MasukDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
Lihat lebih banyakMalam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke.
Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang tidak pernah Cecilie rasakan dari mantan tunangan pengkhianatnya itu. “Cecilie, memikirkan pria lain ketika bersamaku, apa kau tidak tahu itu menyakitiku?” Senyum tipis terbentuk di bibir Cecilie, dan dia beralih menduduki pinggang pria paling ditakuti di negeri itu. “Kalau begitu, buat aku melupakan keponakanmu yang bajingan itu, Grand Duke.” Ya, Cecilie berhasil meniduri sang Grand Duke, pria paling ditakuti di kerajaan, sekaligus paman dari mantan tunangannya yang berkhianat. Dan ini adalah cerita mereka. ---- “Berapa kali lagi kau ingin mempermalukan keluarga kita?” Suara tajam Lucian, kakak sulung Cecilie dan pewaris gelar Viscount Argenton, Memecah keheningan ruang duduk. “Jawab, Cecilie.” Namun, Cecilie hanya mampu menegakkan punggungnya dengan jemari yang saling menggenggam erat di pangkuan, berusaha menghindari tatapan kakaknya. “Ini sudah yang ketiga kalinya,” lanjut Lucian, nada suaranya yang terkendali masih tak bisa menyembunyikan gelombang kemarahannya. “Dua kali sebelumnya sudah cukup menjadi bahan pembicaraan seluruh ibu kota. Dan sekarang, kau kembali menyebar undangan?” Emrys—kakak kedua Cecilie—yang sedari tadi berdiri di dekat jendela, mengembuskan napas berat sebelum berbalik. “Dan seperti sebelumnya,” katanya, lebih dingin, “alasannya selalu sama. Selalu ada sesuatu yang lebih penting daripada pernikahan denganmu.” Ia menahan napas, menyadari ucapan kakak-kakaknya tidak sepenuhnya salah. “Yang Mulia memiliki tanggung jawab sebagai Putra Mahkota,” ujarnya pelan, berusaha tetap tenang. “Ada keadaan yang tidak bisa dihindari.” Lucian tertawa pendek tanpa humor. “Keadaan darurat yang selalu melibatkan Putri Floria?” sindirnya. “Kebetulan yang sangat konsisten.” Ia menunduk. Nama itu kembali disebut, seperti biasa. Seperti dua kali sebelumnya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana undangan-undangan itu ditarik kembali. Selalu Floria—adik tiri putra mahkota—yang menjadi alasan. Dan selalu ia yang diminta mengerti. “Cukup, Lucian,” katanya pelan, meski suaranya nyaris tak terdengar. “Kali ini berbeda.” “Apa yang berbeda?” tukas Emrys, alisnya terangkat sedetik. Ia mengangkat pandangannya. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ada keyakinan di matanya. “Aku yakin kali ini Yang Mulia akan datang.” Lucian menatapnya lama. “Kalau dia tidak datang lagi,” katanya akhirnya, suara rendahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, “maka ini yang terakhir, Cecilie.” Jantungnya berdegup lebih cepat. “Aku tidak akan membiarkanmu terus menunggu pria yang jelas tidak menghargaimu.” Tatapan kakaknya mengeras. “Setelah ini, aku sendiri yang akan mencarikan suami untukmu.” Kata-kata itu terasa seperti vonis yang melukai hatinya. Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa keluarganya sendiri tidak lagi mempercayai Sylas, sang Putra Mahkota, maupun dirinya. “Aku hanya ingin mempercayainya sekali lagi,” gumamnya pada diri sendiri. Ia pun bertekad untuk memastikan hal itu langsung kepada Sylas hari ini juga. Perjalanan menuju Astoria terasa lebih panjang dari biasanya. Kediaman resmi Putra Mahkota tersebut sebenarnya terletak sangat strategis, berada di dalam satu kompleks yang megah dengan Istana Kaisar. Roda kereta berderak halus di atas jalan batu, sementara ia duduk diam di dalamnya, ditemani pelayan pribadinya di sisi dan seorang pengawal di luar. Sebagai tunangan resmi, Cecilie sudah sering mengunjungi tempat ini. Ia seharusnya merasa seperti bagian dari keluarga kerajaan. Namun hari ini kegelisahan yang luar biasa mulai merongrong keyakinan yang selama ini ia pertahankan. Kereta berhenti. Ia menunggu pintu dibuka, dan dengan bantuan pelayannya, ia melangkah turun. Kepala pelayan Astoria menyambutnya dengan sopan, seperti biasa. “Yang Mulia sedang berada di ruang kerjanya, Lady Callais,” ujar kepala pelayan. Ia mengangguk kecil dan mulai melangkah. “Tidak perlu mengantar. Aku bisa menemukannya sendiri,” ujar Cecilie menolak pengawalan. Karena sudah terbiasa dengan seluk-beluk Astoria, ia melangkah dengan tenang menuju sayap bangunan tempat ruang kerja Sylas berada. Langkahnya bergema di koridor yang sepi. Sylas memang dikenal tidak mengizinkan pelayan mendekati wilayah itu jika ia sedang bekerja. Ia melihat pintu ruang kerja di ujung koridor, dan melangkah ke sana. “.....aku tidak punya rencana untuk menikahinya.” Ia baru saja hendak mengetuk pintu itu ketika mendengar suara itu dari dalam ruang kerja. Itu suara Sylas. “...Sylas? Kenapa kau bilang begitu?” suara perempuan menyahut, lembut seperti bisikan. Itu adalah suara Floria. Cecilie mematung. Dunia seolah runtuh seketika. “Memangnya apa yang kau pikirkan?” lanjut Sylas ringan, seolah membicarakan sesuatu yang tidak penting. “Cecilie adalah gadis cantik yang sesuai dengan tuntutan ayahku dan kekaisaran. Sikapnya sangat manis. Dia juga pendiam, tidak banyak bertanya.” Nada suaranya datar, hampir acuh. “Dia juga berasal dari keluarga bangsawan yang loyal pada Kekaisaran. Sempurna untuk menjadi tameng di mata masyarakat.” Napas Cecilie tercekat. Itu bukan pujian jika diucapkan sepahit itu. “Tapi menikahinya? Itu tidak pernah ada dalam rencanaku.” Ruangan di dalam sana sunyi sejenak, lalu terdengar Floria tertawa kecil. “Aku senang kau masih di sisiku, Kakak.” “Tentu saja, Floria,” suara Sylas terdengar rendah dan lembut. “Aku tidak bisa jauh darimu.” Cecilie berdiri dengan kaki yang terasa seberat timah. Kesadaran pahit itu menghujam benaknya. Jadi selama ini, ia hanya dimanfaatkan? ***Jantung Cecilie berdegup kencang. Ia menoleh kepada Evander.Suaminya sedang menatap Kaisar. Lalu, seolah merasakan tatapan Cecilie, Evander menoleh kepadanya.Tatapan mereka bertemu.Mungkin ia salah lihat. Mungkin ia hanya berkhayal. Namun ia melihat sudut bibir Evander terangkat pelan sedetik. Sorot matanya melunak, dan jemarinya menekan lembut bahu Cecilie.Ucapan Kaisar adalah perintah, bahkan peringatan. Dan Evander sedang menegaskan ucapan Kaisar untuknya. “Duke Greymont,” Kaisar masih melanjutkan. Tatapannya bergeser pada sang tuan rumah yang berdiri tak jauh darinya. “Sebagai kepala keluarga istana, aku harus minta maaf karena masalah ini. Kesalahan pelayan istana di kediamanmu adalah kelalaian dari pihakku. Aku menghargai kesetiaanmu, dan insiden ini tidak mencerminkan pandangan kekaisaran terhadapmu.”Duke Greymont membungkuk hormat.“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yang Mulia. Yang Mulia beserta keluarga tidak bersalah. Satu-satunya yang patut disalahkan hanyalah pelayan
Cecilie merasakan tangan Evander di bahunya mematung Ia juga memperhatikan bahwa seluruh tatapan semua orang di aula kini tertuju kepada Floria. “Yang melakukan kejahatan itu adalah pelayanmu,” ujar Kaisar. “Yang seharusnya kau ajari untuk bersikap hormat kepada anggota keluargamu.” Floria menunduk. Bahunya tampak gemetar. Aula kembali sunyi. Semua orang tampaknya menunggu reaksi Floria atas perintah itu. Beberapa wanita bangsawan tampak berpandang-pandangan dan saling menyentuh lengan. Di sudut lain, para sahabat Permaisuri yang selama ini selalu mengelilingi Floria tampak pucat pasi. Mereka tampaknya yang paling terpukul, tetapi juga paling ingin tahu. Tatapan mereka kepada Floria adalah tatapan harap-harap cemas seolah mereka punya keinginan sendiri utk penyelesaian masalah ini Cecilie tidak akan heran jika sekembalinya mereka ke ibu kota, mereka akan berduyun-duyun datang ke kediaman Permaisuri untuk menceritakan apa yang terjadi dalam versi mereka sendiri. Di b
Cecilie melihat tubuh Liese tersentak. Raut wajahnya menggambarkan ketakutan. Mungkin tadinya ia mengira tak akan ada yang mengusulkan hal itu, karena tujuannya telah gagal. Target kejahatannya selamat, tidak kurang suatu apa pun. Cecilie spontan menoleh kepada Sylas. Pria itu masih menatap lurus ke depan. Bukan kepada Liese, melainkan ke suatu titik jauh di depan. Ada sesuatu yang membuat Cecilie tidak nyaman mendengar kalimat tersebut. Bukan hanya karena hukuman mati terlalu berat untuk seseorang yang gagal melakukan pembunuhan. Melainkan karena Sylas terdengar seperti benar-benar menginginkannya. “Tidak,” ujar Kaisar. Satu kata itu langsung memutus suasana. Sylas akhirnya menoleh. “Ayahanda?” “Kau terlalu cepat menjatuhkan hukuman.” Wajah Sylas mengeras. “Dia mengakui bahwa dia sengaja memasang jarum di pelana Grand Duchess.” “Aku tahu.” Kaisar menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Dan Grand Duchess tidak mati.” Sylas terdiam. “Percobaan pembunuhan tetap merupa
Sebuah perasaan yang aneh merambat di dada Cecilie. Itu bukan perasaan yang menyenangkan. Bukan perasaan menang. Bukan pula kepuasan karena akhirnya si pelaku mengakui kebenciannya kepada Cecilie, yang akan memberatkan hukumannya. Justru sebaliknya. Ia merasa semakin tidak nyaman. Karena sekarang semua orang di aula mengetahui alasan yang begitu sederhana sekaligus begitu mengerikan. Seorang pelayan hampir mencelakainya karena menganggap keberadaannya sebagai sumber kesedihan majikannya. Dan lebih buruk lagi… Pelayan itu membencinya karena menganggap Cecilie yang menjadi penyebab keretakan hubungan kedua majikannya. Hanya karena Floria menangis. Hanya karena Sylas berubah. Dan ia memutuskan bahwa Cecilie yang harus bertanggung jawab atas itu semua. Kaisar masih menatap Liese. “Dengan kata lain, kau melakukan semua itu atas keputusanmu sendiri?” Liese mengangguk. “Benar, Yang Mulia,” jawabnya lirih. “Tidak ada yang menyuruh saya.” Tatapan Kaisar kemudian beralih kepada Floria
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena
Evander tidak berkata apa pun. Pria itu hanya berdiri di depannya, tangan terselip di belakang punggung. Mata biru yang tajam itu menyapu wajahnya dengan sorot menilai. Detik berikutnya, sebuah tawa rendah dan dingin lolos dari bibir pria itu. “Menikahimu?” Jemarinya menyisir rambut pirangnya
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan