author-banner
Lincooln
Lincooln
Author

Novel-novel oleh Lincooln

Kacamata Penakluk Wanita

Kacamata Penakluk Wanita

Bima, mahasiswa tua menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan perkuliahannya yang sudah di ambang batas. Apalagi, dia harus berurusan dengan Monica, dosen muda yang terkenal galak di balik kecantikannya, sebagai pembimbingnya. Sore itu, di tengah keresahan Bima karena lagi-lagi draft tugas akhirnya ditolak, dia menemukan sebuah kacamata misterius yang ada di motornya di parkiran. Bima iseng-iseng mengambil alat itu dan membawanya pulang. Keputusan itu ternyata mengubah hidupnya, tidak hanya memuaskan keinginan liarnya, tetapi juga memberi jalan keluar dari masalah tugas akhirnya karena telah menaklukkan dosen pembimbingnya yang cantik. Namun, tidak sampai di situ saja. Alat itu membuka berbagai skandal yang berkaitan dengan para wanita yang telah dia taklukkan.
Baca
Chapter: 15. Monitor realistis
Tanganku yang besar merayap masuk ke bawah ketiaknya, menyusup dengan liar hingga telapak tanganku yang kasar menemukan gumpalan daging kenyal yang tak terlindungi bra itu. Rahmi tersentak hebat, punggungnya menegang kaku menempel di dadaku yang bidang. Aku meremasnya dengan penuh nafsu, menekan ujungnya yang sudah mengeras seperti batu kerikil dengan ibu jariku. "Lihat dia, Eva. Gadis ini bahkan tidak bisa berteriak di depan dosennya." Eva tertawa renyah, suaranya bergema di kepalaku sementara dia berdiri santai di samping kursi Rahmi. "Dia sedang berjuang mati-matian untuk tidak mendesah, Tuan. Tekanan di dadanya itu pasti terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya." Rahmi menggigit bibirnya hingga memucat. Matanya terpejam rapat, kepalanya bergerak gelisah ke kiri dan kanan. Aku sengaja memosisikan tubuh besarku tepat di belakang sandaran kursinya, mengunci gerakannya agar dia tidak bisa menghinda
Terakhir Diperbarui: 2026-04-13
Chapter: 14. Menembus ruang
Cahaya matahari pagi yang menusuk dari sela gorden kusam kamarku tidak lagi terasa mengganggu. Aku menarik napas dalam, merasakan paru-paruku mengembang dengan kekuatan yang baru. Tidak ada lagi rasa sesak atau minder yang biasanya menghimpit setiap kali aku terbangun di ruangan pengap ini. Aku bangkit, duduk di tepi ranjang yang berderit, lalu menatap telapak tanganku yang besar. Semalam bukan mimpi. Rahmi, si mahasiswi cantik itu, benar-benar sudah berlutut di bawah kakiku. "Kau tampak sangat bersemangat pagi ini, Tuan." Suara Eva bergema di kepalaku, begitu jernih dan merdu hingga membuat bulu kudukku berdiri. Aku tertawa pendek, suara beratku memenuhi kamar yang sunyi. "Bagaimana tidak? Dunia terasa seperti ada dalam genggamanku sekarang, Eva." "Itu baru permulaan kecil. Kau baru saja mencicipi tetes pertama dari samudra kekuasaan yang bisa kuberikan. Karena kau sudah memiliki satu pelayan yang sudah teregister, ada fitur l
Terakhir Diperbarui: 2026-04-12
Chapter: 13. Gairah dalam malu
Jemari besarku melingkari pinggang rampingnya yang licin oleh peluh, menariknya kasar menjauh dari kerumunan pria yang masih terengah. Di dunia virtual ini, aku adalah penguasa mutlak. Cukup dengan satu hentakan niat, lautan manusia yang tadi mengimpitnya langsung terbelah, memberikan jalan lapang menuju deretan kursi penumpang yang kosong di ujung gerbong. "Minggir. Berikan tempat untuk pelayanku." Suaraku menggelegar, namun para pria itu hanya menunduk patuh, mundur dengan gerakan mekanis yang sempurna. Aku menjatuhkan bokongku di atas kursi beludru biru yang dingin, lalu dengan satu tarikan kuat, kupaksa Rahmi duduk di atas pangkuanku, menghadap ke arahku. "Kenapa kau bergetar begitu hebat, Rahmi? Kau kedinginan?" Rahmi melingkarkan lengan mungilnya di leherku, memelukku seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas. Isakannya terdengar parau, menyusup di antara deru mesin kereta yang melaju kencang. "Aku takut, Tuan... mereka... mereka semua men
Terakhir Diperbarui: 2026-04-12
Chapter: 12. Kereta panas
Deru kereta api yang memekakkan telinga mengoyak bising stasiun. Tubuhnya yang mungil tersentak hebat. Rahmi mencoba mundur, namun ratusan pasang mata yang lapar di sekitarnya seolah-olah menguncinya di tempat. Aku mendorong punggungnya, sentuhan tanganku yang besar meremas pinggangnya yang lembut. "Masuk." Rahmi terlonjak. Matanya membelalak, wajahnya yang cantik kini diliputi ketakutan. Kerumunan orang bergerak maju, mendesak kami masuk ke dalam gerbong yang sudah penuh sesak. Udara pengap dan bau keringat bercampur dengan desahan tipis yang keluar dari mulutnya. "K-kak Bima… tolong… aku takut…" Rahmi memohon, tangannya mencoba meraih lenganku. Tapi kakinya kaku, seperti robot yang mengikuti perintah. "Jangan bodoh, Rahmi. Ini mimpimu. Dan aku adalah sutradaranya." Aku menyeringai, mendorongnya lebih dalam ke kerumunan. Tubuhnya yang mungil langsung tertelan oleh lautan pria. Mereka mengimpitnya dari segala arah. Aku, dengan tinggi dan tubuh besarku, bisa melihat segalanya
Terakhir Diperbarui: 2026-04-12
Chapter: 11. Menariknya ke duniaku
Langkahku terasa ringan, seolah gravitasi kamar kos pengap ini tak lagi mampu menahanku. Pintu kamar kututup dengan dentuman pelan, meninggalkan lorong gelap tempat aku baru saja menaklukkan si mahasiswi pendiam. Rahmi sekarang milikku. Bayangan tubuh mungilnya yang bergetar hebat di bawah kungkunganku tadi masih menempel di retina, membuat senyum kemenangan terus menghiasi wajahku. Kalau bukan karena obsesiku pada Monica, Rahmi saja sebenarnya sudah cukup memuaskanku. Kecantikan lugunya yang hancur menjadi kebinalan murni benar-benar di luar dugaanku. "Saatnya kita masuk ke tutorial berikutnya, Tuan." Suara Eva mengalun manja, bergema tepat di pusat kesadaranku seolah dia sedang berbisik sambil menjilati telingaku. Aku menatap langit-langit kamar yang berjamur, membalas bisikan itu dengan seringai lebar. "Oke. Masuk ke mode virtual sekarang." Aku meraih kacamata berbingkai emas itu dari meja, lalu merebahkan tubuh tambunku di
Terakhir Diperbarui: 2026-04-11
Chapter: 10. Mendapatkan Rahmi
Lantai semen yang dingin tak menghentikan gemetar di kaki Rahmi saat helai terakhir pakaiannya jatuh ke lantai. Dia berdiri di sana, polos, mencoba menutupi dadanya yang montok dengan kedua tangan yang menggigil. Napasnya pendek-pendek, menciptakan uap tipis yang seolah-olah mempertegas keheningan mencekam di kamar kos sempit itu. "Singkirkan tanganmu, Rahmi. Aku ingin melihat apa yang Pak Rahmat nikmati tadi." Rahmi tersentak, perlahan menurunkan lengannya. Matanya berkaca-kaca, menatap sudut ruangan seolah mencari pelarian yang tidak pernah ada. Cahaya lampu neon yang berkedip di atas kepala kami membuat kulit putihnya tampak pucat, memperlihatkan setiap jengkal lekuk tubuhnya yang bahenol. Perutnya yang lembut sedikit melipat saat dia menarik napas panjang, sementara paha dalamnya yang rapat saling bergesekan. Aku menarik kursi kayu dari meja belajarnya, duduk dengan kaki terbuka lebar. Beban tubuhku membuat kayu itu mengerit
Terakhir Diperbarui: 2026-04-11
Kacamata Penakluk

Kacamata Penakluk

Bejo hanyalah seorang OB rendah yang diremehkan dan direndahkan di tempat kerjanya, terutama para wanita. Semua itu menyulut dendam dalam diri Bejo, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Sampai dia menemukan sebuah “Kacamata Penakluk Wanita” di gudang berdebu. Kacamata itu memiliki sistem yang membedah statistik rahasia, skandal busuk, hingga hasrat terdalam setiap wanita yang ia tatap. Dengan alat itu di tangannya, Bejo bisa membalikkan keadaan. Namun, tidak sampai di situ saja. Kacamata ini memberikan berbagai tugas yang membuat Bejo berubah dari pria yang polos menjadi dominan dan penuh muslihat. Tatapan kosongnya berubah tajam, dan tubuh kurusnya perlahan terbentuk sehingga dia tidak mudah diremehkan lagi. Bejo mulai menggunakan kacamata penakluk itu untuk menaklukkan para wanita yang dulu menghinanya. Satu per satu, manajer dingin hingga istri konglomerat jatuh ke dalam kendali mentalnya.
Baca
Chapter: 56. Tarman kembali
Layar kacamata emas itu masih menampilkan visual tiga dimensi Mila yang sedang gelisah di lorong rak, tapi dorongan adrenalin di nadiku menuntut sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar proyeksi digital. Aku melepaskan kacamata itu, menyeringai menatap pantulan diriku yang kerempeng namun penuh kuasa di cermin ruang kerja. Unit penthouse ini terasa terlalu sunyi. Aku butuh melihat langsung bagaimana pelayan baruku itu gemetar di bawah tatapanku di tempat umum. Aku menyambar kemeja flanel gelap, memakainya tanpa dikancing untuk menutupi kaus oblongku, lalu melangkah keluar menuju lift pribadi. Denting halus lift membawa perasaanku turun ke lantai dasar. Begitu pintu terbuka di area komersial yang sejuk oleh angin sore, aku berjalan santai menuju minimarket berlogo merah-biru itu. Lonceng di atas pintu berdenting saat aku melangkah masuk. Aroma khas pembersih lantai dan roti murah langsung menyambut. Mila sedang membelakangiku, berjinjit untuk menata deretan susu kotak di rak pal
Terakhir Diperbarui: 2026-04-12
Chapter: 55. Tanpa pelindung
Mila melangkah keluar dari toilet dengan gerakan yang kaku, seolah-olah setiap sendinya terbuat dari kaca yang hampir retak. Aku menikmati keresahannya sambil bersandar di kursi kulit kerjaku, melihat pemandangan tiga dimensi dari Mila yang yang terpampang nyata. Kain kemeja seragam minimarket yang berbahan poliester kasar itu bergesekan langsung dengan kulit payudaranya yang sensitif. Setiap helai napas yang ia tarik membuat kain itu mengikis kuncup dadanya, menciptakan sensasi geli yang menyiksa sekaligus membangkitkan gairah yang terpancar dari rona merah di pipinya. Sepasang tonjolan kecil tercetak jelas di balik kain tipis seragamnya. Tanpa penyangga bra, gundukan kembar itu bergoyang bebas mengikuti irama langkahnya yang ragu. Untungnya, sore itu minimarket cukup lengang, hanya deru mesin pendingin dan suara barang yang digeser dari arah gudang yang memecah keheningan. Rekan kerjanya, seorang wanita berambut dikuncir kuda, mendongak dari balik meja kasir. Matanya menyi
Terakhir Diperbarui: 2026-04-11
Chapter: 54. Mulai mengerjai Mila
Lantai marmer penthouse menyambut langkah kakiku dengan keheningan yang mahal. Istana rahasiaku ini terasa semakin seperti rumah, jauh lebih nyaman daripada bilik kantor yang menyesakkan dan penuh tekanan atasan. Aku meregangkan bahu, merasakan empuknya sofa kulit yang menyangga tubuh kerempengku. Nadia belum pulang. Di kantor, aku juga tidak melihat batang hidungnya. Tapi biarlah, sepertinya dia sedang "bertugas" menjadi santapan para elit politik busuk itu. Bayangan dia sedang melayani pria-pria berjas itu sempat melintas, namun rasa penasaranku justru tertuju pada mangsa lain. Mila. Pelayan ketigaku yang baru saja kutaklukkan semalam. Aku berjalan menuju meja kerja, tempat kacamata berbingkai emas itu tergeletak diam. Seharian ini aku sengaja meninggalkannya. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak bergantung pada benda ini. Namun, rindu akan kendali mutlak itu mulai menggerogoti kewarasanku. "Kamu m
Terakhir Diperbarui: 2026-04-10
Chapter: 53. Membeli kesetiaan
Lampu-lampu taman di sekitar kolam renang memantul redup pada permukaan air yang tenang, menciptakan riak cahaya yang menari-nari di kulit Mila yang masih berkeringat. Aku merapikan ikat pinggang, mengabaikan Mila yang sibuk memunguti pakaian dalamnya dari lantai semen yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, aku membalikkan badan, melangkah meninggalkan kegelapan gudang alat itu menuju lobi utama. "Mas! Eh.. Tuan Bejo, tunggu!" Derap langkah kecil yang terburu-buru mengejarku. Sebuah tangan yang ramping dan masih gemetar mencengkeram lengan kemejaku, menahan gerakanku. Mila berdiri di depanku dengan napas tersengal, kancing kemejanya salah pasang dan kerudungnya tersampir asal-asalan, membingkai wajahnya yang pucat penuh harap. "Uang itu... Tuan akan benar-benar membayar semua hutang-hutang saya, kan?" Aku berhenti, memutar tubuh perlahan hingga bayanganku yang tinggi menutupi sosok mungilnya. Ujung t
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: 52. Pelayan ketiga: Mila
Jarum jam di dinding penthous menunjukkan pukul 00.30. Sudah lewat setengah jam dari janji pertemuan dengan Mila. Sial, semua gara-gara aku terlalu fokus mengerjai Sari. Aku bergegas turun dan melintasi lobi apartemen yang mulai sepi, hanya tersisa aroma pembersih lantai yang tajam dan dengung pelan mesin pendingin ruangan. Langkah kakiku menggema di lantai marmer saat aku menuju area kolam renang yang terletak di dekat zona komersial. Sesosok wanita duduk meringkuk di salah satu kursi santai kayu di pinggir kolam. Cahaya dari layar ponselnya menerangi wajahnya yang cemas di tengah kegelapan. Mila. Begitu menyadari kehadiranku, dia langsung melompat berdiri. Napasnya terembus panjang, seolah seluruh beban di pundaknya baru saja luruh. "Kira-kira lima menit lagi Mas Bejo nggak muncul, aku sudah mau pulang." Mila merapikan kemejanya yang sedikit kusut, matanya yang bulat menatapku dengan binar lega sekaligus lelah. "Ada urusan yang
Terakhir Diperbarui: 2026-04-08
Chapter: 51. Kenikmatan di rumah Pakde
Begitu daun pintu kayu rumah Pakde Tarman berderit tertutup, Joko langsung memutar kunci dua kali. Bunyi "klik" logam itu seolah menjadi lonceng dimulainya pesta liar bagi mereka. Di bawah temaram lampu teras yang merembas masuk dari celah jendela, aku melihat melalui kacamata emas ini betapa Sari sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dia menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya memburu hingga daster lusuh itu naik-turun dengan kacau di dadanya yang montok. "Mas... Mas Joko, tolong... saya sudah tidak tahan lagi," Sari merintih sambil mencengkeram kain dasternya sendiri, jari-jarinya yang gemetar menarik garis leher kain itu hingga hampir robek sehingga membuat ceruk belahan dadanya terlihat. Joko tidak menjawab dengan kata-kata. Dia maju selangkah, mencengkeram kedua bahu Sari dan mengimpitnya ke kayu pintu yang keras. Matanya yang merah karena nafsu menatap tajam ke arah Sari. "Kamu tahu kalau tadi ketahuan, Sari? Kamu bakal
Terakhir Diperbarui: 2026-04-07
Terjebak Gairah Siluman

Terjebak Gairah Siluman

Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya. Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia. Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto. Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang. Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
Baca
Chapter: 185. Terjebak.. Selamanya?
Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: 184. Mengepung
Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: 183. Berpura-pura
Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Terakhir Diperbarui: 2026-03-23
Chapter: 182. Bus malam
Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-18
Chapter: 181. Perjalanan baru
Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Terakhir Diperbarui: 2026-03-17
Chapter: 180. Jangan lengah (long chapter)
Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed
Terakhir Diperbarui: 2026-03-16
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status