
Terjebak Gairah Siluman
Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya.
Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia.
Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto.
Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang.
Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
Read
Chapter: 122. Bahaya dari ruang pengawas"Rrrrghh.."Suara geraman terakhir Jaka mereda, digantikan oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh dengung ribuan kipas pendingin dari rak server. Tubuh gempal Sugeng dan Jaka terkulai tumpang tindih di atas lantai beton yang dingin, seperti tumpukan daging yang kehilangan nyawa.Cairan putih sisa kenikmatan mereka perlahan mengering di kulit paha Wulan yang kini justru tampak semakin bersinar.Wulan menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang membusung tanpa balutan kain itu naik turun dengan ritme yang teratur. Sensasi hangat dari energi gairah kuning pekat yang tadi ia hisap kini mengalir di setiap pembuluh darahnya, menyembuhkan rasa lelah dan memberikan kekuatan baru yang luar biasa.Ia menatap dua pria yang mendengkur halus itu dengan tatapan dingin yang tak menyisakan sisa kehangatan dari aksi panas tadi."Dasar makhluk rendah."Wulan melangkah melewati mereka, jemari kakinya yan
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: 121. Penjaga ruang cctvWulan mulai menjalankan aksinya menjelang tengah malam. Lantai basement apartemen mewah itu terasa seperti perut monster yang dingin dan pengap. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lantai beton abu-abu.Aroma udara di sini berat, campuran antara bau knalpot yang mengendap, kelembapan dinding yang berjamur, dan sisa-sisa pelumas mesin.Wulan melangkah dengan pelan, membiarkan sendal yang dia pinjam dari doni beradu pelan dengan lantai, menciptakan gema yang terputus-putus. Jaket parka milik Doni yang berukuran jumbo membungkus tubuhnya, menutupi lekuk tubuhnya hingga ke pertengahan paha.Tangan Wulan tenggelam di dalam saku jaket, sementara tudungnya sengaja ia biarkan turun, memamerkan wajah almondnya yang tampak kebingungan di bawah sorotan lampu yang pucat.Di ujung lorong, di dekat deretan mesin kompresor yang menderu rendah, sebuah pintu kaca tebal dengan logo
Last Updated: 2026-01-08
Chapter: 120. Akses kamera pengawasMatahari merayap naik, memanggang aspal Pantai Indah Kapuk hingga uap panasnya terlihat bergetar di atas permukaan jalan. Di dalam kafe yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan, Wulan berdiri terpaku di balik meja kasir.Jemarinya yang lentik menggenggam sebuah gelas kristal, mengelapnya berulang kali dengan kain mikrofiber hingga permukaannya nyaris tanpa noda. Namun, sorot mata almondnya tidak tertuju pada gelas itu; pandangannya kosong, menembus kaca besar kafe ke arah lobi apartemen mewah di seberang sana."Haaaah..."Helaan napas panjang lolos dari bibir merah meronanya. Gelas itu diletakkan dengan sedikit entakan di atas konter."Kenapa? Gelasnya ada salah apa sampai kamu mau pecahkan begitu?"Doni muncul dari balik mesin espreso, memperhatikan wajah Wulan yang cemberut. Gadis itu tidak menyahut, hanya menyandarkan dagunya di telapak tangan, membuat pipinya yang mulus sedikit tertekan.
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 119. Aku bisa melindungi diriMatahari pagi baru saja merangkak di antara gedung-gedung PIK, membakar sisa embun yang menempel pada rerumputan taman apartemen. Udara masih terasa sejuk, meski basah oleh aroma asin laut dan polusi kota yang mulai bangun.Wulan melangkah keluar dari lobi, kakinya yang jenjang terbungkus spandex hitam pendek yang berhenti di pertengahan paha, memamerkan kulit putih mulusnya yang kontras dengan bahan elastis yang ketat.Kaos crop top putihnya berpotongan lebar di dada, memperlihatkan tepian sport bra hitam yang menekan payudaranya yang padat hingga membentuk siluet yang jelas.Rambut hitam bergelombangnya diikat tinggi, menonjolkan leher jenjang dan garis rahangnya yang sempurna.Dia mulai berlari pelan, lengannya bergerak ritmis, memantulkan irama kecil di dadanya. Matanya yang sayu, kali ini tidak polos, melainkan tajam dan waspada, menyapu setiap sudut taman, s
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: 117. Ojol yang malangLantai semen gudang itu terasa sedingin es saat menyentuh kulit punggung Wulan yang polos. Keheningan segera menyergap begitu deru mesin mobil Boris menghilang di kejauhan, menyisakan bau apak ruangan dan aroma sisa pergulatan yang masih menggantung di udara yang lembap.Wulan perlahan membuka kelopak matanya, menatap langit-langit berkarat dengan sorot mata yang tak lagi sayu, melainkan tajam dan penuh perhitungan."Dasar kerbau bodoh."Wulan terkekeh lirih, sebuah suara yang terdengar kontras dengan kesunyian gudang. Tubuhnya yang indah, kini penuh dengan jejak kemerahan akibat perlakuan kasar Boris, menggeliat pelan di atas lantai yang kotor.Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya. Penyamarannya sebagai perempuan simpanan kelas teri telah berhasil total; Boris dan Maya benar-benar percaya bahwa ia hanyalah mangsa yang tak berdaya."Ugh, bau ini benar-benar menjijikkan
Last Updated: 2026-01-06
Chapter: 118. Penyimpanan data rahasiaLonceng di atas pintu kafe berdenting nyaring, membelah kebisingan mesin espreso yang tengah meraung. Doni tersentak, hampir saja menjatuhkan portafilter yang tengah ia bersihkan.Matanya langsung tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk, mengenakan jaket hijau ojek online yang kedodoran dan kotor."Wulan? Itu kamu?"Doni melompat dari balik meja bar, mengabaikan pesanan pelanggan yang baru saja masuk. Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Wulan dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya nanar memindai setiap inci wajah gadis itu, mencari jejak luka atau air mata."Mas Doni, tenanglah. Aku tidak apa-apa."Wulan memberikan senyum tipis yang menenangkan, meskipun napasnya masih menyisakan sisa-sisa aroma laut dan debu gudang.Ia melepaskan ritsleting jaket hijau itu dengan perlahan, membiarkan kain tebal itu meluncur jatuh ke lantai kafe yang bersih.Di baliknya, Wulan t
Last Updated: 2026-01-06