LOGINDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
View MoreCecilie mendongak dengan cepat, sementara mata Evander masih tertuju kepadanya.“Anda ikut?” tanyanya. Keningnya berkerut. “Kenapa? Anda tidak perlu…”“Aku ada keperluan dengan Kaisar,” tukas Evander singkat. Ia lalu duduk di seberang kursi Cecilie. Sementara Greta dengan segera menghidangkan satu cangkir teh untuknya.Cecilie mengamati suaminya yang sedang meneguk tehnya dengan khidmat.Seperti biasa, di rumah dia selalu tampak lebih manusiawi. Ada kerutan tipis di sudut matanya, ada tarikan kecil di sudut bibirnya sehingga memunculkan dekik pipi yang jarang terlihat. Kemeja sutra longgar di balik rompi beludru berwarna terang, dan celana wol yang warnanya bukan hitam.“Kaisar memanggil Anda?” tanyanya. Evander meletakkan cangkirnya dan mengangguk. “Ya. Kami, kaum pria juga punya rapat sendiri.”Cecilie tertawa kecil mendengar jawaban yang terkesan tidak mau kalah itu. Terkadang, ia merasa di balik aura Evander yang pendiam dan menakutkan, tersembunyi sesosok anak kecil yang dulu
Cecilie mengernyit. Ia tidak mengerti maksud ucapan Evander. Seolah-olah ada hal yang disembunyikan Evander darinya, dan itu membuatnya ingin tahu.Namun sebelum sempat bertanya apa maksudnya, Evander sudah kembali membuka dokumen di pangkuannya.Tatapannya melekat pada kertas-kertas itu, seolah tak ada lagi yang lebih penting. Sementara Cecilie yang sangat lelah akhirnya tidak bisa lagi menahan kantuk dan memejamkan mata.Kereta terus melaju menuju ibu kota. Beberapa jam kemudian, ketika sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut, Cecilie membuka matanya. Ia mendapati bahwa kereta kuda mereka telah berhenti dan Evander sedang menatapnya. Dari jendela, ia melihat pekarangan Silven Mansion.Ia menegakkan tubuhnya.“Oh, kita sudah sampai,” gumamnya agak malu. “Apakah saya tidur sepulas itu?”Lalu tiba-tiba ia merasakan sesuatu di belakang lehernya dan meraihnya. Sebuah mantel yang digulung seperti bantal.Itu adalah mantel Evander. Suaminya rupanya telah melepasnya dan mengubahnya
Seperti yang sudah ia duga. Entah bagaimana Evander tahu bahwa Sylas mengajaknya bicara di koridor itu. Para ksatrianya mungkin melapor. Evander hanya menunda pertanyaannya sampai mereka sudah dalam perjalanan pulang. Cecilie tersenyum. “Putra Mahkota tidak mengganggu saya,” sahutnya. “Sebaliknya, dia meminta bantuan saya.” Sekarang tatapan Evander beralih dari dokumennya ke wajah Cecilie. “Bantuan apa?” “Propaganda,” jawab Cecilie. Ia jadi teringat lagi wajah Sylas yang melunak penuh bujukan saat menatapnya. Pria itu belum berubah, hanya bersikap baik jika sedang ada maunya. “Putra Mahkota meminta saya bicara pada orang-orang bahwa Putri Floria benar-benar tidak terlibat dalam kejahatan pelayannya. Dan bahwa hubungan kami berdua baik-baik saja.” Sebelas alis Evander terangkat sedetik. Namun ia tidak berkata apa pun. Dan Cecilie tahu suaminya menunggu ia melanjutkan. “Dan saya menolak.” Cecilie menoleh ke jendela sejenak, menatap padang yang dilewati kereta mereka. Titik
Jika Evander mendengar Sylas mencegatnya di koridor sore tadi, sepertinya ia memilih tidak membahasnya atau menunda untuk membicarakannya. Ia pulang ke kamar larut malam. Cecilie bahkan tidak mendengar ia masuk karena ketiduran saat menunggunya pulang. Mereka baru bertemu di pagi hari, dan bahkan kali itu Evander tidak repot-repot berpura-pura tidur di sebelahnya saat Victor masuk.Evander sudah berpakaian lengkap pagi-pagi sekali dan sudah memerintahkan semua kereta dan kuda Silveron diperiksa kelayakannya sebelum mereka pulang ke ibu kota.Semua pelayan sibuk berkemas, termasuk Greta dan Rakhel. Mereka melipat gaun-gaun Cecilie dengan hati-hati ke dalam peti pakaian dan memberinya tanda sebagai barang pribadi Grand Duchess.Di pekarangan kastel, para pelayan memuat barang-barang bawaan majikan mereka ke kereta masing-masing. Yang telah siap lebih dulu adalah kereta-kereta rombongan istana.Ketika Kaisar muncul di beranda utama Kastel Greymont, seluruh halaman depan yang sejak tadi
Ia tidak ingat bagaimana ia berjalan menjauh dari koridor itu. Yang ia tahu, langkahnya semakin cepat, napasnya semakin berat, dan dunia di sekelilingnya terasa buram. Ia tidak ingin bertemu siapa pun. Tidak ingin ada satu pun pelayan yang melihat matanya berkaca-kaca. Tanpa disadari ia te
Malam itu, Cecilie akhirnya berhasil meniduri sang Grand Duke. Bukan dengan jebakan, bukan dengan paksaan, tapi karena keinginan mereka sendiri. Dan tidak seperti kata orang-orang, alih-alih dingin, pria itu menunjukkan kelembutan memabukkan, dengan gairah yang begitu membara. Sesuatu yang
Cecilie tidak tahu apakah itu pujian atau sekedar basa-basi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya Duke Crowne segera mempersilakan mereka masuk. Aula utama sudah dipenuhi tamu. Cahaya ribuan lilin memantul dari lantai marmer mengilap dan deretan cermin tinggi di sepanjang dinding. Para ba
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews