LOGINBangkit dari liang lahat setelah dikhianati dan dibunuh secara keji, jiwa seorang pendekar tingkat Dewa merasuk kedalam raga Pewaris Miliarder Dewangkara Atmaja, untuk memulai misi pembalasan dendam yang kejam terhadap para penghianat di dunia modern. Cahaya putih jatuh dari langit ke sebuah kuburan baru yang ada di dalam hutan saat malam gelap di guyur hujan badai. Sesosok tubuh tanpa nyawa yang sudah mati selama tujuh hari terlihat dipenuhi luka berdarah dan mulai membusuk, terlihat menggeliat ketika cahaya putih laksana petir itu memasuki tubuhnya. Sebuah keajaiban terjadi, mayat yang tubuhnya penuh lobang bekas tusukan pisau perlahan membuka matanya yang berkilau tajam laksana intan yang menerangi kegelapan. Blar…! Suara gemuruh terdengar ketika mayat itu mendorongkan kedua tangannya keatas, tanah berhamburan seakan ada ledakan ranjau dari dalam tanah. Mayat itu segera meloncat keluar, selayaknya tubuh manusia normal. Ya, pemilik tubuh ini adalah tuan muda dari keluarga Atmaja yang bernama Dewangkara Atmaja. Sebelumnya dia diculik saat mengikuti acara perpisahan kelulusan SMA, di sebuah gunung di Jawa Barat. Dewangkara Atmaja pewaris tunggal perusahaan Atmaja Corporation hidup lagi dengan jiwa yang berbeda. Tapi satu hal yang pasti, dia akan mencari orang yang membuat pemilik tubuh asli Dewangkara harus mati secara mengenaskan. Seorang Dewa dari dimensi lain masuk kedalam tubuhnya dan membuat Dewangkara yang sudah mati hidup kembali dengan kekuatan yang sangat hebat.
View MoreBab 6. MENGURUNG DIRI“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya.Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat lemah dan belum seratus persen memahami kebiasaan didunia baru ini.Dewa dengan cepat segera menelusuri pengetahuan yang dia download dari memori milik Asep sang sopir mobil sayur. Akhirnya dia menemukan apa artinya kartu identitas, dan saat itu juga dia teringat dengan benda pipih hitam berbahan kulit dengan isi beberapa kartu.“Ini Bu,” kata Dewa sambil menyerahkan KTP milik Dewangkara Atmaja atau milik tubuh asli yang sedang ditempati.Dewa sendiri belum tahu siapa nama yang tertera dalam KTP yang diserahkan ke resepsionis hotel. Dan dia juga tidak terlalu memperhatikan deretan kartu Bank yang tersusun rapi di dalam dompet itu.Akan tetapi berbeda dengan resepsionis dan supir dari toko emas
Bab 5. MILIARDER MUDADewa melangkah santai menyusuri trotoar Kota Sukabumi. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit. Di matanya, dunia modern ini sangat bising dan kacau, namun terstruktur dengan cara yang unik. Ia melihat deretan toko yang menjajakan pakaian jadi, alat elektronik, dan makanan. Ia mengamati orang-orang yang sibuk bertransaksi menggunakan lembaran kertas berwarna dan kartu plastik."Aku butuh sumber daya. Di dunia ini, uang adalah pengganti batu spiritual," pikirnya.Kakinya berhenti di depan sebuah ruko bertuliskan "Toko Emas Sinar Abadi". Etalasenya terbuat dari kaca tebal, memamerkan deretan cincin, kalung, dan gelang berwarna kuning berkilau. Di dalam, pendingin ruangan menyala, menciptakan perbedaan suhu yang drastis dengan jalanan luar. Beberapa pengunjung tampak bertransaksi di depan kasir.Dewa mendorong pintu kaca itu. Penampilannya yang mengenakan baju Surjan biru dan celana komprang hitam langsung menarik perhatian satpam dan pelayan toko. Namun, aura ding
Bab 4. AKSI PEMBUNUHANBerdiri di tengah riuhnya pasar Sukabumi, sekelebat ingatan tiba-tiba menyerang kepala Dewa. Memori dari pemilik asli tubuh ini. Kilasan visual yang berdarah dan penuh ketakutan.Tujuh hari lalu, senja di Gunung Salak. Angin bertiup dingin, membawa kabut tipis turun ke perkemahan. Dewangkara asli berdiri di tepi jurang, mengambil foto matahari terbenam dengan ponselnya. Suara tawa teman-temannya terdengar dari kejauhan."Bro, aku buang air kecil dulu di sana. Gelap sedikit tidak apa-apa," Dewangkara melambai pada salah satu temannya, berjalan menjauh dari area tenda menuju pepohonan pinus.Ia tidak sadar, dari balik semak belukar, lima pasang mata yang dingin terus mengawasinya. Kelima pria itu berotot tebal, mengenakan jaket pendaki yang menutupi perlengkapan tempur di dalamnya. Mereka menyebar dengan formasi taktis, memotong rute kembali ke perkemahan.Saat Dewangkara selesai menaikkan ritsleting celananya dan berbalik, sesosok tubuh besar menyergapnya dari be
Bab 3. TANGIS KESEDIHANPerjalanan menuju pasar induk Kota Sukabumi memakan waktu hampir satu jam. Jarak empat puluh lima kilometer bukanlah masalah bagi mobil pick up Asep yang dipacu kencang. Sepanjang jalan, Dewa duduk dalam diam. Matanya mengawasi setiap detail dari balik kaca jendela yang diturunkan setengah. Ia melihat tiang listrik, rumah-rumah beton, papan reklame warna-warni, dan orang-orang yang berjalan dengan pakaian modern.Otaknya terus memproses data yang ia ambil dari Asep, mencocokkannya dengan realita visual di depannya. Mesin mobil yang menderu terasa bergetar di telapak kakinya. Ia benar-benar telah mendarat di peradaban yang membuang jalur kultivasi demi teknologi mekanis."Nama saya Asep, Kang. Kalau akang teh namanya siapa?" Asep mencoba memecah keheningan sambil memutar kemudi."Dewa," jawabnya singkat."Oh, Dewa. Asli mana Kang? Kok pakaiannya kayak orang keraton begitu?""Saya dari daerah pegunungan." Dewa enggan menjelaskan lebih detail. Ia menutup mata, pu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.