INICIAR SESIÓNPak Fardhan menggelengkan kepala sambil terkekeh. Rasa lelahnya karena urusan kantor, jadi terobati dengan tingkah kedua cucunya.Minggu pagi itu, sang cucu memang sengaja dijemput untuk dibawa bermain ke rumah mereka. Salsa ada acara keluar bersama Yusri. Sedangkan Kimmy sudah tidak ke mana-mana lagi. Bahkan telah mengambil cuti kerja karena tinggal menunggu hari kelahiran anak keduanya.Melihat keseruan kedua balita yang saling bermain itu, Pak Fardhan kembali teringat pada masa kecilnya Arsel dan Salsa. Sebagai abang, Arsel selalu mengalah. Sebab jarak usia mereka juga lumayan jauh. Sekitar delapan tahunan. Makanya Arsel kecil sering sekali menggendong adiknya yang saat itu berumur dua tahun."Pak Aaron sama istrinya cerai, Ma." Ucapan Pak Fardhan sangat mengejutkan Bu Elok."Loh, cerai? Kenapa cerai, Pa. Usia mereka juga sudah nggak muda lagi.""Pak Aaron ketahuan punya istri simpanan."Bu Elok kembali terkejut. Benarkah itu? Tidak menyangka laki-laki sudah berumur begitu, masih j
Untuk beberapa saat keduanya terdiam cukup lama. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menggoyangkan daun-daun tanaman hias di sudut teras. Di atas meja kaca, dua cangkir teh chamomile sudah dingin tak tersentuh. Keheningan di antara Zareen dan sang mama terasa begitu pekat. Bu Aaron menatap lurus ke arah kegelapan sebelum akhirnya menoleh pada putrinya."Lantas bagaimana denganmu? Apa sebenarnya hubunganmu dengan Davin?" tanya Bu Aaron mengalihkan pembicaraan."Nggak ada hubungan apa-apa, Ma. Kami hanya sebatas rekan kerja."Wajah Bu Aaron dihiasi raut kekecewaan yang kentara. Padahal ia berharap ada jawaban yang melegakan hatinya. Ia menyadarkan punggungnya pada kursi rotan. "Hanya rekan kerja? Padahal Mama sangat berharap ada kabar bahagia darimu setelah semua kekacauan ini, Reen."Zareen tersenyum getir. Jujur saja ia sebenarnya juga nyaman dengan pria itu. Ngobrol nyambung. Dia juga sering menceritakan tentang anak lelakinya yang sekarang berusia sepuluh t
KAMU YANG KUCINTAI- 90 Minggu Siang"Pa, aku mau menyapa mereka dulu," ujar Langit lantas melangkah menghampiri meja tempat Arsel dan Kimmy duduk. Kimmy yang pertama kali menyadari kehadiran mereka, tampak terkejut. Kemudian tersenyum ramah. "Om Ndaru, Mas Langit," ucapnya sambil bangkit dari duduknya. Ia menyalami Langit dan mencium tangan lelaki tua itu.Saat bersamaan Arsel yang baru membantu anaknya duduk, akhirnya menoleh. "Langit, Pak Ndaru?" Arsel mengulurkan tangannya menyambut jabat tangan Langit dan papanya. "Tidak menyangka bisa bertemu di sini. Apa kabar?""Alhamdulillah. Kabar baik," jawab Langit dengan sikap tenang. Tak lagi segusar tiga tahun yang lalu. Disaat dia masih berusaha keras berdamai dengan diri sendiri atas kegagalannya mendapatkan Kimmy.Langit mengalihkan pandangannya pada Ravi yang tengah menatap mereka. Anak itu ganteng dan lucu. "Ravi, salim sama Om Langit dan Kakek Ndaru." Arsel bicara pada putranya. Baru Ravi mengulurkan tangan pada Pak Ndaru lalu p
Pria itu melangkah menuju mobilnya untuk mengambil sekotak tisu, lalu kembali ke teras dan memberikannya pada Zareen tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Ia memilih diam, membiarkan Zareen meluapkan emosinya terlebih dahulu."Mas Davin, bisa pulang. Aku nggak apa-apa," kata Zareen setelah agak tenang."Nanti," jawab Davin singkat. Dia tidak tega meninggalkan gadis itu. Suasana rumahnya benar-benar sedang kusut. Tanpa Zareen cerita, Davin sudah tahu apa yang terjadi. Ia mendengar semua percakapan di dalam tadi.Sementara di ruang tamu, Pak Aaron diam sendirian. Dia benar-benar kacau. Setelah terbongkarnya rahasia tentang obat perangsang itu, dipikir rahasianya akan aman. Dia sudah berusaha membersihkan nama baiknya Arsel yang sudah ia coreng dengan cerita palsu, dengan harapan pria muda itu tak membongkar rahasianya.Ya, Arsel tampaknya tidak peduli akan hal itu. Urusan dan rahasianya tak penting buat laki-laki seperti Arsel. Namun yang membongkar aibnya adalah istri sirinya sendiri
Akhirnya mobil Davin berhenti di depan pagar hitam rumah mewah bergaya klasik itu. Zareen langsung turun dan berlari ke dalam rumah. Davin bergegas menyusul di belakangnya.Begitu Zareen menginjak teras, suara lengkingan amarah dan benturan barang pecah belah langsung menyambut telinganya. Atmosfer rumah itu terasa begitu panas dan mencekam."Dasar laki-laki pengkhianat. Alasan apa lagi yang mau kamu pakai untuk membela diri!"Teriak Bu Aaron dari dalam, suaranya serak melengking penuh murka.Zareen langsung masuk ke ruang keluarga dengan napas terengah-engah dan dada yang berdebar kencang. Pemandangan di ruang itu membuat langkahnya seketika terhenti. Ruangan luas itu berantakan. Vas bunga kristal hancur berkeping-keping di lantai. Sang mama berdiri di dekat meja dengan napas memburu. Sedangkan papanya duduk di sofa kulit sambil tertunduk lesu."Ma, Pa, ada apa ini sebenarnya!" pekik Zareen di tengah kekacauan itu.Bu Aaron menoleh, wajahnya merah padam dengan air mata yang membanjir
KAMU YANG KUCINTAI - 89 Istri SimpananDada Zareen berdegup kencang saat sepasang matanya bersipandang dengan Kimmy. Ia mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Berusaha tetap terlihat biasa saja. Di seberang sana, Kimmy membalas dengan hal yang sama, sebuah senyuman yang jauh lebih tulus dan anggukan yang ramah.Kimmy kemudian menyentuh lembut lengan suaminya. "Mas, lihat ke arah barat sana. Ada Zareen."Arsel menoleh ke arah yang ditunjukkan istrinya. Namun saat itu Zareen sudah memalingkan wajah. Wanita itu sedang mengobrol dengan pria di depannya. "Siapa lelaki yang bersamanya itu, Mas?" tanya Kimmy pelan."Entahlah, Abang tidak mengenalnya. Mungkin kekasihnya," jawab Arsel santai. Hal itu sama sekali tidak mempengaruhi pikirannya.Pembicaraan mereka terputus saat pelayan mengantarkan pesanan. Aroma gurih makanan yang mengepul seketika menguar di udara. Kimmy dengan telaten memotong daging ayam kecil-kecil, lalu menaruhnya di piring sang anak. "Nah, Abang makan sendiri, ya. Hati
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.
Kimmy tidak langsung menjawab. Ia menatap Arsel datar, lalu berbalik untuk mengenakan mukena. "Aku salat dulu. Setelah itu kita bicara."Arsel memerhatikan punggung Kimmy yang bergerak dalam ritme rukuk dan sujud. Keheningan subuh itu mendadak terasa di dada Arsel. Ia merasa sudah terlalu jauh dari







