Se connecterHarsa menatap istrinya yang terlihat bar-bar dan garang. Sangat berbeda jauh dengan Kamila yang selama ini dia tahu. Bahkan, kemarahan istrinya tadi pagi tidak ada apa-apanya. Ucapan Fiona kembali terngiang-ngiang di benaknya. Ya, memang benar. Istrinya memang sangat mengerikan jika disenggol di hari pertama datang bulan. Dia meringis melihat wajah Delina yang sudah memerah dan basah karena menangis dan kesakitan. "Ma, udah lepasin. Nggak perlu repot-repot mengotori tangan mama dengan kuman. Ayo buruan cuci tangan," kata Fiona dengan wajah tenang. Anehnya, Kamila langsung menurut. Wanita itu melepaskan cengkeramannya di rambut Delina yang langsung rontok parah. Delina menangis tersedu-sedu sambil melihat Harsa, namun dia buru-buru pergi. Kakinya terhenti ketika melihat banyak orang yang berdiri mematung dengan wajah syok. Suara guyuran air di kamar mandi terdengar begitu keras di tengah heningnya toko bangunan miliknya. Mereka saling pandang selama beberapa detik."Eh, ada apa ya
Satu jam sebelumnya...."Bro, ada anakmu di depan." Harsa yang sibuk menelaah laporan berkala dan laporan tahunan di laptopnya, mendongak ketika Anton datang. Pintu ruangannya memang sengaja dia buka. Jaga-jaga kalau istrinya datang."Fiona? Kenapa ke sini?" Harsa buru-buru berdiri sambil menutup laptop. "Sekolahnya lumayan jauh dari sini." "Nggak kayak biasanya dia. Habis berantem sama temennya kali. Merengut aja," ucap Anton. Harsa melangkah dengan terburu-buru menuju ke depan toko. Di halaman toko yang luas, Fiona berdiri dengan wajah datar sambil memegangi sepeda. Dia teringat dengan cerita Kamila mengenai bagaimana ekspresi wajah Fiona saat membuat gambar aneh ketika masih TK, hingga akhirnya dipanggil oleh gurunya. "Sayang? Kok ke sini? Mama belum pulang?" Harsa melihat halaman yang hanya diisi oleh motor karyawannya. Tidak ada motornya. Dia pikir, Kamila sudah pulang untuk membukakan pintu bagi Fiona. Barulah ketika Harsa mendekat, Fiona langsung melepaskan sepedanya hingg
Seperempat jam sudah berlalu, dan Delina masih sabar menunggu toko bangunan Harsa sepi. Sejak tadi dia mengecek penampilannya di kaca spion motor. Make-up nya masih on point. Bisa menyamarkan area gelap di sekitar matanya dan bibir pucatnya. Hari ini, dia harus bisa mendapatkan Harsa. Dia sudah memberikan makanan untuk pria itu yang dia titipkan pada salah satu karyawannya. Kalau Harsa memakan makanan itu, maka pria itu akan terkena pelet hingga akhirnya jatuh cinta padanya. Delina memang sudah terbiasa berurusan dengan dukun sejak kecil karena ajaran dari ibunya. Sulastri juga menggunakan cara yang sama untuk menggaet banyak pelanggan. Tapi sayangnya, pelet itu tidak mempan pada Umar, ayahnya Harsa. Toko akhirnya sepi, dan para karyawan mulai keluar untuk beristirahat. Mereka berbondong-bondong menuju ke warung yang baru dibuka di depan toko. Ketika Anton mendekat, Delina buru-buru menunduk dan berpura-pura bermain hp. Sial! Dia lupa kalau Anton bekerja di sini. Pria itu adalah t
"Dari mana kamu tadi?" Darwati, sepupu Sulastri, mencecar Delina yang baru saja datang. "Ke rumah bapak," jawab Delina malas. "Mau ngapain lagi? Dia sudah tidak mau melihat kamu. Kalian tidak ada hubungan darah. Seharusnya, kamu menemui bapak kandungmu dan meminta uangnya. Dia yang wajib menafkahi kamu, bukan Kang Muhajir." Delina memutar mata. Dia tidak begitu menyukai sepupu ibunya, meskipun Darwati adalah satu-satunya keluarga yang masih mau menampungnya. Wanita itu begitu cerewet. Terus berbicara tentang agama yang membuat kupingnya panas. "Udah deh, jangan berisik. Mana pecelku tadi?" ujar Delina ketus. "Hidup sudah hancur begitu kok masih bertingkah. Duit hasil penjualan apartemenmu di Surabaya habis untuk biaya pengobatanmu. Seharusnya kamu tobat, Del! Bukan malah makin menjadi-jadi!" tegur Darwati. Delina berdecak. Dia melewati wanita seumuran Bu Aminah itu sambil membawa sebungkus pecel. Sejak ditinggal mati oleh dua pria yang selalu memberinya suntikan dana, Delina ent
"Jadi, Mas Harsa pernah digoda oleh perempuan jalang itu?" Awalnya, Kamila masih bisa menahan diri. Oke, Delina merebut suaminya dan berhasil menghancurkan rumah tangganya. Tapi ketika tahu bahwa perempuan sialan itu dulu juga pernah berusaha untuk menggoda Harsa, amarah Kamila naik ke ubun-ubun. Perempuan-perempuan laknat! Ibu dan anak sama saja!"Harsa tidak pernah menanggapi. Meskipun Delina terus mengejar ketika di sekolah dan menjadi buah bibir, suamimu tetap tidak peduli. Susuk pemikat yang dipakai oleh perempuan itu nggak mempan untuk Harsa." Sekarang, tangan Kamila terasa gatal. Dia masih ingat wajah Delina yang terlihat bangga ketika bercerita tentang Putra yang masih tidak bisa menjauh darinya. Saat itu, dia benar-benar tidak peduli. Hatinya untuk Putra sudah mati. Meskipun pria itu sering datang ke mimpinya dengan wajah sedih, Kamila sama sekali tidak peduli. Enak saja minta didoakan, tapi pas masih hidup berbuat seenaknya. Manusia memang banyak yang tidak tahu diri. "B
Tujuh belas tahun pergi meninggalkan kampung halaman karena rasa kecewanya terhadap sang istri, Pak Muhajir akhirnya pulang. Bukan untuk menemui Sulastri karena rasa rindu yang menggebu-gebu, melainkan untuk menjatuhkan talak. Selama ini, Pak Muhajir tidak mengerti tentang ilmu agama. Menuruti amarah dan dendam dalam hatinya, dia sengaja tidak menceraikan Sulastri agar perempuan itu tidak bisa menikah. Tapi sayangnya, anggapannya selama ini salah. Selama 17 tahun itu, Pak Muhajir tinggal di sebuah pondok pesantren sebagai tukang bersih-bersih dan bagian umum. Sebelumnya, dia terpaksa tidur di masjid karena tidak memilik uang yang cukup untuk menyewa kos. Sampai akhirnya dia bertemu dengan salah satu ustadz di pondok pesantren dekat masjid dan ditawari pekerjaan karena iba. Dari situlah, Pak Muhajir lama-lama mengerti tentang agama. Dari yang sebelumnya hanya menjadi tukang bersih-bersih, akhirnya diperbolehkan untuk ikut menimba ilmu dengan santri lain karena ketahuan mencuri-curi







