ログインDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
もっと見るEvander tidak segera menjawab. Ia meraih tangan Cecilie, menyelipkannya kembali ke lengannya, lalu mengajaknya melanjutkan langkah menuju kandang Hera dan Pegasus. “Karena…” ujarnya sambil berjalan. “Aku datang untuk urusan pekerjaan, tak ada sangkut pautnya dengan keluarga. Setelah urusan selesai, aku langsung pulang.” Evander mengatakannya dengan tenang, seolah kunjungannya ke Argenton bukan sesuatu yang pantas dipermasalahkan. Mereka sudah tiba di kandang kuda. Dari dalam istal terdengar ringkik kuda yang dikenalnya. Suara Hera. Sejenak Cecilie melupakan keingintahuannya. Namun bukan berarti ia tidak menyimpan fakta bahwa Evander pernah datang ke Argenton. Sementara itu, seorang pengurus istal menghampiri mereka. Pakaiannya rapi dan bersih, bukan seperti para pekerja lain yang sedang bekerja di luar. Cecilie langsung tahu bahwa ia bukan pelayan. Pria itu membungkuk kepada mereka. “Selamat sore, Yang Mulia. Apa ada yang bisa saya bantu?” “Grand Duchess, ini Jomyr,” ujar Evan
Duke Greymont tersenyum kecil. “Tentu saja tidak, Yang Mulia. Saya memahami tugas-tugas para tamu terhormat seperti saya memahami tugas-tugas saya sendiri. Saya tidak ingin menahan Anda semua lebih lama, meskipun orang setua saya sangat senang ditemani beramai-ramai.” Beberapa orang tertawa kecil. Cukup untuk mengendurkan ketegangan yang sejak tadi memenuhi aula. Cecilie ikut tersenyum tipis. Namun perasaannya tidak secerah senyumnya. Besok mereka akan meninggalkan Greymont. Dan setelah semua yang terjadi di kastel ini, Cecilie mulai merasa bahwa kepulangannya bukan sekadar kembali ke Silven Mansion. Ia akan membawa sesuatu bersamanya. Sebuah kesadaran baru. Bahwa dirinya ternyata memiliki musuh-musuh yang bahkan tidak pernah ia sadari keberadaannya. Persidangan itu diakhiri dengan perasaan lega dari para tamu, tetapi jauh berbeda dengan perasaan Cecilie dan beberapa orang lainnya. Ketika mereka berjalan keluar dari aula di belakang Kaisar, Cecilie melihat wajah Sy
Jantung Cecilie berdegup kencang. Ia menoleh kepada Evander.Suaminya sedang menatap Kaisar. Lalu, seolah merasakan tatapan Cecilie, Evander menoleh kepadanya.Tatapan mereka bertemu.Mungkin ia salah lihat. Mungkin ia hanya berkhayal. Namun ia melihat sudut bibir Evander terangkat pelan sedetik. Sorot matanya melunak, dan jemarinya menekan lembut bahu Cecilie.Ucapan Kaisar adalah perintah, bahkan peringatan. Dan Evander sedang menegaskan ucapan Kaisar untuknya. “Duke Greymont,” Kaisar masih melanjutkan. Tatapannya bergeser pada sang tuan rumah yang berdiri tak jauh darinya. “Sebagai kepala keluarga istana, aku harus minta maaf karena masalah ini. Kesalahan pelayan istana di kediamanmu adalah kelalaian dari pihakku. Aku menghargai kesetiaanmu, dan insiden ini tidak mencerminkan pandangan kekaisaran terhadapmu.”Duke Greymont membungkuk hormat.“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yang Mulia. Yang Mulia beserta keluarga tidak bersalah. Satu-satunya yang patut disalahkan hanyalah pelayan
Cecilie merasakan tangan Evander di bahunya mematung Ia juga memperhatikan bahwa seluruh tatapan semua orang di aula kini tertuju kepada Floria. “Yang melakukan kejahatan itu adalah pelayanmu,” ujar Kaisar. “Yang seharusnya kau ajari untuk bersikap hormat kepada anggota keluargamu.” Floria menunduk. Bahunya tampak gemetar. Aula kembali sunyi. Semua orang tampaknya menunggu reaksi Floria atas perintah itu. Beberapa wanita bangsawan tampak berpandang-pandangan dan saling menyentuh lengan. Di sudut lain, para sahabat Permaisuri yang selama ini selalu mengelilingi Floria tampak pucat pasi. Mereka tampaknya yang paling terpukul, tetapi juga paling ingin tahu. Tatapan mereka kepada Floria adalah tatapan harap-harap cemas seolah mereka punya keinginan sendiri utk penyelesaian masalah ini Cecilie tidak akan heran jika sekembalinya mereka ke ibu kota, mereka akan berduyun-duyun datang ke kediaman Permaisuri untuk menceritakan apa yang terjadi dalam versi mereka sendiri. Di b
Cecilie tidak tahu apakah itu pujian atau sekedar basa-basi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya Duke Crowne segera mempersilakan mereka masuk. Aula utama sudah dipenuhi tamu. Cahaya ribuan lilin memantul dari lantai marmer mengilap dan deretan cermin tinggi di sepanjang dinding. Para ba
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー