LOGINDua kali pernikahannya dibatalkan sepihak oleh sang tunangan, Cecilie tidak akan membiarkan dirinya terus diremehkan lagi. Pada pembatalan ketiga, ia memutuskan untuk melangkah ke altar bersama paman dari tunangannya sendiri, Evander Vane, seorang Grand Duke paling berkuasa di kekaisaran.
View MoreJantung Cecilie berdegup kencang. Ia menoleh kepada Evander.Suaminya sedang menatap Kaisar. Lalu, seolah merasakan tatapan Cecilie, Evander menoleh kepadanya.Tatapan mereka bertemu.Mungkin ia salah lihat. Mungkin ia hanya berkhayal. Namun ia melihat sudut bibir Evander terangkat pelan sedetik. Sorot matanya melunak, dan jemarinya menekan lembut bahu Cecilie.Ucapan Kaisar adalah perintah, bahkan peringatan. Dan Evander sedang menegaskan ucapan Kaisar untuknya. “Duke Greymont,” Kaisar masih melanjutkan. Tatapannya bergeser pada sang tuan rumah yang berdiri tak jauh darinya. “Sebagai kepala keluarga istana, aku harus minta maaf karena masalah ini. Kesalahan pelayan istana di kediamanmu adalah kelalaian dari pihakku. Aku menghargai kesetiaanmu, dan insiden ini tidak mencerminkan pandangan kekaisaran terhadapmu.”Duke Greymont membungkuk hormat.“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yang Mulia. Yang Mulia beserta keluarga tidak bersalah. Satu-satunya yang patut disalahkan hanyalah pelayan
Cecilie merasakan tangan Evander di bahunya mematung Ia juga memperhatikan bahwa seluruh tatapan semua orang di aula kini tertuju kepada Floria. “Yang melakukan kejahatan itu adalah pelayanmu,” ujar Kaisar. “Yang seharusnya kau ajari untuk bersikap hormat kepada anggota keluargamu.” Floria menunduk. Bahunya tampak gemetar. Aula kembali sunyi. Semua orang tampaknya menunggu reaksi Floria atas perintah itu. Beberapa wanita bangsawan tampak berpandang-pandangan dan saling menyentuh lengan. Di sudut lain, para sahabat Permaisuri yang selama ini selalu mengelilingi Floria tampak pucat pasi. Mereka tampaknya yang paling terpukul, tetapi juga paling ingin tahu. Tatapan mereka kepada Floria adalah tatapan harap-harap cemas seolah mereka punya keinginan sendiri utk penyelesaian masalah ini Cecilie tidak akan heran jika sekembalinya mereka ke ibu kota, mereka akan berduyun-duyun datang ke kediaman Permaisuri untuk menceritakan apa yang terjadi dalam versi mereka sendiri. Di b
Cecilie melihat tubuh Liese tersentak. Raut wajahnya menggambarkan ketakutan. Mungkin tadinya ia mengira tak akan ada yang mengusulkan hal itu, karena tujuannya telah gagal. Target kejahatannya selamat, tidak kurang suatu apa pun. Cecilie spontan menoleh kepada Sylas. Pria itu masih menatap lurus ke depan. Bukan kepada Liese, melainkan ke suatu titik jauh di depan. Ada sesuatu yang membuat Cecilie tidak nyaman mendengar kalimat tersebut. Bukan hanya karena hukuman mati terlalu berat untuk seseorang yang gagal melakukan pembunuhan. Melainkan karena Sylas terdengar seperti benar-benar menginginkannya. “Tidak,” ujar Kaisar. Satu kata itu langsung memutus suasana. Sylas akhirnya menoleh. “Ayahanda?” “Kau terlalu cepat menjatuhkan hukuman.” Wajah Sylas mengeras. “Dia mengakui bahwa dia sengaja memasang jarum di pelana Grand Duchess.” “Aku tahu.” Kaisar menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Dan Grand Duchess tidak mati.” Sylas terdiam. “Percobaan pembunuhan tetap merupa
Sebuah perasaan yang aneh merambat di dada Cecilie. Itu bukan perasaan yang menyenangkan. Bukan perasaan menang. Bukan pula kepuasan karena akhirnya si pelaku mengakui kebenciannya kepada Cecilie, yang akan memberatkan hukumannya. Justru sebaliknya. Ia merasa semakin tidak nyaman. Karena sekarang semua orang di aula mengetahui alasan yang begitu sederhana sekaligus begitu mengerikan. Seorang pelayan hampir mencelakainya karena menganggap keberadaannya sebagai sumber kesedihan majikannya. Dan lebih buruk lagi… Pelayan itu membencinya karena menganggap Cecilie yang menjadi penyebab keretakan hubungan kedua majikannya. Hanya karena Floria menangis. Hanya karena Sylas berubah. Dan ia memutuskan bahwa Cecilie yang harus bertanggung jawab atas itu semua. Kaisar masih menatap Liese. “Dengan kata lain, kau melakukan semua itu atas keputusanmu sendiri?” Liese mengangguk. “Benar, Yang Mulia,” jawabnya lirih. “Tidak ada yang menyuruh saya.” Tatapan Kaisar kemudian beralih kepada Floria
Cecilie tidak tahu apakah itu pujian atau sekedar basa-basi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Untungnya Duke Crowne segera mempersilakan mereka masuk. Aula utama sudah dipenuhi tamu. Cahaya ribuan lilin memantul dari lantai marmer mengilap dan deretan cermin tinggi di sepanjang dinding. Para ba
“Sudah lewat waktu pemberkatan…” “Apa Putra Mahkota kali ini akan datang?” “Jangan-jangan… Yang Mulia Putra Mahkota membatalkan pernikahannya lagi.” Bisikan-bisikan itu menjalar dari satu baris ke baris lain, pelan tapi pasti, seperti api kecil di atas jerami. Para tamu telah duduk rapi di
Sehari sebelum upacara di Kuil Suci, Astoria tampak lebih sibuk dari biasanya. Rangkaian lili putih diletakkan di setiap sudut lorong, asap lilin aromatik menguar tipis dari setiap ruangan, pita-pita sutra direntangkan pelayan dari satu pilar ke pilar berikutnya. Sejak tadi Cecilie duduk diam di
Aula utama Astoria malam itu dipenuhi aroma parfum dari tubuh-tubuh yang berdesakan. Musik orkestra mengalun mengisi udara. Cecilie berdiri di sudut ruangan dengan segelas minuman yang belum diteguk. Gaun pesta biru pucat yang pagi tadi tampak cantik di depan cermin kini terasa berat seperti mena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews