Masuk"Jangan khawatir soal Kimmy dan anak kami. Selama saya masih bernapas, mereka tidak akan pernah kekurangan apa pun.""Siapa nama baby boy kalian?""Ravi."Bu Elok mengangguk-angguk sambil mengingat nama itu. Ia senang sekali putrinya baik-baik saja dan tidak sendirian selama ini. Persis seperti dugaan suaminya, pasti ada seseorang yang membantu dan menjaga Kimmy. Dan ternyata itu Arsel sendiri. Namun terbesit kekhawatiran saat ia ingat dengan rencana sang suami. Bagaimana Pak Fardhan tidak pernah menginginkan terjadinya pernikahan antara Arsel dan Kimmy. "Papamu nggak pernah setuju kamu menikahi Kimmy," ucap Bu Elok pelan."Saya tahu. Papa urusan saya, Bu. Makanya untuk sekarang ini saya masih menunggu Kimmy siap berhadapan dengan keluarga dan siap terbuka dengan pernikahan ini.""Ya," jawab Bu Elok sambil mengangguk. Baru kali ini selama hampir enam tahun menjadi ibu tirinya Arsel, ia diajak duduk berdua dan ngobrol panjang lebar. Tak mengira, Arsel sangat bertanggung jawab atas perb
"Baiklah, Papa pergi dulu ya." Pak Fardhan mencium kening istrinya. Arsel memperhatikan dari kaca jendela samping. Melihat pemandangan ini, ia tak sesedih dulu. Papanya bilang, sosok Bu Isa tak bisa digeser posisinya. Padahal sebagai lelaki, ia bisa melihat betapa tergila-gilanya sang papa pada Bu Elok. Setelah melihat mobil papanya keluar gerbang, Arsel melangkah untuk menemui wanita itu.Bu Elok menoleh. Tiba-tiba di matanya terbit sebuah harapan. Ia mengerti Arsel ini sedingin apa. Kelihatan tidak peduli. Tapi ia juga tahu, bagaimana karakter tegas putra tirinya. Arsel selalu memegang ucapannya."Kita ngobrol di ruang santai saja, Bu," kata Arsel lantas melangkah lebih dulu ke sebuah ruang terbuka tanpa dinding depan dan pintu. Menghadap langsung ke taman samping rumah. Bu Elok mengikuti.Di ruang itu ada satu set kursi santai. Suara gemercik air terjun buatan terdengar sangat menenangkan. Tepat berada di depan ruangan itu. Arsel merasa cukup aman untuk bicara di sana. Mak Karti i
KAMU YANG KUCINTAI- 61 Jaga Rahasia IniArsel berhenti. Dan Bu Elok lebih mendekat lagi lalu menarik napas panjang sambil memandang ke arah pintu samping. Memastikan sang suami tidak melihatnya bicara dengan Arsel."Ada apa, Bu?""Kamu pernah bilang, kalau suatu hari nanti akan memastikan saya bertemu Kimmy dalam keadaan dia baik-baik saja. Apa sebenarnya kamu tadi di mana dia?"Saya sudah hampir putus asa. Ke mana lagi harus mencarinya, Sel," kata Bu Elok dengan suara bergetar dan mata berembun. Dia punya uang, karena sang suami memberinya nafkah yang tidak sedikit. Hanya saja langkahnya terbatas.Melihat itu Arsel iba. Dia bisa merasakan bagaimana penderitaan Bu Elok. Bagaimanapun juga dia seorang ibu yang mencintai putrinya. Terlebih melihat ibu tirinya sekarang semakin kurus dan sayu."Arsel, saya mencium aroma minyak telon saat kamu baru sampai tadi. Apa sebenarnya Kimmy bersamamu?" Tanpa takut dan ragu lagi, Bu Elok langsung mengutarakan praduganya.Arsel memandang ke dalam. "S
"Tebakan Mbak Asih jitu juga waktu itu. Ternyata yang lahir memang baby boy," kata Kimmy saat mereka ngobrol sehabis makan siang."Saya belum pernah ngerasain hamil dan punya anak, Mbak Kimmy. Tapi begitulah yang sering dibilang orang-orang kampung. Eh, kebetulan bener juga."Mereka berbincang hingga membahas tentang nama. "Abang, saja yang ngasih nama. Aku nggak kepikiran satu nama pun untuk anak cowok," kata Kimmy."Kita kasih nama Ravensa saja. Nanti panggilannya Ravi." Arsel sengaja mengambil dari nama tengahnya. Nama pemberian sang mama. "Ravensa Heru Permana. Bagaimana?""Iya, aku setuju," jawab Kimmy karena ada nama papanya yang disematkan di sana. Dan akhirnya mereka sepakat nama itu untuk putra mereka. 🖤LS🖤Sore harinya proses administrasi diurus dengan cepat dan privat. Arsel melangkah lebih dulu sambil menenteng babies does carrier. Yang di dalamnya ada baby Ravi. Sedangkan Kimmy berjalan di dampingi Mbak Asih.Dan mobil barunya Arsel meluncur tenang ke arah apartement.
"Maafkan Papa. Tapi kita akan terus mencari Kimmy."Bu Elok bergeming. Hatinya benar-benar sesak malam itu. Perasaan yang langsung terkoneksi dengan keadaan putrinya saat itu juga.Tiga bulan setelah Salsa diasingkan ke Kuala Lumpur, Bu Elok tetap mendampingi Pak Fardhan untuk menjenguk putrinya di sana. Sudah dua kali menyambangi. Pak Fardhan juga sadar, Bu Elok berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Hanya saja mereka yang tidak bisa menerima kehadirannya."Ayo, kita masuk kamar!" ajak Pak Fardhan sambil merangkul bahu istrinya."Nanti dulu. Perutku mulas. Aku mau ke kamar mandi di belakang saja," tolak Bu Elok menepiskan tangan suaminya dan langsung melangkah pergi.Dan sepanjang malam itu Bu Elok tidak bisa tidur.🖤Pukul 22:15 suasana menjadi tegang. Dokter dan suster masuk dengan peralatan lengkap. Pembukaan sudah lengkap."Ayo, Mbak Kimmy. Tarik napas dalam-dalam, dorong saat mulasnya datang," instruksi dokter dengan tenang.Arsel berdiri di sisi kepala Kimmy, membi
KAMU YANG KUCINTAI - 60 Welcome BabyJantung Arsel berdegup kencang. Kemudian ia memandang asisten disebelahnya yang tengah menata berkas."Yusri, saya harus keluar karena ada urusan mendadak. Tolong semua urusan kantor kamu handle. Nanti jika Papa saya nyariin, bilang kalau saya ada keperluan mendesak di lapangan," kata Arsel sambil mematikan laptop."Baik, Pak Arsel," jawab Yusri.Arsel bergegas keluar ruangan. Meninggalkan laptop yang akan diurusi asistennya. Sebentar kemudian Arsel sudah memacu mobilnya membelah kemacetan Surabaya menuju apartemennya untuk berganti mobil. Di tengah situasi genting begini, insting pelindungnya masih bekerja. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun, termasuk orang suruhan papanya atau Langit melacak keberadaannya. Tinggal sedikit lagi, setelah itu Kimmy mungkin akan siap berhadapan dengan mereka.Sepanjang perjalanan ia terus menghubungi Mbak Asih yang lebih dulu sampai ke klinik bersama Kimmy naik taksi."Sabar, Sayang. Abang sudah di jalan. Sebentar
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S







