-botol minuman. Langkahku melambat saat mendekati pintu otomatis. Mila mendongak, jemarinya membeku di atas botol soda. Matanya yang bulat membelalak, memancarkan kombinasi antara rasa malu yang membakar dan ketakutan yang nyata. Sepertinya dia teringat kejadian kartu kredit hitam itu. Aku berhenti sejenak, sengaja membiarkan tatapan dinginku menguliti wajah pucatnya melalui kaca bening. Bibir Mila bergetar, dia menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat sibuk dengan tumpukan barang di lantai. Aku hanya menyeringai tipis, menikmati bagaimana dominasi kecil ini membuat napasnya terlihat memburu dari kejauhan. Tanpa sepatah kata pun, aku memutar tumit dan melanjutkan langkah menuju lobi, meninggalkan kasir itu dalam kegelisahan yang menyiksa. Sesampainya di penth
Pintu lift berlapis krom itu terbuka tanpa suara, menelan tubuh kerempengku ke dalam kotak logam yang harum aroma terapi lavender. Aku berdiri di pojok, mengenakan kaos oblong pudar dan celana bahan yang sudah mulai menipis di bagian lutut. Sangat kontras dengan dinding lift yang mengilap dan lampu LED artistik yang menggantung di langit-langitnya. Beberapa lantai saat lift ini turun, dua pria dengan setelan jas Italia yang licin masuk ke dalam lift berdiri di depanku. Mereka berhenti mengobrol saat aku masuk, lalu serentak menggeser posisi seolah-olah bajuku membawa wabah yang mematikan. Salah satu dari mereka, pria dengan jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk, melirikku yang sudah ada di dalam lift. "Pembantu baru di Penthouse?" Suaranya berat, penuh dengan nada merendahkan yang kental. Dia tidak menatapku, melainkan bicara pada bayanganku di dinding lift yang memantul. Aku memasang wajah paling lugu yang kubisa, sedikit membungkukkan bahu agar
Sprei sutra abu-abu ini terasa seperti usapan lembut di kulitku, sangat kontras dengan kasur kapuk kempes yang biasanya menusuk punggung setiap pagi. Aku menggeliat, menikmati keheningan yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan.Selama bertahun-tahun, tidurku diganggu suara knalpot motor atau teriakan tetangga di gang sempit. Di sini, di lantai teratas Jakarta, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk memberiku istirahat paling berkualitas sepanjang hidup.Di sampingku, Nadia masih terlelap. Selimut tebal menutupi tubuh polosnya, menyisakan bahu putih mulus yang naik turun mengikuti napasnya yang teratur.Rambut hitamnya tersebar berantakan di atas bantal, membingkai wajah orientalnya yang tampak tenang tanpa beban pekerjaan HRD. Dia mendengkur halus, sebuah suara kecil yang entah kenapa terdengar begitu menggoda di telingaku.Aku bangkit pelan, menyeret kakiku menuju kamar mandi yang luasnya mung







