ログインPukul 11 malam, Kamila tidak bisa tidur. Dia melirik Fiona yang baru bisa tertidur pulas setelah sebelumnya terus rewel dan mencari-cari Harsa. Bahkan Toni pun tidak bisa menenangkan gadis kecil itu.Dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Pandangannya menyapu rumah mewah yang terletak di kota. Meskipun terletak di gang dan memiliki halaman yang luas, Kamila masih bisa mendengar bunyi lalu lalang kendaraan di jalan raya. Berbeda sekali dengan suasana di desa yang sudah pasti sepi dan tenang.Tidak ada foto apapun yang menunjukkan siapa pemilik rumah itu. Dia berkali-kali bertanya pada Toni, namun pria itu tidak menjawab."Mas, sekarang ceritakan semuanya. Ini sebenarnya ada masalah apa? Kamu juga daritadi terus mondar-mandir, seperti sedang memantau sesuatu," tuntut Kamila pada kakaknya yang masih berada di luar rumah.Toni mengusap rambut dan duduk di kursi teras. Kamila mengikuti duduk di sebelahnya."Suami kamu gila. Dia mau melenyapkan kamu, makanya sekarang kamu diungsikan ke sin
Puntung rokok berceceran di atas meja dan asbak sudah penuh hingga menggunung. Putra mengabaikan pelayan kafe yang berkali-kali melirik ke arahnya, karena dia hanya memesan segelas kopi selama 3 jam ini.Pikirannya benar-benar kacau. Karirnya hancur, uangnya lenyap, dan kini dia sudah resmi menjadi gembel. Jika ingin bertahan hidup, dia harus kembali mencari pekerjaan. Seharusnya mudah saja dengan background pengalamannya di Unilion. Putra bisa mencoba peruntungan ke perusahaan pesaing dan membeberkan seluruh rahasia Unilion.Tapi, Pak Bariono telah memasukkannya ke dalam blacklist karena suruhan orang itu. Harsa. Tangannya kembali mengepal. Dia tidak tahu ada hubungan apa kakak tirinya dengan CEO Unilion. Kenapa Pak Bariono terlihat tunduk dan patuh pada semua perintah Harsa?Setahunya, Harsa itu cuma pecundang yang hanya bisa membuka toko bangunan setelah lulus kuliah. Meskipun kasih sayang ayahnya lebih besar padanya dibandingkan dengan pada Harsa, tetap saja dia sangat membenci l
"Apa nggak besok saja, Le? Sudah malam. Mungkin Kamila juga sudah tidur," saran Bu Aminah dengan wajah khawatir. "Nggak bisa, Bu. Saya takut Putra nekat. Tahu sendiri sifat anak itu gimana. Bisa saja dia pulang malam ini juga. Jarak Surabaya ke sini cuma 2 jam saja." Harsa mengenakan jaket sedikit tebal untuk menghalau dingin, karena angin begitu kencang di luar sana. "Minta diantar sama Ilham ya. Ibu ke rumahnya sekarang." Ilham adalah anak dari sepupu Bu Aminah yang menjadi tentara. Badannya tinggi besar dan sering menjadi garda terdepan jika terjadi masalah di lingkungan sekitar. "Tidak usah. Saya sudah menghubungi Anto, Bu. Ibu nggak apa-apa saya tinggal sebentar? Pintunya dikunci saja. Atau menginap di rumahnya Bulek Karti?" Harsa sebenarnya tidak tega meninggalkan ibunya sendirian. Beruntung tetangga sekitar banyak yang peduli. Apalagi rumah Bulek Karti, ibunya Ilham, hanya berjarak dua rumah saja dari rumah mereka. "Ibu di rumah saja. Nanti kalau ada apa-apa, ibu bisa min
Putra sudah panas dingin. Jika berhubungan dengan polisi, entah kenapa dia langsung merasa tidak nyaman. Dulu, dia pernah berurusan dengan dinginnya penjara gara-gara kenakalan masa remaja, dan berakhir dengan sabetan ikat pinggang milik ayahnya."Bertahun-tahun aku memasukkan kamu ke pondok pesantren, bukan untuk menjadi berandalan! Kalau tahu jadinya akan begini, seharusnya kamu tetap berada di pesantren sampai lulus SMA!"Ingin sekali Putra tertawa terbahak-bahak, karena pada kenyataannya, ayahnya yang sok agamis itu ternyata memelihara gundik yang usianya lebih tua setahun darinya selama belasan tahun. Dan ternyata, gundik itu adalah mantan kekasihnya sendiri, yang membuatnya terlibat tawuran dengan siswa dari SMA lain demi memperebutkan gadis itu.Putra baru tahu dengan fakta pahit itu setelah menikah dengan Kamila dan memiliki anak. Dia tidak sengaja memergoki ayahnya sedang bermesraan dengan mantan kekasihnya di sebuah restoran mewah, dan berakhir dengan check-in di hotel."Kam
"Kenapa? Udah bener kan, langkah yang aku ambil?" Kamila heran dengan reaksi Silvi yang menurutnya berlebihan. "Duitnya kan hakku dan Fiona. Dalam agama nggak boleh ya?""Bukan begitu." Silvi meraih es teh milik Kamila dan meminumnya cukup banyak. "Kamu nggak mikir akibatnya gimana?"Akibatnya? Ya biar suaminya jera dan tidak lagi menafkahi pelakor itu. Kamila merasa keputusannya sudah benar."Mil, kamu sering-sering update berita deh. Jaman sekarang itu beda jauh dengan jaman dulu. Kalau kamu pikir Putra akan diam dan mengalah karena semua uangnya kamu ambil, maka kamu salah besar."Sepertinya pembahasannya cukup serius. Kamila meletakkan siomay ayam yang hendak dia makan. "Terus?""Dulu, mungkin Putra nggak akan tega. Itu karena dia belum mengenal pelakor. Sekarang, bisa saja dia berbuat nekat. Apalagi kalau diprovokasi sama pelakornya karena duitnya habis. Ya bukannya mau suudzon, tapi Putra bisa nekat, Mil. Orang kalau udah dibutakan oleh nafsu duniawi, tidak masalah melakukan sat
Sudah jam 11 lebih, namun Fiona belum juga pulang. Dia sengaja menunggu di atas sepeda motor. Bukan karena enggan untuk bertemu dengan Arin dan Dewi, melainkan karena memikirkan perkataan ibu mertuanya.Baru kali ini dia mendengar seorang ibu yang justru ikhlas jika anaknya diceraikan. Biasanya, ibu mertua akan selalu membela apapun kesalahan anak laki-lakinya dan menjadikan menantunya sebagai kambing hitam.Ponselnya berbunyi ketika dia hendak turun dari motornya dan bergabung dengan walimurid lain di teras sekolah. Dia melihat siapa yang menghubungi. Nomor baru.Kamila paling malas jika dihubungi oleh nomor baru. Selain karena malas basa-basi, dia tidak mau jika itu Rebecca. Tapi, tetap saja dia penasaran."Halo? Siapa ya?"[Mil? Masih ingat aku, nggak?]Siapa? Dia berusaha untuk menerka suara di seberang telepon, tapi lupa."Maaf, aku lupa. Siapa?"[Evelyn. Teman kuliah kamu dulu sama Rendra.]Mata Kamila langsung melotot. "Evelyn! Ya Allah, lama banget lho kita nggak pernah komuni
Selama pernikahannya dengan Kamila, Putra merasa bosan karena tidak ada tantangan. Kamila terlalu sempurna. Cantik, baik, penurut, tubuhnya bagus, pintar masak, pintar mengasuh anak, tidak pernah neko-neko, dan tidak pernah melawannya.Putra bahkan pernah iseng menyuruh Kamila untuk mewarnai rambut
"Kamu kehabisan uang tunai? Kenapa nggak bilang dari tadi? Pakai uangku aja." Harsa mengambil dompet dari saku celana dan menyerahkannya pada Kamila yang langsung melotot."Mas! Kamu bukan suamiku. Kamu nggak ada kewajiban untuk memberi aku uang," tolak Kamila sambil mendorong dompet yang terlihat
"Enak?"Fiona mengangguk-angguk dengan wajah bahagia. Karena sudah terbiasa tidak merasakan kehadiran sang ayah, Fiona tidak pernah rewel meskipun hanya makan berdua dengan Kamila."Om Harsa nggak dibelikan, Ma? Nanti ngambek."Kamila tertawa. Membayangkan pria dewasa berbadan tinggi dan gagah sepe
"Apa yang harus hamba lakukan, ya Allah? Apakah hamba harus menuntut cerai? Jika Engkau sangat membenci perceraian, kenapa Engkau membuat suami hamba terjerumus ke dalam zina yang juga sangat Engkau benci?" Kamila menumpahkan segala uneg-unegnya dalam doanya setelah sholat tahajud. "Maaf jika ha







