登入Air shower dimatikan. Kamar mandi dipenuhi uap hangat yang tebal. Wandra dan Joanna masih saling berpelukan di bawah guyuran air yang sudah berhenti, tubuh mereka basah dan berkilau.Wandra mengambil handuk putih besar dari rak, lalu membungkus tubuh Joanna dengan lembut dari belakang. Ia mengusap punggung Joanna pelan, menyerap air dari kulitnya dengan penuh kasih. Tangan besarnya menyusuri lengan Joanna, lalu turun ke pinggang dan bokongnya, mengelapnya dengan gerakan yang sengaja lambat dan sensual.Joanna tersenyum, menggigit bibir bawahnya. Ia membalikkan tubuh, mengambil handuk lain dan mulai mengelap dada bidang Wandra. Handuk bergerak pelan menyusuri otot perutnya, turun ke pinggul, lalu dengan nakal mengelap kejantanan Wandra yang masih setengah tegang. Joanna mengusapnya dengan lembut menggunakan handuk, tapi jari-jarinya sesekali menyentuh kulit langsung, membuat Wandra mendesah pelan.“Kamu masih keras sekali…” bisik Joanna sambil tersenyum menggoda.Wandra balas mengambil
**Lanjutan Cerita - Saling Memandikan di Bawah Shower**---Joanna masih terbaring dalam pelukan spooning Wandra, tubuh mereka saling menempel hangat dan basah oleh keringat. Kejantanan Wandra masih tertanam lembut di dalamnya, sesekali berdenyut pelan. Asap hitam tipis dari liontin masih samar-samar mengisi udara kamar.Joanna mengelus lengan Wandra yang merangkul perutnya, lalu berbisik dengan suara lembut yang lelah tapi penuh kasih:“Kita lengket sekali… mandi yuk. Aku ingin memandikan kamu.”Wandra mencium tengkuk Joanna dan mengangguk. Ia perlahan menarik diri, membuat Joanna mendesah kecil karena kehilangan sensasi penuh itu. Wandra mengangkat tubuh Joanna dengan mudah seperti bridal style, membawanya menuju kamar mandi apartemen yang luas.Air shower dinyalakan. Air hangat langsung mengguyur deras dari kepala shower besar. Joanna berdiri di bawah guyuran air, rambutnya basah menempel di punggung dan dada. Wandra masuk ke belakangnya, memeluk pinggang Joanna dari belakang seben
Joanna masih ambruk di dada Wandra, tubuhnya gemetar hebat sisa orgasme yang kuat dari woman on top tadi. Napasnya tersengal, rahimnya masih berdenyut pelan di sekeliling kejantanan Wandra yang masih tertanam dalam. Asap hitam dari liontin terus menebal pelan di udara kamar apartemen, membuat api gairah mereka belum mau padam.Joanna mengangkat wajahnya yang memerah, matanya setengah terpejam penuh kasih dan hasrat. Ia mencium bibir Wandra lembut, lalu berbisik dengan suara serak yang manja:“Peluk aku dari belakang… Aku ingin merasakanmu dekat sekali. Pelan-pelan, Wandra.”Wandra mencium kening Joanna dalam-dalam sebelum perlahan menarik diri. Joanna bergeser ke samping, memunggungi Wandra dengan gerakan lembut. Ia menekuk lututnya sedikit, bokongnya yang montok dan basah menyodorkan diri secara alami.Wandra mendekat dari belakang. Dada bidangnya menempel sempurna di punggung Joanna yang hangat. Ia melingkarkan satu tangan di pinggang Joanna, menariknya rapat hingga tak ada celah se
Wandra memacu motornya dengan napas memburu, tinjunya masih mengepal. Liontin di dadanya bergetar panas. Tapi kali ini, bukan hanya kekuatan yang keluar — asap hitam tipis mulai merembes keluar dari liontin, menebal dengan cepat di udara jalanan“Shit…” gumam Wandra. Tubuhnya langsung panas. Darahnya berdesir hebat, kejantannya mengeras dalam sekejap. Gairah yang tak terkendali membakar seluruh tubuhnya. Ia tahu ia tak bisa menahan lama.Wandra melaju kencang menuju rumah sakit tempat Joanna sedang koas malam.Sesampainya di depan gerbang RS, Joanna baru saja keluar sambil membawa tas. Wajahnya lelah setelah shift panjang, tapi langsung berubah cerah saat melihat Wandra.“Wan? Kamu jemput aku? Aku kira—”Belum sempat Joanna menyelesaikan kalimatnya, Wandra sudah turun dari motor, memeluk pinggangnya erat, dan menciumnya dengan ganas di tempat parkir yang cukup sepi. Joanna tersentak, tapi dalam hitungan detik ia merasakan asap hitam yang samar-samar menempel di tubuh Wandra. Tubuhnya
Mereka bertarung di antara tiang-tiang beton dan bayangan-bayangan panjang area kolam itu selama waktu yang terasa tidak linear—kadang terasa seperti menit, kadang seperti jauh lebih lama.Wandra tidak bisa menyerang lebih kuat dari yang bisa ia lindungi dirinya sendiri—ketidakseimbangan level kultivasi membuat setiap pertukaran serangan tidak seimbang secara kalkulasi murni. Tapi liontin terus berbicara—bukan dalam kalimat panjang, melainkan dalam instruksi singkat yang datang tepat ketika dibutuhkan, seperti navigator yang melihat peta dari atas dan memberikan arah kepada pengemudi yang hanya bisa melihat jalan di depannya.*"Kiri—"*Wandra berguling ke kiri. Serangan menghantam lantai di mana ia berdiri dan meninggalkan lubang kecil.*"Tiang di belakangnya—"*Wandra melompat ke tiang, menggunakan momentum untuk membalikkan arah, mendorong serangan dari sudut yang tidak Duan Jing Tian antisipasi.Pria itu mengelak—tapi lebih lambat dari sebelumnya. Ada sesuatu yang Wandra mulai baca
Suara itu tidak menjawab dengan cepat—tidak dengan cara yang berarti ragu, melainkan dengan cara seseorang yang menimbang kata-kata sebelum mengucapkannya karena kata-kata itu penting.*"Aku yakin bahwa dengan arahanku, kamu punya peluang yang nyata. Itu tidak sama dengan garansi. Tapi peluang yang nyata—di tangan yang tepat—sudah cukup."*Wandra menghembuskan napas.'Peluang yang nyata,' ulangnya dalam hati.Baik.Ia akan ambil itu.---Sepuluh menit kemudian, suara mesin motor terdengar dari luar—satu motor yang berhenti, kemudian suara mesin yang dimatikan, kemudian keheningan.Lalu langkah kaki.Seseorang yang berjalan dengan cara yang tidak berusaha menyembunyikan kehadirannya—karena memang tidak perlu. Langkah yang memiliki berat keyakinan di setiap jejakannya, langkah seseorang yang sudah sangat terbiasa masuk ke dalam situasi konflik dan selalu keluar sebagai pihak yang berjalan pergi.Sosok itu muncul dari pintu yang menghadap ke area kolam.Perawakan sedang—tidak besar, tida







