登入Dua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
查看更多Beberapa lady yang tadi mencibir mengangguk pelan. Jelas sekali bahwa mereka berada di pihak Permaisuri.Cecilie tahu. Tawaran Permaisuri terdengar seperti jalan keluar. Padahal sebenarnya bukan.Kalau ia mundur sekarang, maka sejak hari ini seluruh keluarga kekaisaran akan mengingatnya sebagai Grand Duchess yang tidak sanggup memikul tanggung jawab pertamanya.Ia mengangkat wajah."Terima kasih atas perhatian Yang Mulia." Nada suaranya tetap selembut biasa. "Namun saya tidak ingin menyerah sebelum mencoba."Tatapan Permaisuri tidak berubah."Baiklah,” ujarnya. Hanya satu kata dan terdengar dingin.Beliau tidak tersenyum lagi. Tidak pula terlihat kecewa. Wajahnya kembali menjadi tenang seperti permukaan danau yang membeku."Kalau begitu mulai sore ini sekretarisku akan mengirim seluruh dokumen yang berkaitan dengan Festival Musim Gugur ke Silven Mansion."Beliau berdiri perlahan."Pelajari semuanya. Sebab mulai hari ini keberhasilan festival itu menjadi tanggung jawabmu."Cecilie juga
Semua orang seketika terdiam.Ruang teh menjadi sunyi. Begitu sunyinya hingga bunyi sendok porselen yang tanpa sengaja menyentuh cangkir terdengar begitu jelas.Lady Birdy berkedip beberapa kali. Countess Marlowe bahkan lupa menyesap tehnya.Mereka semua menatap Permaisuri.Dan Cecilie melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.Keraguan.Meskipun hanya sesaat, namun benar-benar ada.Permaisuri Elara tetap tersenyum."Permintaan yang cukup... mengejutkan." Nada suaranya tetap lembut. "Tetapi Festival Musim Gugur bukan permainan, Evander."Beliau meletakkan cangkir tehnya perlahan."Kepala panitia harus memahami tata upacara, administrasi istana, hingga penyambutan tamu dari seluruh wilayah."Tatapannya bergeser kepada Cecilie."Istrimu baru menjadi Grand Duchess." Beliau tersenyum lagi. "Aku khawatir beban itu terlalu berat baginya."Cecilie melirik Permaisuri. Sejak awal menikahi Evander dan menjadi Grand Duchess Silveron tanpa persiapan, ia sudah mengalami banyak hal. Di
Para bangsawan wanita keluarga Vane tidak lagi berpura-pura menikmati teh mereka.Beberapa masih memegang cangkir porselen putih bersepuh emas, tetapi perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada Cecilie.Seorang lady yang duduk paling dekat dengan jendela bahkan sudah berhenti mengipas dirinya. Kipas renda itu diam di udara.Mereka sedang menunggu.Menunggu apakah Grand Duchess Silveron akan membela Putri Floria… atau justru menjatuhkannya.Cecilie merapikan letak cangkirnya di atas tatakan porselen.Bunyi "ting" yang sangat pelan terdengar di tengah kesunyian ruangan.Ia mengangkat wajah."Saya rasa..." ujarnya lembut."...berteman baik adalah penilaian yang terlalu tinggi, Yang Mulia."Ruangan tetap sunyi."Tetapi saya memang tidak pernah memiliki niat buruk kepada Putri Floria.”Seorang sepupu Kaisar, Lady Birdy, mengangkat sebelah alis. Seorang bibi Vane, Countess Marlowe, mengembuskan napas pendek.Bahkan Floria yang sejak tadi duduk mulai mengendurkan bahunya kini kembali menegan
Cecilie mendongak dengan cepat, sementara mata Evander masih tertuju kepadanya.“Anda ikut?” tanyanya. Keningnya berkerut. “Kenapa? Anda tidak perlu…”“Aku ada keperluan dengan Kaisar,” tukas Evander singkat. Ia lalu duduk di seberang kursi Cecilie. Sementara Greta dengan segera menghidangkan satu cangkir teh untuknya.Cecilie mengamati suaminya yang sedang meneguk tehnya dengan khidmat.Seperti biasa, di rumah dia selalu tampak lebih manusiawi. Ada kerutan tipis di sudut matanya, ada tarikan kecil di sudut bibirnya sehingga memunculkan dekik pipi yang jarang terlihat. Kemeja sutra longgar di balik rompi beludru berwarna terang, dan celana wol yang warnanya bukan hitam.“Kaisar memanggil Anda?” tanyanya. Evander meletakkan cangkirnya dan mengangguk. “Ya. Kami, kaum pria juga punya rapat sendiri.”Cecilie tertawa kecil mendengar jawaban yang terkesan tidak mau kalah itu. Terkadang, ia merasa di balik aura Evander yang pendiam dan menakutkan, tersembunyi sesosok anak kecil yang dulu
Cecilie tidak tahu apakah itu pujian atau sekedar basa-basi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya Duke Crowne segera mempersilakan mereka masuk. Aula utama sudah dipenuhi tamu. Cahaya ribuan lilin memantul dari lantai marmer mengilap dan deretan cermin tinggi di sepanjang dinding. Para ba
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論