FAZER LOGINBaru kali ini Zareen yang biasanya tak peduli apapun, merasa begitu kerdil. Ini bukan tentang pekerjaannya. Tapi tenang perasaannya. Antara rasa cinta, sakit, dan cemburu."Apa kamu ingin mundur?""Sepertinya begitu," jawab Zareen lirih. Walaupun sebenarnya ini mega proyek yang sangat menguntungkan bagi perusahaan dan dirinya sendiri. Tapi apa ia sanggup?"Aku malu, Lin. Sangat malu. Setiap kali aku teringat malam itu, saat Arsel berdiri di hadapan kami dan membongkar semuanya dengan wajah yang begitu dingin. Aku merasa seperti sampah. Dan yang paling menyakitkan bukan hanya kenyataan tentang obat itu."Linda terdiam, menunggu Zareen menumpahkan sisa sesak di dadanya."Dia menatapku dan bilang bahwa dia mencintai Kimmy. Bahwa kejadian kelam itu meski salah, telah membawanya pada wanita yang paling dia damba. Kamu bayangkan, Lin. Pria yang aku cintai bertahun-tahun, pria yang seharusnya menikahiku, justru berterima kasih pada takdir yang pahit itu karena akhirnya dia bisa memiliki wani
Langit menghela napas pelan, lalu menjawab dengan suara serak. "Ya, Pa." "Papa tahu ini berat dan nggak segampang itu memang. Tapi kamu pasti mampu.""Ya."Sejenak Pak Ndaru menoleh lagi pada mejanya Arsel dan Kimmy. "Suami Kimmy gagah dan tampan. Terlihat sangat bersahaja dan penuh perhatian. Dia dari Surabaya juga?""Dia bos Bangun Karya Persada, Pa."Pak Ndaru terkejut, meski terlihat bersikap tenang. Dahi pria itu mengenyit. Sebab ia tahu kalau Bu Elok pun menikah dengan pemilik BKP. Tapi kenapa Langit bilang kalau Kimmy juga menikah dengan bos perusahaan itu. Apa dia keponakan papa tirinya?""Kimmy nikah sama kakak tirinya, Pa." Jawaban Langit yang membuat papanya tambah terkejut. Sebab selama cerita padanya, Langit tidak pernah memberitahu hal yang sebenarnya."Tapi kenapa saat itu kabur?" Pak Ndaru ingat saat Langit sibuk mencari Kimmy."Memang ada hal yang nggak kuceritakan sama Papa. Tapi itu nggak penting, Pa. Biar saja ini menjadi kisah perjalanan antara aku, Kimmy, dan Ar
KAMU YANG KUCINTAI - 79 Pertemuan Detak jantung Kimmy berdentum hebat di dalam dada. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu secara langsung? Setahun setelah pertemuan terakhir mereka di sebuah kafe sore itu. Langit saat itu sedang makan berdua dengan papanya.Setelah melihat Kimmy, pria itu pamitan pada papanya, kemudian perlahan bangkit dari duduknya untuk menghampiri Kimmy. Kimmy mendongak. Jantungnya berpacu lebih hebat lagi, tapi ia segera menarik napas dalam dan tersenyum. Ia harus bersikap wajar, di sinilah kedewasaannya sedang diuji."Hai, Kim. Apa kabar?" sapa Langit. Suaranya terdengar sedikit serak sambil mengulurkan tangannya."Mas Langit." Kimmy berdiri menyambut tangan pria itu. Matanya memandang ke arah Pak Ndaru. Kimmy mengangguk hormat dan melempar senyum tipis pada pria paruh baya yang menjadi teman dekat papanya dulu.Langit menatap Kimmy lekat-lekat. Sorot matanya masih sarat kerinduan, tapi kini dipenuhi kesedihan yang sulit disembunyikan. Walaupun ia sudah ber
Saat Pak Fardhan dan Arsel memasuki pintu rumah. Ia disambut tiga wanita kesayangan mereka, Bu Elok, Kimmy, dan Salsa. "Pahlawan kita sudah pulang," goda Bu Elok sambil menyodorkan piring oval berisi camilan lezat. Ia ingin mendinginkan suasana yang memanas dengan candaan ringannya.Pak Fardhan terkekeh, suara tawa yang jarang sekali terdengar semenjak kemelut ini terjadi. Ia menyesap tehnya perlahan. Arsel memilih minum air putih. Sisa ketegangan di wajahnya masih terlihat."Papa hampir nggak mengenali Abang kalian tadi. Dia benar-benar mengamuk," ujar Pak Fardhan memandang putranya. Kemudian menceritakan kejadian di rumah Pak Aaron beberapa waktu yang lalu. Kimmy dan Salsa jadi merinding mendengarnya. Kimmy belum tahu bagaimana marahnya Arsel, tapi Salsa sudah tahu. "Aaron sampai tidak bisa berdiri tegak," lanjut Pak Fardhan dengan nada puas. "Tapi perjalanan kita belum selesai. PR terakhir kita di arisan keluarga bulan depan. Papa ingin kalian semua tampil prima. Jika ada siapap
"Tante, saya tahu selama ini Anda terlihat baik pada Bu Elok. Tapi sebenarnya itu hanya kamuflase saja. Anda tak suka pada ibu tiri saya yang kalian anggap perebut suami orang. Papa saya dan Bu Elok tidak pernah selingkuh. Saya sudah tahu cerita yang sebenarnya. Jangan coba-coba lagi untuk menyebar omongan kalau Bu Elok itu perebut. Tante, pura-pura baik, supaya gampang masuk keluarga kami, kan? Saya tahu niat Anda."Hening. Pak Adi pun akhirnya tahu cerita yang sebenarnya. Laki-laki itu sampai geleng-geleng kepala."Pak Aaron, Zareen, kalau merasa masih kuat melanjutkan kerjasama dengan BKP, silakan. Kita masih punya projek bersama di Surabaya Barat. Namun jika ingin mundur, mari kita selesaikan secara baik-baik. Kita akan rapat dengan tim dan akan ada lawyer juga nanti. Kutunggu keputusan kalian." Arsel memberikan pilihan untuk kerjasama mereka.Hening kembali menjadi jeda.Arsel kemudian melangkah mendekati Pak Aaron, membungkuk hingga mulutnya berada tepat di samping telinga pria
KAMU YANG KUCINTAI- 78 Tertangkap Basah"Mas, coba kamu bicara. Bagaimana Bapak ini menyuruhmu malam itu." Pak Adi memandang pemuda yang terlihat takut juga."Ya, Bapak ini yang menyuruh saya. Beliau bilang itu hanya obat tidur ringan. Awalnya saya sudah menolak, tapi beliau memaksa karena saya sudah terlanjur tahu. Beliau takut jika saya memberitahu orang lain. Beliau memberi saya uang satu juta rupiah sebagai upah. Saya punya rekaman percakapan saat beliau memberikan uang itu di samping kafe. Saya takut makanya saya rekam.""Siapa namamu?" tanya Pak Fardhan."Nama saya Yoni, Pak," jawab pemuda itu sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia langsung memutar rekaman suara yang sudah ia persiapkan di perjalanan tadi. Dengan volume maksimal biar bisa di dengar dengan jelas.Dan semua orang mendengar dan mengenali suara itu. Pak Aaron jatuh terduduk di sofa. Napasnya memburu, keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya. Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit. Bu Aaron lema
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak







