เข้าสู่ระบบDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
ดูเพิ่มเติมJika Evander mendengar Sylas mencegatnya di koridor sore tadi, sepertinya ia memilih tidak membahasnya atau menunda untuk membicarakannya. Ia pulang ke kamar larut malam. Cecilie bahkan tidak mendengar ia masuk karena ketiduran saat menunggunya pulang. Mereka baru bertemu di pagi hari, dan bahkan kali itu Evander tidak repot-repot berpura-pura tidur di sebelahnya saat Victor masuk.Evander sudah berpakaian lengkap pagi-pagi sekali dan sudah memerintahkan semua kereta dan kuda Silveron diperiksa kelayakannya sebelum mereka pulang ke ibu kota.Semua pelayan sibuk berkemas, termasuk Greta dan Rakhel. Mereka melipat gaun-gaun Cecilie dengan hati-hati ke dalam peti pakaian dan memberinya tanda sebagai barang pribadi Grand Duchess.Di pekarangan kastel, para pelayan memuat barang-barang bawaan majikan mereka ke kereta masing-masing. Yang telah siap lebih dulu adalah kereta-kereta rombongan istana.Ketika Kaisar muncul di beranda utama Kastel Greymont, seluruh halaman depan yang sejak tadi
Sylas memandangnya cukup lama. Lalu menghela napas. "Aku mengenalmu, Cecilie." Kalimat pembuka itu terdengar begitu pelan. "Selama bertahun-tahun aku tahu kau adalah wanita yang lembut." Ia berhenti sejenak. "Dan baik hati." Cecilie tidak menjawab. "Aku ingin meminta bantuanmu." Baru kali itu wajah Cecilie menunjukkan sedikit perubahan. Sylas… meminta bantuan? "Floria tidak bersalah." Nada suara Putra Mahkota terdengar begitu lugas. "Pelayan itu bertindak atas kemauannya sendiri." Cecilie mengangguk. "Aku tahu,” ujarnya. “Aku juga tidak pernah menuduh Putri Floria.” Namun Sylas masih belum selesai. Ia menatap Cecilie dengan sepasang mata birunya. Mata itu biasanya menatap dingin seperti pantulan es, tetapi kini tampak penuh perhatian. "Tetapi rumor tidak bekerja seperti itu." Ia menarik napas panjang. "Dalam beberapa hari ke depan akan muncul berbagai cerita. Orang-orang akan menghubungkan tindakan Liese dengan Floria. Mereka akan menganggap adikku berada di balik semua
Angin musim panas berembus lembut melintasi padang rumput Greymont, membawa aroma rumput liar. Cecilie membiarkan Hera berjalan santai. Karena duduk menyamping dengan gaun siang yang lebar, ia memang tidak bisa membiarkan kudanya berlari terlalu cepat. Di sampingnya, Evander membiarkan Pegasus menyesuaikan langkah dengan Hera tanpa mengatakan apa pun. Setiap kali Pegasus hendak mendahului Hera, Evander hanya menarik tali kekangnya sedikit. Kuda hitam itu langsung melambat. Tak lama kemudian mereka kembali sejajar. Cecilie tertawa kecil melihatnya. "Kasihan Pegasus," gumamnya. "Dia pasti merasa Anda menghukumnya karena harus berjalan sepelan ini." Evander melirik Pegasus sekilas. "Dia sudah terbiasa menyesuaikan diri." Lalu kembali hening. Anehnya, keheningan di antara mereka kali ini tidak terasa canggung. Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu padang rumput, gesekan dedaunan, dan derap langkah kedua kuda yang berjalan berdampingan. Setelah beberapa saat
Evander tidak segera menjawab. Ia meraih tangan Cecilie, menyelipkannya kembali ke lengannya, lalu mengajaknya melanjutkan langkah menuju kandang Hera dan Pegasus. “Karena…” ujarnya sambil berjalan. “Aku datang untuk urusan pekerjaan, tak ada sangkut pautnya dengan keluarga. Setelah urusan selesai, aku langsung pulang.” Evander mengatakannya dengan tenang, seolah kunjungannya ke Argenton bukan sesuatu yang pantas dipermasalahkan. Mereka sudah tiba di kandang kuda. Dari dalam istal terdengar ringkik kuda yang dikenalnya. Suara Hera. Sejenak Cecilie melupakan keingintahuannya. Namun bukan berarti ia tidak menyimpan fakta bahwa Evander pernah datang ke Argenton. Sementara itu, seorang pengurus istal menghampiri mereka. Pakaiannya rapi dan bersih, bukan seperti para pekerja lain yang sedang bekerja di luar. Cecilie langsung tahu bahwa ia bukan pelayan. Pria itu membungkuk kepada mereka. “Selamat sore, Yang Mulia. Apa ada yang bisa saya bantu?” “Grand Duchess, ini Jomyr,” uj
Ia tidak ingat bagaimana ia berjalan menjauh dari koridor itu. Yang ia tahu, langkahnya semakin cepat, napasnya semakin berat, dan dunia di sekelilingnya terasa buram. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin ada satu pun pelayan yang melihat matanya berkaca-kaca. Tanpa disadari ia te
Malam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke. Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang
Cecilie tidak tahu apakah itu pujian atau sekedar basa-basi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya Duke Crowne segera mempersilakan mereka masuk. Aula utama sudah dipenuhi tamu. Cahaya ribuan lilin memantul dari lantai marmer mengilap dan deretan cermin tinggi di sepanjang dinding. Para ba
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น