Nadia menatapku. Matanya menyiratkan penghinaan. Bola matanya melebar, seolah baru saja mendengar lelucon paling busuk yang pernah ada. Ketegangan yang tadinya mengendur, kini kembali menegang. Alisnya yang terawat terangkat, membentuk lengkungan tajam."Perintah?" Nada suaranya bergetar, namun bukan karena takut. Itu adalah getaran kemarahan yang tertahan, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. "Seorang OB... memerintah saya?"Aku membalas tatapannya, tidak berkedip. Senyum tipis yang tadinya kuberikan kini mengeras, membentuk garis lurus. Aku menyilangkan tangan di dada.Gerakan sederhana, namun terasa seperti deklarasi perang. Postur tubuhku, yang tadinya terkesan memohon di hadapannya, kini tegak, memancarkan aura baru yang asing bahkan bagiku sendiri. Aku mengklaim ruangan ini, mengklaim Nadia.[PEMBERITAHUAN SISTEM: TARGET MELAWAN. KONSISTENSI DOMINASI ADALAH KUNCI UNTUK MENEKAN RESISTENSI.]Suara dalam benakku menggaung, seolah memberiku dorong
Terakhir Diperbarui : 2026-02-02 Baca selengkapnya