Kacamata Penakluk
Bejo hanyalah seorang OB rendah yang diremehkan dan direndahkan di tempat kerjanya, terutama para wanita. Semua itu menyulut dendam dalam diri Bejo, tetapi dia tidak bisa apa-apa. Sampai dia menemukan sebuah “Kacamata Penakluk Wanita” di gudang berdebu.
Kacamata itu memiliki sistem yang membedah statistik rahasia, skandal busuk, hingga hasrat terdalam setiap wanita yang ia tatap.
Dengan alat itu di tangannya, Bejo bisa membalikkan keadaan. Namun, tidak sampai di situ saja. Kacamata ini memberikan berbagai tugas yang membuat Bejo berubah dari pria yang polos menjadi dominan dan penuh muslihat.
Tatapan kosongnya berubah tajam, dan tubuh kurusnya perlahan terbentuk sehingga dia tidak mudah diremehkan lagi.
Bejo mulai menggunakan kacamata penakluk itu untuk menaklukkan para wanita yang dulu menghinanya. Satu per satu, manajer dingin hingga istri konglomerat jatuh ke dalam kendali mentalnya.
Read
Chapter: 72. Jalanan rayaUap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: 71. Di kamar mandiSari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: 70. Hadiah untuk premanSari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: 69. Ancaman HermanPintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: 68. Sari ingin dilihatLampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: 67. Mengunjungi MilaLangkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: 128. Di atas meja mekanikLangit di luar sudah menghitam pekat saat si pria besar menggendong tubuh Ajeng yang lemas menuruni tangga beton. Lengannya yang kekar melingkar di bawah lutut dan punggung Ajeng, membawa tubuh mungil itu seperti membawa sekarung beras.Kepala Ajeng terjatuh di bahunya, rambut hitam bergelombangnya tergerai liar, menutupi wajahnya yang basah oleh campuran air mata, air liur, dan sperma.Begitu mereka mencapai lantai bawah, area bengkel yang tadinya bising oleh suara mesin kini sudah sepi. Tiga mekanik yang tadi masih fokus bekerja kini tengah beres-beres—menyapu lantai berminyak, menutup drum oli, dan menggulung selang kompresor.Satu mekanik bertubuh gempal dengan brewok tebal sedang mengelap tangannya dengan kain lap kotor saat matanya menangkap pemandangan yang membuat seluruh gerakannya terhenti.
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 127. Dikasari, tapi sukaKata-kata Ajeng menggantung di udara, terpotong oleh gerakan brutal si pria besar. Tangannya yang kekar merobek simpulan blus di bawah dada Ajeng, membuat kain putih itu melorot ke lantai. Kini tubuhnya hanya terbungkus bra hitam berenda dan celana ketat krem yang sudah melorot rendah—nyaris memperlihatkan segalanya."Suami lo pergi? Bagus. Berarti lo udah lama nggak dijamah, kan?"Tanpa menunggu jawaban, si pria besar mencengkeram pinggang Ajeng dan mengangkatnya seperti boneka. Dia mendorong tubuh Ajeng ke atas meja lebar Oji, menelungkupkannya di antara tumpukan brosur mobil yang berhamburan. Satu gerakan kasar, dan celana ketat Ajeng ditarik paksa hingga melorot ke pergelangan kakinya."Aduh, Bang... pelan-pelan dong..." rintih Ajeng, tapi dia tidak melawan. Posisinya menelungkup justru membuat bokongnya semakin
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 126. Godaan AjengSuara langkah berat mendaki tangga beton sudah terdengar sebelum pemiliknya muncul di ambang pintu."Ini gue udah bawa orang dari depkolektor yang punya alat nih. Mana uangnya?!"Pintu yang sudah terbuka tadi langsung dimasuki sesosok pria bertubuh sedang dengan perut buncit yang menonjol di balik kemeja batik lengan pendek. Wajahnya persegi dengan rahang lebar, dihiasi kumis tipis yang sudah mulai memutih di ujung-ujungnya. Dialah Oji, pemilik dealer mobil bekas merangkap penadah mobil curian ini.Di belakangnya, seorang pria kurus berkacamata membawa koper hitam berisi mesin pendeteksi uang palsu. Wajahnya datar, tapi matanya langsung membelalak begitu melihat pemandangan di dalam ruangan.Oji berhenti tepat di depan pintu. Kalimatnya menggantung di udara karena matany
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: 125. Uang palsu?Pintu kantor di ujung tangga itu terbuka dengan engsel berkarat yang memekik nyaring. Mataku langsung menangkap pemandangan sebuah ruangan yang jauh dari kata rapi.Kursi direksi besar berbahan kulit sintetis hitam yang sudah mengelupas di beberapa bagian berdiri megah di balik meja lebar. Itu jelas singgasana pemilik dealer ini, yang mereka sebut Bang Oji, kalau tidak salah dengar tadi.Di sekitarnya, tumpukan berkas dan brosur mobil berhamburan, beberapa bahkan sudah menguning dimakan usia. Sebuah lemari besi hijau pupus berdiri di sudut, pintunya sedikit terbuka memperlihatkan setumpuk STNK dan dokumen kendaraan.Sofa kulit sintetis murahan—yang sama mengenaskannya dengan kursi direksi—teronggok di sisi ruangan. Kulitnya terkelupas di sana-sini, memperlihatkan busa kuning di dalamnya."Sini, Neng. Duduk dulu. Nunggu Bang Oji paling bentar lagi," si kurus bertato itu mempersilakan Ajeng sambil menunjuk
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: 124. Ajeng bersama para mekanikAjeng sekali lagi mengangguk setelah mendengar perintahku. Wajahnya yang resah berganti menatap mereka satu per satu—si pria besar di depan, si kurus bertato di kanan, si brewok di kiri. Dia menggigit bibirnya lagi, kali ini lebih lama, lalu memulai aksinya."Jadi... jadi... mobilnya di mana ya, Pak? Boleh saya lihat langsung?" tanyanya dengan suara yang dibuat lebih manja dan ragu. Dia merapatkan kedua tangannya di depan dada, gerakan lugu yang justru membuat belahan payudaranya semakin mengintip jelas.Si pria besar menyeringai lebar. "Oh, boleh banget, Neng. Mobilnya ada di belakang. Sini saya anterin.""Tapi sebelum itu," potong si kurus, "Neng mau minum dulu? Air es atau teh manis? Saya bisa ambilin di warung sebelah. Siapa tau Neng capek habis perjalanan jauh.”"A-
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: 123. Dealer panasAku merebahkan tubuh di atas kasur, memejamkan mata di balik lensa hitam kacamata ajaibku. Dunia nyata perlahan memudar, tergantikan oleh visual tiga dimensi yang muncul di hadapanku. Mode monitor—pandangan langsung dari perspektif Ajeng yang baru saja turun dari mobil taksi online. Suara pintu mobil yang tertutup, lalu langkahnya yang pelan menyusuri trotoar retak di depan deretan ruko tua yang terbengkalai.Mata virtualku menyipit mengamati area yang dilihat Ajeng. Dealer mobil bekas itu berada di pojok jajaran ruko yang nyaris tak terpakai. Beberapa bangunan bahkan sudah tidak berkaca, jendelanya menganga hitam kosong. Jalan aspal di depannya sunyi, hanya dilewati sesekali truk pengangkut pasir yang lewat.Di samping deretan ruko, lahan kosong dengan rumput ilalang setinggi pinggang membentang luas. Beberapa rongsokan mobil terparkir acak di atas tanah
Last Updated: 2026-05-28

Terjebak Gairah Siluman
Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya.
Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia.
Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto.
Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang.
Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
Read
Chapter: 185. Terjebak.. Selamanya?Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: 184. MengepungNapas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: 183. Berpura-puraUdara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Last Updated: 2026-03-23
Chapter: 182. Bus malamPulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: 181. Perjalanan baruSprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: 180. Jangan lengah (long chapter)Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed
Last Updated: 2026-03-16