LOGINBelum selesai permasalahan Arsel dan Kimmy, kini ditambah lagi dengan masalahnya Salsa. Kalau Arsel-Kimmy jelas karena kecelakaan. Tapi Salsa? Ini sungguh lebih memalukan.Salsa putri kesayangannya, kebanggaannya yang ia jaga dengan kemewahan. Kini terasa begitu murahan di hadapan lelaki entah itu siapa. Apa ia salah memanjakan Salsa. Demi menebus rasa bersalah karena menikah lagi.Bu Elok terus mengusap bahu suaminya. Tatapan matanya memandang Salsa dengan pedih. Badai ini baru saja dimulai dan bisa lebih buruk lagi. Dengan langkah gontai, Pak Fardhan meninggalkan kamar Salsa didampingi Bu Elok. Mereka masuk ke kamarnya sendiri di lantai bawah. Ia tidak meminta siapapun untuk menjaga Salsa. Toh ini bukan kejadian mengejutkan yang membuat Salsa trauma seperti Kimmy. Semua sudah sengaja diperbuatnya. Kali ini Pak Fardhan yang biasanya begitu protektif, menjadi tega pada putrinya.Beberapa saat setelah agak tenang, Pak Fardhan menelepon orang kepercayaannya untuk mencari tahu siapa Ett
Salsa terkulai lemas saat Ettan mematikan panggilan. Ia sadar kalau Ettan mengelak dan tidak mau tanggung jawab. Pikirannya kalut bukan main.Menjelang tengah hari, Pak Fardhan muncul dari tangga. Terlihat tegang dan kecemasan terukir di wajahnya.Melihat kedatangan suaminya, Bu Elok berdiri seketika meski lututnya terasa lemas dan hatinya bergetar hebat."Elok, ada apa?" suara Pak Fardhan parau, matanya menatap serius wajah istrinya. "Kenapa wajahmu kelihatan tegang begitu? Apa Salsa sakit serius. Papa tadi menelepon dokter Uma, beliau menyuruhku bertanya padamu dan Salsa. Ada apa sebenarnya?" Pak Fardhan benar-benar kacau oleh perasaan khawatir."Salsa di kamar, kan?" ucap Pak Fardhan hendak melangkah ke kamar putrinya. Namun Bu Elok menahan. "Tunggu, Mas. Akan kuberitahu apa kata dokter Uma tadi."Wajah Pak Fardhan kian menegang. Tak sabar ingin tahu ada apa sebenarnya.Bu Elok menarik napas panjang. Ia terdiam sejenak, menatap suaminya dengan sorot mata yang sarat rasa khawatir.
KAMU YANG KUCINTAI - 51 Mengamuk Salsa membeku dengan wajah pucat dan jantung berdentum hebat saat mendengar pertanyaan Bu Elok. Susah sekali untuk bernapas dengan leluasa. Bayangan Ettan memenuhi benak dengan segala bentuk kebersamaan mereka yang hina.Ia sebenarnya kaget dengan hasil pemeriksaan dokter Uma. Namun itu mungkin benar. Sebab belum haid lagi semenjak terakhir menghabiskan waktu dengan Ettan. Dulu saat Kimmy hancur dalam tragedi malam itu, Bu Elok duduk menangis dan menemani Kimmy semalaman. Namun kini di hadapan Salsa, Bu Elok hanya diam. Ia duduk mematung dengan punggung tegak, membiarkan keheningan menjadi saksi atas badai yang baru saja dimulai.Pikirannya membayangkan semurka apa suaminya dan Arsel yang mungkin akan kehilangan kendali. Jika Kimmy merupakan luka yang tak sengaja, maka Salsa adalah noda yang sengaja dicoreng ke muka keluarga."Ternyata kamu jauh lebih buruk dari anakku yang selalu kamu hina," ucap Bu Elok di hati kecilnya. Namun cukup dalam hati saj
Setelah suaminya berangkat ke kantor, Bu Elok naik ke atas untuk melihat kondisi Salsa yang sejak kemarin meriang. Dan tak disangka, ia mendengar sesuatu yang membuat curiga. Semoga hanya masuk angin saja.Salsa keluar kamar mandi dan kaget melihat Bu Elok berdiri di sana. Namun sikap angkuh yang telah mendarah daging membuatnya memasang topeng sinis. Tanpa sepatah kata pun ia membuang muka, melangkah melewati ibu tirinya menuju kamar."Salsa, kamu sudah minum obat?" tanya Bu Elok berusaha tetap sabar dan lembut.Salsa berhenti tepat di depan pintu kamarnya. "Belum," desisnya lirih.Saat ia hendak memutar gagang pintu, dunia di mata Salsa mendadak berputar hebat dan pandangannya menjadi hitam. Ia merasa kakinya kehilangan tumpuan dan gadis itu luruh. Tubuhnya limbung ke arah belakang.Dengan refleks Bu Elok menghambur untuk menangkap tubuh ramping itu sebelum kepalanya menghantam lantai. Meski akibatnya mereka berdua jatuh terduduk."Salsa, Salsa, bangun!" teriak Bu Elok panik. Suaran
Gadis itu menghela napas panjang. Seharusnya Ettan sudah masuk kuliah hari ini, kan? Tapi kenapa tak ada satu saja balasan dari ratusan pesan yang ia kirimkan sejak kemarin.Sepanjang mengikuti kegiatan di kelas, Salsa tidak bisa tenang. Setiap kali ponselnya bergetar karena notifikasi, ia berharap itu dari Ettan. Namun nihil. Ketakutan mulai merayap, membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Perasaan bahwa Ettan sengaja menghindarinya berubah menjadi ketakutan yang membuat jantungnya berdentum hebat. Tubuhnya yang sejak pagi tadi meriang, semakin terasa panas dingin.🖤LS🖤Bu Elok yang sedang merangkai bunga di ruang tengah, menghentikan aktivitasnya saat Salsa pulang dari kampus dengan langkah gontai."Salsa, kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat gitu," tegurnya lembut.Salsa tidak berhenti. Ia hanya mengibaskan tangan dengan gerakan acuh tak acuh. Tanpa sepatah kata pun ia menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, lalu membanting pintu kamarnya di lantai atas. Suara dentuman
KAMU YANG KUCINTAI - 50 HamilArsel menatap istrinya dengan binar yang sulit dibaca. Perasaan berat meninggalkannya. Jika menuruti ego, ia ingin sekali membawa Kimmy kembali tinggal bersamanya di Surabaya. Tiap hari bisa bertemu dan bersama-sama. Namun untuk sementara jelas tidak mungkin."Sayang, ponsel lamamu tidak usah diaktifkan lagi. Biar saja tetap padam," pesan Arsel sembari memakai jaket."Ya." Kimmy mengangguk pelan. Ponsel itu adalah satu-satunya cara yang bisa menghubungkannya dengan sang mama, teman-temannya, dan Langit. Arsel menyadari kalau pada akhirnya Kimmy akan tahu tentang Langit. Tapi jangan sekarang. Ia masih berusaha memenangkan hati istrinya secara utuh.Mereka keluar kamar. Arsel pamit pada Mbak Asih. Kimmy mengantarkan sampai ke teras depan. Sebuah kecupan manis mendarat di kening sebelum Arsel melangkah ke arah mobilnya. Kimmy membalas senyum suaminya sebelum Arsel masuk mobil. Begitu deru mesin mobil menghilang di kejauhan, sunyi kembali menyergap. Kimmy
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju







