INICIAR SESIÓNDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
Ver másHening yang pecah di dalam kuil segera berubah menjadi kegaduhan kecil. Viscountess Argenton menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Sementara Viscount Argenton membeku di tempat duduknya. Namun reaksi paling cepat datang dari Lucian. “Apa maksud semua ini?” Suaranya rendah namun tajam saat ia melangkah cepat menuju altar. Tangannya langsung menangkap pergelangan tangan Cecilie sebelum upacara benar-benar dimulai. “Cecilie, apa yang sebenarnya terjadi?” “Apa maksud Kakak?” Cecilie balas menatapnya dengan tenang. “Mempelai priaku sudah datang. Jadi upacaranya bisa dilanjutkan.” Lucian mengeraskan rahangnya. “Tapi mempelai priamu seharusnya...” Cecilie menggenggam tangan kakaknya perlahan, menghentikan kalimat itu sebelum selesai. “Kakak.” Suaranya melembut. “Percayalah padaku.” Tatapannya tidak goyah sedikit pun. “Semua ini memang sudah sesuai rencanaku.” Lucian menatapnya dengan sorot tajam. “Cecilie, ini bukan sesuatu yang bisa kau putuskan sesukamu...”
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di bangku panjang Kuil Suci Viscounty Argenton sejak berjam-jam yang lalu. Perhatian mereka tertuju pada pintu masuk, berharap akan segera melihat sosok mempelai pria melewati ambang pintu. Harapan yang, untuk ketiga kalinya, tampak sia-sia. Di depan altar, Lady Cecilie Callais berdiri sendirian. Gaun pengantinnya menjuntai lembut di lantai marmer. Jemarinya menggenggam ringan buket bunga lily di depan dadanya. Yang membuat para tamu saling bertukar pandang bukan hanya ketidakhadiran mempelai pria. Melainkan wajah sang mempelai wanita. Tidak ada kepanikan. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran di bibir yang biasanya mendahului tangis. Lady Cecilie berdiri di depan altar yang koson
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di ruang santai yang luas, tangannya terlipat rapi di atas pangkuannya. Di hadapannya, Floria duduk dengan kotak perhiasan terbuka di antara mereka. Ia membolak-balik isi kotak itu dengan santai. “Gaun pengantinmu akan tampak jauh lebih sempurna dengan kalung ini, Lady Callais,” ujarnya. Ia mengangkat seuntai kalung berlian, memiringkannya perlahan agar cahaya jendela memantul di setiap sisinya. Kilauannya begitu terang. “Kakakku ingin memastikan kau menjadi pengantin paling cantik besok,” lanjutnya, senyumnya tetap manis. Di dekat perapian, Sylas mengangguk. “Tentu saja. Besok adalah hari besar, Cecilie. Aku ingin memastikan tidak ada satu pun kendala yang akan merusak upacara pernik
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti menarik bahunya ke bawah. Ini adalah malam jamuan formal terakhir sebelum upacara di Kuil Suci. Di pusat kerumunan, Sylas berdiri dengan segelas anggur di tangan dan senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. Ia terlihat gagah seperti biasa. Namun tangannya tidak di pinggang Cecilie seperti yang seharusnya. Pria itu berdiri di dekat Floria. Terlalu dekat dengan adik tirinya, yang malam itu mengenakan gaun sutra putih. Gaun itu membuatnya tampak cantik dan rapuh, sehingga beberapa bangsawan di sekitarnya menyapanya dengan lembut dan antusias. Cecilie baru saja mengalihkan pandangannya, tetapi Sylas terlanjur memergokinya. “Cecilie.” Suara itu memecah kebisingan, menarik perhat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.