LOGINBejo hanyalah seorang OB rendah yang diremehkan dan direndahkan di tempat kerjanya, terutama para wanita. Semua itu menyulut dendam dalam diri Bejo, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Sampai dia menemukan sebuah “Kacamata Penakluk Wanita” di gudang berdebu. Kacamata itu memiliki sistem yang membedah statistik rahasia, skandal busuk, hingga hasrat terdalam setiap wanita yang ia tatap. Dengan alat itu di tangannya, Bejo bisa membalikkan keadaan. Namun, tidak sampai di situ saja. Kacamata ini memberikan berbagai tugas yang membuat Bejo berubah dari pria yang polos menjadi dominan dan penuh muslihat. Tatapan kosongnya berubah tajam, dan tubuh kurusnya perlahan terbentuk sehingga dia tidak mudah diremehkan lagi. Bejo mulai menggunakan kacamata penakluk itu untuk menaklukkan para wanita yang dulu menghinanya. Satu per satu, manajer dingin hingga istri konglomerat jatuh ke dalam kendali mentalnya.
View MoreGetaran ponsel di saku celana kainku yang sudah menipis terasa seperti sengatan listrik. Aku mengangkatnya dengan tangan gemetar. Suara serak Pak RT dari kampung menembus gendang telingaku, membawa kabar yang merobek sisa-sisa kewarasanku pagi itu.
"Nenekmu sudah tidak ada, Jo. Beliau pergi subuh tadi."
Duniaku runtuh. Hanya ada sunyi yang berdengung panjang. Nenek, satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut di lautan kemiskinan kota ini, telah lepas.
Aku yatim piatu yang hanya punya dia. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan pintu ruangan HRD, meremas ujung seragam OB-ku yang berbau karbol.
Nadia, manajer HRD yang baru dua bulan menjabat, tidak mengangkat wajah dari layar MacBook-nya saat aku melangkah masuk. Aroma parfum mahalnya yang menusuk hidung terasa mencekik di ruangan ber-AC yang dingin ini.
"Bu Nadia... saya... saya mau mohon izin pulang kampung."
Nadia menghentikan jemarinya. Dia menatapku dari balik kacamata bingkai emasnya. Tatapan itu dingin, seperti memandang kecoak yang lancang merayap di atas meja makan.
"Izin? Kamu lihat tumpukan berkas di meja saya, Bejo? Hari ini ada audit."
"Nenek saya meninggal, Bu. Beliau satu-satunya keluarga saya."
Suaraku pecah. Aku berharap ada secercah empati di balik mata tajam itu. Nadia justru menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada dengan angkuh.
"Semua orang akan mati, Bejo. Itu hukum alam. Apa dengan kamu pulang, nenekmu bakal bangkit lagi dari liang lahat?"
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras dari kabar kematian tadi. Aku mengepalkan tinju di samping paha, kuku-kukuku menusuk telapak tangan.
"Tapi saya harus menguburkannya, Bu. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana."
"Dengar ya, makhluk kerempeng. Kamu itu cuma OB. Cari pengganti kamu dalam satu jam, atau silakan pulang dan jangan pernah injakkan kaki di kantor ini lagi. Saya tidak butuh karyawan yang lebih mentingkan urusan mayat daripada urusan kantor."
"Ibu keterlaluan. Ini masalah kemanusiaan."
Nadia tertawa sinis, suara yang mengingatkanku pada gesekan logam.
"Kemanusiaan itu buat orang yang punya nilai, Bejo. Kamu? Kamu cuma alat. Sekarang keluar. Sebelum saya panggil sekuriti untuk menyeret kamu."
Aku keluar dengan langkah gontai. Kepalaku terasa kosong, hanya ada bayangan wajah nenek yang tersenyum keriput dalam ingatanku.
Aku bekerja seperti robot. Mempel, menyapu, mengosongkan tempat sampah. Air mata jatuh tanpa izin, membasahi lantai yang baru saja kubersihkan.
Lalu, malapetaka itu terjadi di koridor utama lantai lima.
Aku sedang membawa ember berisi air kotor saat Nadia berjalan terburu-buru sambil menatap ponselnya. Aku tidak fokus. Langkahku limbung.
Prang!
Air hitam berbau busuk itu tumpah tepat di atas sepatu stiletto merah dan bawah rok span mahalnya. Nadia mematung. Wajahnya perlahan berubah padam, urat-urat di lehernya menegang.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN, TOLOL!"
Teriakannya menggema, memantul di dinding kaca kantor. Karyawan-karyawan mulai keluar dari bilik mereka, membentuk lingkaran, menonton pertunjukan gratis yang memuakkan ini.
"Maaf, Bu... saya tidak sengaja. Pikiran saya tadi..."
"Pikiran apa? Otakmu itu isinya cuma sampah, sama seperti bau air ini!"
Nadia melangkah maju, mendorong bahuku hingga aku terjengkang ke lantai yang basah. Dia tidak peduli dengan citranya. Amarahnya sudah meluap menjadi kegilaan.
"Lihat ini! Sepatu ini harganya lebih mahal dari total gajimu selama setahun, dasar udik!"
"Saya mohon maaf, Bu. Saya bersihkan sekarang."
Aku merangkak, meraih ujung roknya dengan gemetar untuk mengelapnya dengan tisu saku. Nadia menendang tanganku.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotor itu! Kamu itu pembawa sial. Pantas saja nenekmu mati, mungkin dia malu punya cucu idiot seperti kamu!"
Darahku mendidih. Namun, aku hanya bisa menunduk. Aku butuh pekerjaan ini untuk biaya pemakaman. Dengan sisa harga diri yang hancur, aku bersujud di depan kakinya, di tengah genangan air kotor itu.
"Maafkan saya, Bu. Tolong jangan pecat saya. Saya mohon..."
Orang-orang di sekitar berbisik. Beberapa tertawa mengejek, yang lain menatap dengan iba yang menghina.
Aku bisa merasakan tatapan meremehkan mereka menusuk punggungku yang kurus. Tubuhku yang kerempeng karena sering melewatkan makan demi mengirim uang ke kampung, kini terlihat semakin menyedihkan di bawah sorot lampu neon.
"Bangun! Kamu bikin pemandangan jadi makin menjijikkan. Pergi dari hadapan saya sebelum saya benar-benar membuatmu tidak bisa bekerja di sini lagi!"
Aku berdiri dengan kaki yang lemas. Tanpa kata, aku memutar tubuh dan berlari. Bukan menuju lobi, tapi menuju gudang arsip di ujung lorong lantai dasar.
Tempat itu adalah lubang tikus bagi orang-orang sepertiku. Ruangan pengap yang dipenuhi debu dan kertas-kertas yang mulai membusuk.
Aku membanting pintu besi gudang dan menguncinya dari dalam. Di sudut ruangan, di balik tumpukan kardus tua, aku meringkuk.
Napasku tersengal, dadaku sesak oleh amarah yang tertahan dan kesedihan yang menghimpit.
"Kenapa... kenapa harus begini?"
Aku memukul lantai semen dengan kepalan tangan hingga kulit buku jariku lecet. Dendam itu mulai tumbuh, hitam dan kental, menyelimuti hatiku yang hancur.
Aku benci Nadia. Aku benci kantor ini. Aku benci kemiskinanku.
Lelah yang luar biasa menghantamku. Mataku yang sembab mulai memberat. Di tengah aroma kertas tua dan debu, aku jatuh tertidur dalam posisi meringkuk seperti janin.
Entah berapa lama aku terlelap. Saat mataku terbuka, cahaya remang-remang dari celah ventilasi menyinari sebuah benda yang sebelumnya tidak ada di sana.
Di atas meja kayu lapuk yang biasanya kosong, terletak sebuah kotak kecil.
Kotak itu terbuat dari kayu hitam legam, namun di permukaannya terdapat ukiran emas yang sangat rumit. Ukiran itu seolah bergerak jika diperhatikan terlalu lama, membentuk pola-pola aneh yang tidak pernah kulihat.
Aku berdiri, mendekat dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutku.
"Ada orang di sini?"
Suaraku serak, memecah kesunyian gudang. Tidak ada jawaban. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Gudang ini tetap terkunci dari dalam. Bagaimana kotak ini bisa ada di sini?
Tanganku terulur, menyentuh permukaan kayu yang terasa dingin seperti es. Aku membukanya perlahan. Engsel kotak itu tidak bersuara sedikit pun. Di dalamnya, beralaskan kain beludru merah darah, terletak sebuah kacamata.
Bingkainya tipis, berwarna emas dengan desain yang klasik. Tidak ada merk. Tidak ada label harga. Hanya sebuah kacamata yang tampak sangat mahal.
"Punya siapa ini?"
Aku mengambilnya. Kacamata itu terasa sangat ringan, seolah-olah terbuat dari udara. Iseng, dan mungkin karena sedikit gila akibat tekanan hari ini, aku memakainya.
Begitu gagang kacamata itu menyentuh pelipis dan bertengger di hidungku, sebuah sensasi aneh menjalar. Rasanya seperti ribuan jarum mikro menusuk masuk ke dalam saraf-saraf di belakang mataku.
Aku meringis, hendak melepaskannya, tapi kacamata itu seolah terkunci di wajahku.
Zing!
Tiba-tiba, pandanganku tidak lagi hanya melihat gudang yang gelap. Di depan mataku, sebuah layar transparan menyala biru elektrik. Simbol-simbol aneh berputar cepat, menyinkronkan data dengan denyut jantungku.
[SINKRONISASI BERHASIL]
[MENGHUBUNGKAN KE SARAF PUSAT...]
[SELAMAT DATANG, PEMILIK BARU]
Aku ternganga. Jantungku berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari tulang rusuk. Layar digital itu terus berganti, menampilkan barisan teks yang melayang di udara.
[REGISTER: BEJO]
[LEVEL: 1]
[STATUS: OB LEMAH & TERTINDAS]
[MISI UTAMA DI AKTIFKAN: BALAS DENDAM PADA NADIA]
[HADIAH MISI: 50.000.000 RUPIAH & KENAIKAN LEVEL]
Aku mengucek mataku, berpikir ini mungkin mimpi atau efek dari dehidrasi dan kesedihan yang berlebihan. Namun, tulisan itu tetap di sana, tajam dan nyata.
"Apa-apaan ini?"
Aku mencoba melepas kacamata itu lagi, tapi tanganku hanya menyentuh kulit wajahku sendiri. Kacamata itu telah menyatu, menjadi tak terlihat namun fungsinya tetap aktif di dalam kesadaranku.
[PEMBERITAHUAN: TARGET TERDETEKSI DI RADIUS 50 METER]
Sebuah peta digital muncul di pojok kanan bawah pandanganku. Titik merah berkedip-kedip, bergerak perlahan. Di samping titik itu, ada foto profil Nadia dengan keterangan tambahan:
[Nadia (Target): Sedang memaki staf di ruang rapat. Tingkat emosi: 85% (Sangat Mudah Dimanipulasi)]
Aku menarik napas panjang. Rasa dingin merayap di punggungku, tapi kali ini bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan mendebarkan mulai menjalar dari dadaku ke seluruh tubuh.
Aku melihat tanganku yang kurus dan kotor. Kacamata ini... ini bukan sekadar alat optik. Ini adalah senjata.
"Jadi, kamu bilang aku sampah, Nadia?"
Aku tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah kuberikan pada siapa pun sebelumnya. Rasa polos dan lugu yang biasanya menghiasi wajahku menguap, digantikan oleh kilat amarah yang kini memiliki arah.
[SARAN SISTEM: GUNAKAN FITUR 'REKAM RAHASIA' UNTUK MENGUMPULKAN BUKTI PENYELEWENGAN DANA PERUSAHAAN OLEH TARGET]
Layar itu berkedip lagi, menunjukkan folder-folder rahasia yang tersimpan di server kantor yang tiba-tiba bisa kuakses hanya dengan memikirkannya. Mataku membelalak melihat angka-angka yang tertera di sana.
Nadia bukan hanya angkuh. Dia adalah pencuri.
Aku berdiri tegak, merapikan seragamku yang masih basah. Aku tidak lagi merasa seperti OB yang malang. Aku adalah pemilik sistem ini. Dan hari ini, aku akan memastikan Nadia merasakan apa yang kurasakan—kehancuran total.
"Mari kita lihat siapa yang akan bersujud di kaki siapa sekarang."
Aku melangkah keluar dari gudang arsip. Langkahku mantap, tidak ada lagi keraguan. Di balik pandanganku yang kini ditingkatkan oleh teknologi misterius ini, dunia tidak lagi terlihat sama. Semuanya hanyalah data, kelemahan, dan peluang.
Nenek, maafkan aku jika aku harus menunda kepulanganku sehari lagi. Aku punya sampah yang harus kubersihkan dari kantor ini. Dan kali ini, aku tidak akan menggunakan pel.
Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka
Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman
Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman
Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.