ログインZevanya tak tahan lagi! Ketika suaminya kecelakaan dia malah menemukan bukti perselingkuhan Morgan. . Naasnya, Morgan mengalami kelumpuhan sehingga saat dia meminta cerai, malah Nyonya Soraya yang menjawab lantang dengan penuh amarah, "Cerai? Setelah putraku kau buat lumpuh kau minta cerai? Jangan harap!!" . Mampukah Zevanya melepaskan diri dari beban yang bukanlah tanggung jawabnya? . Di saat yang bersamaan, satu-satunya orang yang selalu memperhatikan anak-anaknya yang tak bersalah itu malah seseorang dari masa lalu yang begitu ingin dia hapus dari ingatannya tapi hatinya malah menyimpan erat semua kenangan mereka. . Haruskah Zevanya tetap menutup erat pintu hatinya bagi Jarreth yang mengejar kesempatan kedua darinya? Atau menu memberikan Jarreth kesempatan kedua? . 'Aku membawa rasa bersalah ini setiap detik dalam hidupku. Penyesalan ini kusimpan rapat-rapat dalam relung hatiku. Tapi sekarang, setelah aku menemukanmu lagi, aku ingin menebus semuanya. Beri aku kesempatan kedua, Ze. Aku sudah merasakan hidup tanpamu dan aku tidak ingin merasakan kehampaan itu lagi!"
もっと見る“Langit sangat gelap dan guntur sudah bersahut-sahutan dari tadi. Kenapa nggak besok pagi saja baru jalan? Tunggu cuaca stabil terlebih dahulu.”
Zevanya menatap Morgan yang berbadan tinggi dan penuh kharisma, dengan hati yang berat.
Langit sudah bergemuruh hebat sejak siang tadi, meski hujan belum juga turun.
Di tangannya ada sebuah koper berisi pakaian Morgan, suaminya, yang telah dia susun dengan rapi.
Zevanya meletakkan koper di ruang depan, seraya dia kini mulai menghampiri suaminya untuk merapikan lipatan-lipatan kerah di pakaian Morgan agar tertata sempurna.
Morgan membiarkan perlakuan Zevanya tapi menggeleng dengan wajahnya yang terlihat tak senang.
“Meetingnya saja besok pagi, gimana bisa aku baru berangkat besok pagi?”
“Ya, kamu bisa memundurkan meetingnya jadi siang kalau memang cuacanya seburuk ini.”
Morgan menepis tangannya lalu menatapnya heran.
“Masa kau memintaku memundurkan meeting? Apa kata klienku nanti? Aku akan dicap tidak profesional.”
“Bukan begitu maksudku. Tapi kan nggak baik juga kalau kita melawan cuaca.”
“Melawan cuaca? Kenapa kamu terdengar sangat paranoid?
Namanya juga musim hujan pastilah sering hujan!”
Morgan semakin terdengar kesal dan tak sabaran. Di saat seperti itu, Nyonya Soraya, ibunya Morgan tiba-tiba sudah berada di ruang tamu dan menyela Zevanya.
“Saat suami hendak perjalanan bisnis, seharusnya istri itu melepasnya dengan damai. Bukan malah bantah membantah seperti ini. Lagipula kamu manja sekali, masa hanya hujan saja harus memundurkan meeting!”
Zevanya tersentak namun langsung menutup bibirnya. Sekalipun hatinya ingin sekali membantah dan menjawab ibu mertuanya itu, tapi Zevanya tidak berani.
Posisinya sebagai menantu di keluarga ini tidaklah tinggi.
Dia bisa masuk menjadi bagian dari keluarga ini saja sudah bagus.
Jadi Zevanya pun langsung diam, tidak membantah lagi.
Melihat itu, Morgan langsung melampiaskan kekesalan terpendamnya pada Zevanya.
“Ibuku benar ... aku hendak perjalanan jauh ke luar kota untuk bekerja, tidak seharusnya kamu mengungkit badai dan cuaca buruk. Apa kamu memang mengharapkan hal buruk menimpaku?”
“Nggak, Morgan. Aku hanya khawatir saja. Dari pagi cuaca sudah seperti mau badai besar. Aku rasa- ...”
“Aargh! Banyak bicara kau! Kalau memang kamu istri yang baik, nggak seharusnya kamu bicara seperti tadi!
Saat suamimu mau berangkat keluar kota kamu seharusnya mendoakan yang baik-baik. Aku ini keluar kota karena urusan pekerjaan, bukan jalan-jalan!”
Zevanya menelan segala rasa kecewa dan pahit hatinya mendengar semua kata-kata tajam Morgan. Siapa juga yang menuduh dia ke luar kota untuk jalan-jalan?
Sebelum kekecewaan itu menjejakkan embun di matanya, dia memalingkan wajah dan memilih mencarikan sepatu yang akan dipakai Morgan.
Keadaan seperti ini semakin hari semakin sering dia hadapi. Namun Zevanya tidak bisa memprotes, bahkan pada dirinya sendiri.
Dia selalu mengatakan pada dirinya sendiri berulang kali bahwa ia haruslah berterima kasih sudah diterima menjadi bagian dari keluarga ini yang terhormat.Karena itu, untuk ke sekian kalinya, Zevanya tidak membantah Morgan.
Lalu suara Nyonya Soraya terdengar lagi ditujukan untuk Morgan. “Kamu jadi mau membawa bekal?”
“Iya, Ma. Mama sudah masak?”
“Sudah,” sahut Nyonya Soraya lalu menujukan kata-katanya pada Zevanya. “Sana siapkan bekal untuk suamimu!”
Zevanya pun beranjak ke dapur, tapi terdengar suara Morgan yang datar, “Siapkan dua ya.”
Permintaan itu sukses membuat Zevanya berhenti dan menoleh. “Dua?”
“Iya, dua! Untuk sore dan malam nanti saat tiba.”
“Oh ...” Zevanya melanjutkan ke dapur dengan pikirannya yang heran.
Tumben-tumben Morgan makan lagi saat tiba di kota tujuan. Padahal Morgan biasanya lebih memilih tidur daripada makan tengah malam.
Meski begitu, Zevanya tidak menanyakannya lagi.
Lima menit kemudian, dia sudah kembali dengan dua bekal yang diberikannya pada Morgan.
“Aku pergi sekarang,” ujar Morgan setelah menyimpan bekalnya.
Dia menuju pintu tanpa menatap ke arah Zevanya lagi.
Bagi Zevanya pribadi, tidak masalah dengan sikap Morgan yang pergi begitu saja, bahkan tanpa menoleh.
Tapi yang membuat hatinya sakit adalah Morgan yang seperti itu, seakan tidak mengingat sama sekali dengan keberadaan putri kembar mereka, Zara dan Zosia.
***
Empat jam kemudian, hujan badai benar-benar turun seperti tumpahan besar dari langit.
Jendela dapur sampai terbanting akibat kencangnya angin yang mengembus.
Udara dingin melilit dan menusuk sekujur tulang Zevanya. Dia langsung mengajak anak kembarnya masuk kamar dan tidur.
Namun, hatinya dipenuhi kekhawatiran. Bagaimana jika Morgan terjebak badai?
Tapi lalu Zevanya berpikir, Morgan sudah empat jam lalu berangkatnya, seharusnya dia sudah tiba di kota tujuan.
Zevanya mengecek cuaca di dekat kota tujuan Morgan. Tertulis di aplikasi cuaca cerah sampai besok siang.
Hati Zevanya pun lega.
Dia mengecupi kepala Zara dan Zosia yang sudah tertidur nyenyak lantas ikut tidur di samping mereka.
Namun, baru juga terlelap, suara ribut terdengar dari luar kamar.
Zevanya terbangun lalu keluar dan mendapati Nyonya Soraya serta Morine -adiknya Morgan- sedang bersiap keluar.
Mereka terlihat panik dan terburu-buru.
Zevanya pun bertanya, “Ibu, mau ke mana tengah malam begini?”
Nyonya Soraya langsung menoleh padanya dengan tatapan seperti harimau hendak menerkamnya.
“Kau! Kau yang sudah membuat Morgan kecelakaan! Kau puas kan sekarang setelah mendoakan yang buruk pada Morgan tadi kini doa burukmu itu menjadi kenyataan!”
Zevanya kembali terperangah. Bagaimana bisa ibu mertuanya beranggapan seperti itu?
Lagipula ... apa tadi? Morgan kecelakaan? Bagaimana bisa? Bukankah di kota tujuan cuaca cerah?
Zevanya menggeleng. “Aku tidak mendoakan yang buruk-”
Tapi Nyonya Soraya berteriak semakin tinggi, “Apa yang tidak?! Tadi kau membahas badai dengannya dan sekarang menjadi kenyataan, kan?”
“Tap- tapi aku tidak mendoakan dan tidak berniat-”
“Apanya yang tidak berniat? Memangnya kau tidak tahu, jika bicara seperti tadi itu membawa sial? Ucapanmu tadi itu membawa sial! Dan sekarang terbukti, Morgan kecelakaan! Semua karena ucapan sialmu!”
Zevanya kehilangan kata-katanya. Di satu sisi dia tidak merasa mendoakan yang buruk pada Morgan. Dia hanya mengingatkan. Andai Morgan tadi mendengarkan perkataannya maka kejadian buruk ini tidak terjadi.
Tapi ternyata niat baiknya disalahpahami Nyonya Soraya.
Esok harinya, Zevanya tetap bangun dan membuat sarapan untuk Zara dan Zosia.
Selagi menyuapkan mereka makan, Zevanya menelpon Nyonya Soraya dan Morine tapi tidak dijawab.
Kini Zara dan Zosia sudah selesai sarapan, bahkan selesai mandi dan semuanya.
Zevanya pun mengantar putri kembarnya ke sekolah.
Sesampainya di sekolah bertepatan dengan pesan masuk dari Morine yang memberitahukannya rumah sakit mana tempat Morgan dirawat.
Zevanya pun meninggalkan sekolah untuk menuju ke rumah sakit.
Saat dia tiba dan memasuki kamar rawat Morgan, dia mendengar isak tangis memilukan dari ibu mertuanya serta Morine di dalam sana.
Begitu dia masuk, Nyonya Soraya langsung menarik rambutnya sampai Zevanya terseret.
“Awww! Lepaskan, Bu! Sakit!”
“Puas kamu melihat Morgan terdampak kata-katamu yang membawa sial, hah?” Nyonya Soraya melepaskan tarikannya di rambut Zevanya seraya kedua matanya melotot hebat seakan hendak mencabik-cabiknya.
“Aku tidak mendoakan yang buruk untuk Morgan, Bu!”
“Kamu memang tidak mendoakan tapi ucapanmu itu mendatangkan kesialan. Dan sekarang kau lihat dia! Lihat baik-baik kondisinya!”
Zevanya menatap ke arah Morgan yang terbaring di tempat tidur.
Kondisi Morgan sangat parah ternyata. Lehernya dibalut gips. Tubuh dan lengannya juga dibalut perban yang bahkan masih merembeskan darah.
Namun yang paling parah adalah kondisi salah satu kaki Morgan. Salah satu kaki itu tinggal lututnya saja!
Nyonya Soraya menonton semua itu dengan hati yang mulai senang.Dia sangat marah tadinya mendengar klarifikasi Zevanya yang menceritakan bagaimana Morgan. Walaupun ucapan Zevanya terdengar datar dan tidak menggebu-gebu memojokkan Morgan, tetap saja di telinga Nyonya Soraya Zevanya sangatlah memojokkan Morgan.Dia menyebut Morgan egois dan memutar balikkan fakta?Memangnya Morgan seburuk itu?Siapa yang memutarbalikkan fakta?Kini semua orang akan tahu bahwa dia memiliki aib memalukan!Di tengah kekesalannya itu, Nyonya Soraya melihat bagaimana Morgan kesusahan dalam beraktivitas. Dia pun mengingatkan tentang Bianca.“Morgan, suruhlah Bianca segera pindah ke sini. Setidaknya cepatlah kalian mencatatkan perniakhan kalian dulu! Tidak perlu pesta. Pesta bisa nanti setelah hasil investasi kamu sudah bisa ditarik.”Morgan jadi teringat tentang ajakannya pada Bianca untuk segera pindah ke rumah ini. Pada pernikahan.
Jarreth terduduk cukup lama di atas tempat tidurnya, memikirkan mimpi berulang yang seolah menghantui dirinya.Mimpi itu selalu sama. Selalu dirinya berada di padang rumput yang begitu indah dan hijau, duduk di bawah pohon Oak besar.Lalu bocah itu hadir.Namun kali ini ada yang berbeda.Ya, mulai ada cukup banyak hal yang berbeda saat dia berhasil mengingat lagi mimpinya dari awal.Bocah itu ...Saat pertama kali mimpi itu muncul, dia tidak melihat bocah itu. Melainkan hanya mendengar suara tangisan bayi.Lalu mimpi yang kedua, bayi itu mulai muncul, dengan merangkak mendekatinya. Bahkan dengan dot di mulutnya. ketika Jarreth hendak menggendongnya, bayi itu tiba-tiba terjatuh dari tangannya lalu dia terbangun.Lalu ketika mimpi ketiga muncul, bayi itu sudah bisa berjalan, mendatanginya, menyapa dengan gerakan lucu, lalu pergi.Begitu pun mimpi yang keempat, dan seterusnya. Kebanyalan bayi yang sudah menjadi bocah itu hanya datang menghampirinya, tersenyum, lalu pergi.Selama ini pun J
Jarreth membawa mereka ke restoran dan mereka makan malam di sana.Suasanya cukup hangat dengan keceriaan Zara dan Zosia.Hanya saja, Zevanya tak bisa dibohongi. Dia melihat Jarreth sering terdiam dan termenung sendiri terlebih saat dia sedang tak perlu bicara.Ada apa dengan Jarreth? Tanya hati Zevanya.Dan yang anehnya lagi, beberapa kali Jarreth telah berusaha menyelami manik mata Zevanya seakan-akan fakta bahwa warna matanya yang biru keunguan telah mengusik sesuatu dalam diri Jarreth.“Ada apa denganmu?” tanya Zevanya ketika sekali lagi Jarreth ternyata termenung sambil melihat ke manik matanya.Ditanya seperti itu, Jarreth malah terkejut dan ... gelagapan.“Hmm?” tanyanya balik seperti tertangkap basah melakukan yang tidak senonoh.Aneh, bukan?“Kamu itu kenapa? Kenapa dari tadi kayaknya melihat ke mataku terus. Memangnya manik mataku berubah kah?”Niat Zevanya hanya mengg
“Tidak perlu, Jarreth. Aku baik-baik saja. Mereka akan diam dengan sendirinya. Aku kan bukan selebritis. Aku bukan siapa-siapa. Ngapain mereka membahasku terus?”Itu katanya pada Jarreth tapi kenyataannya, Zevanya hanya tidak ingin merepotkan Jarreth. Dia sungguh merasa bersalah setelah karier Jarreth yang terpaksa berakhir karena dirinya.“Tapi Ze ... kamu selalu bilang begitu, tapi kenyataannya sikap mereka tidak berhenti-berhenti. Malah bertambah banyak yang memanfaatkan kamu untuk menaikkan konten mereka. Mereka-mereka ini kan hanya pencari view. Semua demi uang.”Zevanya terpaksa berpikir lebih dalam lagi mendengar apa yang Jarreth katakan.Dia akhirnya mengatakan, “Kalau begitu aku akan membuat video klarifikasi atas semua yang telah Morgan tunjukkan tentangku selama ini.”Giliran Jarreth yang mengernyit, berpikir keras.“Lalu videomu itu mau diunggah di mana?”“Errr ... aku akan serahkan pada satu kreator dan dia akan memviralkannya. Atau beberapa kreator.”Jarreth akhirnya meny
Zevanya membuka pesan itu dengan hati bertanya-tanya dan ... berdebar.Kenapa Jarreth mengirim pesan malam begini?Jarreth: [Hai, Ze. Sudah tidur?]Hmm … pesan yang sepertinya mencari keakraban, pikir Zevanya.Dia pun membalas dengan cepat.Zevanya: [Belum. Tumben kirim pesan. Ada apa?]Jarreth : [T
Pada akhirnya, memandangi bibir Zevanya dalam waktu lama, membuat saraf-saraf di tubuh Jarreth pun memancarkan gelombang elektromagnet yang saling tarik menarik.Jarreth tanpa sadar pun mendekatkan wajah dan mereguk bibir itu seperti mencicipi kelezatan buah cherry yang bulat, ranum, dan manis.Jar
[Ze ... sorry, pembelinya bilang nggak jadi hari ini. Besok saja. Karena mobil pengangkutnya sedang dipakai.]Zevanya membaca pesan dari Cecil. Dia sendiri sudah lupa akan pembeli piano yang akan mengambil pianonya hari ini.Saat membaca ini, Zevanya lega.Dia sendiri sedang di rumah sakit.Sekalipu
Hari ini hari yang menentukan. Zevanya akan menjual piano peninggalan ibunya. Pembeli akan datang, membayar dan mengangkut piano itu.Sore nanti piano itu akan berpindah pemilik. Dia tak lagi memiliki satu-satunya peninggalan dari ibunya.Tak bisa dipungkiri, hati Zevanya teramat sedih. Dia tidak p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー