เข้าสู่ระบบZevanya tak tahan lagi! Ketika suaminya kecelakaan dia malah menemukan bukti perselingkuhan Morgan. . Naasnya, Morgan mengalami kelumpuhan sehingga saat dia meminta cerai, malah Nyonya Soraya yang menjawab lantang dengan penuh amarah, "Cerai? Setelah putraku kau buat lumpuh kau minta cerai? Jangan harap!!" . Mampukah Zevanya melepaskan diri dari beban yang bukanlah tanggung jawabnya? . Di saat yang bersamaan, satu-satunya orang yang selalu memperhatikan anak-anaknya yang tak bersalah itu malah seseorang dari masa lalu yang begitu ingin dia hapus dari ingatannya tapi hatinya malah menyimpan erat semua kenangan mereka. . Haruskah Zevanya tetap menutup erat pintu hatinya bagi Jarreth yang mengejar kesempatan kedua darinya? Atau menu memberikan Jarreth kesempatan kedua? . 'Aku membawa rasa bersalah ini setiap detik dalam hidupku. Penyesalan ini kusimpan rapat-rapat dalam relung hatiku. Tapi sekarang, setelah aku menemukanmu lagi, aku ingin menebus semuanya. Beri aku kesempatan kedua, Ze. Aku sudah merasakan hidup tanpamu dan aku tidak ingin merasakan kehampaan itu lagi!"
ดูเพิ่มเติมChapter 1. Suamiku Berselingkuh
“Suami, mertua, dan ipar-ipar Mbak Dara tidak jemput?” tanya seorang gadis sembari mengemasi beberapa pakaian. Wanita yang dipanggil Mbak Dara menatap ke arah gadis itu. “Mereka sibuk ... mungkin?” jawab Dara tak yakin. Netranya menatap nanar bangsalnya yang siap ditinggal dengan perasaan hampa. Lalu lalang manusia berpakaian khas pegawai rumah sakit yang tengah merawat pasien itu, tampak tak terusik dengan keberadaan keduanya. “Namanya keluarga, mau sesibuk apa pun, minimal usahakan, lah! Suami Mbak juga, memangnya pernah jenguk sekali saja? Bahkan Mbak saja ke sini naik taksi sendirian! Suami seperti itu baiknya dibuang jauh-jauh, Mbak!” Sang gadis yang sudah hampir dua tahun bekerja di butik Dara sebagai asisten tahu betul betapa tidak pedulinya suami dan keluarga dari bosnya tersebut. Sang suami sering bertindak kasar dan marah-marah semenjak di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Belum lagi omelan dan ocehan para ipar. Hanya butik satu-satunya penopang untuk mencari nafkah. Gadis itu merangkul Dara untuk berjalan pelan menyusuri koridor. Dan sekarang, butik itu terpaksa harus libur lantaran Dara pingsan asam lambungnya naik dan ia kelelahan parah sebab sering lembur. “Kamu jangan—” “Mbak masih ingin membela?” “Sudahlah, mari kita pulang.” Bibir pucat Dara memaksa senyum. Entah dapat dorongan dari mana, perempuan kurus kering itu memilih bertahan. Hanya bermodal keyakinan bisa membuat suaminya berubah. Dan menyelamatkan pernikahan hambar mereka yang sudah jalan dua tahun. Dengan motor matic, mereka berdua membelah jalan menuju rumah Dara. Di jok belakang, Dara diam-diam memikirkan omongan sang asisten. Ia sadar suaminya tampak abai, akan tetapi… secercah bagian di hatinya masih berharap ada sedikit sisa kepedulian dari sang suami untuknya. Tiba di sebuah kompleks perumahan, Dara turun dan langsung disambut dengan tatapan sinis para tetangganya selama 2 tahun belakangan. Dara memilih untuk tidak mengacuhkan mereka. Bersama sang asisten, mereka segera masuk rumah. Namun, kening keduanya mengerut saat melihat baju-baju yang berceceran di lantai. “Engh…. Oh—” Suara erangan dan teriakan pun menggema membangkitkan rasa penasaran keduanya. Terlebih, Dara yang wajahnya semakin memucat. Tanpa menunggu, Dara pun membuka pintu kamarnya segera. Cklek! “K-kalian—" Dara dikejutkan dengan wanita bertubuh polos di samping suaminya. Tubuh kurusnya tiba-tiba bergetar tanpa bisa dikontrol dan berakhir ambruk. Sambutan hangat yang ia harapkan, justru berubah menjadi sambutan yang memberikan rasa sakit di hati. “S-sayang??” Sedang dua orang yang menjadi tontonan itu, untuk semula kaget bercampur kesal, saat percintaan mereka harus berhenti di tengah jalan. Keduanya langsung panik hingga tanpa sadar memisahkan diri. Si pria langsung turun dan memakai celana untuk menyelamatkan sisa martabatnya. Sedang si wanita, hanya sempat menutupi tubuh binalnya dengan selimut. “Sayang, aku bisa jelaskan, kita bicara dulu!” Tangan William, sang suami, terulur. Dara mundur dengan ekspresi jijik untuk menghindar. Membayangkan tangan maskulin itu sudah digunakan untuk meraba-raba tubuh jalang itu membuatnya terisak. “Aku pikir kamu tidak bisa mengantarku ke rumah sakit karena kamu sibuk.” Mata Dara menatap ke arah baju-baju yang tercecer. “Ternyata kamu memang benar sibuk, ya, sibuk melucuti pakaian perempuan lain,” lanjutnya begitu mengenaskan. Perutnya yang semula membaik, tiba-tiba terasa diaduk-aduk saat melihat suaminya yang berpeluh dengan setengah telanjang. “Apa salahnya? Indri juga menantu di sini!” Suara seorang wanita terdengar. Dara menoleh ke belakang, mertuanya berjalan dengan kepala sedikit mendongak ke atas. Gamis tabrak warna langsung menyapa retinanya. “Menantu? Ibu, bagaimana bisa?” tanyanya dengan suara lirih hampir tercekat. Wanita paruh baya itu melengos saat menyaksikan menantu yang menurutnya banyak drama. “Tentu bisa! Apa yang bisa saya harapkan dari wanita mandul sepertimu?! Hamil tidak, malah sakit-sakitan! Saya tidak butuh menantu penyakitan seperti kamu!” Hati Dara serasa diremas kuat-kuat mendengar hinaan dari ibu mertuanya. Ia kecewa, sebab dari perkataan sang mertua, terselip bahwa pernikahan kedua William sudah mendapatkan restunya. “Kalau Ibu mau saya hamil, saya bisa usahakan, Bu. Saya dan Mas William bisa melakukan program.” Sambil membiarkan air mata mengucur dari matanya, Dara mengutarakan rasa kecewa. “Promil, katamu?! Bahkan gara-gara menikahi kamu, William di-PHK!” Sang Mertua menyentak, jari telunjuknya mengacung lantang ke arah Dara. “Sudahlah, jangan kebanyakan drama! Terima saja. Masih untung kamu nggak dicerai, hanya dimadu!” Dada Dara sudah begitu sesak, seolah ada batu besar yang mengganjal. Bahkan usai William di-PHK, Dara tidak meninggalkannya. Ia justru bekerja bagai sapi perah. Pagi melayani klien yang seperti raja, malamnya melayani suami yang seperti dewa. Belum lagi mertua dan ipar-iparnya yang kerap menambah prahara. Selama dua tahun sang suami menganggur, selama itu pula lah Dara yang membiayai keluarga suaminya. Sekarang, pandangan Dara berpindah ke arah wanita yang dengan santainya berdiri sambil merapikan selimut yang membelit badan. “Kita teman, Ndri. Kenapa ... kenapa kamu tega—” “Dara ... Dara, harusnya kamu bersyukur. Aku hanya membantu kalian mendapat momongan.” Wanita itu berdecih disertai tatapan sinis. “Benar kata Mama, masih untung aku tidak meminta suami kita menceraikan kamu yang mandul!” “Kamu—” Kata-kata Indri menancap tepat di dada Dara hingga membuatnya kesulitan bernapas. Indri yang dianggap sahabatnya malah menusuk dari belakang. Belum lagi, William yang semula ingin menjelaskan, kini justru tampak acuh tak acuh, menimbulkan lara tiada tara baginya. Kekesalan, kekecewaan yang bertumpuk di dadanya, membuat wanita itu kalap. “Brengsek kalian!” teriak Dara. Dengan satu tangannya, sebuah tas jinjing melayang ke arah sahabatnya yang berkhianat. Tubuh William bergerak ke depan, dan melindungi sang jalang. Gembolan tas yang berisi baju kotor selama Dara dirawatinap itu berakhir menimpa punggung telanjang William. “Apa-apaan kamu, Dara!” murka William menatapnya, tetapi satu lengannya memeluk protektif Indri. “Indri sedang hamil anakku!” Lagi, Dara mencelos mendengar kabar mengejutkan itu. Hari ini, Dara jadi tahu jika perselingkuhan itu telah lama terjalin. Selama ini, dialah yang terlalu bodoh mengartikan sikap tak acuh sang suami. “Baik! Jika begitu….” katanya mengandung kepasrahan. “Mari bercerai dan kalian semua keluar dari rumah ini!”Nyonya Soraya menonton semua itu dengan hati yang mulai senang.Dia sangat marah tadinya mendengar klarifikasi Zevanya yang menceritakan bagaimana Morgan. Walaupun ucapan Zevanya terdengar datar dan tidak menggebu-gebu memojokkan Morgan, tetap saja di telinga Nyonya Soraya Zevanya sangatlah memojokkan Morgan.Dia menyebut Morgan egois dan memutar balikkan fakta?Memangnya Morgan seburuk itu?Siapa yang memutarbalikkan fakta?Kini semua orang akan tahu bahwa dia memiliki aib memalukan!Di tengah kekesalannya itu, Nyonya Soraya melihat bagaimana Morgan kesusahan dalam beraktivitas. Dia pun mengingatkan tentang Bianca.“Morgan, suruhlah Bianca segera pindah ke sini. Setidaknya cepatlah kalian mencatatkan perniakhan kalian dulu! Tidak perlu pesta. Pesta bisa nanti setelah hasil investasi kamu sudah bisa ditarik.”Morgan jadi teringat tentang ajakannya pada Bianca untuk segera pindah ke rumah ini. Pada pernikahan.
Jarreth terduduk cukup lama di atas tempat tidurnya, memikirkan mimpi berulang yang seolah menghantui dirinya.Mimpi itu selalu sama. Selalu dirinya berada di padang rumput yang begitu indah dan hijau, duduk di bawah pohon Oak besar.Lalu bocah itu hadir.Namun kali ini ada yang berbeda.Ya, mulai ada cukup banyak hal yang berbeda saat dia berhasil mengingat lagi mimpinya dari awal.Bocah itu ...Saat pertama kali mimpi itu muncul, dia tidak melihat bocah itu. Melainkan hanya mendengar suara tangisan bayi.Lalu mimpi yang kedua, bayi itu mulai muncul, dengan merangkak mendekatinya. Bahkan dengan dot di mulutnya. ketika Jarreth hendak menggendongnya, bayi itu tiba-tiba terjatuh dari tangannya lalu dia terbangun.Lalu ketika mimpi ketiga muncul, bayi itu sudah bisa berjalan, mendatanginya, menyapa dengan gerakan lucu, lalu pergi.Begitu pun mimpi yang keempat, dan seterusnya. Kebanyalan bayi yang sudah menjadi bocah itu hanya datang menghampirinya, tersenyum, lalu pergi.Selama ini pun J
Jarreth membawa mereka ke restoran dan mereka makan malam di sana.Suasanya cukup hangat dengan keceriaan Zara dan Zosia.Hanya saja, Zevanya tak bisa dibohongi. Dia melihat Jarreth sering terdiam dan termenung sendiri terlebih saat dia sedang tak perlu bicara.Ada apa dengan Jarreth? Tanya hati Zevanya.Dan yang anehnya lagi, beberapa kali Jarreth telah berusaha menyelami manik mata Zevanya seakan-akan fakta bahwa warna matanya yang biru keunguan telah mengusik sesuatu dalam diri Jarreth.“Ada apa denganmu?” tanya Zevanya ketika sekali lagi Jarreth ternyata termenung sambil melihat ke manik matanya.Ditanya seperti itu, Jarreth malah terkejut dan ... gelagapan.“Hmm?” tanyanya balik seperti tertangkap basah melakukan yang tidak senonoh.Aneh, bukan?“Kamu itu kenapa? Kenapa dari tadi kayaknya melihat ke mataku terus. Memangnya manik mataku berubah kah?”Niat Zevanya hanya mengg
“Tidak perlu, Jarreth. Aku baik-baik saja. Mereka akan diam dengan sendirinya. Aku kan bukan selebritis. Aku bukan siapa-siapa. Ngapain mereka membahasku terus?”Itu katanya pada Jarreth tapi kenyataannya, Zevanya hanya tidak ingin merepotkan Jarreth. Dia sungguh merasa bersalah setelah karier Jarreth yang terpaksa berakhir karena dirinya.“Tapi Ze ... kamu selalu bilang begitu, tapi kenyataannya sikap mereka tidak berhenti-berhenti. Malah bertambah banyak yang memanfaatkan kamu untuk menaikkan konten mereka. Mereka-mereka ini kan hanya pencari view. Semua demi uang.”Zevanya terpaksa berpikir lebih dalam lagi mendengar apa yang Jarreth katakan.Dia akhirnya mengatakan, “Kalau begitu aku akan membuat video klarifikasi atas semua yang telah Morgan tunjukkan tentangku selama ini.”Giliran Jarreth yang mengernyit, berpikir keras.“Lalu videomu itu mau diunggah di mana?”“Errr ... aku akan serahkan pada satu kreator dan dia akan memviralkannya. Atau beberapa kreator.”Jarreth akhirnya meny
Zevanya membuka pesan itu dengan hati bertanya-tanya dan ... berdebar.Kenapa Jarreth mengirim pesan malam begini?Jarreth: [Hai, Ze. Sudah tidur?]Hmm … pesan yang sepertinya mencari keakraban, pikir Zevanya.Dia pun membalas dengan cepat.Zevanya: [Belum. Tumben kirim pesan. Ada apa?]Jarreth : [T
Pada akhirnya, memandangi bibir Zevanya dalam waktu lama, membuat saraf-saraf di tubuh Jarreth pun memancarkan gelombang elektromagnet yang saling tarik menarik.Jarreth tanpa sadar pun mendekatkan wajah dan mereguk bibir itu seperti mencicipi kelezatan buah cherry yang bulat, ranum, dan manis.Jar
[Ze ... sorry, pembelinya bilang nggak jadi hari ini. Besok saja. Karena mobil pengangkutnya sedang dipakai.]Zevanya membaca pesan dari Cecil. Dia sendiri sudah lupa akan pembeli piano yang akan mengambil pianonya hari ini.Saat membaca ini, Zevanya lega.Dia sendiri sedang di rumah sakit.Sekalipu
Hari ini hari yang menentukan. Zevanya akan menjual piano peninggalan ibunya. Pembeli akan datang, membayar dan mengangkut piano itu.Sore nanti piano itu akan berpindah pemilik. Dia tak lagi memiliki satu-satunya peninggalan dari ibunya.Tak bisa dipungkiri, hati Zevanya teramat sedih. Dia tidak p


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น