Mag-log inAkibat sengatan ribuan semut rangrang dan jamu oplosan, alat vital Madun membengkak permanen hingga 30 cm. Perubahan anatomis yang luar biasa ini mengubah nasibnya dari kuli panggul biasa menjadi pusat perhatian. Di balik celananya, gundukan masif itu memicu histeria, rasa penasaran, sekaligus kekuasaan baru di kampung Rawagede.
view more"Aduh, Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini paha aku sudah gemetar semua!" keluh Rini sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Rini saat ini sedang dalam posisi yang sangat menantang. Kaos putihnya sudah tersingkap hingga ke leher, memamerkan sepasang asetnya yang putih bersih dan kencang. Kulit perutnya yang rata tampak berkeringat, berkilau di bawah lampu operasi klinik yang terang benderang. Madun, dengan punggungnya yang lebar dan berotot cokelat gelap, tampak seperti raksasa yang sedang menguasai dua wanita cantik sekaligus. "Sabar, Rin! Ini Bidan Siska juga belum mau lepas!" jawab Madun serak. Bidan Siska memang tidak mau kalah. Ia sedang berlutut di depan Madun, seragam bidannya sudah melorot hingga ke pinggang, memperlihatkan punggungnya yang mulus tanpa noda. Rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian wajahnya yang merah padam karena gairah. Ia sedang fokus memberikan "terapi" pada bagian kepala linggis Madun yang masif. "Enak saja lepas! Ini urusan medis, M
Duel Maut Bidan vs Administrasi: Perebutan Linggis Pasar Malam"Mas Madun! Turunin aku di depan gang aja, jangan sampai depan rumah, nanti Bapak liat!" bisik Rini sambil meremas pinggang Madun yang keras berotot.Madun ngerem mendadak. Motor bututnya batuk-batuk. Rini turun, benerin crop top putihnya yang masih lembap kena keringat pergulatan tadi. Di bawah lampu jalan yang remang, kulit perut Rini yang putih mulus kelihatan berkilau, bikin Madun susah kedip. Celana jins pendeknya makin memperjelas lekukan pinggulnya yang sintal."Makasih ya Mas buat 'hadiah' di balik tendanya. Jangan lupa, besok linggisnya harus lebih keras lagi!" Rini ngedipin mata nakal, terus lari masuk gang sambil goyangin pinggulnya yang bulat.Madun baru mau narik gas, tiba-tiba motor matic merah menghadang jalannya. Bidan Siska berdiri di sana, masih pakai seragam putih ketat yang saking ketatnya sampai kancing bagian dadanya kelihatan tertekan hebat. Mukanya merah padam, napasnya memburu."Madun! Jadi in
Tapi semua rencana pulang itu buyar Rini punya ide yg lebih gila. "Mas Madun, sini cepetan! Di belakang tenda komidi putar ini sepi banget, gelap lagi!" bisik Rini sambil menarik paksa tangan besar Madun. "Rin, gila kamu ya? Ini pasar malam, banyak orang! Kalau ketahuan Pak Bos atau Bidan Siska, bisa habis saya digebukin!" Madun protes, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti tarikan Rini. "Ssttt! Berisik! Justru yang begini ini yang bikin deg-degan, Mas. Kamu nggak ngerasa linggis kamu sudah nendang-nendang sarung dari tadi?" goda Rini. Begitu sampai di balik tumpukan terpal dan mesin mesin tua yang gelap, Rini langsung membalikkan badan dan memojokkan Madun ke dinding kayu. "Mas?" Rini menarik tangan Madun dan meletakkannya di pinggangnya yang ramping dan hangat. Madun langsung mengangkat daster hitam yang tadi sempat dipakai Rini sebagai luaran (outer), lalu tangannya yang kasar merayap ke paha Rini yang montok dan licindan pelorotin cd-nya "Gusti... Rin, kamu yakin d
"Mas Madun, liat itu! jajanan favoriku," seru Rini sambil menunjuk tukang gulali yang sedang memutar mesin pembuat gula kapas. "Iya, Rin," jawab Madun. "Bang, beli satu ya! Yang paling gede, biar puas makannya!" Rini memesan dengan suara manja. Setelah gulali besar itu jadi, Rini langsung mencubit sedikit dan menyuapkannya ke mulut Madun. "Gimana Mas? Manis nggak?" Madun mengunyah pelan. Tiba-tiba tatapan matanya kosong. Dia melihat gulali di tangan Rini, lalu melihat ke arah kerumunan anak kecil yang digandeng bapaknya. Setitik air mata jatuh di pipinya yang kasar. "Lho, Mas Madun? Kok malah nangis? Giginya sakit kena gula?" tanya Rini panik. "Bukan, Rin... saya cuma teringat almarhum bapak," suara Madun parau. "Dulu waktu saya masih kecil, bapak sering manggul saya di pundaknya cuma buat beli gulali begini. Bapak orang kecil, kuli juga kayak saya, tapi kalau soal nyenengin anaknya, dia paling nomor satu." Rini terdiam. Wajahnya yang cantik berubah jadi sendu. Dia me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.