author-banner
Lincooln
Lincooln
Author

Novels by Lincooln

Terjebak Gairah Siluman

Terjebak Gairah Siluman

Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya. Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia. Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto. Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang. Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
Read
Chapter: 114. Jangan cintai aku
Brak!Daun pintu apartemen itu bergetar hebat saat Doni menghantamkannya ke kosen. Suara dentuman itu bergema di ruang tamu yang masih remang, memicu kepanikan kecil bagi siapa pun yang mendengarnya.Doni berdiri mematung dengan napas yang memburu, tinjunya terkepal erat di samping paha hingga buku jarinya memutih."Bajingan itu! Harusnya aku pecahkan kepalanya dengan botol sirup tadi!"Wulan hanya menghela napas panjang, melangkah tenang menuju sofa empuk di tengah ruangan. Ia tidak tampak terganggu oleh amarah Doni yang meluap-luap.Dengan gerakan perlahan, ia melepas ikatan celemek hitamnya, membiarkan kain itu jatuh begitu saja di atas lantai parket."Kamu terlalu emosional, Mas. Kita butuh dia untuk sampai ke Maya, dan Maya adalah pintu menuju Sovia.""Tapi tidak dengan cara membiarkan dia meraba-rabamu seolah kamu barang dagangan! Kamu lihat wajahnya saat menyelipkan
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: 113. Target locked: Menjerat Boris
Perempuan berambut pendek itu melangkah dengan dagu terangkat, membelah kerumunan pria yang masih terpaku pada lekuk tubuh Wulan.Ia langsung menuju kursi di pojok ruangan yang remang, tempat si pria gondrong sudah menunggu dengan aura hitam yang semakin menggumpal pekat di sekelilingnya. Udara di sekitar meja itu seolah tersedot, menyisakan kekosongan yang dingin dan mencekam.Wulan menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak liar. Ia menyambar sebuah nampan kecil, lalu berpura-pura sibuk mengelap permukaan kayu konter sebelum melangkah mendekat."Mas Doni, aku ke sana sebentar," bisik Wulan tanpa menoleh.Langkah kaki Wulan terasa berat. Setiap inci ia mendekat ke meja pojok itu, aliran gairah hitam dari si pria gondrong terasa seperti lumpur panas yang merayap di kulitnya.Baunya amis, bercampur aroma tanah kuburan yang menusuk indra penciumannya. Pria itu mendongak, m
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: 112. Perempuan dalam foto
Pintu kaca kafe berdenting, menyambut embusan angin panas dari aspal PIK yang mulai membara. Wulan berdiri di balik mesin espreso, jemarinya yang lentik menari di atas tuas logam, sementara matanya tetap tajam mengawasi pintu lobi apartemen di seberang jalan.Kaos putih tipis yang ia kenakan seolah menjadi magnet bagi setiap pasang mata pria yang melangkah masuk. Kain itu melekat sempurna pada lekuk dadanya yang membusung tanpa pelindung bra, memperlihatkan bayangan samar puncak kemerahan yang menegang akibat embusan AC kafe yang dingin."Americano panas satu, tanpa gula."Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal berdiri di depan konter, namun pandangannya sama sekali tidak tertuju pada papan menu. Matanya rakus menjelajahi belahan dada Wulan saat gadis itu membungkuk sedikit untuk mengambil cangkir keramik."Tentu, Pak. Suka yang pahit atau yang beraroma kuat?"Wulan mendongak, menyisipkan seny
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: 111. Aroma Wulan
Sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis, membelah kegelapan kamar utama apartemen dengan garis-garis cahaya yang tajam. Wulan menggeliat di atas seprai sutra yang berantakan, merasakan setiap inci kulitnya berdenyut dengan kehidupan baru.Rasa nyeri yang kemarin menghimpit selangkangannya kini lenyap, berganti dengan aliran tenaga yang segar dan meluap-luap. Ia menghirup udara dalam-dalam, merasakan sisa-sisa aroma maskulin yang masih menggantung di bantal.Di sampingnya, Doni masih terkapar tak berdaya. Napas pria itu berat dan teratur, seolah seluruh tenaganya telah diperas habis hingga tetes terakhir. Wulan melirik tubuh Doni yang tampak pucat dalam tidurnya yang lelap, lalu pandangannya beralih ke arah lemari pakaian besar di sudut ruangan.Patrick berdiri di sana, sudah mengenakan celana jeans dan sedang mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan cekatan. Otot-otot punggungnya yang hitam legam dan lebar tampa
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: 110. Akses apartemen
Pintu kayu mahoni itu berderit pelan saat Doni menempelkan kartu aksesnya. Aroma kopi yang pekat bercampur dengan wangi maskulin yang tajam segera menyergap indra penciuman Wulan begitu ia melangkah masuk.Apartemen ini memang tidak seluas milik Mbah Broto yang megah, namun setiap sudutnya memancarkan kemewahan yang rapi dan fungsional. Lantai granit kelabu memantulkan cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela balkon yang setengah terbuka.Wulan menahan napas. Matanya langsung tertambat pada sesosok tubuh raksasa yang membujur kaku di atas sofa kulit berwarna cokelat tua."Sst, pelan-pelan. Sepertinya dia sudah terlelap," bisik Doni sambil meletakkan kunci di atas meja konter dapur yang bersih.Wulan tidak menjawab. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada pria berkulit gelap yang hanya mengenakan celana kolor pendek berwarna abu-abu pudar.Patrick Kogoya tampak seperti patung perunggu yang ditempa dengan s
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: 109. Menjebak barista
Langkah Wulan terasa lebih ringan saat ia menyusuri trotoar beton yang membelah kawasan elit PIK. Di sekelilingnya, menara-menara apartemen menjulang angkuh dengan fasad kaca yang memantulkan semburat jingga matahari terbenam.Angin laut yang lembap menyapu wajahnya, membawa aroma garam yang kontras dengan parfum mahal yang menguar dari orang-orang yang berpapasan dengannya.Ia menarik pinggiran topi hitamnya lebih rendah. Di tempat ini, kaos putih tipis yang melekat ketat di tubuhnya dan celana jeans berpotongan rendah yang ia kenakan tidak mengundang tatapan menghakimi.Banyak wanita yang melintas justru berpakaian lebih berani—pakaian-pakaian mini dengan atasan yang hanya menutupi sebagian kecil dada mereka. Wulan merasa menyatu dengan keramaian ini.Ia memilih sebuah kafe kecil bergaya industrial yang letaknya strategis, tepat di seberang lobi utama kompleks apartemen yang menjadi targetnya. Kursi tinggi di dekat jendela besar menjadi pilihannya
Last Updated: 2025-12-29
You may also like
Kamar 2A
Kamar 2A
Horor · en nasrie
111 views
Dendam Arwah Bully
Dendam Arwah Bully
Horor · Andriani Keumala
96 views
Tulang wangi
Tulang wangi
Horor · Ibn Haleem
28 views
Tawa anak tengah malam
Tawa anak tengah malam
Horor · Dens_pekalongan
127 views
Misteri Bus Setan
Misteri Bus Setan
Horor · Andriani Keumala
128 views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status