MasukUri, gadis kecil berusia 8 tahun, terkejut kala menemukan mayat sahabatnya tergeletak di balik semak dan bebatuan. Desa yang awalnya tenang, bahkan langsung terguncang. Namun, penyelidikan justru mengarah pada misteri yang lebih besar dari yang dibayangkan...!
Lihat lebih banyak~Lexi~
I slowly made my way through the crowd and there he was, my man, or so I thought. Zade was and is one of the many reasons I believe in love and always will. I mean he came to me after all these years and now we’re united. He was the one for me and I for him, the one and only, the only one who was there when I needed him most. I slowly approached him, and his gaze was fixed on me……….those eyes could melt even the hardest rock to ever exist, those ocean blue eyes which sparkle as the Pacific Ocean laced with glitter. As I take a moment to observe, he was dressed in silver clothing and a blue tie which complements his eyes ever so well, he takes my hand and kisses it which takes me by surprise and while still in shock grabs me by the waist and kisses me. Oh my God—Zade kissing me in front of the crowd, and I am enjoying it. Lexi….Lexi….Lexiiiiiii “my mum echoed in the background” “A minute please, I’m trying to kiss my mannnnn” “Brrrr….brrrr……brrrrrrrr” “Ahhhhhhhhhhhhhhhhh” I screamed Stupid alarm, it was just getting intense. It was so goodddd. I silently cry as I get out of bed. (Later that day) “Do you think that Dylan cares about me. I mean…….he tried getting together” Elle said. Elle is my best friend and she is not the brightest when it comes to relationships. I mean Dylan, the slouchebag , even douchebag is an understatement used to describe him. “No Elle I don’t think he does, I mean, he fucking cheated on you. Now if you’d allow let’s continue our movie.” I spat back irritated. It’s our tradition to watch movies every Saturday night cause I mean it’s better than parties at least for me. We watched movies through the night and slept off. Classic us. Elle is Zade’s sister and she doesn’t know that I like her brother…I mean who would….we despise each other that is, me and Zade of course and besides me and Elle have a pact. Siblings are off limits..we made it when we were 9…..honestly now I regret it. We had a trip to Los Angeles the next day. This summer about to be lit!!! By morning, I had packed my bags and we set off. “Wow this is huge” I said as I made my way into the house we use for family vacations. It had just been renovated and it looks so great. The gold like colour of the house as well as the gold curtains just gave it a little extra class, as I looked up I noticed the chandelier which was ever so stunning. “I know right” Elle replied. “ I didn’t expect it to be this good” Our parents and siblings traveled out for work so that meant we had this house to ourselves and we were most certainly going to make the most out of it. That I knew “Let’s go drop our bags” I replied. Elle and I dropped our bags and ordered food. We stayed in one room because the house is large and ain’t no way I’ll be alone. I headed downstairs and I heard certain voice……………which was far from unfamiliar. Zade………..Zade!!!!!! What is he doing here? They are all supposed to be on work-cation.What the actual fuck. My vacation is ruined. Zade is a little bit too controlling and honestly I hated him for that otherwise he is just a guy with the body of a Greek god and the face of an Angel.
“Well…well.well if it isn’t the notorious duo” Zade said and it left an echo through the room. “What the fuck are you doing here, we certainly don’t need you here and don’t you dare say it’s for our-“ I replied but was cut short by Zade’s sudden interruption “Protection-honey don’t flatter yourself, I have a lot of work to do here and I just might happen to keep an eye on you two” he shot back “Elle!!!!” I shouted and she rushed down the stairs “What happened is our food here—what the actual fuck, urghhhh our vacation is ruined” Elle said in a shocked and yet irritated tone “Exactly what I said” I replied “I don’t care if you’re here for work, stay out of our way, Mr protector” the words just had to escape as I shot beams at him with my brown eyes. “Then stay out of trouble Reynolds” he said to me while making sure to emphasize my last name. “What an asshole” I spat. “Common let’s go Lexi” Elle said and we left. Not sure where we were headed though but this direction is towards the pool How do I even dream of us, what am I even thinking. He is so fucking stuck up, I honestly don’t give a fuck anymore and he should please not appear in my dreams or my imagination any more. “Elle I didn’t wear my bikini, I can’t swim in full clothes” I say whining like a child “Then take them off” Elle replies “Fine” I say. I took off my clothes and went into the water. Elle surely knows how the sound of water calms me down. God I love her. “I’ll be right back, give me 2 hours” Elle says as she gets up from the swimming pool “No,no,no Elle don’t leave me here with him and besides two hours is a long time” I say giving her the best puppy eye I could think of “Don’t worry you’ll be fine, love you, bye” she says as she walks away. “I guess I’m left all alone then, wow what a life” I muttered under my breath. Sudden there was a splash of water and then Zade.Rian berdiri tegak, menatap Pak Jaya dengan tatapan serius. “Jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Kita belum tahu apa-apa,” katanya tegas, meski nada suaranya tak sepenuhnya bisa menyembunyikan kecemasan.Mereka berpencar, memeriksa setiap sudut ruangan. Setiap lembar dokumen yang mereka sentuh terasa seperti menyimpan rahasia gelap. Ketika Rian sampai di meja utama yang sedikit berbeda dengan meja lain diruangan tersebut, ia menemukan laci yang terkunci. Ia mengeluarkan pisau kecil dari sakunya dan dengan satu gerakan kecil namun terlihat cekatan, membuka kunci itu.Di dalam laci, terdapat setumpuk dokumen yang terlihat resmi. Namun, di antara dokumen-dokumen itu, ada satu dokumen yang terlihat berbeda. Sebuah daftar pembayaran utang besar, dengan nama-nama yang tertulis rapi. Nama Pak Jaya ada di sana, disertai angka yang mencengangkan. Tapi bukan itu yang membuat darah Rian membeku, melainkan catatan kecil di sudut bawah dokumen. Tulisan tinta merah mencolok itu berbunyi:"Akan d
Untungnya, kehadiran pasukan buzzer yang sudah mulai bekerja membuat narasi perlahan mulai berubah.Berita pertama yang muncul adalah bahwa Pak Yusuf mencoba memanfaatkan tragedi ini untuk meningkatkan elektabilitasnya.Di media sosial, pesan-pesan yang disebarkan oleh buzzer pemerintah mulai meresap ke dalam benak warga.[Pak Yusuf berusaha meraih simpati dengan cara yang tidak pantas, menjadikan tragedi kematian Ana sebagai alat untuk meraih kekuasaan]Bahkan, ada juga yang mulai mengaitkan Pak Yusuf dengan spekulasi yang lebih gelap, seperti dugaan bahwa dia memiliki koneksi dengan orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu dalam peristiwa pembunuhan ini.Pada awalnya, warga merasa bingung dengan berita-berita yang beredar. Namun, semakin banyak informasi yang masuk, semakin banyak juga yang mulai meragukan niat Pak Yusuf. Mereka merasa khawatir bahwa dia mungkin memang menggunakan tragedi ini untuk menambah peluangnya dalam pemilihan, dan hal itu membuat beberapa warga mulai
Senyum tipis muncul di wajah Joko. "Dan kalian pikir kami tidak tahu? Bahkan jika kita ingin mencari pembunuh, kita harus melihat semua kemungkinan, termasuk kalian berdua."Pak Jaya menundukkan kepalanya, seolah-olah mencoba menenangkan dirinya.Suasana dalam ruangan itu berubah menjadi hening, hanya terdengar suara nafas yang tertahan. Bu Lela menatap suaminya dengan cemas, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.“Baiklah, satu pertanyaan terakhir, apakah nama-nama yang kalian berikan padaku sama dengan yang kalian berikan pada bocah kota itu ?”Pak Jaya tetap tertunduk tanpa membalas pertanyaan Joko.“Diam saja ? baiklah, kami izin pamit. Terima kasih atas kerjasamanya, dan mungkin kami akan kembali lagi dalam waktu dekat.” Ucap Joko yang berjalan keluar pintu.Joko telah keluar dari rumah Pak Jaya namun Ketegangan yang dia bawa kedalam rumah itu semakin memuncak saat Joko mengungkapkan kenyataan bahwa Ana bukan anak kandung Pak Jaya. Apakah hal ini akan membuka tabir kebenaran
“Akhirnya! Itu baru informasi yang berguna. Segera lakukan penyelidikan lebih lanjut! Jangan biarkan satu pun petunjuk terlewat!”Rimbawa tampak lega. Sayangnya, para penyidik kini merasa kekurangan dukungan dan petunjuk yang lebih jelas...Padahal di luar gedung kepolisian, wartawan dan masyarakat semakin menuntut jawaban. Mereka semakin curiga dengan keterlambatan penyelidikan yang tampak lamban dan tidak terarah.Di desa-desa, orang-orang mulai berbicara tentang ketidakmampuan aparat kepolisian untuk mengungkap pelaku pembunuhan Ana. Mereka bahkan mulai mencibir kinerja Kepala Kepolisian, yang dipandang lebih sebagai seorang politikus daripada seorang penegak hukum.Namun, tanpa sadar, di balik ketidaksepahaman ini, sebuah petunjuk berharga mungkin saja telah terlewatkan. Mungkin saja, jawabannya sudah ada, tetapi hanya disembunyikan di antara kebingungan yang terus menghantui setiap langkah mereka....Di sisi lain, suasana sekitar rumah Pak Jaya tampak kembali hening setelah keda
Dua Keluarga yang terlibat, tetapi seluruh warga merasakan kengerian yang sama.Mereka bahkan tidak bisa lagi menutupi rasa takut mereka. Namun, para pemimpin justru sibuk memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan pribadi mereka.Saat ini, Pak Jaya duduk di ruang tamu sembari memandang ke luar jen
Di luar gedung, suara-suara perbincangan semakin keras. Warga mulai berkumpul di sekitar kantor balai desa, menyebar ke jalan-jalan, bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dan mengapa pembunuhan itu bisa terjadi begitu dekat dengan rumah mereka.Rasa takut mulai menguasai mereka, dan itu adalah se
Setelah 2 minggu malam kejadian penemuan tubuh Ana, udara dingin terasa tidak seperti biasanya seperti biasanya.Selama itu pula, warga yang terbangun pagi-pagi dan ingin menjalani rutinitas harian mereka tidak lagi merasakan ketenangan, seperti yang mereka rasakan dihari-hari sebelumnya.Berita t
Ibu Uri, Murni, terdiam, wajahnya tegang saat mendengar cerita dari Uri. "Uri..." katanya pelan,Namun segera mencoba menenangkan. " Uri, jangan takut. Uri hanya lelah dan khawatir. Ana pasti baik-baik saja."Ayah Uri, Rian, yang mendengar perkataan Uri kemudian datang mendekat mencoba berbicara de
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.